Pernikahan Rahasia Anak SMA

Pernikahan Rahasia Anak SMA
candu


__ADS_3

"ya udah deh, kita balik dulu ke kamar yuk, udah malam ngantuk" ajak Monic.


"oke deh Sha, kita bertiga balik dulu, daahh" seru ketiganya, Shesa mengantarkan ketiga sahabatnya sampai di depan pintu kamar hotel, Vano yang semula berdiri di depan pintu, bergerak cepat masuk ke kamar hotel yang baru saja ia sewa, agar teman-teman Shesa tak melihatnya disana.


"daahh" balas Shesa sembari melambaikan tangannya, lantas ia bisa bernafas lega, Shesa memperhatikan ketiga temannya sampai mereka menghilang dari pandangannya.


setelah beberapa saat, ketiga temannya itu sudah tak nampak lagi disepanjang koridor kamar Shesa, lantas Shesa mencoba mencari keberadaan Vano, ia menoleh kekanan dan kekiri, namun ia tak mendapati suaminya menuju kamar mereka berdua.


Perlahan Shesa memutuskan untuk mencari Vano, mungkin saja dia masih berada di tempat terakhir mereka berpisah tadi, Shesa menutup pintunya dan lekas ia menyusul Vano, saat Shesa mulai berjalan beberapa langkah di sepanjang koridor, tiba-tiba ada seseorang yang menarik tangannya dari balik pintu kamar hotel, sehingga ia ikut tertarik ke dalam kamar.


Shesa sangat terkejut sekali, dengan reflek ia mencoba berteriak, karena ia sangat ketakutan, orang itu berusaha mendekap tubuhnya dari belakang.


"toloongg...tolong...to....." Shesa tak meneruskan kata-katanya, karena ia sadar siapa sebenarnya yang sudah memeluk tubuhnya itu.


"emmm" suara lirih Vano yang mencium lembut tengkuk Shesa, dan Shesapun membiarkan suaminya melakukan itu, Shesa memegang tangan Vano yang melingkar kuat di pinggang rampingnya, sembari menolehkan wajahnya ke samping pada Vano yang berada di belakangnya.




"kau ini, suka sekali membuatku jantungan" bisik Shesa lirih, Vano tersenyum sembari berbisik pada telinga Shesa.


"hmm...aku tak bisa jauh-jauh darimu, kau telah membuatku candu, senyummu, belaianmu, wangi tubuhmu, aku tak bisa melupakannya" suara berat Vano membuat Shesa semakin terpejam, untuk beberapa saat Shesa dan Vano saling menautkan bibir mereka.


tiba-tiba Shesa melepaskan ciuman mereka, perhatiannya tersita pada suasana sekelilingnya, Vano berada pada kamar siapa? kenapa suaminya itu tiba-tiba membawanya ke kamar yang berbeda, sejenak ia melihat-lihat seisi kamar itu, hampir sama dengan kamarnya yang pertama, hanya saja ranjang tidurnya dilengkapi dengan tirai-tirai yang mengelilingi sekeliling tempat tidur mewah itu.


__ADS_1



Shesa mencoba mencoba duduk di atas ranjang mewah itu.


"ini sangat elegan sekali" seru Shesa sembari mengusap bed cover yang terbuat dari bahan paling mahal itu, Vano meperhatikan Shesa sembari duduk di sebuah kursi mewah dekat tempat tidur.


"apa kau suka?" tanya Vano dengan senyum smirknya dan Shesa membalasnya dengan senyuman.


"sayang...tapi untuk apa kau berada di kamar ini, bukankah kamar kita ada disebelah" ucap Shesa sembari menghampiri Vano yang sedang duduk di kursi itu.


"emm...aku sengaja memesan kamar satu lagi, tadi aku sempat mendengarkan obrolan kalian berempat, teman-temanmu ingin bermalam di kamar kita bukan?" jawab Vano sembari menarik tangan Shesa agar duduk di pangkuannya, Shesa nampak bingung harus menjawab apa, ia takut Vano marah bila teman-temannya bermalam di kamar pribadi mereka.


"iya..." jawab Shesa menunduk, ia tak berani menatap mata Vano, ia memainkan dada Vano dengan menuliskan satu jarinya diatasnya.


"hei...kenapa dengan istriku ini " ucap Vano sembari mengangkat dagu Shesa, sehingga wajah cantik Shesa menghadap tepat di depannya.


"benarkah, kau tidak marah padaku" sahut Shesa dengan mata yang berbinar-binar.


"tapi...ada syaratnya" seru Vano dengan tatapan nakalnya.


"apa?" Shesa penasaran.


"kau harus tetap tidur bersamaku" jawab Vano dengan senyum sumringahnya.


"tapi...mana mungkin sayang aku tidur bersamamu, mereka pasti akan curiga saat aku tidak ada di dalam kamar" sahut Shesa menolak.


"jadi kamu lebih memilih aku tidur sendirian, apa kau tidak kasihan padaku, pasti aku sangat kedinginan" seru Vano dengan manjanya.

__ADS_1


"ya ampun sayang...kan cuma semalam saja" tukas Shesa.


"meskipun cuma satu malam, aku tak mau berpisah sedetikpun dari dirimu, kamu telah membuatku candu...hmm" ucap Vano sembari menarik tubuh Shesa semakin dalam.


"terus malam ini kita tidur dimana?" tanya Shesa dengan suara lemah, karena Vano mendekap tubuhnya dengan erat.


"terserah kau saja, asalkan dirimu tetap berada dalam pelukanku" seru Vano yang langsung menautkan bibirnya pada bibir Shesa, sejenak Vano melepaskan ciumannya, lantas ia berbisik mesra di telinga istrinya.


"bermainlah denganku" seru Vano sembari menciumi belakang telinga Shesa, tentu saja Shesa tak bisa menahan perasaannya, tangannya mencengkeram kuat punggung Vano, ia yang semula duduk dipangkuan Vano dengan kaki yang sejajar, mendadak Vano merubahnya dengan membuka kedua kaki Shesa, dan Shesa berubah posisi duduk dengan kedua kaki terbuka lebar diatasnya, rok mini Shesa yang sudah tersingkap, memudahkan Vano untuk mengeksplorasi di bawah sana.


Vano dengan leluasa menjelajahi setiap inci milik Shesa, entah karena suasana baru dalam kamar itu, ataukah memang hasrat keduanya, penyatuan itu terjadi lagi di setiap waktu, setiap saat, hampir setiap hari Shesa selalu melayani suaminya, tapi entah kenapa tenaga Vano tidak pernah menurun, dia selalu bergairah ketika Shesa berada disampingnya.


namun kali ini penyatuan itu terjadi di dalam kamar yang berbeda dan di tempat yang berbeda, di atas kursi yang mewah keduanya saling berpacu untuk mencapai puncak ken*km*tan.


hampir dua jam, akhirnya aliran air itu mengalir diantara muara sungai yang hangat, keduanya terhempas dan saling melempar senyum, peluh yang membasahi tubuh mereka semakin membuat kain di kursi itu menjadi basah, meskipun ruangan sudah di lengkapi AC, namun tetap saja, keringat mereka bercucuran akibat kegiatan yang melelahkan itu.


tak berapa lama, Shesa memejamkan matanya, ia sangat kelelahan atas ulah suaminya, Vano yang melihat Shesa tertidur, lantas mengangkat tubuh istrinya keatas tempat tidur, ia menyelimuti tubuh polos Shesa yang dipenuhi kissmark berwarna merah terang.


Vano tersenyum melihat Shesa tertidur dengan pulas, lantas ia juga merebahkan dirinya di atas kasur, namun sebelum ia barangkat tidur, Vano meminum susu yang sudah disediakan pelayan kepadanya, tentu saja itu bukan susu sembarangan, itu adalah ramuan khusus yang di berikan nenek sebelum keberangkatannya ke Bali, ramuan yang digunakan untuk menambah vitalitas keperkasaan laki-laki.


"nenek, aku sangat berterimakasih padamu, aku juga tidak mengerti kenapa aku tidak ingin jauh-jauh dari istriku, dia selalu menjadi canduku" gumam Vano dalam hati sembari mengusap puncak kepala Shesa pelan.


πŸ€—πŸ€—πŸ€—πŸ€—


BERSAMBUNG


dukung terus ya sayangkuπŸ˜—πŸ˜—

__ADS_1


__ADS_2