
malam itu Shesa berdiri di balkon kamar mereka, dengan suasana rintik hujan yang menghiasi keheningan malam, nampak seorang pria tegap berjalan menuju kearah Shesa, tangan kuatnya mulai melingkar di pinggang Shesa yang ramping.
Shesa mendekap tangan itu dan menyandarkan kepalanya pada dada bidang Vano, angin yang berhembus menyentuh kulit seperti dinginnya es, Shesa masuk kedalam pelukan Vano yang mendekap tubuhnya erat.
"kenapa masih disini? ayo kita tidur" ajak Vano pada istrinya.
"aku belum ngantuk" ucap Shesa pelan.
"disini anginnya sangat kencang, nanti kamu masuk angin" seru Vano sembari tetap memeluk Shesa erat-erat.
"aku tidak akan merasa dingin, karena pekukanmu telah menghangatkan tubuhku" ucap Shesa pelan, sehingga membuat Vano merasa ingin terus melindungi tubuh Shesa dari terpaan angin di malam itu.
rintik hujan semakin deras, hingga tubuh mereka berdua terkena terpaan hujan yang tertiup oleh angin yang kencang, Vano segera membawa Shesa masuk ke dalam kamar mereka yang hangat.
"sayang, bajumu basah, biar aku ganti bajumu dengan yang baru" ucap Vano sembari membawakan baju ganti untuk istrinya, dengan sedikit menggigil Shesa menahan dinginnya udara dengan menggenggam kedua tangannya dalam dekapannya.
Vano segera memberikan Shesa kehangatan dengan membungkus tubuh Shesa dengan handuk tebal, lantas ia sudah menyiapkan baju ganti untuk istrinya.
"sayang bajumu juga basah, cepat ganti" seru Shesa yang melihat baju Vano yang juga ikut basah.
Vano melihat bibir Shesa yang gemetaran, lantas Vano mulai mendekatkan dirinya pada Shesa yang masih berselimutkan handuk, perlahan Vano membuka handuk yang menutupi tubuh Shesa, kemudian ia mulai membuka ritz belakang dress Shesa, sehingga punggung Shesa terbuka dengan indah, dan dress itu jatuh kelantai, sehingga tubuh polos Shesa terekspos sempurna
"sayang, apa yang kamu lakukan?" tanya Shesa yang masih membelakangi Vano.
"ganti bajumu sekarang, aku tidak mau baby kita ikut kedinginan, iya kan sayang" seru Vano sembari mengelus-elus perut Shesa yang masih belum tertutup kain itu.
Vano mulai menikmati sentuhan yang ia lakukan pada Shesa, sehingga membuat Shesa tampak gusar.
"sayang, mana bajunya, cepetan aku sudah kedinginan" ucap Shesa agar Vano segera memakaikan baju untuknya.
bukannya mengambilkan baju untuk Shesa, Vano malah bermain turun dibawah sana, sehingga membuat Shesa terpejam menggigit bibir tipisnya.
entahlah kenapa setiap kali Vano dekat dengan istrinya ia tak bisa menahan rasa itu, meskipun ia tahu Shesa tengah mengandung buah cinta mereka, sementara tangan yang satunya menjelajah ceria diantara pegunungan himalaya.
__ADS_1
terpejam dan mende*ah itulah yang dialami Shesa sekarang, ia tak mampu menjauhkan tangan Vano dari tubuhnya, karena Vano sudah membuatnya sangat tidak berdaya, ia ingin lebih daripada itu.
"sayang hari ini kau membuatku sangat bahagia, aku ingin selalu menyentuhmu, wanita yang akan menjadi ibu dari anak-anakku" bisik Vano ditelinga Shesa dengan mesra.
Shesa membalikkan tubuhnya ke hadapan Vano, baju Vano yang masih basah, perlahan ia buka kancing kemeja Vano satu persatu, hingga akhirnya dada Vano terlihat sangat menantang dengan bulu-bulu halus yang tumbuh disana.
entah sejak kapan Vano mulai merasa saatnya untuk masuk dibawah sana yang sudah basah sedari tadi.
mata Vano mengisyaratkan kepada Shesa agar ia siap saat dirinya masuk jauh kesana, namun Shesa menggelengkan kepalanya pelan, ia masih takut mengingat apa yang dikatakan dokter Erick tadi, kandungannya masih rentan.
Vano membisikkan sesuatu pada istrinya.
"tidak akan terjadi apa-apa sayang, aku akan masuk dengan pelan-pelan, dan tidak akan menyakiti bayi kita" ucap Vano meyakinkan Shesa.
tidak menunggu waktu lama, milik Vano sudah masuk sempurna dibawah sana, pelan-pelan namun pasti, keduanya terbuai dengan suasana dingin malam itu, Vano tidak menambah ritme nya karena ia tahu kondisi Shesa yang tengah hamil.
Shesa mencengkeram rambut Vano saat dirinya hendak pelepasan, dan Vanopun manambah sedikit ritme gerakan hingga akhirnya keduanya terhempas di hamparan puncak keni*ma*an, Vano membuang aliran air itu diluar tubuh Shesa, karena ia khawatir air itu akan menyebabkan kontraksi rahim bagi Shesa yang tengah hamil muda.
keduanya saling memeluk, dua insan yang tengah berbahagia menanti kehadiran bayi yang masih berada dalam kandungan Shesa.
disebuah apartemen mewah, terlihat seorang wanita yang berambut sebahu sedang menunggu kedatangan seseorang, ia duduk di sofa sambil memainkan ponselnya.
"tante Siska, aku sudah berada diluar"
Siska tersenyum mendapati keponakannya sudah tiba di apartemenya, Siska dengan segera membuka pintu, terlihat seorang gadis, memakai rok mini dan tanktop hitam, berambut ikal, kulit putih dan seumuran dengan Shesa tengah berdiri di depan pintu apartemen Siska.
"hai tante" sapa gadis itu yang ternyata adalah keponakan Siska.
"masuklah Laura, tante senang melihatmu disini" ucap Siska bangga.
"hm...apartemen tante luas juga ya" seru gadis itu sembari melihat-lihat ruangan apartemen Siska.
__ADS_1
"ya beginilah, Laura bagaimana keadaan mamamu?" tanya Siska pada Laura
"baik tante, oh ya tante, ada apa tante memanggilku kemari" ucap Laura penasaran
"aku punya misi untukmu" seru Siska dengan senyum jahatnya.
"misi apa tante?" tanya Laura sembari mengunyah permen karet.
Siska menunjukka foto Shesa.
"foto siapa ini tante? sepertinya aku pernah lihat wajah gadis ini? tapi dimana ya..." ucap Laura sambil mengingat-ingat.
"ah ya, aku ingat, dia gadis dari sekolah SMA Harapan Bangsa yang sudah mengalahkanku dalam kejuaraan panjat tebing tahun lalu, iya itu dia" ucap Laura.
"iya dia memang siswa yang berprestasi di sekolah itu, tapi...tante mau kamu melakukan sesuatu untuk tante" ucap Siska dengan senyum liciknya.
"gadis ini sedang hamil, tante mau kamu mencelakainya agar ia kehilangan bayi yang ada di dalam kandungannya" seru Siska dengan tatapan sinisnya.
"maksud tante? gadis ini hamil? tapi...dia kok masih bisa sekolah?" tanya Laura penasaran.
"itulah yang menyebabkan tante sangat membencinya, tante mencoba memberitahukan kepada semua orang bahwa gadis ini bukanlah gadis baik-baik, tapi sial justru tante yang dikeluarkan dari sekolah, itu yang menyebabkan tante ingin membalas dendam atas apa yang terjadi pada diri tante" Siska mencoba menghasud Laura.
"oh...jadi begitu ceritanya, tante tenang aja, aku akan membantu tante untuk membalaskan dendam tante, gadis itu akan merasakan apa yang tante rasakan, aku berjanji pada tante" ucap Laura yang mulai terhasud oleh omongan Siska.
"kau menang keponakan tante yang paling hebat" seru Siska bangga.
"tapi....bagaimana caranya tante?" tanya Laura.
"aku akan memasukkanmu ke dalam lingkungan sekolah SMA Harapan Bangsa, kau disana sebagai murid baru kelas 12, sekelas dengan Shesa" ucap Siska penuh kelicikan.
BERSAMBUNG
๐น๐น๐น๐น๐น
__ADS_1
rencana jahat apa lagi yang akan di lakukan Siska kepada Shesa???
ikuti terus kisah ini ya readers tersayang๐๐