
Shesa menutupkan selimut ke tubuh mertuanya, lantas ia beranjak menghampiri suaminya.
"mama sudah tidur, lihat betapa damai wajah mama saat beliau tertidur" ucap Shesa sembari membenamkan wajahnya pada dada suaminya.
"minggu depan aku akan memberi kejutan untuk papa" seru Vano yang ingin membuat surprise untuk orang tuanya.
"kenapa tidak diberi tahu langsung saja papa sayang, harus nunggu ulang tahunnya?" ungkap Shesa sembari mendongak melihat wajah sang suami.
"minggu ini papa pulang, disaat yang bersamaan aku akan mempertemukan mama dan papa, papa pasti tidak akan percaya, sama halnya dengan aku, yang tidak percaya bahwa mama masih hidup, ini seperti mimpi, mimpi yang membuaiku dalam kenyataan, mama nyata adanya memang masih hidup" ucap Vano sendu mengingat pertama kali ia mengetahui bahwa Leona masih hidup.
"kamu memang selalu pintar dalam memberi kejutan, aku nggak bisa bayangin betapa senangnya papa, saat ia tahu mama masih hidup" ucap Shesa yang semakin dalam memeluk suaminya.
"dan pastinya tanpa dirimu, aku tidak mungkin bisa bertemu dengan mama, terimakasih sayang, kau memang bidadariku, kau sudah membuat keluargaku utuh kembali, i love you baby" ungkap Vano sembari mengecup mesra kening sang istri.
"baiklah ayo kita pergi, biarkan mama istirahat" ucap Vano sembari membawa Shesa keluar dari kamar Leona.
*****
Di rumah sakit
dokter Erick masuk keruangan tempat Helena dirawat, tampak Helena sedang memikirkan sesuatu, Helena menatap luar jendela, sesekali ia mengusap air matanya, wajahnya yang sendu membuat mata indah itu terlihat basah oleh air mata.
tiba-tiba ada tangan seseorang yang memberikannya sapu tangan berwarna biru.
"pakailah sapu tangan ini, dan usap air matamu" seru dokter Erick kepada Helena yang tengah merindukan Mommynya.
Helena sangat terkejut dengan kedatangan dokter Erick, ia menerima sapu tangan pemberian dokter Erick.
"terimakasih...maaf dok saya tidak tahu kedatangan Anda kemari" ucap Helena tersipu malu, Dokter Erick tersenyum dan menatap lembut wajah gadis berkulit putih itu.
"aku datang untuk mengecek keadaanmu hari ini, dan ternyata aku melihat seorang gadis sedang tertegun melihat arah luar jendela, setelah aku dekati, ternyata gadis itu tengah menangis" seru dokter Erick sembari menatap kearah jendela.
"apa yang membuatmu menangis? mungkin aku bisa menghiburmu?" ucap dokter Erick menawarkan jasanya.
"anggap saja aku temanmu, aku sudah mendengar semuanya dari Vano tentang kamu dan Mommy mu, aku sangat salut dengan keberanianmu, melawan ibu kandung sendiri demi kebenaran, tapi aku yakin Mommy mu akan berubah, ia juga pasti sangat merindukanmu, percayalah...dia pasti juga merindukan putrinya " ucap dokter Erick mencoba menghibur Helena.
__ADS_1
"terimakasih dokter, aku ingin sekali bertemu dengan Mommy, bagaimanapun juga dia adalah wanita yang telah melahirkanku, aku ingin meminta maaf padanya, karena aku belum bisa menjadi anak yang baik untuk Mommy " ucap Helena sedih.
dokter Erick terdiam, ia mengerti bagaimana perasaan Helena, ada kerinduan mendalam yang terpancar pada sinar matanya, dokter Erick semakin kagum dengan Helena, keberanian Helena telah membuat hati dokter Erick terpesona.
"ya Tuhan, kenapa aku tidak bisa berpaling dari gadis ini, ia membuatku tersentuh, aku mulai menyukainya" gumam dokter Erick sembari menatap dalam-dalam wajah Helena
tanpa ia sadari, Helena melihat dokter Erick yang tampak memandangnya dalam-dalam.
"dokter...dokter Erick, helloww" seru Helena saat mengetahui dokter Erick tak berkedip saat memandangnya.
sejenak dokter Erick tersadar, dan ia membuang wajahnya karena malu.
"eh...iya maaf...aku...aku..." ucapnya gugup
"ma...maaf, baiklah biar aku periksa tekanan darahmu, kalau hasilnya normal maka besok kamu bisa pulang" ucap dokter Erick sembari memeriksa tekanan darah Helena.
Helena menatap malu-malu wajah pria berkacamata itu, tampak wajahnya yang kharismatik, entah kenapa Helena suka wajahnya yang sederhana namun terlihat sangat maskulin, detak jantung Helena semakin cepat saat tangan dokter Erick menyentuhnya dengan lembut, Helena salah tingkah, ada perasaan yang aneh bercampur suka.
"duh...kok deg degan ya...aku belum pernah merasakan ini kepada pria manapun" gumam Helena saat dokter Erick menatapnya.
setelah beberapa saat terlihat hasil tekanan darah Helena, tiba-tiba dokter Erick berkata.
tentu saja itu membuat Helena sangat malu, dokter Erick terkekeh melihat ekspresi Helena yang tampak memerah pipinya.
"kenapa dokter ketawa?" seru Helena
"maaf, aku hanya menggodamu...baiklah, karena tekanan darahmu masih belum stabil, maka besok kamu belum boleh pulang dulu, dengan begitu aku masih bisa melihat dirimu di sini" ucap dokter Erick lirih.
"apa dok?" seru Helena terkejut saat dokter Erick bilang ia masih bisa melihat Helena disini.
"ah...tidak, tidak ada apa-apa " seru dokter Erick menutupi, namun dalam hatinya ia tampak bahagia karena masih bisa melihat wajah gadis yang berhasil melumpuhkan hatinya itu.
"baiklah kalau begitu aku permisi dulu, jangan lupa minum obatnya, agar lukamu cepat mengering, kalau kamu butuh sesuatu panggil saja aku " seru dokter Erick mengingatkan
"terimakasih dok, tapi dokter, apa dokter tidak pulang malam ini?" tanya Helena
__ADS_1
"em..tidak, malam ini aku akan tidur di rumah sakit, supaya jika kamu membutuhkan pertolongan ku, aku akan selalu ada untukmu " seru dokter Erick yang sukses membuat Helena tersipu malu.
Lantas dokter Erick segera keluar dari ruangan Helena, Helena tersenyum tipis saat wajah dokter Erick tersenyum padanya.
******
sementara di tempat lain, seorang wanita yang sedang menangis di dalam sebuah sel penjara, tampak kacau dan menyedihkan, tak ada lagi senyum di wajahnya, yang ada hanya buliran bening yang jatuh membasahi wajahnya yang tengah merindukan Helena, salah seorang teman satu selnya, melaporkan keadaan Veronica mengalami demam dan menggigil.
"pak sipir, tolong pak" seru seorang wanita yang satu sel dengan Veronica
seorang polisi jaga menghampiri wanita itu.
"ada apa?"
"wanita itu pak, badannya panas sekali, dia menyebut nama Helena terus" ucap wanita itu.
kemudian polisi tersebut membawa Veronica ke ruang perawatan khusus narapidana, Veronica benar-benar sakit, badannya panas dan menggigil, sesekali ia menyebut nama putri semata wayangnya, Helena.
"Helena, Helena..."runtuh Veronica dengan suara yang melemah
sementara seorang anggota polisi menghubungi Vano dan menceritakan apa ang terjadi dengan kondisi Veronica sekarang.
Vano menutup teleponnya, lantas ia berpikir sejenak tentang apa yang harus ia lakukan, Shesa melihat ekspresi sang suami yang tampak terdiam.
"sayang, kamu kenapa? siapa yang menelepon?" tanya Shesa
"polisi yang menangani kasus tante Veronica" jawab Vano.
"polisi? memangnya kenapa?" tanya Shesa penasaran.
"tante Veronica demam, dia memanggil nama Helena terus" ucap Vano sembari menatap bola mata istrinya.
"tante Veronica sakit? astaga...kasihan sekali, sayang aku tahu tante Veronica sudah jahat, namun tak bisa dipungkiri, beliau juga seorang ibu, tante Veronica pasti sangat merindukan Helena, aku yakin tante Veronica pasti berubah, beri dia kesempatan untuk bertemu dengan Helena sayang, aku yakin Helena juga pasti merindukannya...hm" ucapan Shesa membuat Vano menyetujui untuk mempertemukan Helena dan ibunya.
BERSAMBUNG
__ADS_1
🌷🌷🌷🌷🌷
JANGAN LUPA DUKUNGAN NYA YA😉💖