
Bus rombongan siswa Sekolah Harapan Bangsa siap berangkat untuk kembali pulang, hari itu pak Dante begitu senang sekali, karena malam ini ia bisa kembali pulang bersama istrinya, sesekali Vano bernyanyi-nyanyi kecil, namun Shesa sama sekali tak menghiraukannya, Shesa masih disibukkan dengan lembaran-lembaran tugas milik teman-temannya yang dikumpulkan kepadanya.
Vano melirik kearah Shesa, ia melihat istrinya tak bergeming sama sekali, ia mencoba menggoda Shesa dengan mencolek pinggang rampingnya, tentu saja itu membuat Shesa terkejut dan sangat kaget.
"sayang...aku lagi sibuk, jangan bercanda ah" bisik Shesa lirih, kemudian ia melanjutkan mengecek kembali tugas-tugas itu, Vano tak .menyerah ia justru lebih berani dengan mencium pipi Shesa, seketika Shesa berteriak.
"aaaa...." Shesa spontan berteriak karena ciuman Vano itu dirasa aneh, kumis Vano menggesek pipi putih Shesa sehingga membuatnya sangat geli, ia mengelus-elus pipinya yang terkena kumis pak Dante.
dengan cepat Vano kembali duduk ke posisi awal, Monic dan siswa yang duduk disekitar Vano dan Shesa, sontak melihat kearah mereka berdua.
mereka melihat Shesa mengelus-elus pipinya, sementara pak Dante pura-pura memainkan ponselnya.
"Shesa...kamu kenapa?" tanya Monic penasaran.
"hah...enggak, nggak papa, tadi ada semut yang gigit pipi aku!" ucap Shesa berbohong.
"makanya, simpan dulu kertas-kertas itu, dikerjakan dirumah kan bisa, tuh semut dateng kamu nggak tahu kan?" sahut pak Dante sambil menurunkan kacamatanya, sehingga nampak mata Vano yang berkedip pada istrinya itu.
Shesa tersenyum kecut, saat Vano mengatakan itu padanya.
"ya ampun, kukira apa" ucap Monic sembari duduk ditempatnya semula.
setelah Monic dan teman-temannya sudah tidak memperhatikannya lagi, ia menoleh kearah Vano dengan mengerucutkan bibirnya, sembari memasukkan tugas-tugas itu ke dalam map kemudian ia masukkan kedalam tasnya.
Vano menyeringai puas, sudah menggoda istrinya, lantas ia mulai memegang tangan Shesa dan berbisik mesra ditelinganya.
"kau semakin cantik saat marah sayang, aku sudah tidak sabar untuk menghabisimu malam ini!" bisik Vano lirih.
Shesa berusaha melepas genggaman tangan Vano yang semakin erat, namun pak Dante justru menutupkan jaket pada pangkuannya, sehingga saat ia menggenggam tangan Shesa, tidak bisa terlihat oleh siapapun.
"sayang lepasin" bisik Shesa pelan.
"tidak mau" jawab Vano santai
"aku tidak akan melepaskanmu, sekarang ataupun nanti" imbuhnya dengan senyum kemenangannya.
selama perjalanan pulang, Vano terus menggenggam tangan istrinya, seperti seorang anak yang tidak mau kehilangan mainannya, sama halnya Vano, yang sangat takut kehilangan istri tercintanya itu.
setelah beberapa saat, bus sudah tiba di halaman sekolah Shesa, semua siswa turun dari bus, kecuali Shesa dan Vano yang masih diam disana, mereka menunggu seluruh siswa turun.
"sayang, ayo kita turun" seru Shesa sembari menggendong tas ranselnya.
namun Vano masih tak bergeming, ia menunggu seluruh siswa turun, hingga akhirnya siswa terakhir mulai beranjak turun, dan tentu saja tinggal mereka berdua didalam.
__ADS_1
"turunlah" seru Vano pada Shesa.
dengan senang hati Shesa beranjak dari duduknya, perlahan ia melewati depan suaminya, siapa sangka Vano meremas pinggul istrinya yang gemoy itu, dengan memakai setelan celana dan outher yang diikat, Shesa terlihat sangat seksi meskipun ia tengah hamil muda.
tentu saja itu membuat sang suami tak tahan untuk tidak menyentuhnya.
"sayang...jangan gitu dong, entar dilihat anak-anak" ucap Shesa yang membalikkan badannya ke arah Vano.
Vano masih dalam posisi duduk, sedangkan Shesa berdiri dihadapannya, Vano memeluk pinggul Shesa yang indah sembari mengecup mesra perut Shesa yang masih rata itu.
"Vano junior...papa sayang kalian berdua" ucapnya mesra sembari menempelkan pipinya di perut Shesa.
Shesa mengelus rambut Vano pelan, hatinya benar-benar bahagia, Vano sangat menyayangi ia dan bayinya.
"sayang...sudah lepaskan, ayo kita turun" ucap Shesa sembari beranjak turun dari bus.
Shesa sudah turun dari bus, diikuti pak Dante dibelakangnya, mata Laura tak pernah luput dari melihat gerak gerik Shesa dan pak Dante.
hatinya benar-benar bergejolak saat melihat pak Dante dan Shesa semakin dekat, bahkan keduanya terlihat saling bercanda dengan siswa yang lainnya.
"tertawalah sepuasmu Shesa, karena sebentar lagi kau akan menangis darah"
Vano menyadari bahwa Laura memperhatikan mereka, perlahan Vano mendekatinya dan mencoba merayu Laura.
"loh kok sendiri ajah, kamu nggak gabung sama teman-temanmu?" tanya pak Dante dengan senyum ramahnya.
Laura selalu dibuat deg-degan dengan kehadiran pak Dante, ia selalu gugup saat pak Dante berada didekatnya.
"eh...pak Dante, nggak pak, saya mau pulang saja, mau istirahat, capek" ucapnya sembari memijit-mijit pundaknya.
"apa kamu mau saya antar pulang?" ujar pak Dante menawarkan jasanya.
Laura sangat tersipu malu, ia senyam- senyum saat pak Dante ingin mengantarnya pulang.
"bagaimana? mau tidak aku antar pulang?" tanya pak Dante sekali lagi.
dengan cepat gadis itu menjawab.
"iya pak, saya mau" jawabnya senang.
Vano membawa Laura ke dalam mobilnya dan mengantarkan pulang gadis itu, Vano pura-pura baik kepada Laura, ia hanya digunakan Vano sebagai alat untuk memancing Siska keluar dari persembunyiannya.
__ADS_1
Shesa melihat mobil Vano pergi, dilihatnya Laura bersama sang suami.
"Laura? kemana mereka pergi?" tanya Shesa yang sangat penasaran, melihat sang suami membawa gadis lain dalam mobilnya.
Monic juga melihat mobil pak Dante pergi bersama Laura.
"eh...bukannya itu mobil pak Dante ya? kok sama Laura sih!" ucapnya heran.
"sebenarnya yah, akutuh nggak suka banget sama siswi baru itu, dia itu gadis misterius, asal usulnya juga nggak jelas, jangan-jangan dia bersekolah disini dengan tujuan tertentu" tandas Monic curiga.
"maksudmu?" tanya Shesa.
"ya...misalnya saja ia datang untuk mencelakai siapa gitu" ucap Monic .
Shesa mengerutkan dahinya, mencoba mencerna apa yang dikatakan Monic padanya, sekilas ia berfikir jangan-jangan Vano terpengaruh obat perangsang itu adalah ulah Laura, karena Vano meminum minuman yang baru saja Laura berikan kepada Vano, dirinya memang tidak merasakan apa-apa, tapi obat itu telah merasuki raga Vano, sehingga membuatnya kacau pada malam itu.
"apa mungkin Laura yang mencampurkan obat itu ke dalam minuman suamiku?"
"ini tidak bisa dibiarin, Laura sepertinya suka pada suamiku, aku tak akan membiarkan suamiku tergoda olehnya, aku harus waspada"
"Shesa...Shesa...hallo..." seru Monic sambil menepuk pundak Shesa.
Shesa tersadar dari lamunannya.
******
setelah beberapa menit, Vano telah sampai di apartemen tempat Laura tinggal sekarang, Vano menepikan mobilnya, kemudian Laura turun dari mobil.
"terima kasih pak Dante, sudah mau mengantarkan saya sampai dirumah" seru Laura
"tentu saja, bapak juga senang mengantarkan gadis secantik kamu, ngomong-ngomong kamu tinggal dilantai berapa?" tanya Vano menyelidik.
"itu pak, lantai 3 nomor 20" jawab Laura.
"oh...begitu...baiklah, saya pulang dulu, saya juga mau istirahat, sampai jumpa besok Laura" pamit Pak Dante dengan senyum khasnya.
Vano mulai melajukan kendaraannya, Laura melambaikan tangannya senang, nampak seorang wanita yang mengintip Laura dari jendela atas.
"siapa yang mengantarnya pulang?"
Siska penasaran.
BERSAMBUNG
__ADS_1
💥💥💥💥💥