
"Baiklah hari ini kamu diterima kerja di perusahaan ini, jabatanmu untuk semetara menjadi staf pribadi saya, selamat bergabung" ujar Vano
"Terima kasih pak, saya akan mendedikasikan diri saya untuk bekerja sebaik mungkin di perusahaan ini" balas Vera semangat.
"sekretaris Jim...Antarkan nona ini ke ruang kerjanya" perintah Vano
Sekretaris Jimmy menunjukkan ruang dimana Vera akan bekerja, Vera dengan senang hati memasuki ruang kerjanya, di sana sudah ada beberapa staf lainnya, Vera mulai bergabung dengan mereka hari ini juga.
"Drrtttt" telepon Vano berbunyi.
Lantas Vano mengangkat telepon itu, ternyata dari kepala sekolah SMK Harapan Bangsa yang tak lain adalah sekolah Shesa, Vano diminta untuk menandatangani sebuah dokumen penting di sekolah.
"Baik saya akan segera ke sana" jawab Vano tegas
Kemudian Vano memanggil Mario, ia minta Mario mengantarkan dirinya ke sekolah Shesa, Vano lantas turun dari gedung PT Elang Perkasa Company menuju mobil mewahnya, tak lama mobil itu melaju kencang di jalan raya.
Tiba-tiba Mario mengatakan sesuatu pada Vano.
"Tuan muda! Jemarin saya melihat non Naina keluar dari toko jam, yg kebetulan Nona muda juga berada di sana, dan mereka pun bertemu Tuan muda! Saya takut non Naina macam-macam terhadap nona muda andai ia tahu bahwa non Shesa adalah istri Tuan muda" seru Mario khawatir akan keselamatan Shesa.
Naina adalah tipe cewek yang nekat, dan bisa melakukan apapun yang ia mau, ia tidak suka jika sesuatu yg sudah menjadi miliknya di rebut oleh orang lain.
"Kamu awasi terus istriku, jangan sampai ia bertemu lagi dengan Naina" perintah Vano
"Baik tuan muda" balas Mario
Setelah beberapa menit mobil mewah Vano sudah tiba di Sekolah,semua mata tertuju pada kehadiran Vano, tak terkecuali bu Siska, dengan semangat ia menyambut kedatangan Vano.
Vano memperhatikan sekitar, memastikan Shesa berada di dalam sekolah.
"Vano kau mencari siapa? Hm" sapa Siska yang mendapati Vano sedang mencari keberadaan Shesa.Vano melihat Siska dengan tatapan dingin dan cuek.
"Ayo aku antar ke ruang kepala sekolah" seru Siska sambil merapatkan tubuhnya pada lengan Vano.
__ADS_1
Shesa sedang berada di ruang guru, yang bersebelahan dengan ruang kepala sekolah, lantas Shesa keluar karena tugasnya mengumpulkan lembar jawaban ulangan teman-temannya sudah selesai.
"Hufftt...bulan ini adalah hari terakhir aku kelas 11, dan bulan terakhir Romi bersekolah disini, akhirnya suamiku tidak akan cemburu dan curiga lagi pada Romi" gumam Shesa tersenyum.
Shesa berjalan keluar, tanpa ia sadar Shesa telah menabrak seorang pria tampan yang sangat ia kenali, ia mengenalinya lewat parfum Vano yang membuatnya tak berdaya, pria itu sedang berjalan menuju ruang kepala sekolah, ditemani oleh Siska yang membuat Shesa menjadi geram.
Vano memegang tangan Shesa supaya tidak terjatuh, dan Shesa menatap Vano dengan tatapan sendu.
"Ehh...apa-apaan ini, Shesa cepat minta maaf pada Pak Vano, kamu kurang ajar sekali sudah menabrak pak Vano" cecar Siska sambil melepaskan tangan Vano dari tubuh Shesa, lantas Siska meraih cepat dan menggandeng tangan Vano.
Vano yang melihat istrinya mulai dibakar cemburu, membiarkan Siska memegang tangannya dan menggandengnya, meskipun ia malas untuk bertemu dengan Siska, Vano semakin senang melihat wajah sang istri yang mulai memerah.
Shesa yang melihat itu serasa dibakar hatinya, namun ia gengsi tak mau menunjukkan kecemburuannya itu di depan Vano, lantas ia berucap minta maaf .
"Saya minta maaf pak Vano! Saya tidak sengaja melakukannya" seru Shesa sambil menunduk, ia malas harus melihat pemandangan Vano yang digandeng mesra oleh bu Siska.
"Lain kali kalau jalan pakai mata Nona!" seru Vano yang membuat Shesa terperangah, Vano mengulangi kata-katanya saat bertemu Shesa untuk pertama kali.
Shesa terdiam dan bola matanya mengisyaratkan untuk cepat-cepat pergi dari situ, Siska semakin bergelayut manja di hadapan Shesa, membuat Shesa semakin tak tahan untuk segera pergi dari sana.
"*B*ruuukk"
Shesa tersandung dan Ia terjatuh, Shesa memegang kakinya yang sakit, Vano melihat itu segera ia menghampiri istrinya, namun usahanya di hentikan oleh Siska, Siska menahan tangan Vano untuk tak pergi ke sana, nampak Romi datang menghampiri Shesa dan menolongnya.
"Shesa...kakimu kenapa?" tanya Romi
"Tadi...aku tersandung, kakiku sakit banget" seru Shesa sambil memegang kakinya.
"Ayo aku bantu ke UKS sini pegangan tanganku" pinta Romi agar Shesa pegangan pada tangannya.
"Tapi..." Shesa ragu karena ia tahu Vano sedang memperhatikannya, nampak Vano melihat Romi yang mencoba menolong Shesa, tanpa memperdulikan Siska, Vano segera berlari menghampiri Romi dan Shesa.
"Eh...Vano...kamu mau kemana, pak kepala sekolah sudah nungguin tuh...Vano...Vano...tunggu" seru Siska sambil mengejar Vano.
__ADS_1
Tiiba-tiba tangan Vano melepas tangan Shesa dari genggaman tangan Romi, Shesa sangat terkejut dengan ulah Vano yang tiba-tiba, Romi tak kalah terkejutnya melihat rival kakaknya itu melepas tangan gadis yang dicintainya dari genggaman tangannya.
"Lepaskan gadis ini" perintah Vano dengan suara khasnya.
"Pak Vano! Apa maksud bapak? Saya cuma menolong Shesa mengantarkannya ke UKS" papar Romi menjelaskan, lantas Vano segera menggendong Shesa menuju UKS sekolah, baik Romi maupun Siska cuma bisa terperangah melihat Shesa yang digendong oleh Vano.
Shesa mengalungkan tangannya pada leher Vano dan menatapnya dengan tatapan kesal, Vano menidurkannya ditempat tidur, Shesa masih merasa kesakitan, karena kakinya terkilir.
"Kita pulang saja...kakimu harus segera di obati" perintah Vano.
"Tidak...aku tidak apa-apa,kamu pergi saja, nanti anak-anak akan semakin curiga" pinta Shesa agar Vano segera meninggalkannya.
"Kau mengusirku?" seru Vano
"Siapa juga yang mengusir kamu, aku tidak minta kamu yang mengantarku kesini" seru Shesa cemberut.
"Jadi, kamu ingin di antarkan oleh Romi maksudnya?" tukas Vano kesal
"Bukan begitu maksudnya, kalau kamu yang mengantarku kemari, apa kata mereka? Mereka bisa curiga" seru Shesa menjelaskan
"Haahh...tererserah...." jawab Vano singkat sambil berlalu meninggalkan Shesa begitu saja, Shesa memukul-mukul tempat tidur dengan kesal.
Vano keluar dengan wajah muram, Siska yang menunggunya dari tadi, lantas menghampiri Vano dan mencoba meraih tangan Vano seperti waktu tadi.
"Vano....kau" ucap Siska sambil meraih tangan Vano.
"Singkirkan tanganmu!" perintah Vano dengan suara sedikit keras, namun Siska tetap bergelayut manja pada tangan Vano.
"Lepas kataku, lepas!" hardik Vano pada Siska, membuat Siska kaget dan langsung melepaskan pegangan tangannya, Siska merasa sakit hati diperlakukan Vano seperti itu, lantas ia berlalu meninggalkan Vano sendiri menghadap kepala sekolah.
Vano menarik nafas panjang dan mencoba rileks, karena sebentar lagi ia akan menghadapi ruangan kepala sekolah.
BERSAMBUNG
__ADS_1
...DUKUNG TERUS KARYA AUTHOR YA😉...