Pernikahan Rahasia Anak SMA

Pernikahan Rahasia Anak SMA
emosi jiwa


__ADS_3

Vano memperhatikan Shesa yang sedang mencatatkan teman-temannya di papan tulis, dilihati istrinya yang tampak manyun itu, setelah beberapa saat Shesa selesai menulis, ia kemudian menghadap Pak Dante yang sedang duduk santai dikursinya.


"ini pak sudah" ucap Shesa sembari memberikan bukunya.


"taruh saja dimeja" seru Vano sembari mengisyaratkan matanya agar Shesa menaruh buku itu di mejanya.


"ya ampun tinggal nerima doang males banget nih guru" gumam Shesa kesal yang tidak ia sadari Pak Dante mendegar ucapannya.


"kamu bilang apa tadi?" tanya Pak Dante sambil mengernyitkan dahinya.


"ah...emang saya bilang apa pak, saya nggak bilang apa-apa, mungkin bapak salah dengar kali hehe" seru Shesa dengan senyum kecutnya.


"hm...ya sudah kembali ke bangkumu" seru Pak Dante dengan ekspresi cuek.


Kemudian Shesa langsung menuju bangkunya.


"kamu kenapa Sha? mukanya jutek gitu" seru Monic.


"tuh guru baru bikin aku kesel, capek tahu nulis sebanyak itu, eh dianya males" umpat Shesa.


"haha...resiko kalau jadi anak pinter, kudu siap dengan tantangan guru baru" seru Monic.


"tapi...kayaknya pak Dante orangnya baik deh, meskipun tampangnya sedikit aneh sih menurut aku" sambung Monic.


Shesa kemudian mengeluarkan bukunya dan segera menyalin pelajaran yang baru saja ia tulis dipapan, namun tiba-tiba pak Dante berdiri dan menghapus semua tulisan yang ada dipapan, tentu saja itu membuat Shesa terkejut, lantas ia berdiri dan memrotes apa yang dilakukan pak Dante.


"loh kok dihapus sih pak! saya kan belum selesai mencatat" seru Shesa sedikit kesal dengan ulah pak Dante.


"oh...kamu belum menyalinnya, dari tadi belum selesai juga? ya kamu pinjam buku temanmu kan bisa " seru Pak Dante dengan nada sedikit ketus.


"gimana bisa selesai, saya kan baru duduk di bangku pak" seru Shesa kesal.


"ya terserah kamu, sekarang saya mau memberi tugas, dan kalian semua catat tugas ini dibuku latihan kalian!" ucap pak Dante


"udah Sha, nanti bisa pinjam buku milikku" seru Monic menenangkan Shesa, perlahan Shesa duduk dibangkunya kembali.


"ngeselin banget tau nggak sih tuh guru baru" gerutu Shesa sambil memanyunkan bibirnya.

__ADS_1


"sudah sudah" ucap Monic.


tak berselang lama jam istirahat telah tiba, pak Dante mulai meninggalkan kelas 12A, dengan gaya elegannya pak Dante berjalan menuju ruang kantor kepala sekolah.


*******


di dalam ruangan kepala sekolah.


pak kepala sekolah melihat pak Dante mengetuk pintu, kemudian ia membukakan pintu dengan segera.


"pak Vano, silahkan masuk pak!" seru kepala sekolah kepada Vano, hanya kepala sekolahlah yang mengetahui tentang penyamaran Vano sebagai guru baru bahasa Inggris, pak Dante.


"silahkan duduk pak!" seru kepala sekolah.


"terimakasih" jawab Vano sembari duduk di kursi.


"bagaimana pak, apa semuanya baik-baik saja, apa anak-anak ada yang curiga tentang bapak?" tanya kepala sekolah yang penasaran bagaimana reaksi para siswa tentang penyamaran Vano sebagai pak Dante.


"penyamaran ini sukses pak, bahkan istri saya sendiri tidak mengenali siapa saya" ucap Vano sembari tersenyum.


"syukurlah kalau begitu" seru kepala sekolah ikut senang.


"tok...tok...tok"


"masuk!" seru kepala sekolah, kemudian pintu terbuka, terlihat Shesa masuk kedalam ruang kepala sekolah, ia terkejut melihat pak Dante berada bersama kepala sekolah.


"Shesa, ada apa?" tanya kepala sekolah, sehingga membuat pak Dante menoleh ke arah Shesa.


Shesa maju mendekati meja kepala sekolah, pak Dante terus memperhatikan langkah Shesa hingga mereka berjarak begitu dekat.


"maaf pak saya disuruh bu Dewi untuk mengambil arsip untuk acara kegiatan Out Dor Learning besok lusa" seru Shesa sedikit gugup, karena ia tahu pak Dante sedang memperhatikannya.


"oh..baiklah, sebentar saya ambilkan" seru kepala sekolah sambil berdiri mengambil arsip itu di lemari buku.


sementara kepala sekolah mengambilkan arsip, Vano terus memperhatikan istrinya yang berada tepat disampingnya, tangnnya mulai bergerak pelan seolah-olah ingin menyentuh tangan Shesa.


Shesa masih berdiri menunggu kepala sekolah memberikan arsip itu, ia tidak menyadari bahwa Vano terus saja memperhatikannya.

__ADS_1


"sayang, aku ingin sekali memelukmu" gumam Vano dalam hati, ia nampak gusar saat Shesa berdiri disampingnya, tangannya ingin sekali meraih tangan Shesa dan menggenggamnya dengan erat, namun itu tidak bisa ia lakukan, ia harus sabar menahannya agar penyamarannya tidak terbongkar.


setelah beberapa saat kepala sekolah membawa sebuah arsip dan menyerahkannya kepada Shesa.


"ini" seru kepala sekolah, dan Shesapun menerima arsip tersebut, setelah ia mendapatkan arsip yang diminta bu Dewi, lantas ia segera meninggalkan ruangan tersebut.


"kalau begitu saya permisi dulu pak, permisi...mari pak Dante" ucap Shesa dengan sopan, kepala sekolahpun membalasnya dengan anggukan, sementara Vano menampilkan ekspresi cuek dan jutek, sehingga wajah Shesa berubah menjadi kesal.


"hii...nih guru dari tadi bikin emosi jiwa aja, eh mbok ya tersenyum apa ngangguk gitu kek, kok malah jutek, nyesel aku nyapa dia" gerutu Shesa sambil pergi berlalu meninggakan ruang kepala sekolah.


setelah merasa Shesa pergi dari ruang kepala sekolah, Vanopun ikut pergi keluar menyusul istrinya.


"saya permisi keluar dulu pak" seru Vano pada kepala sekolah.


"oh iya, silahkan pak" jawab kepala sekolah.


akhirnya Vano memutuskan untuk mengikuti kemanapun Shesa pergi, namun ia harus hati-hati jangan sampai kehadirannya di ketahui Shesa.


Shesa berjalan di sepanjang koridor sekolah, waktu itu suasana sedang ramai, karena semua siswa sedang beristirahat, Laura yang sedang duduk dibangku depan kelas, tanpa sengaja melihat Shesa yang sedang berjalan menuju ruang kelas, ia mempunyai rencana untuk mengerjai Shesa.


Laura sengaja menyelonjorkan salah satu kakinya agar saat Shesa lewat didepannya, ia menjadi terjatuh, namun hal itu diketahui olah Vano yang bersembunyi di balik dinding, ia melihat Laura sengaja melakukan itu agar bisa mencelakai Shesa.


perlahan Shesa berjalan di depan Laura, ia tidak waspada dengan keadaan di depannya, karena situasi yang ramai oleh lalu lalang para siswa, dan tiba-tiba kakinya tersandung oleh kaki Laura yang sengaja ia selonjorkan, sehingga membuat Shesa hendak terjatuh, namun dengan sigap pak Dante menahan tubuh Shesa agar tidak terjatuh, karena itu pasti akan membahayakan janin yang dikandung Shesa.


"aaaaa" teriak Shesa saat kakinya menyandung kaki Laura, namun ia terkejut saat pak Dante menahannya agar tidak terjatuh, dengan cepat Shesa melepaskan pegangan pak Dante dari tubuhnya, karena ia tidak mau kalau Vano sampai mengetahuinya, ia pasti akan membunuh pak Dante, jika saja Vano mengetahui pak Dante telah menyentuh tubuhnya.


"terima kasih banyak pak Dante, bapak sudah menolong saya!" seru Shesa


"hmm...lain kali kalau jalan hati-hati" ucap pak Dante datar.


Laura yang mengetahui rencananya gagal, ia lantas berpura-pura minta maaf kepada Shesa.


"ya ampun Shesa, kamu nggak papa, maafin aku, aku nggak tahu kalau kamu sedang lewat disini, maafin aku ya" ucap Laura dengan wajah pura-puranya.


Vano mengetahui gadis ini sedang berpura-pura, oleh karena itu Vano akan berusaha menjauhkan gadis ini dari Shesa.


misi awal Vano adalah mengawasi Shesa yang sedang hamil, karena sekarang ia tahu ada seseorang yang ingin berlaku jahat pada istrinya, maka Vano akan terus melindungi Shesa dan buah cintanya dari orang-orang yang berusaha menyakiti mereka berdua.

__ADS_1


BERSAMBUNG


💖💖💖💖


__ADS_2