Pernikahan Rahasia Anak SMA

Pernikahan Rahasia Anak SMA
pelayan baru


__ADS_3

Mobil Excel perlahan melaju dan meninggalkan mereka berempat.


"Daah...Shesa" sapa terakhir Romi, Shesa membalasnya dengan senyum.


"Yuk...guys taksinya udah dateng tuh" seru Nabila pada ketiga temannya, dan akhirnya mereka bertiga berada dalam satu taksi yang sama, selama perjalanan Shesa nampak murung dan tak bergairah, Mita dan Nabila paling rame diantara mereka berempat, selalu saja ada cerita heboh yang keluar dari mulut mereka, Monic yang melihat Shesa bersedih mencoba menghibur dengan basa basi.


"Oh iya Sha, gimana kabar papamu, udah dibolehin pulang belum?" seru Monic membuat Shesa tersadar dari lamunannya.


"Eh...iya...apa tadi? Kamu ngomong apa Mon?" sahut Shesa gugup, ia baru terbangun dari lamunannya, Monic menatapnya serius.


"Kamu ngelamunin apa sih? Dari tadi diem mulu, kamu masih mikirin omongan mas Excel?" tanya Monic meraba-raba.


"Iya nih Shesa, aneh banget tau nggak, kamu kenapa sih pakai minta maaf segala, itukan bukan salahmu, itu masalah pak Vano sama kak Romi, terus kamu disitu jadi apa? Jadi rebutan mereka?" sahut Mita yang tidak sengaja mendengar ucapan Monic pada Shesa.


"Mita...hus...kamu ngomong apa sih, bukannya menghibur teman, malah ngeledekin" sahut Monic kesal.


"Iya...maaf bukan gitu maksudku" sesal Mita


"Sudah...sudah, nggak usah bertengkar, iya...iya... itu memang salahku, aku memang bodoh sudah ikut campur urusan mereka, dan aku sok kePDan minta maaf atas perlakuan pak Vano" sahut Shesa datar.


"Shesa..." gumam Monic bersedih, betapa makan hati usaha temannya ini menutupi pernikahannya.


"Baiklah semua! Aku berhenti di depan" seru Shesa untuk pamit duluan pada ketiga temannya.


"Shesa...kamu pindah rumah? Bukannya arah rumahmu bukan daerah sini, ini sih kawasan rumah elite" seru Nabila sambil melihat-lihat arah luar jendela mobil.


"Ah...em..iya...ini rumah om aku, jadi aku sementara ikut om dulu selama papa dirawat di rumah sakit, tau sendiri kan? Aku tuh takut sendirian dan takut gelap" Shesa berusaha menutupi.


"Ohh...eh btw om kamu hebat ya, bisa tinggal disini, pasti kaya banget, sumpah deh" sahut Mita, Shesa langsung mengalihkan pembicaraan.


"Stop didepan pak" ucap Shesa pada sopir.


"Ya udah, aku duluan ya" pamit Shesa pada ketiga sahabatnya, tak berapa lama Shesa turun dari taksi, dan ketiga temannya melambaikan tangan kepada Shesa.


"Daahh...."


"Daaahh...hati-hati" sahut Shesa membalas lambaian tangan ketiga sahabatnya, Shesa memperhatikan laju taksi itu, hingga taksi itu benar-benar menghilang dari pandangannya, setelah taksi itu hilang dari pandangan, Shesa menghela nafas panjang, dan mulai beranjak melangkahkan kakinya yang masih sakit untuk masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


Shesa perlahan membuka pintu, ia mulai mengucap salam, namun tak ada jawaban rumah nampak sepi hari ini, Shesa masuk dan mulai naik ke tangga, dengan sedikit kesusahan ia berusaha menaiki tangga dengan rasa sakit yang masih terasa, seorang pelayan melihat Shesa yang sedang kesakitan.


"Nona muda kenapa? Sini saya bantu!" ucap seorang pelayan baru di rumah itu, Shesa terkejut melihat pelayan baru di rumah itu, lantas Shesa bertanya padanya.


"Kamu masih baru ya? Perasaan tadi pagi belum ada" tanya Shesa sambil berjalan menaiki tangga dan pelayan itu memapahnya dengan hati-hati.


"Nona jangan banyak bicara dulu, kita masuk dulu ke kamar " seru wanita yang seumuran dengan Anggi, mamanya Shesa.


Sesampainya di dalam kamar, pelayan itu menaikkan kaki Shesa ke tempat tidur dengan hati-hati, kemudian ia mengambil kompres hangat untuk kaki Shesa yang terkilir.


Sambil mengompres kaki Shesa, pelayan itu memperkenalkan dirinya.


"Saya memang pelayan baru disini nona, nama saya Ijah, Tuan muda Vano meminta saya untuk merawat Nona, katanya tadi Nona muda sedang keseleo" seru Ijah pada Shesa


"Merawat saya? Tapi saya tidak sakit" sahut Shesa sambil memutar bola matanya.


"Nona keseleo rupanya, tahan sedikit ya non, bik Ijah akan mengembalikan otot yang terkilir tadi, rasanya akan sedikit sakit" seru bik Ijah


Shesa bersiap untuk di urut oleh bik Ijah, dan....


"krekk..."


"Awwwwww....sakit bik...awwoooooo" suara rintihan Shesa terdengar sampai luar kamar.


"Tahan ya Non, ini cuma sebentar kok, nanti tidak akan sakit lagi" ucap bik Ijah sambil tersenyum, sembari memijit Shesa, bik Ijah menceritakan bagaimana kebaikan Vano kepadanya.


"Nona muda beruntung banget diperistri sama Tuan muda, dia tuh seperti malaikat tak bersayap, mungkin sebagian orang menganggapnya sombong, arogan, kejam, tapi bagi bik Ijah, Tuan muda adalah penolong bik Ijah" seru bik Ijah mengingat kembali kebaikan Vano kepadanya.


Shesa terkejut dengan pengakuan bik Ijah.


"Memangnya dia pernah melakukan apa sama bik Ijah?" tanya Shesa penasaran.


"Dulu saya hidup di jalanan Non, bik Ijah hanya tukang pijat keliling, setiap malam tidur di depan toko, malam itu beberapa preman mengganggu bik Ijah, mereka mau memalak bibi, tiba-tiba Tuan muda datang menghajar preman-preman itu, bibi sangat ketakutan waktu itu" ujar bik Ijah mengingat masa lalunya.


Shesa mendengarkan seksama cerita bik Ijah


"Dalam ketakutan Tuan muda memberikan saya perlindungan, bik Ijah dicarikan rumah yang layak untuk bik Ijah tempati, dia memberi bik Ijah pekerjaan sebagai tukang pijat khusus untuknya, jadi setiap dia merasa capek-capek dan pegal, Tuan muda memanggil bik Ijah" tukas wanita paruh baya itu dengan senang.

__ADS_1


Shesa tersenyum mendengar cerita bik Ijah, ada kekaguman tersembunyi dalam hatinya untuk Vano, memang terkadang Vano menjengkelkan, bikin darah tinggi naik, apalagi hari ini bikin Shesa spot jantung saja.


Tapi Shesa sadar tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini, dari bik Ijah ia belajar untuk mengingat kebaikan orang lain daripada harus mengingat keburukannya.


*Tidak ada pasangan yang sempurna di dunia ini, bukankah pasangan yang sempurna itu adalah mereka yang mau menerima segala kekurangan dan kelebihan pasangan dengan cara yang sempurna*.


Setelah beberapa saat, Vano tiba di rumah, ia bertanya pada salah satu pelayan.


"Pelayan! Apa Istriku sudah pulang?" tanya Vano


"Sudah Tuan muda, sekarang Nona


muda sedang ada di dalam kamar" jawab Pelayan.


Vano lantas naik ke atas menuju kamar mereka, namun ia sedikit terkejut mendengar suara rintihan Shesa, dengan perasaan tak menentu dia menguping Shesa dari luar pintu.


"Awwww....hhh...hhh..hhh awww... sakit" rintihan Shesa membuat kuping Vano menjadi merah, prasangka buruk sudah tertanam dalam otaknya.


"Apa yang sedang dia lakukan? Jangan-jangan" Vano merasa geram dan mengepalkan kedua tangannya, dan sontak saja Vano mendobrak pintu kamar .


"braaakkk"


Shesa dan bik Ijah merasa kaget bukan kepalang melihat Vano yan


g tiba-tiba tanpa hujan tanpa angin mendobrak pintu kamar mereka.


"Tuan muda!" sapa bik Ijah


"Em...eh...a...bik...Ijah..." seru Vano terbata-bata sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal.


Shesa tanpa sengaja tertawa geli melihat tingkah Vano yang lucu.


*


*


BERSAMBUNG

__ADS_1


😉😉😉😉😉


__ADS_2