
malam itu menjadi malam yang panjang untuk keduanya, seusai perdebatan yang sempat membuat mereka sedikit berjarak, kini yang ada hanya kemesraan yang diwarnai dengan suasana hujan dimalam itu.
tangis Shesa berubah menjadi senyum kebahagiaan tatkala sang suami menyadari kesalahannya, dua insan yang saling menyatukan perasaan, saling mencintai, saling menyayangi dan saling membutuhkan.
"entah apa jadinya jika aku tanpa dirimu sayang!" bisik mesra Vano pada telinga Shesa.
Shesa memandang wajah suaminya penuh cinta, sembari mengusap wajah sang suami dengan lembut, bibir kecilnya berkata lirih.
"aku akan melakukan apa saja, aku adalah istrimu, menjaga nama baikmu adalah tugasku" seru Shesa tersenyum.
Vano sangat bangga memiliki istri yang pemberani seperti Shesa, kesalahpahaman itu membuat mereka semakin mesra, saat kebenaran itu sudah terungkap.
Vano turun mencium perut sang istri, matanya terpejam saat wajahnya menempel pada perut Shesa.
"sayang, junior papa.... papa bangga padamu nak, kamu anak yang kuat, cepatlah hadir ke dunia ini, papa akan mencurahkan segala kasih sayang untukmu, papa tidak sabar untuk menggendong tubuh mungilmu... anak papa...muach" ucap Vano berbisik kepada calon buah hati mereka.
tangan Shesa mengusap lembut rambut sang suami, Vano mendongak menatap wajah istrinya, senyum khasnya mulai menghiasi wajah tampannya, perlahan Vano berdiri dan dengan cepat ia menggendong tubuh Shesa.
tangan Shesa melingkar kuat pada leher sang suami, tatapan mata itu saling beradu, mengisyaratkan sinyal-sinyal cinta mulai merambat.
"turunkan aku" pinta Shesa.
"ada apa?" tanya Vano sembari mengerutkan dahinya.
"kamu tidak lihat bajuku basah, aku mau ganti baju dulu" ucapnya.
"hm... baiklah" jawab Vano singkat.
Vano menurunkan tubuh Shesa, dan dengan segera ia menuju ruang ganti, namun langkahnya dihentikan oleh suara Vano.
"tunggu" seru Vano
Shesa berhenti dan menoleh kearah Vano yang masih berdiri ditempatnya.
__ADS_1
"ada apa sayang?" tanya Shesa.
"biar aku ambilkan handuk dan baju ganti untukmu" seru Vano sembari berjalan mengambilkan handuk dan baju ganti untuk istrinya.
setelah beberapa saat Vano datang dengan membawa handuk, kemudian ia memberikan handuk itu kepada Shesa.
"sayang, cuma handuk doang, terus bajunya mana? aku kedinginan sayang" ucap Shesa yang terkejut cuma handuk saja yang diberikan Vano.
"sudah jangan bawel, cepat lepas bajumu dan keringkan tubuhmu, aku tidak mau kamu masuk angin" pinta Vano agar Shesa melepaskan bajunya.
"disini? melepas baju disini?" seru Shesa sembari membulatkan matanya.
"iya... memangnya dimana lagi, sudah jangan banyak bicara, bawel" ucap Vano sembari menyandarkan tubuhnya pada dinding kamar dan menyilangkan kedua tangannya, Vano berdiri tepat dihadapan Shesa, wajahnya yang terlihat tampan oleh pencahayaan yang temaram itu, membuat gurat kelelakiannya semakin sempurna, sorot mata yang tajam itu menatap penuh hasrat saat Shesa membuka balutan kain yang menempel pada tubuh indahnya.
saat semuanya terlepas tanpa kecuali, tanpa aba-aba, Vano dengan cepat membawa istrinya kedalam pelukannya.
Sontak itu membuat Shesa sangat terkejut dan memukul-mukul dada Vano yang bidang.
"aisss... sayang lepasin aku, aku mau pakai baju dulu, aku sudah kedinginan" pinta Shesa agar suaminya mau melepaskannya.
"tidak usah dipakai" ucap Vano yang mulai dimengerti oleh Shesa.
"dasar modus" seru Shesa, Vano terkekeh melihat tingkah istrinya.
pada akhirnya pertempuran itu telah dimulai, keduanya saling berpacu dalam mencapai puncak gelora, indah dunia hanya mereka berdua yang merasakan, hingga akhirnya suara-suara indah nan merdu lolos dari bibir Shesa, yang membuat Vano semakin gencar untuk mencapai tujuan bersama.
suara indah nan panjang keduanya menjadi tanda bahwa hasrat itu telah tercapai sempurna, menuju alam nirwana dengan jutaan rasa keni*matan.
Shesa menyandarkan kepalanya pada bahu sang suami, keduanya tampak sembunyi dibalik selimut, sesekali Vano mengecup mesra puncak kepala istrinya.
"terimakasih sayang" seru Vano.
"untuk apa?" tanya Shesa sembari menatap wajah suaminya.
__ADS_1
"untuk semua yang sudah kamu lakukan untukku, kau adalah wanita tangguhku, aku sangat bersyukur anakku akan lahir dari wanita pemberani sepertimu" ucap Vano bangga.
Shesa benar-benar dibuat malu oleh suaminya, pipinya tampak memerah saat ucapan Vano terdengar indah di telinganya.
"oh...iya sayang, apa benar Bu Siska yang telah membuat tali Laura putus?" tanya Shesa yang masih penasaran dengan tali yang tiba-tiba terputus itu, karena selama dia menjadi peserta, dia tidak pernah melihat atau mengalami kecelakaan seperti itu, karena persiapan teknis itu benar-benar dicek sebelum peserta mulai memanjat.
"soalnya aneh aja sih, kok bisa tiba-tiba tali itu putus, kalau sabotase sih aku yakin, tapi kalau putus dengan sendirinya itu rasanya mustahil deh, pihak penyelenggara nggak mungkin seteledor itu, pasti sudah dipersiapkan benar-benar keamanan untuk pesertanya" seru Shesa menjelaskan.
"kamu benar sayang, itu semua Siska yang merencanakan, aku akan bikin perhitungan padanya, semalam Excel meneleponku, dia menceritakan semua kejadian yang sebenarnya, aku sadar ternyata aku sudah membuat istriku terluka, maafkan aku, aku sangat menyesal" sesal Vano dengan wajah seriusnya.
"sudahlah, aku sudah memaafkanmu, aku mengerti kenapa suamiku bisa semarah itu kepadaku" ucap Shesa
"kau tahu sayang apa yang aku rasakan saat memanjat? badanku terasa ringan sekali, seolah tiada beban yang berarti, nggak capek juga nggak letih, mungkin itu semua dukungan dari baby kita, dia menguatkan mamanya agar bisa berjuang untuk mendukung papanya yang tampan ini!" ucap Shesa sembari mencubit hidung Vano.
"aww ...sakit tahu, suka sekali sih nyubit hidung orang, bagaimana kalau ketampanan suamimu ini hilang gara-gara hidungku sering kamu cubit" ucap Vano sembari mengusap hidungnya.
"ya ampun pak Vano ....lebay banget sih jadi orang" seru Shesa sembari memutar bola matanya.
Vano terkekeh dan meraih cepat tubuh sang istri untuk masuk kedalam pelukannya.
masih dalam pelukan Vano, Shesa meminta izin kepadanya untuk mengunjungi kedua orangtuanya.
"sayang, besok aku mau menemui papa, boleh ya? aku kangen banget sama mereka!" pinta Shesa sembari memainkan ujung dagu sang suami.
"tentu saja, tapi ingat jangan malam-malam pulangnya, nanti siapa yang menemaniku tidur?" seru Vano dengan manja.
"hm...iya iya, aku cuma sebentar kok" jawab Shesa tersenyum.
Vano tersenyum menatap Shesa penuh cinta, malam itu waktu masih panjang untuk mereka mengarungi lautan percintaan sekali lagi.
tangan Vano mulai bergerak bebas pada tubuh Shesa yang masih polos.
"sayang...apaan sih" seru Shesa saat tangan itu mulai bergerilya kesana kemari, Vano hanya tersenyum melihat ekspresi wajah Shesa yang tampak mulai menikmati sentuhan yang terasa seperti aliran listrik, menyengat hebat dalam aliran darah, sehingga membuat keduanya terbuai kembali untuk menyelami lautan percintaan, bersatunya kembali raga yang saling mencintai.
__ADS_1
BERSAMBUNG
🔥🔥🔥🔥🔥