
Shesa sangat tersipu malu saat Vano melakukan hal itu padanya, iapun berusaha mengalihkan perhatian Vano.
"em...sayang kamu mandi dulu gih, supaya nggak telat ngantor, biar aku beresin piringnya" seru Shesa sembari mengambil piring Vano yg sudah kosong, namun Vano menahannya.
"set" tangan Vano menahan tangan Shesa, lantas ia menarik tangan Shesa dalam genggamannya.
"biar pelayan yg melakukannya, kau temani aku mandi" Vano menatap Shesa dengan tatapan nakal.
"mandi ?... harus ya??" tanya Shesa pelan, dan Vano menganggukkan kepalanya senang.
"ayo..." pinta Vano agar Shesa mengikutinya.
Vano dan Shesa berjalan menaiki tangga, tiba-tiba nenek datang menghampiri mereka berdua.
"Vano...Shesa" seru Nenek memanggil Vano.
dan Vanopun menoleh dan menghampiri neneknya.
"ada apa nenekku sayang" balas Vano sambil memeluk neneknya, Shesa sangat senang melihat suasana antara cucu dan nenek yg begitu hangat.
"mulai hari ini....kamu ambil cuti dari kantor, biar sekretaris Jimmy yg sementara menggantikan pertemuan-pertemuanmu dengan kolega bisnis" seru Nenek.
"memangnya ada apa nek?" tanya Vano penasaran.
"hari ini jadwal keberangkatanmu untuk bulan madu sudah nenek persiapkan, jadi kalian bersiap-siaplah untuk terbang ke Bali hari ini" seru nenek
"sekarang nek?" jawab Shesa membulatkan matanya, dan nenekpun tersenyum sembari mengangguk pelan.
"mumpung sekarang istrimu masih liburan sekolah, jadi ini adalah waktu yg tepat untuk kalian berbulan madu" sambung nenek.
Shesa hanya tertunduk, karena memang benar ia sekarang masih liburan sekolah selama dua minggu.
"baiklah nenek, kami akan bersiap-siap" jawab Vano semangat, ia menatap Shesa dengan penuh kebahagiaan, lantas Vano merangkul istri kesayangannya itu untuk naik ke kamarnya.
sesampainya di kamar, Vano membawanya ke kamar mandi, namun tiba-tiba Shesa menolaknya.
"sayang...aku akan mempersiapkan baju-baju kita dulu, kamu mandi sendiri ajah" Shesa menolak untuk diajak ke kamar mandi bersama Vano.
__ADS_1
"tidak perlu bawa baju banyak-banyak, kita beli baju disana, sekarang temani aku mandi dulu, ayo..." Vano bersikeras memaksa Shesa untuk mandi bersamanya.
Shesa tak bisa berbuat apa-apa, ia menuruti apa yg Vano mau, Vano mulai menanggalkan semua kain yg menempel di bajunya, dengan refleks Shesa menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.
"ahh...sayang, apa-apaan sih, di tutupin dong" seru Shesa agar Vano menutupi bagian intinya yg terekspos nyata di hadapan Shesa, dan Vano tersenyum dengan seringai yg nakal, ia mendekati Shesa dan berbisik di telinganya.
"tapi kau suka kan...hm" goda Vano pada istrinya, lantas Shesa mendorong tubuh Vano agar ia masuk ke dalam bathtub.
"sayaaannggg....ssudahlah jangan menggodaku, ayo cepat masuk, nanti kita bisa terlambat" seru Shesa sambil mendorong punggung Vano yg kekar.
"iya ...iya ...iya ...bawelll" jawab Vano sambil merendamkan tubuhnya ke dalam bathtub, kemudian Shesa menggosok-gosok punggung dan badan Vano dengan lembut, Vano merasa sangat menikmati badannya digosok-gosok oleh tangan istrinya, Vano sengaja menengadahkan kepalanya di pangkuan Shesa.
"sayang...pijitin dong kepalaku, kepalaku akhir-akhir ini sering pusing tiba-tiba" pinta Vano sambil mengarahkan tangan Shesa supaya memijit kepalanya
"memangnya kenapa dengan kepalamu sayang, kamu sakit ya?" tanya Shesa penuh kecemasan sembari memijit kepala Vano dengan hati-hati.
"he em...kepalaku sering sakit karena seringnya melihatmu tanpa sehelai baju" goda Vano sambil menyunggingkan sudut bibirnya, Shesa yg mendengar itu tiba-tiba mengeraskan pijitannya, hingga membuat Vano meringis kesakitan.
"aduh...aduh...sakit sayang, jangan keras-keras dong, kan sakit jadinya, pelan-pelan...seperti aku dong yg selalu pelan, slow....tapi kamunya yang ketagihan" ucap Vano yg suka menggoda istrinya, tiba-tiba Shesa berdiri dan hendak beranjak pergi.
"kalau gini terus mending kamu mandi sendiri deh, nggak kelar-kelar kan jadinya, nanti kita terlambat sayang, nenek bakal marah loh" seru Shesa sedikit kesal, Vano melihat Shesa dengan wajah yg menggemaskan saat ia cemberut.
"aaaaaaa......." teriak Shesa saat Vano menarik tangannya kedalam bathtub, sekarang mereka berdua dalam satu bak mandi.
"sayang....kan basah deh, aku sudah mandi tadi" umpat Shesa kesal.
"ya....kalau begitu buka aja bajunya, udah terlanjur basah kan?" pinta Vano dengan senangnya.
Shesa sangat tersipu malu saat Vano memintanya untuk membuka bajunya.
"tidak mau" Shesa menolaknya.
"kamu keluar dulu dong dari bak mandi, baru aku mau lepasin bajuku" sambung Shesa yg menyuruh Vano agar ia lekas turun dari bak mandi.
"kalau aku nggak mau" Vano menolak permintaan Shesa.
"baiklah, aku yg akan keluar dari sini dan mandi di shower saja" tukas Shesa.
__ADS_1
"oke...oke...aku keluar dari sini, tapi aku akan menunggumu selesai mandi, baru kita keluar bersama" sahut Vano sembari mengusap wajahnya yg terkena air.
Shesa tak punya pilihan lain, daripada Vano berada dalam satu bak mandi, itu akan membuat ritual mandinya menjadi lama, ia terpaksa melepas bajunya yg terlanjur basah dihadapan Vano.
Vanopun sudah memakai handuk kimono, lantas ia memperhatikan dan menunggu Shesa yg sedang melanjutkan mandinya.
"sayang ....kamu jangan lihat dong, aku kan malu" pinta Shesa yg menyuruh Vano agar memalingkan wajahnya, namun Vano tak menggubrisnya.
"sayang...cepat dong" seru Shesa dengan nada sedikit meninggi.
"iya...iya ...bawel banget sih, asal kamu tahu ya, seumur-umur baru kali ini ada orang yg berani menyuruhku dengan paksaan, tidak ada yg berani memperlakukan direktur Vano dengan paksaan, kalaupun ada aku akan memberi dia hukuman yg berat, karena sudah berani sekali membuatku kesal" Vano memalingkan wajahnya sembari ngomel-ngomel tak jelas.
Shesa tersenyum kecil melihat Vano yg bicara sendiri, tiba-tiba Shesa memanggil Vano untuk mengambilkan handuk.
"sayang ...."
"ada apa?" Vano menyahuti dengan masih memalingkan wajahnya.
"tolong ambilkan handuk" pinta Shesa yg masih berada di dalam bak mandi.
Vano tersenyum smirk mendengar Shesa meminta tolong padanya, lantas ia mengambil handuk yg berada disampingya, kemudian ia membawa handuk itu kepada Shesa yg hendak keluar dari bak mandi.
"kau mau ini?" Vano menyodorkan handuk itu di depan Shesa, lantas Shesa mencoba meraihnya, namun sia-sia sebelum ia meraih handuk itu, Vano sudah menarik kembali handuk itu dengan cepat, membuat bola mata Shesa membulat sempurna.
"sayang ...berikan handuknya, aku sudah kedinginan" pinta Shesa memelas.
"ambillah" Vano menyodorkan kembali handuk itu, namun saat Shesa pelan-pelan ingin meraih handuknya, tiba-tiba Vano menarik handuk itu sedikit demi sedikit, sehingga tubuh polos Shesa terangkat dari dalam bathtub dan terlihat begitu sempurna.
Shesa tak menyadari hal itu, ia fokus dengan handuk yg ada di tangan Vano, namun Vano tak bisa memalingkan pandangannya pada kemolekan istrinya yg indah itu.
"glekk..." Vano menelan salivanya berulang-ulang, tiba-tiba Shesa menyadari bahwa Vano telah mengerjainya, lantas ia langsung mengambil handuk itu dengan cepat, dan menutupkannya pada tubuh polosnya.
Shesa lantas keluar dari bak mandi, Vano mengerjapkan matanya, baru saja ia tersadar dari pandangannya yg membuat 'adik kecilnya' terbangun.
"sayang...aku sudah selesai, ayo kita bersiap-siap" ajak Shesa untuk segera bersiap-siap pergi bulan madu.
Vano hanya bisa menggelengkan kepalanya sembari menghela nafas panjang, saat merasa 'adik kecilnya' tidur kembali, lantas ia mengekor pada Shesa untuk bersiap-siap pergi bulan madu.
__ADS_1
BERSAMBUNG
🌹🌹🌹🌹