
"papa" ucap Vera lirih sembari menatap Dewa yang nampak berkaca-kaca, perlahan ia mendekati Dewa dan Anggi yang selama dua tahun lebih tidak pernah bertemu sama sekali.
"Vera sayang, mama sangat kangen padamu nak" Anggi langsung memeluk sang putri dengan penuh kerinduan.
"mama...Vera juga kangen sama mama" seru Vera memeluk Anggi erat.
"kamu baik-baik saja kan sayang?" seru Anggi sembari mengusap wajah Vera.
"Vera baik-baik saja ma" jawab Vera tersenyum.
sejenak Vera menatap wajah sang ayah yang membuatnya rindu, perlahan Vera mendekati Dewa yang merentangkan tangan untuk menyambut sang putri kembali ke dalam pelukannya.
"kemarilah nak, papa sangat merindukanmu!" seru Dewa kepada Vera.
tanpa pikir panjang Vera langsung memeluk Dewa dengan penuh kerinduan, air mata Dewa tumpah seketika saat sang putri telah kembali kepadanya.
"maafkan papa, maafkan papa!" Dewa berkali-kali meminta maaf kepada putri yang sempat ia acuhkan itu.
"papa, itu bukan salah papa, itu salah Vera, Vera telah membuat papa kecewa" ucap Vera menatap sendu sang ayah.
"ya Tuhan, terimakasih engkau telah memberikan kehangatan kembali pada keluarga kami" gumam Shesa dengan menitikkan air matanya, sesekali ia menyeka buliran bening yang terjatuh dipipinya saat melihat keharuan antara Vera dan kedua orang tuanya.
Excel terdiam, ia merasa sangat bersalah telah memisahkan kehangatan keluarga Vera.
tiba-tiba Frisca menarik baju Vera dan berkata dengan begitu polosnya.
"mama...mama"
Vera menoleh kearah Frisca, dilihatnya gadis kecil itu sedang menarik ujung bajunya, lantas Vera berlutut di depan Frisca.
"sayang...ini adalah rumah kakek dan nenek Frisca!" ucap Vera menjelaskan kepada putri kecilnya itu.
"ayo Salim dulu" perintah Vera pada Frisca.
perlahan bocah mungil itu mulai mendekati Dewa dan Anggi dan mengulurkan tangannya, lantas mencium tangan Dewa dan Anggi.
"cucu kakek, sini sayang" seru Dewa sembari menggendong Frisca penuh cinta.
"ini kakek Frisca ya, kok ada kumisnya" ucap Frisca dengan polosnya sembari menunjuk kumis Dewa.
sejenak semuanya tertawa dengan tingkah Frisca yang menggemaskan.
tiba-tiba Excel memecah suasana, ia mengumpulkan keberaniannya untuk menghadapi kedua orang tua Vera.
"maaf om, Tante!" seru Excel
__ADS_1
Dewa menurunkan Frisca dan menyerahkannya kepada Anggi, Dewa perlahan mendekati Excel, pria yang selama ini sudah membuat keluarganya hancur berantakan.
Dewa telah berdiri tepat dihadapan Excel dan tiba-tiba....
"plaakkkk ..."
"papa..." seru Vera yang terkejut saat tamparan yang keras itu mendarat di wajah tampan Excel.
Excel tertunduk, sembari memegang pipinya.
"berani-beraninya kamu datang kerumah saya, setelah apa yang kamu lakukan kepada putriku" ucap Dewa dengan penuh kemarahan.
"iya...saya tahu, saya salah, saya sudah menghancurkan kehidupan Vera dan sudah membuat keluarga om menderita, tapi percayalah, saya sangat menyesal telah melakukan itu semua, saya siap diberikan hukuman seberat-beratnya, jika itu bisa menghapus kesalahan saya kepada keluarga om" ucap Excel penuh penyesalan sembari bersimpuh di kaki Dewa.
Dewa tak bergeming, ia masih sakit hati saat mengingat kejadian silam yang membuatnya hancur berkeping-keping.
"kau tahu bagaimana hancurnya perasaanku saat aku tahu, putriku telah dinodai dan dicampakkan begitu saja oleh kekasih bej*atnya itu, yaitu kamu!" umpat Dewa
"dimana kamu saat itu, saat Vera membutuhkan tanggung jawabmu, kau menghilang begitu saja, kau buat keluarga kami terpisah" ungkap Dewa penuh penyesalan.
"saya mengerti perasaan om, saya memang tidak pantas untuk dimaafkan, tapi setidaknya berikanlah kesempatan untuk saya menjelaskan semuanya" seru Excel penuh harap.
"awalnya, saya memang dendam terhadap keluarga om, saya memang berniat untuk menghancurkan keluarga om, dan saya tidak sengaja bertemu dengan Vera, dan akhirnya kami saling jatuh cinta, setelah saya tahu Vera adalah anak om, terlintas niat jahat saya untuk membalas dendam kematian papa" ungkap Exel dengan nada rendah.
"balas dendam? apa maksudmu? balas dendam untuk siapa?" tanya Dewa penasaran
"setelah kejadian itu, saya berfikir bahwa om lah yang sudah menyebabkan papa saya meninggal, sehingga saya berniat untuk membalas dendam kematian papa saya" ungkap Excel sedih mengingat kematian ayahnya.
"apa? jadi kamu adalah anak dari tuan Andreas?" tanya Dewa terkejut.
"iya om" jawab Excel
"maafkan saya juga, karena sudah membuat perusahaan om terpuruk, saya lakukan itu karena saya kira om lah yang sudah menyebabkan papa meninggal, nyatanya semua itu tidak benar, saya sangat menyesal"
"saya rela menerima hukuman apapun yang om berikan kepada saya" ucap Excel sungguh-sungguh.
Dewa menghela nafas panjang, sebenarnya ia masih sangat terluka dengan perbuatan Excel kepadanya, namun ia melihat kesungguhan dimata Excel.
tiba-tiba mobil Vano datang dihalaman rumah Dewa, dengan cepat ia turun dari mobil dan menghampiri Excel.
"sayang...kamu kok ada disini!" Shesa berlari menuju Vano yang tampak kesal dengan kehadiran Excel disana.
"hai bajingan, sedang apa kau dirumah mertuaku, kamu mau mencari masalah, hadapi dulu aku" ucap Vano sembari mencengkeram kerah baju Excel.
Excel tidak bergeming, ia hanya bisa pasrah, penyesalan nya begitu dalam, kesalah pahamannya itu telah membuatnya liar dan jahat.
__ADS_1
"sayang sudah lepasin" seru Shesa mencoba menenangkan suaminya.
Vano melepaskan Excel, dengan terbatuk-batuk Excel terjatuh ke lantai, tiba-tiba seorang gadis kecil menghampiri Excel yang sedang terjatuh.
"papa... bangun" serunya sembari menarik tangan Excel, kemudian Frisca menghampiri Vano lantas ia memukul-mukul tangan Vano .
"om jahat, om jahat, om sudah jahat sama papa, Frisca benci om" seru Frisca sembari menangis, lantas ia berlari memeluk Excel.
"ini papa Frisca, om nggak boleh sakitin papa" serunya sembari terus memeluk Excel.
"astaga" Vano mengusap wajahnya kasar, ia tak tega melihat gadis kecil itu merajuk.
"sayang tenanglah" ucap Shesa menenangkan suaminya.
"kamu tidak apa-apa kan sayang!" tanya Vano sembari memeluk Shesa.
"tidak" jawabnya singkat.
******
Akhirnya mereka membicarakan hal itu baik-baik.
"sejujurnya, saya datang kemari adalah untuk melamar Vera menjadi istri saya" ucap Excel memberanikan diri.
Vano mengerutkan keningnya, memperhatikan seksama ekspresi Excel, apakah dia benar-benar telah menyesali perbuatannya atau cuma pura-pura.
Dewa dan Anggi masih terdiam, yang mereka lihat saat ini adalah Frisca, gadis kecil itu selalu menempel pada ayahnya, seolah ia tidak mau Excel meninggalkannya lagi.
"entahlah, aku belum bisa memutuskan" jawab Dewa yang masih berat menerima Excel.
"papa..." gumam Vera.
sejenak suasana hening, Vano mencari akal untuk mengetes kesungguhan Excel.
"maaf pa, izinkan saya memberikan pendapat" ucap Vano kepada Dewa, dan Dewapun mengangguk setuju.
"saat ini, perusahaan papa mulai berkembang lagi, aku mau kamu mengembalikan lagi popularitas perusahaan papa, yang sebelumnya sudah kamu curi, aku ingin kamu mengembalikan semua citra yang pernah kamu coreng, apa kamu sanggup melakukannya?" tanya Vano serius menatap tajam kearah Excel
"iya...aku akan melakukannya" jawab Excel sungguh-sungguh.
BERSAMBUNG
🔥🔥🔥🔥
HAI SEMUA, MAAF YA UNTUK NOVEL PERDANA AUTHOR INI, JIKA KALIAN MASIH MENEMUKAN TYPO ATAU HAL YANG MASIH KURANG, MOHON DIMAKLUMI, SEJUJURNYA AUTHOR ITU MASIH PEMULA BANGET JADI PENULIS, APALAH AUTHOR HANYA PENULIS REMAHAN REMPEYEK YANG KUALITAS NOVEL NYA MASIH BIASA-BIASA SAJA 🤭
__ADS_1
NAMUN AUTHOR AKAN SELALU BERUSAHA UPDATE TERUS SETIAP HARI DEMI KALIAN SEMUA 😘😘