Pernikahan Rahasia Anak SMA

Pernikahan Rahasia Anak SMA
Kontraksi palsu


__ADS_3

"Ehh...kamu cari siapa sayang?" seru Shesa yang melihat tingkah Vano yang Seolah-olah mencari seseorang.


Vano menoleh istrinya yang tampak mengelus-elus perutnya.


"Loh katanya tadi ada yang menendang? mana...mana?" ucap Vano sembari menoleh ke kanan dan ke kiri.


Shesa mengusap wajahnya dan meraih tangan Vano untuk ia letakkan di atas perut besarnya.


"Baby kita minta bermain sepakbola, tapi aku tidak bisa, dia nendang mulu sayang" ucap Shesa sembari duduk menyandarkan punggungnya.


Vano terkejut saat tangannya menyentuh perut sang istri, ia tersenyum dan berbisik kepada bayinya yang akan segera launching itu, pipinya menempel pada perut Shesa dan dengan lembut ia mengelus perut sang istri.


"Hei sayang, besok aja kalau kamu udah keluar dari perut mama, nanti papa ajak main sepak bola, kasihan mama, mama sudah capek bermain bola sama papa, jangan ditambah lagi dengan tendanganmu sayang, lebih baik kamu tendang saja papa"


Ikatan batin antara bayi dan orangtuanya memang begitu dekat, seolah si jabang bayi mengerti apa yang dikatakan Vano, tiba-tiba saja pipi Vano ditendang oleh sang baby yang masih berada dalam rahim Shesa, Vano terkejut dan ia terbangun dan melihat perut Shesa yang tampak bergerak.


"Aduh, dia nendang... eh udah berani nendang papa kamu ya!' ucap Vano sembari mengelus dan menciumi perut Shesa yang tampak bergerak.


Shesa tersenyum bahagia melihat suaminya yang tampak sedang berbicara dengan jabang bayi mereka.


"Aku sudah tidak sabar lagi untuk melihatnya lahir ke dunia ini" ucap Vano sembari tidur dipangkuan istrinya.


"Kata dokter tinggal nunggu waktunya saja" seru Shesa sembari tersenyum, namun tiba-tiba ia merasakan sakit pada perutnya.


"Aww...perutku sakit sekali" pekik Shesa sembari memegang perutnya, Vano yang tadinya santai, mendadak ia panik melihat Shesa merintih kesakitan.


"Kamu kenapa sayang, perutmu sakit, kita ke dokter sekarang!"


Vano segera memerintahkan pelayan untuk menyiapkan segala keperluan Shesa, ditengah malam itu Vano membangunkan seluruh isi rumah dengan menekan tombol sirine yang sengaja ia pasang disaat darurat, mengingat sang istri tengah hamil besar.


Seluruh penghuni rumah keluar dari kamarnya, tampak Hendra dan Leona datang ke kamar Vano dan melihat kondisi Shesa, sementara pelayan berjajar untuk menerima komando dari Sang pemilik rumah.


Leona mulai memasuki kamar dan menghampiri Shesa yang tampak nafasnya naik turun.


"Shesa sayang, apa perut kamu sakit nak?" tanya Leona yang melihat menantunya tampak menggigit bibir bawahnya, menahan sakit yang ia rasakan di perutnya.


Shesa mengangguk pelan, kemudian Leona mengarahkan Shesa untuk mengambil nafas panjang dan mengeluarkan nya.

__ADS_1


"Coba tarik nafas dalam-dalam, lalu keluarkan lewat mulut" seru Leona sembari mengelus pundak Shesa.


Setelah beberapa tiupan nafas, Shesa merasa lebih baik, perutnya yang tadi terasa sakit, sekarang sudah tidak dirasakannya lagi.


"Bagaimana, masih sakit?" tanya Leona


Shesa menggelengkan kepalanya, ia merasa sudah tidak sakit lagi, ini sungguh aneh, Leona tersenyum, kemudian ia mengambilkan air minum untuk menantunya.


"Minumlah" Leona memberikan segelas air putih kepada Shesa, lantas Shesa meminumnya.


"Terimakasih ma" ucap Shesa


Sementara itu Vano tampak sibuk menyiapkan segala sesuatunya, mobil sudah siap, bahkan ia sudah menyiapkan pengawal khusus untuk mengawal Shesa ke rumah sakit.


"Ayo kita berangkat" seru Vano yang sudah siap mengantarkan Shesa ke rumah sakit.


"Perutku sudah tidak sakit lagi" ucap Shesa sembari menatap suaminya yang sudah terlihat tegang.


"Loh katanya tadi sakit, apa baby kita tidak jadi keluar sekarang?" seru Vano yang membuat Leona menggelengkan kepalanya.


Leona tersenyum dan ia duduk disamping menantunya.


"Jadi, kita nggak jadi dong ke rumah sakit?" seru Vano yang masih terlihat bingung.


Hendra menghampiri putranya, dan mencoba menenangkan nya.


"Papa tahu kekhawatiran mu, nanti kalau sudah waktunya, pasti baby kalian akan lahir" seru Hendra sembari menepuk pundak Vano.


"Baiklah, sekarang beristirahat lah, papa dan mama keluar dulu, nanti kalau ada apa-apa, kami berdua selalu ada untuk kalian" seru Hendra sembari tersenyum.


"Terimakasih pa, ma" ucap Vano sembari tersenyum.


Akhirnya seluruh pelayan yang terbangun di malam itu, kembali ke kamar mereka masing-masing.


Vano menutup pintu kamarnya, kemudian ia menghampiri istrinya yang tengah duduk diatas tempat tidur.


"Kamu tahu, aku sangat khawatir sekali, pasti itu sakit sekali, maafkan aku sayang, aku sudah membuatmu seperti ini, setiap malam kamu susah tidur hanya untuk menemani baby kita bermain bola, belum lagi aku memintamu untuk menemaniku begadang, kamu harus menahan rasa sakit saat baby kita menendang, maafkan aku, kalau boleh, aku ingin menggantikan rasa sakitmu itu" ucap Vano sembari merangkul Shesa dan membawanya ke dalam pelukannya.

__ADS_1


"Sudahlah, ini sudah takdir ku menjadi seorang wanita, mengandung dan melahirkan, aku hanya ingin kamu ada disampingku, menemaniku disaat baby kita lahir ke dunia" balas Shesa sembari membenamkan wajahnya pada dada bidang Vano.


"Tentu saja, aku akan selalu ada di sampingmu" ucap Vano mesra.


*****


Pagi ini Vano mendapat kabar bahwa sekolah Minggu depan ada ujian Nasional sekolah, Vano mengajukan izin untuk istrinya yang sedang tidak mungkin untuk mengikuti ujian Nasional, mengingat kandungannya yang semakin membesar dan sewaktu-waktu bisa melahirkan.


beberapa bulan terakhir, Shesa sudah tidak mengikuti pelajaran di sekolah, Shesa belajar dirumah atau homeschooling, dimana guru Shesa yang datang ke rumah, untuk memberi pelajaran kepada Shesa, meskipun tengah hamil besar, tak menyurutkan semangat nya untuk belajar, meskipun sang suami sudah melarangnya untuk pergi ke sekolah, namun Vano sadar istrinya harus melanjutkan pendidikannya.


Sementara itu Monic dan Laura tengah mengunjungi Shesa yang beberapa bulan ini belum bertemu, semenjak Shesa memutuskan untuk homeschooling, ia lebih banyak dirumah dan fokus dengan kehamilannya.


"Hai Shesa" seru Laura dan Monic


"Kalian...ya ampun aku kangen banget tau nggak!" ucap Shesa sembari memeluk kedua temannya.


"Kami juga kangen, ya ampun Sha, perutmu semakin gede saja" ungkap Monic sembari mengelus perut Shesa.


"Hm...iya" seru Shesa sembari tersenyum.


"Ayo masuk"


"Eh gimana kabar anak-anak, aku kangen banget sama kalian semua" ucap Shesa


"Anak-anak juga kangen banget sama kamu, nih mereka menitipkan ini untukmu" seru Laura sembari memberikan bingkisan kepada Shesa.


"Apa ini? ya ampun kalian nggak perlu repot-repot!" ucap Shesa sembari menerima bingkisan itu.


"Di buka dong" seru Monic


Kemudian Shesa membuka bingkisan itu, alangkah senangnya Shesa mendapat hadiah sebuah baju bayi yang terbuat dari benang rajut yang khusus mereka buat untuk Shesa.


"Ya ampun bagus banget, terimakasih banyak ya, bilang sama mereka, aku sangat berterimakasih, aku suka banget" seru Shesa sembari membayangkan baby-nya pasti lucu memakai baju itu.



BERSAMBUNG

__ADS_1


🔥🔥🔥🔥🔥


...KIRA-KIRA BABY SHESA COWOK APA CEWEK YA?? 🤭🙏...


__ADS_2