
Shesa dan Monic terperanjat melihat kedatangan Pak Dante dibelakang mereka.
"Eh ada Pak Dante disini!" ucap Monic salah tingkah.
"Apa yang terjadi? Kenapa kalian berdua berdiri disini?" tanya pak Dante yang penasaran melihat Shesa dan Monic sedang berdiri diluar ruangan UKS.
Shesa hanya terdiam, apa yang dikatakan suaminya sudah terbukti, kenapa Laura sengaja memberikan jus itu kepada dirinya.
"Anu pak, si uler eh si Laura tiba-tiba sakit dan pingsan dikelas" ucap Monic menjelaskan.
Vano menatap istrinya, ia melihat raut wajah Shesa yang sedang memikirkan sesuatu.
"Apa itu benar?" tanya Pak Dante kepada Shesa.
Shesa menatap suaminya dalam-dalam.
"Iya pak" jawabnya singkat.
Vano mulai memahami ekspresi wajah Shesa, kemudian ia segera masuk kedalam ruang UKS, Vano ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Laura.
Shesa memperhatikan langkah suaminya, ia masih tidak percaya bahwa Laura akan berbuat ini kepadanya.
Pak Dante tiba di ruangan UKS, ia melihat Laura meringis kesakitan sembari beringsut memegang perutnya yang terasa panas sekali.
"Astaga, apa yang terjadi dok? apa yang terjadi dengan siswa saya?" tanya Pak Dante kepada dokter jaga itu.
"Saya belum bisa memastikannya, hanya bisa menduga pak, bahwa gadis ini telah mengkonsumsi obat peluruh kandungan dalam dosis yang cukup tinggi, terlihat dari pendarahan nya yang cukup hebat" seru dokter
"Gadis ini hamil?" tanya Pak Dante
"Tidak, dia tidak hamil, seandainya dia hamil, mungkin pendarahannya akan semakin hebat, dan kemungkinan besar akan membahayakan ibu dan janinnya, Laura hanya merasa kram yang berlebihan, efek dari obat itu pak" tandas dokter menjelaskan.
"*Sialan... rupanya dia berusaha untuk menyentuh buah cinta kami, aku tidak akan membiarkan terjadi sesuatu pada istri dan anakku*" Vano sangat kesal dengan rencana Laura yang mencoba mengusik istri dan calon bayinya.
Tiba-tiba seorang wanita dengan memakai kerudung warna hitam, serta menutupi wajahnya dengan cadar, sedang berjalan menuju ruang UKS, langkahnya yang sedikit terburu-buru menunjukkan bahwa wanita itu sedang mengkhawatirkan sesuatu.
"eEh...eh... siapa tuh perempuan?" seru Monic yang melihat kedatangan wanita bercadar sedang lewat didepan mereka.
Shesa menatap wanita itu, dan wanita itupun berhenti didepan mereka dengan tatapan yang sangat tajam.
__ADS_1
"Shesa...ini belum berakhir, aku akan segera bongkar kebusukanmu!" gumam wanita itu yang tak lain adalah Siska.
Siska terpaksa hadir ke sekolah itu lagi, karena ia mendapat telepon bahwa keponakannya sedang sakit dan pingsan.
Kemudian Siska mulai masuk kedalam ruang UKS.
"Eh aneh banget nggak sih wanita itu Sha? apa itu keluarganya Laura ya" seru Monic
"Aku seperti mengenal sorot mata itu, mata yang penuh dengan dendam dan kebencian" ucap Shesa mengingat seseorang.
"Apa maksudmu Sha?" tanya Monic kebingungan.
"Tidak apa-apa, mungkin hanya kebetulan" ucap Shesa sembari tersenyum.
*******
Didalam ruang UKS.
Siska mendapati Laura yang sedang meringkuk kesakitan diperutnya, sementara noda darah masih nampak segar pada rok SMA nya.
"Laura... kamu kenapa sayang!" seru Siska sembari menghampiri Laura.
Wanita itu mulai bertanya kepada dokter.
"Dokter, apa yang terjadi pada keponakan saya, katakan!" seru Siska memaksa dokter untuk mengatakan apa yang sebenarnya terjadi.
Siska juga memakai penyaring suara yang ia sembunyikan dibalik bajunya, supaya orang lain tidak mengenali bahwa dia adalah Siska.
Vano terus memperhatikan wanita itu, ia memperhatikan dalam-dalam gerak gerik dan gayanya berbicara pada dokter, seperti tak asing baginya.
"Siska"
Vano benar-benar yakin wanita yang sedang berada bersamanya adalah Siska, bagaimana mungkin Vano tidak mengenali siapa wanita itu, secara tingkah laku Siska sudah Vano hafal selama bertahun-tahun, teman semasa kuliahnya di LA tersebut.
"*Bagaimana pun caramu menyembunyikan identitas Siska, aku akan dengan mudah mengetahuinya, Vano Perkasa tidak akan pernah membiarkamu menyentuh istri dan anakku*" gumam Vano sembari menatap Siska dengan sorot mata yang tajam.
"Begini nyonya, keponakan nyonya diduga mengkonsumsi obat pelancar haid secara berlebihan, sehingga membuat perutnya kram dan mengeluarkan darah mens belum pada waktunya, sebaiknya kita bawa dia ke rumah sakit" jelas dokter memaparkan.
"*Apa? Laura meminum obat itu? bagaimana bisa? ini tidak mungkin, seharusnya Shesa yang meminum obat itu, ada yang tidak beres*" bisik Siska dalam hatinya.
__ADS_1
"Bagaimana bisa keponakan saya meminum obat itu dokter? Ini pasti sabotase, pasti ada yang mencoba mencelakai keponakan saya" seru Siska dengan nada yang penuh emosi, kemudian ia menoleh kearah pak Dante yang sedang berdiri di samping dokter.
"Oh... ini guru baru itu, sangat tidak pantas menjadi seorang guru, dimana tanggung jawab Anda sebagai guru, sehingga membuat siswinya seperti ini, saya benar-benar kecewa" tandas Siska semakin kesal.
"Maaf nyonya, ini semua diluar tanggung jawab kami, kami tidak mungkin dengan sengaja menyimpan atau mengakses bebas obat peluruh tersebut sembarangan, mengingat ini adalah lingkungan sekolah, bisa jadi keponakan Anda sendiri yang lalai" seru Vano tegas.
"Halah...nonsen, saya tidak mau tahu, saya mau bertemu kepala sekolah sekarang juga" seru Siska yang sudah dipenuhi dengan amarah.
"Kepala sekolah sedang rapat diluar, saya yang mewakili sementara, silahkan apa yang ingin Anda katakan!" ucap Vano kepada Siska.
"Saya akan menunggunya, saya tidak butuh bicara pada Anda" jawab Siska ketus.
Tiba-tiba mobil ambulance datang untuk menjemput Laura yang akan segera dibawa ke rumah sakit.
"Sha... mobil ambulance sudah datang tuh, ayo kita beritahu pak Dante supaya Laura cepat dibawa ke rumah sakit" seru Monic
"Iya...ayo" jawab Shesa sembari melangkahkan kakinya menuju keruang UKS.
"Permisi pak, mobil ambulance nya sudah datang!" seru Shesa kepada Vano.
Tiba-tiba Siska melihat kedatangan Shesa yang masuk kedalam ruang UKS, dengan penuh tatapan sinisnya, Siska menghampiri Shesa, Vano mulai antisipasi untuk mencegah Siska mendekati istrinya.
"Hei kamu... gadis sialan, masih bertahan juga kamu di sekolah ini?" seru Siska sembari menatap Shesa tajam.
Shesa terkejut melihat wanita bercadar itu berkata kasar kepadanya.
"Apa maksud Anda nyonya?" tanya Shesa penasaran.
"Hm... kamu tuh benar-benar tidak tahu malu, udah bunting tetap aja sekolah, apa pantas seorang siswi yang sedang hamil, masih bisa bersekolah, benar-benar memalukan" umpat Siska penuh murka sembari berjalan kearah Shesa.
"Jangan mendekat" tiba-tiba Vano menghadang langkah Siska untuk mendekati istrinya.
Siska terkejut dan ia mulai berfikir tentang sesuatu.
"Ohh...bak seorang pahlawan, pak guru baru ini berusaha melindungi muridnya, benar-benar saya sangat terharu, atau jangan-jangan ada chemistry diantara guru dan murid ini? Wao...luar biasa" seru Siska sembari bertepuk tangan pelan.
BERSAMBUNG
🔥🔥🔥🔥🔥
__ADS_1