
Jam menunjukkan pukul 11 malam, dan Shesa belum mendapati suaminya pulang ke rumah.
"Dia kemana sih kok belum pulang juga?" gumamnya dalam hati
"Apa dia benar-benar marah sama aku?"
Tiba-tiba saja terdengar suara mobil Vano dari luar.
"Sepertinya dia sudah pulang!" seru Shesa sambil melihat Vano dari atas balkon.
Shesa berlari menuruni anak tangga dan menghampiri Vano, lantas ia membukakan pintu untuk suaminya, pintu telah terbuka dan Shesa menyambutnya dengan senyum.
"Kamu sudah pulang?" tanya Shesa polos
Vano menatap Shesa dengan tatapan yang nanar.
"Ayo ikut!" seru Vano sembari menarik tangan Shesa dengan sedikit kasar.
"Aww....sakit...lepasin!" pekik Shesa sambil menarik tangannya dari genggaman tangan Vano yang kuat.
Vano menarik kembali tangan Shesa dan menaiki anak tangga, hingga akhirnya Vano berhasil membawa Shesa ke kamar mereka.
Vano melepaskan tangan Shesa dengan kasar, sehingga membuat Shesa terjatuh di atas ranjang.
"Kamu tuh kenapa sih? Kenapa kamu kasar sekali padaku?" tanya Shesa kesal.
"Kali ini aku harus menghukummu" seru Vano yang sudah tidak bisa menahan lagi gejolak asmaranya.
"Apa maksudmu?" tanya Shesa terkejut
Tanpa banyak bicara Vano langsung mencium bibir Shesa dengan rakus, Shesa yang masih sangat bingung berusaha melepaskan ciuman Vano dari bibirnya.
"Lepaskan! Kamu sudah gila apa? " seru Shesa kesal, dirinya tidak menyangka kenapa Vamo tiba-tiba menciumnya begitu kasar. Sejenak Shesa tersadar mungkin apa yang Vano lakukan karena Ia marah jika Shesa pergi tanpa izin darinya. Dengan suara yang merendah Shesa mencoba minta maaf kepada suaminya.
"Aku minta maaf! Jika tadi aku belum izin kepadamu, Aku menemui Monic, kami janjian di cafe Virgin, maafkan aku! Aku tak bermaksud membohongimu!" jelas Shesa dengan suara bergetar
Vano dengan nafas ngos-ngosan berusaha menjelaskan tentang keadaan dirinya yang saat ini tengah berada dalam obat perangsang.
"Aku memang kesal kepadamu! Tapi aku tidak bisa menahan hasratku yang satu ini, badanku terasa sangat panas, aku mohon kamu mau melakukan sesuatu untukku!" ucap Vano dengan nafas yang tersengal-sengal, Vano berusaha untuk menahannya, namun sepertinya dosis yang diberikan oleh Siska itu agaknya membuat Vano benar-benar harus melepaskan hasratnya sekarang juga.
Shesa mengerutkan dahinya, sejenak ia memegang kening Vano yang tampak dipenuhi oleh keringat yang membasahi wajah tampan seorang Vano.
"Nggak panas, tapi kenapa kamu bilang panas?" ucap Shesa saat merasakan dahi Vano yang teraba baik-baik saja. Vano langsung meraih tangan Shesa, dan memintanya untuk melakukan sesuatu.
"Aku mohon padamu, kamu mau kan melakukannya untukku" sahut Vano sembari menatap wajah Shesa yang nampak gugup.
"Melakukan apa ?" tanya Shesa penasaran
Vano berbisik di telinga Shesa, dan mencoba mengatakan sesuatu,sontak saja Shesa terkejut bukan kepalang saat mendengar permintaan suaminya yang menurutnya itu sangatlah membuat Shesa harus mempersiapkan diri lahir dan batin.
Shesa lantas mundur dan membalikkan badan membelakangi Vano.
Shesa berfikir sejenak apa ia mau melakukannya apa tidak, ia menggigit bibir tipisnya, Vano perlahan mendekatinya dan meraih pinggang Shesa yang ramping.
"Bagaimana sayang! Aku benar-benar sudah tidak kuat lagi, Pliss lakukan sesuatu untukku!" seru Vano berbisik di telinga Shesa dengan tangan yang sudah tidak sabar untuk menjamah istrinya.
Sesaat setelah Shesa berfikir, akhirnya Shesa mengangguk pelan, setelah ia rasa Vano berhak mendapatkan dirinya, meski dalam suasana yang berbeda, saat ini Vano dalam pengaruh obat perangsang.
"Baiklah! Aku bersedia!" jawab Shesa dengan memejamkan matanya.
Jawaban Shesa membuat Vano lega dan senang, akhirnya dirinya bisa melepaskan efek obat setan itu yang membuatnya tersiksa.
"Aku harus siap!" gumam Shesa dalam hati sembari memejamkan matanya, dan mengatur nafasnya, karena sang suami mulai menjelajahi setiap lekuk tubuhnya.
__ADS_1
Vano mulai intens mencium tengkuk Shesa
dengan mesra, lantas ia membalikkan tubuh Shesa, dan mencium kening Shesa dengan lembut.
Tak dipungkiri Shesa sendiri juga merasakan sesuatu yang berbeda saat Vano menyentuhnya.
Vano menggendong mesra istri kecilnya, dan Shesa pun mengalungkan tangannya pada leher Vano yang berotot.
Vano tersenyum tipis melihat Shesa yang terlihat cantik malam ini, perlahan ia menidurkan Shesa di atas ranjang mewahnya, perlahan namun pasti Shesa mulai memejamkan matanya, ia sudah siap lahir dan batin untuk memberikan hak penuh kepada suaminya.
Vano mulai mencium bibir Shesa dengan lembut, hingga turun ke leher Shesa yang jenjang, tangan Vano mulai bergerilya menjelajahi tubuh Shesa yang indah, entahlah sedari kapan baju mereka sudah berserakan di atas lantai.
Sekarang tubuh mereka berdua hanya ditutupi selimut, Vano mulai berbisik lembut di telinga Shesa.
"Kamu sudah siap sayang!" tanya Vano dengan suara seraknya.
Shesa menatap Vano sendu sembari mengangguk pelan, sesekali dirinya mencoba menahan sensasi akan hilangnya status seorang gadis menjadi wanita biasa.
Vano tersenyum dan ia mulai melakukan tugas utama sebagai seorang suami.
"Aaakkhh..." suara indah itu lolos dari bibir Shesa, merasakan perih dan sakit di area kepemilikan nya, tangannya meraih punggung Vano dan merremasnya dengan kuat, sesekali ia menggelengkan kepalanya, saat dirasa gerakan Vano cukup membuatnya sedikit kesakitan.
"Kamu sakit? Maafkan aku sayang!" seru Vano berbisik lirih di telinga Shesa, Shesa menatap Vano begitu sendu lantas memeluk suaminya dengan mesra.
"Hmm sedikit, apa kamu tidak bisa sedikit pelan-pelan!" ucap Shesa sembari menahan sensasi robeknya selaput dara.
"Hmm... tidak bisa, aku tidak bisa menguasai diriku sendiri!" jawab Vano yang benar-benar sudah tidak bisa mengontrol dirinya sendiri.
Kamar mewah itu dipenuhi oleh desaahan dua insan yang sedang memadu kasih, apalah daya seorang Shesa yang wajib memberikan hak Suaminya atas dirinya, Shesa pasrah dan Ia hanya mengikuti permainan suaminya, meskipun terkadang ada rasa sakit di sana, karena baru pertama kali ini Shesa melakukannya, namun pada akhirnya Vano berhasil membawa istrinya terbang melayang dan menikmati permainan itu dengan syahdu.
Setelah beberapa jam beraktivitas, merekapun akhirnya telah mencapai puncak gelora cinta bersamaan.
Vano melihat istrinya tampak kelelahan dengan aktivitas yang sudah mereka berdua lakukan tadi, lantas Vano mencium kening istrinya dengan lembut.
Shesa mengangguk pelan dan tersenyum, hingga akhirnya merekapun tertidur pulas setelah melakukan aktivitas yang tak akan pernah mereka lupakan sepanjang hidup.
*
*
*
*
Sang surya sudah menunjukkan pesonanya, jam menunjukkan pukul setengah enam pagi, Shesa mulai membuka matanya, dilihatnya Vano masih tertidur pulas dengan melingkarkan tangannya pada pinggang Shesa, kemudian Shesa mengangkat tangan Vano pelan, dan ia mencoba bangun dari ranjang untuk pergi ke kamar mandi.
Tiba-tiba saja
"Aww...sakit banget...hufft!" Shesa merasa kesakitan di daerah intinya karena ulah suaminya semalam, ia berusaha berdiri dan berjalan menuju kamar mandi.
Vano yang mulai terbangun melihat istrinya yang sedang berjalan dengan kesakitan, Vano segera turun dari ranjangnya dan tanpa sehelai benangpun, menghampiri Shesa yang hendak pergi ke kamar mandi.
"Masih sakit kah? Sini aku bantu!" seru Vano yang tiba-tiba membuat Shesa terkejut.
"Aaaa....di tutup dong itunya" teriak Shesa sambil menutup kedua matanya dengan kedua tangannya yang putih.
"Apanya yang ditutup?" tanya Vano yang belum mengerti maksud istrinya.
"Itu...!" jawab Shesa sambil menunjuk 'junior' milik suaminya.
Vano tersenyum tipis melihat tingkah Shesa yang begitu menggemaskan.
"Buat apa ditutup, toh kamu sudah merasakannya" balas Vano dengan senyum smirk.
__ADS_1
"Sudah_sudah, aku mau mandi, aku tidak mau nanti terlambat datang ke sekolah" seru Shesa sambil menutup pintu kamar mandi, tapi ternyata pintu itu ditahan oleh tangan Vano dengan cepat.
"Apa aku boleh ikut mandi?" goda Vano menyeringai.
"Nggak boleh! Nanti malah lama mandinya, bisa terlambat sekolah, kamu diluar saja!" seru Shesa lantas menutup pintu kamar mandi dengan sedikit keras, Vano melepaskan tangannya dari pintu kamar mandi dengan senyum kecil.
Vano kembali duduk di ranjang mewahnya, secara tak sengaja ia melihat bercak darah di bedcover yang berwarna putih itu.
"Darah?" terlihat bias bahagia pada wajah tampan suami Shesa itu, ternyata Vano adalah pria pertama yang berhasil merubah status gadis Shesa menjadi wanita sempurna.
*
*
*
*
Di sekolah
"Eh lihat Shesa nggak?" tanya Romi pada seorang teman Shesa.
"Nggak liat tuh"
Kemudian Romi berjalan menghampiri Mita dan Nabila.
"Kalian berdua lihat Shesa tidak?" tanya Romi
"Belum datang kayaknya." jawab Mita
Romi kemudian berlalu meninggalkan Mita dan Nabila.
"Kak Romi tunggu kak!" panggil Nabila secara tiba-tiba.
Romi menoleh dan menghampiri kedua gadis itu lagi.
"Kakak apain Shesa sampai dia seperti itu?" tanya Nabila ketus.
"Maksud kalian?" jawab Romi yang masih belum mengerti maksud mereka.
"Kakak jangan pura-pura deh, selama ini cowok yang paling deket sama Shesa itu cuma kak Romi doang" sambung Nabila.
"Lantas? Apa maksudnya?" tanya Romi sambil mengernyitkan dahinya.
"Kakak sudah apain Shesa sampai merah-merah gitu" seru Nabila menyelidik
Romi benar-benar bingung dengan pertanyaan Nabila yang seolah menyudutkan dirinya, secara dia tidak pernah merasa melakukan hal tak senonoh pada Shesa, di lain sisi Shesa telah tertangkap basah memiliki tanda cinta itu pada lehernya.
"Aku tidak pernah melakukan hal apapun terhadap Shesa, dan aku tidak akan mau melakukan itu pada Shesa, sebelum janur kuning melengkung, faham kalian?" jawab Romi sambil berlalu meninggalkan Mita dan Nabila yang saling menatap.
*
*
*
BERSAMBUNG
🌷🌷🌷🌷🌷🌷
...Maafkan author ya! Sedikit hareudang ya bestie 😁...
...Tetap dukung kisah mereka hingga akhir ya! 😊...
__ADS_1