
"Kak Romi, diminum dulu tehnya, mumpung masih hangat" seru Laura kepada Romi yang tengah berdiri menatap layar ponselnya.
"Eh...iya, terimakasih" balas Romi tersenyum.
Kemudian Romi duduk dan meminum teh hangat yang sudah disajikan untuknya.
"hm...oh iya Laura, maaf kalau boleh aku tahu, sebenarnya kamu sama Bu Siska ada masalah apa? kok kayaknya Bu Siska kesal sama kamu?" tanya Romi penasaran.
"ceritanya panjang kak, tapi yang jelas aku dan Tante sudah tidak bekerja sama lagi" ucap Laura
"bekerja sama untuk apa?" tanya Romi semakin menyelidik.
Laura terdiam, ia takut jika ia bercerita kepada Romi, Romi akan menganggapnya jahat, maka dari itu ia lebih memilih diam.
"maaf kak, aku tidak bisa cerita sekarang, lain kali aja pasti aku ceritakan, sekarang aku bingung apa yang terjadi pada ibu jika Tante Siska menghentikan biaya pengobatan ibu di Semarang, aku sengaja mengikuti permintaan Tante Siska karena untuk biaya pengobatan ibu yang sedang sakit" ucap Laura sedih.
"Ya sudah, aku tidak akan memaksa, sekarang katakan ibumu sakit apa?" tanya Romi mulai bersimpati pada gadis manis itu.
"Leukimia kak" ucap Laura semakin sedih.
"apa? Leukimia...yang sabar ya Laura, semoga penyakit ibumu segera diangkat, dan diberi kesembuhan" seru Romi yang merasa kasihan mendengar keadaan ibu Laura.
"aku hanya memiliki ibu kak, aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi, Tante Siska adalah adik bapak, sedangkan bapak sudah meninggal 5 tahun yang lalu, di Semarang ibu dirawat nenek dan Tante Siska selalu mengirimkan uang setiap bulan untuk pengobatan ibu, tapi ... sekarang siapa yang harus mengobati penyakit ibu, lebih baik aku pulang saja ke Semarang, aku tidak ingin menyusahkan pak Vano disini" ucap Laura yang semakin sedih
"Pak Vano sudah membiayai sekolah ku disini, bahkan beliau juga yang memberi tempat tinggal ini untukku, apakah aku harus merepotkan nya lagi dengan biaya pengobatan ibu, tidak....aku tidak ingin menjadi benalu, lebih baik aku pulang saja ke Semarang" seru Laura yakin
Romi terdiam, sejenak ia berpikir bahwa Laura benar-benar gadis yang membutuhkan pertolongan, gadis yang terlihat tulus.
"Jangan pergi, lanjutkan sekolah mu disini, pak Vano sudah berbaik hati kepadamu, soal biaya pengobatan ibumu, aku akan membantumu" ucap Romi meyakinkan bahwa dirinya akan membantu Laura.
Sungguh Laura sangat terkejut mendengar penuturan Romi, bagaimana tidak mereka baru pertama kali bertemu, namun tiba-tiba Romi sudah menawarkan pertolongan untuknya.
"Tidak kak, aku tidak enak sama kakak, aku sudah merepotkan kakak, lebih baik aku pulang saja, aku akan merawat ibu sendiri" seru Laura
Entah kenapa Romi menjadi sangat kasihan kepada Laura, seorang gadis hidup sendiri di kota orang, meninggalkan sang ibu yang tengah sakit, sungguh Romi terharu melihat pengorbanan Laura.
"Laura, kamu tidak sendiri disini, aku siap membantumu, jangan panggil aku kakak, panggil saja namaku...kamu gadis yang baik, tak seharusnya Bu Siska melakukan ini padamu, aku akan membantumu sebisaku, tolong kamu jangan menolak, karena aku peduli kepadamu" ucap Romi sembari memegang tangan Laura.
__ADS_1
"deg"
"eh...kok hatiku berdebar gini sih". gumam Laura saat tangan Romi menyentuh tangannya.
Tatapan keduanya saling bertemu, seakan mereka berbicara ada hal yang membuat mereka saling tertarik.
"kenapa gadis ini membuat ku gugup". gumam Romi yang merasa dirinya sedikit gugup saat menyentuh tangan Laura.
Dengan refleks Laura menarik tangan nya dari genggaman tangan Romi, sejenak keduanya salah tingkah dan membuang wajah malu mereka.
"em... baiklah kalau begitu, aku permisi pulang dulu, sepertinya hujan sudah reda" ucap Romi yang pamitan pulang kepada Laura.
"Oh...iya kak, eh Rom, terimakasih banyak atas dukungannya, kamu benar-benar cowok yang baik, aku berhutang Budi kepada mu, nanti kalau aku sudah punya uang, aku akan ganti uangmu" ucap Laura sedikit sembari menundukkan wajahnya.
"kamu pikir kita hitung piutang, aku tidak akan menerima sepeserpun uang darimu, aku ikhlas" seru Romi tersenyum.
Sontak Laura sangat terkejut mendengar penuturan Romi, biaya pengobatan ibunya tidaklah sedikit, sedangkan Romi secara cuma-cuma bersedia membantunya.
"ini kartu namaku, kamu bisa menghubungiku di nomor ini, aku pulang dulu" seru Romi tersenyum, lantas ia segera pergi meninggalkan Laura yang tampak tertegun sambil memegang kartu nama Romi.
"ya Tuhan, apakah ini malaikat yang Engkau kirimkan untukku". gumam Laura terharu.
Sementara di kediaman Vano
Tampak tamu undangan sudah mulai pulang, acara sudah berakhir, tinggal keluarga besar Hendrawan dan Dewa yang masih berada di ruangan itu.
Mereka saling bercengkrama penuh kehangatan, Hendrawan menghampiri Excel dan menanyakan tentang rencana pernikahan mereka berdua.
"aku dengar kalian berdua akan segera menikah, selamat ya Vera, om ikut senang mendengar berita ini" ucap Hendra kepada Vera.
"terimakasih Om, saya juga ikut bahagia melihat kebahagiaan Om dan Tante Leona yang akhirnya dipertemukan kembali, sungguh ini adalah keajaiban" seru Vera yang ikut merasakan kebahagiaan yang Hendra dan Leona rasakan.
Ditengah kebahagiaan mereka, tiba-tiba ponsel Excel berdering, lantas ia segera permisi untuk menerima telepon.
"sayang, aku terima telepon dulu" ucap Excel kepada Vera, dan Vera pun mengangguk.
Setelah sampai diluar ruangan, Kemudian Excel melihat layar ponselnya, ia melihat nomor tak dikenal sedang menghubunginya.
__ADS_1
"nomor siapa ini" gumamnya
Excel segera mengangkat teleponnya.
"halo..."
"halo sayang, selamat ya...aku dengar kau akan segera menikah, hm...apa kamu sudah melupakan malam-malam yang pernah kita habiskan bersama, semudah itu kau melupakannya, tapi tidak dengan diriku" seru Siska dengan senyum liciknya.
"Siska...sialan kau" umpat Excel yang mengenali suara Siska.
"kenapa? kamu terkejut! akhirnya seorang Excel sang Players sudah mendapatkan tambatan hatinya, kamu pikir semudah itu kamu akan menikah dengan perempuan itu, sebelumnya aku akan membuat perhitungan kepadamu, karena kamu telah berani mengusirku pada malam itu, maka kamu pun akan merasakan bagaimana rasanya diusir oleh perempuan kesayangan mu, ingat kata-kata ku!" ancam Siska kepada Excel.
"Jangan coba-coba mengganggu Vera, atau tidak ..."
"atau tidak apa, aku masih menyimpan dokumentasi aktivitas panas kita, apa kamu ingin calon istrimu dan seluruh keluarganya mengetahui hal itu" ucap Siska penuh tawa kemenangan.
Excel mengepalkan tangannya, ia benar-benar tak menyangka, kesalahan dimasa lalunya menjadi duri di tengah perjalanan nya menuju kebahagiaan bersama Vera.
"Jika kau tidak ingin calon istrimu mengetahui tentang hubungan kita, lebih baik tinggalkan dia dan kembalilah bersamaku, maka nama baikmu akan tetap aman, dan kita akan hidup bahagia" seru Siska yang mulai memainkan perangkap nya.
"persetan...aku tidak akan pernah meninggalkan Vera, dengarkan aku wanita ja*ang, jangan coba-coba dekati Vera atau kau akan menyesal" Excel langsung menutup ponselnya dan memukulkan tangannya pada tembok.
"kenapa dia datang kembali, apa yang dia inginkan dariku, wanita kepar*t" umpat Excel kesal
Tiba-tiba seseorang datang menghampirinya dan menyentuh pundaknya.
"ada apa sayang?" seru Vera yang melihat calon suaminya tampak sedang marah.
Excel terkejut dan menoleh setelah ia mendengar suara Vera tengah memanggilnya.
"sayang ... kamu... kenapa ada disini?" tanya Excel gugup
BERSAMBUNG
🔥🔥🔥🔥🔥
...HAI HAI JANGAN LUPA DUKUNGANNYA YA, AUTHOR TUNGGU LIKE, KOMENTAR, FAVORITKAN, DAN BERI HADIAH SEBANYAK-BANYAKNYA....
__ADS_1
...DAN JANGAN LUPA VOTE KALIAN AUTHOR TUNGGU🥰🥰...