
semua guru, kepala sekolah dan juga Siska menunggu Shesa keluar dari kamar mandi, hampir sepuluh menit, kemudian pintu kamar mandi mulai terbuka, Shesa keluar dari balik pintu kamar mandi dengan membawa hasil taspack di tangannya.
Siska dengan semangat menghampiri Shesa yang terlihat pucat itu, ia langsung mengambil hasil taspack dan membukanya di hadapan semua orang, Shesa hanya bisa pasrah, ia sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi.
Siska dengan senyum kemenangannya membuka taspack itu perlahan, dan tentu saja semua mata sedang melihat hasil taspack yang dibawa oleh Siska, garis dua yang sangat jelas nampak pada tes kehamilan itu, semua dewan guru hampir tak percaya, siswa yang selama ini menjadi kebanggaan mereka ternyata sudah menjatuhkan nama baik sekolah.
"Shesa, ibu tidak menyangka kau sudah mengecewakan ibu" ucap bu Dewi sedih.
"bu Dewi, ini salah faham bu, ini tidak seperti yang ibu kira, percayalah" seru Shesa sambil memegang tangan bu Dewi, namun bu Dewi sudah terlanjur kecewa dengan apa yang terjadi pada siswi kesayangannya itu.
sementara diluar ruangan kepala sekolah, banyak siswa yang penasaran dengan kasus yang menimpa Shesa, mereka mengintip dari kejauhan.
"tuh...bener kan aku bilang, Shesa itu hamil" ujar Mita kepada semua teman-tamannya.
****
di kantor PT Elang Perkasa Company.
"Monic, katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi pada Shesa adikku?" tanya Vera penasaran.
"Shesa hamil kak, dan Shesa dituduh hamil karena hasil dari menjual diri" ucap Monic menjelaskan.
"apa!, kejam sekali mereka memfitnah adikku seperti itu, Monic kita ke sekolah sekarang" seru Vera yang ingin melihat keadaan adiknya sekarang.
akhirnya Vera dan Monic pergi ke sekolah dimana Vano juga sekarang menuju kesana.
******
di perjalanan
"Mario, kenapa lama sekali" ucap Vano yang sudah tak sabar ingin segera bertemu istrinya.
"maaf tuan muda, kita terjebak macet" jawab Mario.
"damn it" ucap Vano sembari memukul pintu mobil.
setelah beberapa menit Vera dan Monic telah sampai di sekolah Shesa, lantas mereka segera menuju ruang kepala sekolah, dimana Shesa sedang di sidang.
"Shesa" seru Vera yang melihat Shesa sedang menangis.
__ADS_1
"kakak" seru Shesa berlari menuju Vera, Shesa memeluk Vera dengan sangat sedih.
"sudah sudah, jangan menangis, kakak bersamamu" ucap Vera menghibur Shesa.
tiba-tiba Siska menyindir Vera yang telah ikut datang di kantor itu.
"oh...ini dia, kakak beradik sama saja, sama-sama beja*nya, yang satu hamil diluar nikah dan menggugurkan kandungannya, dan satunya lagi, jadi simpanan lelaki hidung belang, dan sekarang ikut hamil juga, ck ck ck, benar-benar keluarga bej*t" seru Siska dengan sinisnya.
tiba-tiba.....
"plaakkkk"
sebuah tamparan yang keras mendarat sempurna dipipi Siska, Siska memegang pipinya, ia sangat terkejut ternyata orang yang sudah berani menampar wajahnya adalah Vera, kakak Shesa.
"jaga mulut anda ibu guru, sangat disayangkan sekali, seorang wanita yang terhormat dan berpendidikan seperti anda, ternyata mulutnya seperti sampah, busuk, anda tidak pantas dipanggil sebagai guru, bahkan tukang sampahpun derajatnya lebih terhormat dari pada anda yang memiliki mulut sampah" seru Vera yang tersulut emosi oleh perkataan Siska.
"kak Vera sudahlah kak, ini memang salah Shesa, Shesa siap menerima segala konsekwensinya" ucap Shesa pelan
tiba-tiba Siska dengan cepat menghampiri Shesa, ia sudah tak sabar untuk membuat Shesa menyesal telah merebut Vano darinya.
"kau memang bedebah Shesa, kau harus pergi dari sekolah ini, aku benci padamu" seru Siska, dengan sangat emosi ia mendorong tubuh Shesa sehingga membuatnya hendak terjatuh.
sekejap semua yang hadir di dalam ruangan itu sangat terkejut melihat kedatangan Vano yang tiba-tiba berada di sana, dan tentu saja itu membuat Siska semakin semangat untuk mempermalukan Shesa di depan Vano.
"pak Vano, anda...!" seru kepala sekolah
"saya mendapat laporan bahwa ada seorang siswi yang hendak dikeluarkan dari sekolah ini, apa itu benar?" tanya Vano pada kepala sekolah sembari tetap mendekap tubuh Shesa.
"i...iya itu benar pak!" jawab kepala sekolah gugup.
"kenapa dia harus dikeluarkan dari sekolah ini? apa dia melakukan sesuatu" seru Vano menambahkan.
"begini pak..." seru kepala sekolah yang terpaksa tidak melanjutkan ucapannya karena Siska memotong pembicaraannya.
"biar saya yang jelaskan" ucap Siska dengan sangat percaya diri.
"pak Vano yang terhormat, kami para dewan guru telah menerima laporan dari beberapa siswa, bahwa Shesa adalah gadis penjaja se*s, dan tentunya dugaan itu diperkuat dengan kehamilannya saat ini" seru Siska menjelaskan, dan tentu saja itu membuat Vano sangat terkejut, istrinya sedang hamil, tapi ia tidak mengetahuinya sama sekali.
Vano melihat Shesa dengan tatapan sendu, beberapa siswa merasa jijik dengan sikap Shesa yang terus memeluk Vano.
__ADS_1
"ih...emang ya, dasar kegatelan"
"coba lihat, ya begitulah kalau cewek murahan, nemplok kesana kemari"
"diih...memalukan banget, masih sempet-sempetnya dia ngerayu pak Vano"
beberapa siswa mempergunjingkan Shesa.
"hamil? apa kalian punya bukti gadis ini telah hamil?" ucap Vano, lantas Siska memberikan bukti taspack itu padanya.
Vano melihat hasil taspack itu dengan sangat bahagia, karena Shesa kini tengah mengandung buah cinta mereka berdua.
"kenapa kau tidak bilang padaku, bahwa kau sedang hamil sayang!" gumam Vano dalam hati
kemudian Siska terus mengintimidasi Shesa, ia menguak semua keburukan Shesa, dari waktu Siska mendapati tanda merah di leher Shesa, hingga kini kehamilan Shesa yang telah diketahui semua pihak sekolah.
"pak Vano, tidak ada alasan untuk mengeluarkan gadis terkutuk ini dari sekolah, enyah kau" seru Siska sembari mencoba mendorong tubuh Shesa yang masih berada dalam dekapan Vano.
"jangan sentuh dia, kau tidak berhak menyentuhnya apalagi melukainya" seru Vano dengan tatapan yang tajam kepada Siska, sembari menjauhkan Shesa dari tangan Siska.
"Vano...apa maksudmu, kenapa kamu malah membela dia, sudah jelas-jelas dia bersalah, apa gunanya kita memiliki siswa seperti Shesa ini!" ucap Siska kesal.
"karena Shesa adalah istri pak Vano" tiba-tiba Monic dengan lantang mengatakan hal yang sebenarnya.
semua yang hadir di ruangan itu terhenyak, Mita, Nabila apalagi bu Siska, mereka hampir mati berdiri mendengar Monic mengatakan hal yang sebenarnya.
"Monic" seru Shesa kepada Monic.
"maafkan aku Sha, kali ini aku tidak bisa menahannya, kamu tidak seharusnya mendapati perlakuan seperti ini, mereka harus tahu yang sebenarnya, bahwa Deandra Rashesa adalah Nyonya Rayvanno Adiputra Perkasa, CEO sekaligus direktur utama PT Elang Perkasa, dan juga pemilik dari yayasan sekolah ini" ucap Monic dengan nafas yang terputus-putus.
"tidak mungkin" Siska lemas mendengar kenyataan itu.
BERSAMBUNG
💖💖💖💖💖
AUTHOR UDAH UPDATE BANYAK LOH YA, JANGAN LUPA DUKUNGANNYA SUPAYA AUTHOR TAMBAH SEMANGAT LAGI
DENGAN CARA LIKE, KOMEN, BERI HADIAH DAN VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA
__ADS_1
I LOVE YOU😗😗