
Shesa merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, ia merasa Vano benar-benar marah kepadanya, ia harus mencari cara untuk meyakinkan sang suami untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi.
tak berselang lama Vano keluar dari kamar mandi, dengan masih mengenakan handuk piyama, Vano melihat sang istri yang nampaknya sudah tertidur.
"kamu sudah membuatku kecewa sayang" gumamnya pelan, lantas ia segera pergi ke ruang ganti, sedangkan Shesa belum bisa memejamkan matanya, hatinya masih berkecamuk dan gelisah sebelum Vano memaafkannya.
setelah beberapa menit, Vano keluar dari ruang ganti, tanpa basa-basi ia langsung merebahkan dirinya disamping Shesa, namun kali ini ia tidur membelakangi sang istri.
sejenak suasana hening, hanya ada suara dentingan jam yang memenuhi ruangan yang luas itu, saling diam dan saling membisu.
"kalau terus seperti ini, masalah nggak akan selesai, aku harus bicara dan meminta maaf" gumam Shesa yang mulai mencoba menurunkan egonya.
Shesa beranjak bangun dari tidurnya, ia memberanikan diri untuk memecah suasana hening antara dirinya dengan sang suami, Shesa mengambil nafas dalam-dalam, ia memberanikan diri untuk membuka suara.
"sayang...kamu belum tidur? aku minta maaf, jika sudah membuatmu sangat marah padaku, aku tidak punya pilihan lain, Laura dia terjatuh dari atas, dan aku tidak mungkin setega itu membuat Laura memaksanya kembali untuk memanjat dinding itu, jadi aku yang menggantikan Laura, a...aku minta maaf, i...itu semua aku lakukan demi ka...." belum selesai Shesa menyelesaikan kata-katanya, Vano dengan cepat memotong pembicaraannya.
"demi aku maksudmu? kenapa kamu sangat ceroboh sekali, aku mati-matian menjaga kamu dan juga bayi kita, setiap hari aku mengawasi mu lewat Mario, meskipun aku tidak sedang bersamamu, tapi kenapa kamu begitu mudahnya, membahayakan keselamatan dirimu dan juga keselamatan bayi kita, kalau terjadi apa-apa bagaimana? aku tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri" ucap Vano kesal.
"tapi...kamu harus tahu sayang, aku melakukan itu semua demi kebaikanmu, dengarkan aku dulu sayang" seru Shesa memelas.
"haahh... sudahlah jangan banyak alasan, aku sudah memperingatkan mu, jangan pernah mengikuti lagi panjat dinding itu, tapi kamu tidak mau mendengarkan ku, jadi... untuk apa aku harus mendengarkanmu lagi, sudah tidurlah!" ucap Vano sangat kesal dan menyuruh Shesa untuk segera tidur, hingga tak terasa membuat buliran bening itu terjatuh di pelupuk mata Shesa.
Vano keluar dari kamar mereka dan menutup pintu cukup keras.
"braakkk"
"kau benar-benar marah padaku" gumam Shesa sangat sedih sembari mengelap air mata yang tumpah begitu saja.
*****
di luar...
__ADS_1
Vano berada di dalam ruang kerjanya, ia berusaha menenangkan dirinya, agar tidak terlalu emosi saat menghadapi sang istri.
Vano mengusap wajahnya kasar, pikirannya kalut, sebenarnya ia tidak mau sampai memarahi Shesa seperti itu, tapi kenekatan sang istri sudah sangat membuatnya tak bisa menahan amarahnya.
Vano duduk dengan menopang keningnya dengan kedua tangannya, tiba-tiba saja telepon berdering dari atas meja kerjanya.
Vano menatap telepon itu dengan malas, namun perlahan ia mengangkat telepon itu yang ternyata telepon dari Excel.
"halo ..."
"hai bro...aku sudah menangkap seseorang yang sudah membuat tali pengaman itu putus" ucap Excel yang tiba-tiba membuat Vano mengerutkan keningnya.
"tali pengaman? apa maksudmu?" tanya Vano penasaran.
"Siska sengaja membayar seseorang untuk mencelakai peserta dari sekolah Harapan Bangsa, dengan tujuan agar Sekolah yang dibawah naunganmu mendapat reputasi buruk, Siska yang sudah merencanakan semua ini" ujar Excel menjelaskan.
"darimana kau tahu?" tanya Vano serius
"aku mendapat informasi ini dari salah satu klienku yang juga seorang kepala sekolah, hingga akhirnya aku mencoba menyelidiki tentang kejanggalan tentang tali pengaman yang putus itu" seru Excel.
"ternyata Laura yang tak lain adalah keponakan Siska adalah Laura, peserta dari sekolah Harapan Bangsa yang sudah menjadi korbannya, ia terjatuh dari ketinggian 2 meter, maka dari itu istrimu lah yang menggantikan Laura dalam kejuaraan itu, agar reputasi sekolah dan nama baikmu tetap terjaga, dan bravo...istrimu benar-benar luar biasa, kamu harus bangga padanya, tanpa dia entah apa yang terjadi pada sekolah yang selama ini menjadi kebanggaan dan tentu saja nama baikmu tetap berjaya" seru Excel menjelaskan semua yang menjadi pertanyaan Vano.
" ya Tuhan, apa yang sudah aku lakukan? aku sudah menyakiti istriku, betapa bodohnya aku ini" gumam Vano menyesal.
tanpa aba-aba, ia langsung lari dan datang kepada Shesa, Vano segera membuka pintu kamar mereka, namun ia tak mendapati sang istri berada didalam kamar.
"sayang...kamu dimana?" Vano mencari keberadaan Shesa yang tidak ada didalam kamar mereka, bahkan ia mencari sampai ke kamar mandi, tetap saja Vano tidak mendapati keberadaan sang istri.
tiba-tiba Vano melihat pintu balkon yang terbuka, tampak hujan turun dan angin yang berhembus kencang dari arah luar, ia merasa sang istri sedang diluar kamar mereka.
perlahan Vano berjalan menuju balkon, ia melihat Shesa tengah berdiri memandangi hujan yang turun dimalam itu, tampak air hujan terbawa angin, menyapu wajahnya yang sedang sendu, hingga air mata itu menyatu dengan dinginnya air hujan yang membasahi wajah cantiknya.
__ADS_1
Vano terus mendekati istrinya yang terlihat sangat sedih itu, saat ini Vano sudah berdiri dibelakang Shesa, tangannya mencoba meraih tubuh sang istri.
terpaan angin membuat tubuh Shesa terasa dingin menyentuh kulit, dengan cepat Vano mendekap tubuh sang istri yang terlihat kedinginan itu.
Shesa terkejut saat Vano tiba-tiba memeluk tubuhnya, spontan Shesa melepaskan tangan Vano dari tubuhnya, ia masih terngiang akan ucapan Vano tadi kepadanya.
Shesa tak berucap sama sekali, lidahnya kelu, seakan ia sudah lelah berusaha untuk meyakinkan suaminya agar mau percaya, Vano melihat wajah istrinya yang terlihat sendu, tangannya mencoba meraih wajah cantik itu, tampak mata yang memerah akibat jatuhnya butir-butir air mata yang tak bisa dibendung.
"kau menangis?" tanya Vano saat ia tahu istrinya sedang menangis karenanya.
tanpa pikir panjang, Vano langsung bersimpuh dihadapan sang istri, dengan memeluk kaki sang istri, Vano meminta maaf kepada Shesa.
"maafkan aku sayang, maafkan aku...aku sudah membuatmu bersedih, aku sudah tahu semuanya, Excel baru saja menghubungiku, dia menceritakan semuanya" seru Vano menyesali perbuatannya, ia sangat menyesal karena sudah tidak mau mendengarkan penjelasan istrinya, setelah ia tahu kebenarannya dari Excel, barulah ia sadar bahwa sang istri adalah sosok yang benar-benar menjadi kebanggaannya.
Shesa tetap terdiam, air matanya semakin deras saat Vano bersimpuh di hadapannya dan meminta maaf, Vano memang menyakitinya tapi Shesa tak berharap Vano melakukan itu padanya.
"bangunlah, untuk apa kamu bersimpuh dihadapanku, aku yang bersalah, aku yang sudah tidak mendengarkanmu, aku memang ceroboh, aku sudah membahayakan bayi kita, harusnya aku yang minta maaf padamu" seru Shesa sembari menarik lengan besar Vano untuk bangun.
"maafkan aku" Seru Shesa sembari merapatkan kedua tangannya.
Vano benar-benar tak kuasa menahan rasa ingin memeluk sang istri dalam dekapannya, betapa ia sangat mencintai istrinya, ia sangat bersalah telah menjatuhkan air mata Shesa.
tangan kuatnya dengan cepat meraih tubuh Shesa yang tampak kedinginan oleh air hujan.
"maafkan aku, maafkan aku... hapus air mata itu, aku tidak mau melihatnya lagi, tersenyumlah untukku" seru Vano sembari mengelap air mata Shesa yang menggenangi wajah cantiknya.
"aku mencintaimu, sangat mencintaimu, aku tidak mau terjadi apa-apa pada kalian berdua, kalian berdua adalah duniaku, hidupku" bisik Vano mesra, sehingga membuat Shesa tersenyum pada suaminya.
"apa kau sudah memaafkan aku?" Seru Vano dengan kening yang saling menempel.
"ehm..." Shesa mengangguk, hal itu membuat Vano sangat bahagia.
__ADS_1
BERSAMBUNG
🔥🔥🔥🔥🔥