
sementara sore itu Helena datang ke rumah Vano, ia ingin membicarakan tentang perusahaan Veronica yang sekarang sedang terpuruk.
Helena terlihat cantik dengan selendang sutera warna biru yang kemarin hendak dibuang Veronica.
Helena disambut oleh seorang pelayan.
"mari nona, silahkan...saya panggilan nyonya besar" seru pelayan.
"Vano belum pulang? terus Shesa mana? kok nggak kelihatan!" tanya Helena yang melihat suasana rumah tampak sepi.
"tuan muda belum pulang, sedangkan nona muda sedang mengunjungi orang tuanya, mungkin sebentar lagi mereka akan pulang" jawab pelayan.
"oh gitu...ya udah" ucap Helena, lantas ia duduk di sofa mewah didalam ruangan itu.
tak berselang lama, nenek keluar dan menghampiri Helena yang sedang duduk sembari membaca sebuah majalah.
tiba-tiba nenek menghentikan langkahnya saat ia melihat seorang wanita yang sedang memakai selendang sutera warna biru itu.
"Leona"
seru nenek terkejut, ia menyangka Helena adalah Leona, karena saat ini Helena sedang mengenakan selendang itu di lehernya.
sontak Helena terkejut nenek menyebut nama Leona, ibunya Vano.
kemudian Helena berdiri dan beranjak menghampiri nenek yang sedang terpaku melihat selendang itu di lehernya.
"nenek, ada apa?" tanya Helena penasaran, Helena melihat ekspresi wajah nenek yang sangat terkejut saat ia melihat selendang itu.
"Leona" ucap nenek sembari menyentuh selendang sutera warna biru itu.
Helena benar-benar terkejut, kenapa nenek begitu terharu melihat selendang yang ia kenakan, dan kenapa nenek menyebut nama Leona saat melihat selendang itu.
Helena memberikan selendang itu kepada nenek, airmata nenek jatuh tak terelakkan saat menyentuh dan mencium selendang itu, ada rasa kerinduan yang terpendam dalam wajah senja sang nenek.
sejenak nenek teringat saat ia memberikan selendang ini untuk Leona, sebagai hadiah untuk Leona, dimana waktu itu adalah hari terakhir pertemuannya dengan sang menantu.
flashback
"Leona sayang, ibu punya sesuatu untukmu" seru nenek kepada Leona.
Leona menghampiri sang mertua yang sedang membawakannya sesuatu.
"ada apa bu?" tanya Leona
"terimalah, ini untukmu, ibu akan sangat senang jika kamu memakainya, ini adalah selendang dari ibuku, aku sengaja memberikan ini untukmu sebagai simbol kasih sayangku untuk menantu hebat dari keluarga Perkasa" ucap nenek sembari memberikan selendang itu kepada Leona.
__ADS_1
Leona tersenyum, kemudian ia memakainya didepan sang mertua.
"terimakasih banyak ibu" ucap Leona sembari memeluk mertuanya, sementara seorang anak laki-laki tengah berlari menghampiri Leona, ia tampak gugup sambil membawa telepon ditangannya.
"mama..." seru Vano kecil berlari menghampiri Leona
"Vano...ada apa nak, kenapa kamu lari-lari" seru Leona yang melihat Vano ngos-ngosan setelah berlari sambil membawa telepon.
"papa...ma" seru Vano sambil memberikan telepon itu pada Leona.
"papa...? ada apa dengan papa?"
lantas Leona mengambil telepon itu dan meletakkannya di telinganya.
dengan seksama Leona mendengarkan seseorang yang berbicara padanya lewat telepon.
"apa!" seru Leona sembari melepaskan telepon itu tangannya.
nenek sangat terkejut saat Leona tiba-tiba menjatuhkan telepon itu.
"Leona ada apa sayang? apa yang terjadi?" tanya nenek sangat penasaran.
"mas Hendra bu, mas Hendra dalam bahaya, sebelum ia sampai di hotel itu aku harus segera menjemputnya, disana ada orang yang hendak mencelakainya, aku harus pergi menyelamatkan mas Hendra..." seru Leona sembari berlalu meninggalkan ibu mertuanya dan Vano.
"mama...mama mau kemana?" seru Vano kecil sembari berlari mengejar Leona.
Leona menoleh dan memeluk putranya.
"Vano sayang, kamu di rumah aja ya sama nenek, mama cuma sebentar kok, mama mau nyusul papa dulu, nanti mama juga pulang" ucap Leona sembari mengecup kening putra semata wayangnya itu.
"bu...Leona titip Vano, Leona akan segera kembali bersama mas Hendra" pamit Leona kepada sang mertua.
entah kenapa seolah itu adalah ucapan terakhir dari Leona, nenek menangis mengingat saat-saat terakhir Leona berpamitan kepadanya, hingga akhirnya berita kecelakaan Leona itu membuat seluruh dunia gempar, bagaimana tidak tubuh nyonya Hendrawan tidak ditemukan, yang ada hanya bekas baju yang terakhir ia pakai, baju itu terkoyak berlumuran darah, orang-orang mengira tubuh nyonya Hendrawan telah dimangsa binatang buas.
"Leona..." seru nenek memeluk selendang pemberian darinya yang ia hadiah kan kepada sang menantu.
tiba-tiba nenek bertanya pada Helena.
"Helena, dari mana kau dapatkan selendang ini?" tanya nenek
Helena menatap serius wajah sang nenek.
"selendang itu dari Mommy , tapi kenapa Mommy menyimpan selendang milik tante Leona?" gumam Helena curiga.
"kata nenek, selendang itu ia berikan kepada tante Leona sebelum ia mengalami kecelakaan, tapi kenapa bisa ada di tangan Mommy , jangan-jangan ini semua ada hubungannya sama Mommy" gumam Helena semakin curiga.
__ADS_1
"Helena...Helena" panggil nenek yang melihat Helena tampak memikirkan sesuatu.
"i...ya nek, ada apa?" seru Helena terkejut.
"darimana kau dapatkan selendang ini?" tanya nenek serius, karena nenek merasa selendang itu adalah miliknya yang di hadiahkan untuk Leona.
"aku...a..a..aku mendapatkan selendang itu dari sesorang, dia menjualnya kepadaku nenek, tapi aku lupa siapa orangnya, dia menjual selendang seperti itu di alun-alun kota, iya...dialun alun kota" ucapnya terpaksa berbohong.
jika Helena mengatakan hal yang sebenarnya maka nenek aka curiga kepada ibunya.
"maafkan aku nenek, aku harus mencari tahu sendiri, kenapa Mommy menyimpan selendang itu, pantas saja Mommy mau membuangnya, ternyata ini adalah selendang milik tante Leona" gumam Helena yang mulai curiga kepada ibunya.
tiba-tiba Vano pulang dan menghampiri Nenek dan Helena.
"Helena! kau sudah lama menunggu?" tanya Vano yang tiba-tiba berdiri di belakangnya.
"astaga Vano, kamu ngagetin saja" seru Helena dengan keringat dingin.
"ada apa sih ini! kok kamu dan nenek kelihatan tegang" tanya Vano penasaran sembari melihat ekspresi wajah nenek dan Helena.
tanpa sengaja Vano melihat nenek memegang selendang sutera warna biru.
"nenek, selendang siapa itu?" tanya Vano sembari menghampiri Nenek dengan wajah sendunya.
"nenek menangis?" tanya Vano yang terkejut melihat neneknya habis menangis.
"ada apa sih sebenarnya? kenapa nenek bersedih?" tanya Vano makin penasaran.
"Vano, selendang ini adalah milik mamamu!" seru nenek yang membuat Vano mengerutkan keningnya.
"selendang ini punya mama? bagaimana nenek bisa yakin selendang ini punya mama" ucap Vano tidak percaya.
"nenek yakin sekali selendang ini punya mamamu, nenek sendiri yang memberikan selendang ini kepada mamamu, ini adalah selendang yang diberikan ibu nenek saat nenek masih muda dulu, kemudian nenek memberikannya kepada mamamu sebagai hadiah" jelas nenek menegaskan.
"ya ampun nenek, banyak motif dan warna yang sama dengan selendang itu, udah ya, nenek nggak usah terlalu memikirkan selendang ini, mama sudah tenang disana, kita doain mama saja, supaya mama bahagia disana" ucap Vano menenangkan neneknya.
"udah, aku mau ke kamar dulu" seru Vano sembari berlalu meninggalkan mereka.
BERSAMBUNG
π»π»π»π»π»
ayo guys dukunganmu adalah semangat author, berikan like, komentar, hadiah dan vote kalianπ
ππππππ
__ADS_1