
Mobil mewah itupun tiba di depan kampus dimana Shesa melanjutkan studinya untuk menjadi desainer sesuai cita-citanya.
"Sayang aku turun dulu, sampai jumpa nanti muach" seru Shesa sembari mencium pipi suaminya.
"Hmm...hati-hati baby" balas Vano dengan mencium bibir Shesa sekilas. Shesa tersenyum dan Ia mulai membuka pintu dan kemudian turun.
Dan akhirnya mobil mewah itu mulai melaju ke jalan raya, Shesa melambaikan tangannya kepada suami tercinta.
Shesa mulai masuk kedalam kampus di iringi tatapan mata Vano dari arah spion mobil, Vano tersenyum dan tiba-tiba saja Mario mengatakan sesuatu pada Vano.
"Maaf tuan muda, kenapa tiba-tiba saja Anda memakai parfum beraroma jasmine? nggak biasanya Anda menyukai aroma seperti ini" tanya Mario.
"Entahlah, aku sendiri juga tidak tahu, tiba-tiba saja aku sangat menyukai parfum ini, membuatku sangat tenang dan rileks" jawab Vano sembari menghirup aroma parfum yang ia pakai.
"Oh iya bagaimana keadaan istrimu? apa sekarang baik-baik saja?" tanya Vano mengenai Monic.
"Monic sekarang baik-baik saja Tuan Muda, Ia sudah tidak muntah-muntah lagi, Ia juga sudah tidak mual-mual lagi jika mencium aroma nasi, saya sangat senang sekali, kata dokter itu hal yang lumrah dialami oleh ibu hamil pada trimester pertama, sekarang usia kandungnya menginjak bulan ke lima" ungkap Mario senang melihat kondisi Monic dan calon bayi mereka baik-baik saja.
"Apa katamu? Monic mual-mual saat mencium aroma nasi?" tanya Vano terkejut.
"Iya betul Tuan Muda, selama 4 bulan terakhir dia nggak mau makan nasi, kalau mencium aroma nasi, langsung tuh muntah-muntah, saya sampai kasihan sama dia, dia cuma makan buah dan sayuran, saya juga heran, kenapa dia bisa berubah seperti itu, kata dokter katanya itu normal, tapi syukurlah sekarang sudah mau makan nasi lagi" jawab Mario
"Kok sama seperti ku, nggak suka mencium aroma nasi, iya Monic hamil, terus aku? nggak mungkin lah aku hamil...atau jangan-jangan ada penyakit aneh pada diriku, oh tidak...aku harus pergi ke dokter, aku harus mengecek kondisiku" gumam Vano sembari mengusap wajahnya kasar.
Mario yang melihat ekspresi Vano yang tampak cemas, lantas menanyakan tentang keadaan bosnya itu.
"Tuan Muda kenapa? kok tegang gitu, Tuan Muda sakit?" tanya Mario.
"Nggak tahu nih, dari pagi ini aku tidak selera makan, bau nasi aja muntah, apalagi bau makanan lainnya" terang Vano sambil memijit keningnya yang sedikit pusing.
"Lah kok bisa, apa Tuan Muda punya riwayat penyakit tertentu?" tanya Mario.
"Seumur hidup, aku nggak pernah punya keluhan aneh-aneh, kira-kira kenapa ya?" Vano merasa penuh tanda tanya besar.
__ADS_1
*******
Sesampainya di kantor, tampak Vano selalu memakai masker, dirinya tak tak tahan dengan aroma-aroma lain selain aroma jasmine dan harum tubuh istrinya.
"Eh...Pak Vano kenapa tuh? ngapain pakai masker segala?"
"Mungkin saja beliau sedang flu atau pilek barangkali?"
"Bos besar kena pilek? apa pak Vano hujan-hujan kali ya hihihi"
"Sssttt jangan keras-keras di dengar orangnya, kena SP entar"
Bisik-bisik beberapa karyawan yang melihat penampilan Vano hari ini. Vano berjalan diiringi Mario di sampingnya, harum parfum khas melati menyeruak ke seluruh tempat yang baru saja dilewati Vano.
"Eh...bau kembang melati menyengat banget, siapa yang pake parfum ini? wanginya bikin kepala pusing, jangan-jangan parfum sebotol dipakai semua tuh"
"Huss...jangan keras-keras, ini parfum pak Vano kayaknya, mampus kamu kalau pak Vano dengar"
Tiba-tiba Vano menghampiri karyawan yang tengah membicarakannya itu.
"Pak...Pak...Pak Vano, hehehe...bukan apa-apa Pak, bapak salah dengar kali...iya kan?" seru karyawan itu sembari menyikut teman sebelahnya.
"Hehe iya benar pak" sambung karyawan satunya.
"Lantas kenapa kalian membicarakan tentang parfum saya?" tanya Vano yang tiba-tiba m.
"Ooohhhh...kalau itu kami sangat suka dengan harumnya pak, parfum bapak pokoknya the best dah" seru karyawan Vano terpaksa berbohong.
"Benarkah, kalau begitu mulai saat ini kalian semua harus memakai parfum jasmine sekarang juga saya tidak mau tahu ya" ucapan Vano seolah peraturan baru dalam perusahaannya, tampak beberapa karyawan disini terkejut dengan keputusan Vano.
"Jadi kita semua harus memakai parfum itu pak?" tanya karyawan itu sembari membulatkan matanya.
"Iya...tepat sekali, jika aku mencium selain parfum melati, maka aku tidak segan-segan untuk memecatnya...paham kalian?" seru Vano memerintahkan langsung karyawan karyawannya untuk mengganti parfum mereka dengan parfum melati.
__ADS_1
"Mario kamu perintahkan seluruh kepala staf untuk mengganti parfum mereka dengan aroma jasmine, jika mereka tetap saja membangkang, tidak mau memakai parfum itu, aku tak segan-segan untuk memecatnya, kamu mengerti?" Seru Vano sembari melototkan matanya kepada Mario.
Dan itu membuat Mario sangat terkejut.
"loh kok saya yang dimarahin sih tuan muda?" ucap Mario memelas.
"Kamu juga, ganti parfummu dengan parfum melati, awas kalau aku mengendus tubuhmu yang masih bau amis, aku suruh push up 100 kali kamu mau?" seru Vano serius.
"Yah...push up keciiiilllll...Saya setiap hari juga push up kok Tuan Muda hehe" jawab Mario sambil menutup mulutnya.
"Ya sudah...untuk hari ini, ada peraturan baru dari saya...saya minta kalian bisa mematuhinya dengan baik" seru Vano
"Baik pak..." jawab seluruh karyawan Vano.
Vano kemudian melangkahkan kakinya menuju ruang kerjanya. Vano mulai masuk dan kemudian ia duduk di kursi Singgasana nya. Tampak Ia terus memakai masker, agar perasan mual muntahnya bisa segera hilang.
Tiba-tiba saja Sekretaris Jimmy datang menghadap Vano yang waktu itu tengah memeriksa dokumen.
"Permisi Pak Vano, apa jadi kita pergi makan siang bersama Pak Indra?" tanya Jimmy
Kemudian Vano membuka masker yang sedari tadi menutupi sebagian wajahnya. Setelah Vano berhasil membuka maskernya, tiba-tiba saja dirinya mencium aroma lain yang membuatnya tak merasa nyaman.
"Hmmm...bau apa ini? kayak bau bunga bangkai" gumam Vano yang masih bertanya -tanya
Kemudian Ia berjalan mendekati Sekretaris Jimmy, karena Vano merasa sumber aroma itu berasal dari Jimmy, sekretaris nya sendiri.
Vano mulai mendekatkan hidungnya pada tubuh sekretaris Jimmy, dan tentu saja itu membuat sekretaris Jimmy sangat ketakutan yang begitu mendalam.
"Pak Vano, ngapain bapak dekat-dekat, maaf pak saya masih polos, jangan ganggu saya" seru sekretaris Jimmy ketakutan sambil menjauhkan dirinya dari Vano.
"Bodo amat...eh badan kamu kok bau menyan sih? nggak enak sekali, cepat pakai parfum ini, biar bau menyannya ilang" ucap Vano sembari memberikan parfum jasmine miliknya.
"Masa sih pak, perasaan bau badan saya udah wangi" balas Jimmy sembari mencium bagian ketiaknya yang kanan dan kiri.
__ADS_1
❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤