
"iya bu...bibi Lily adalah mama Leona, beliau menghilang sejak kecelakaan mobil yang masuk kedalam jurang dikawasan daerah ini" seru Shesa menjelaskan.
"kecelakaan? iya sekarang saya ingat, suami saya membawa bibi Lily tepat di hari terjadinya kecelakaan, jadi...benar bibi Lily adalah mamanya tuan muda" ucap bu Lasmi terkejut.
"bu Lasmi, Nata, saya sangat berterima kasih kepada kalian berdua, karena sudah merawat mama Leona selama ini? suamiku pasti sangat bahagia" seru Shesa dengan menangis bahagia.
"non jangan begitu, kami ikhlas merawat bibi Lily, tapi..." bu Lasmi tidak meneruskan kata-katanya.
"tapi kenapa bu?" tanya Shesa
"kami tidak bisa mengembalikan ingatan bibi Lily, luka di kepala dan di wajahnya masih membekas sampai sekarang, maka dari itu kami menyarankan bibi Lily untuk menutupinya dengan cadar, dan juga menutupi wajah asli bibi Lily dari umum, karena suami saya takut akan ada orang yang mengenalinya"
"jika ada orang yang melihat bibi Lily masih hidup, maka hidup bibi Lily dan kami akan terancam non, ibu harap non bisa mengerti maksud kami" ucap bu Lasmi khawatir.
"iya bu, saya mengerti maksud bu Lasmi, sementara ini saya akan menyimpan rahasia ini, sampai kalian aman, namun saya harus tetap mengatakan hal ini kepada suamiku, ia harus tahu yang sebenarnya, bu Lasmi tidak perlu khawatir, kalian berdua pasti mendapat perlindungan dari suamiku, percayalah" ucap Shesa meyakinkan.
"kami benar-benar takut non, jika sewaktu-waktu mereka datang ke desa ini dan mencari keberadaan bibi Lily " ucap bu Lasmi.
"bu Lasmi, Nata, kalian berdua orang baik, kalian akan mendapat perlindungan, jangan khawatir, aku akan menyelidiki apakah benar-benar tante Veronica yang melakukannya" seru Shesa meyakinkan.
*******
Akhirnya setelah Shesa mendapati kebenaran itu, ia bisa bernapas lega, tinggal waktu yang tepat untuk mengatakan kepada suaminya bahwa Leona masih hidup.
Hari itu Vano tiba-tiba mendapat telepon dari Sekretaris Jimmy, sehingga ia berbicara dengan sekretaris Jimmy diluar, sementara itu Shesa melihat Leona tengah duduk di sebuah bangku kayu sembari memisah biji beras dari kulit arinya.
Shesa menghampiri bibi Lily yang nampak sibuk, Shesa duduk disamping sang mertua yang belum pernah ia lihat selama ini, bibi Lily menyadari kehadiran Shesa.
Bibi Lily menatap wajah Shesa yang teduh, ada rasa yang ingin diungkapkan, ia senang memandangi wajah gadis yang sedang duduk disampingnya.
"gadis ini sangat cantik, tatapan matanya begitu menenangkan, tapi kenapa dia menangis?" gumam bibi Lily
Shesa menatap haru wanita yang tengah bersamanya itu, ingin sekali ia memeluk Leona, terlihat tangan bibi Lily mulai menyapu airmata Shesa yang tak sengaja terjatuh sambil menggelengkan kepalanya pelan.
Shesa merasakan sentuhan tangan sang mertua untuk pertama kalinya, menyapu pipinya dengan lembut, mengeringkan air matanya yang terjatuh tanpa aba-aba.
Perlahan Shesa meraih tangan sang mertua, tanpa disadari Leona melihat kembali cincin putih yang dipakai Shesa di jari manisnya, cincin yang bertahtakan berlian yang sangat berkilau, membuat Leona tampak terpaku dengan cincin yang dipakai Shesa.
__ADS_1
Shesa menyadari bahwa ibu mertuanya tengah memperhatikan cincin yang ia pakai, Shesa mengerti ibu mertuanya pasti terkejut melihat cincin itu, karena dulu dia pun pernah memakainya, karena Leona juga termasuk menantu dari keluarga besar Perkasa, hingga akhirnya cincin itu diberikan kepada Shesa oleh sang nenek.
"mama..." panggil Shesa kepada bibi Lily, sontak membuat bibi Lily menatap Shesa penuh tanya.
"bolehkah saya memanggil bibi dengan mama?" seru Shesa sembari memegang tangan bibi Lily.
Bibi Lily mengangguk pelan, menandakan ia mengizinkan Shesa memanggilnya mama, Shesa begitu senang, lantas ia mencium tangan bibi Lily penuh kasih.
"mama...mama mau memakai cincin ini?" seru Shesa sembari melepaskan cincin itu dari jari manisnya, Shesa memasangkan cincin putih itu di jari manis Leona, Leona menatap cincin itu penuh makna.
tiba-tiba, sejenak terlintas di ingatan Leona bayangan cincin itu pernah terpasang di jari manisnya, sekilas bayangan seorang laki-laki yang mendampinginya, dan seorang anak laki-laki yang tengah bersama mereka, memanggilnya dengan sebutan 'mama'.
seketika kepala Leona terasa pusing, ia memegang kepalanya yang terasa berat dan berputar-putar.
Shesa tampak khawatir melihat ibu mertuanya terlihat memegang kepalanya, tiba-tiba Vano datang menghampiri Shesa dan Leona, saat Leona memegang kepalanya yang terasa berputar, Vano melihat cincin putih milik Shesa dipakai oleh bibi Lily, spontan Vano sedikit kesal karena berani -beraninya bibi Lily memakai cincin milik istrinya, yang harusnya dipakai bukan sembarang orang, tapi hanya menantu pilihan dari keluarga Perkasa yang berhak memakainya.
"kenapa cincin itu ada ditangan bibi Lily?" tanya Vano sedikit kesal.
Leona hanya menggelengkan kepalanya sembari menatap Vano dalam -dalam, dan tak berapa lama Leona pingsan dan tak sadarkan diri.
"mama..." seru Vano lirih sembari bersimpuh lemas tak berdaya.
"sayang...cepat bantu mama masuk kedalam " seru Shesa kepada Vano yang masih terdiam lemas.
"sayang ayo, bantu mama masuk kedalam?" pinta Shesa agar Vano mengangkat tubuh mamanya masuk kedalam rumah.
"apa maksudmu memanggil bibi Lily dengan mama Leona, dia bukan mama" seru Vano yang masih belum percaya.
"sayang nanti aku jelaskan, sekarang cepatlah angkat bibi Lily" pinta Shesa memohon.
Akhirnya Vano dengan hati yang bergetar, berusaha mengangkat tubuh ibunya, perlahan namun pasti Vano segera mengangkat bibi Lily untuk masuk kedalam rumah.
Tak bisa dipungkiri Vano merasa sakit saat melihat bibi Lily seperti ini, ia mengangkat tubuh bibi Lily dengan hati yang berkecamuk.
"apa yang sebenarnya terjadi, kenapa aku merasa sangat dekat dengan mama saat aku bersama bibi Lily " gumam Vano sedih.
tiba-tiba bu Lasmi dan Nata melihat Vano menggendong bibi Lily yang tengah pingsan.
__ADS_1
"bibi Lily, bibi kenapa?" seru Nata khawatir.
sesampainya di kamar Vano meletakkan tubuh sang ibu dengan hati-hati.
"apa yang terjadi dengan bibi Lily non?" tanya bu Lasmi khawatir, sembari memeriksa keadaan bibi Lily.
"tidak tahu bu Lasmi, tiba-tiba saja bibi Lily memegang kepalanya dan setelah itu ia pingsan" ucap Shesa menjelaskan.
"ya Tuhan mudah-mudahan tidak terjadi apa-apa" seru bu Lasmi.
Vano berdiri pada dinding, ia masih menunggu penjelasan dari istrinya kenapa Shesa memanggil bibi Lily dengan mama Leona.
Shesa duduk disamping ibu mertuanya, Shesa ingin menyadarkan pingsan sang ibu mertua.
"bu Lasmi ada minyak kayu putih"
dengan segera bu Lasmi membawa botol minyak kayu putih.
"ini non " seru bu Lasmi sembari memberikan minyak kayu putih kepada Shesa.
Shesa beranjak berdiri dan menggandeng Vano agar mendekati bibi Lily yang tengah terbaring.
"kemarilah, ikut aku" seru Shesa kepada Vano.
"sayang, kau ingin tahu jawabannya, kenapa aku memanggil bibi Lily dengan mama Leona?" seru Shesa mencoba merilekskan dirinya.
Vano menatap tajam mata sang istri, perlahan Shesa membuka cadar yang menutupi sebagian wajah Leona.
Perlahan.. .perlahan...dan akhirnya cadar itu terlepas dari wajah Leona.
BERSAMBUNG
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
aku tunggu like, komen, hadiah dan vote kalian
entar ya lanjutannya...si otor lagi nina bobokin si bocah dulu 😉😁
__ADS_1