
"Excel, kau kenapa?" tampak Vera memanggil dan menggoyang-goyangkan pundak Excel yang sedang melamun.
"oh...kau sudah siap?" ucap Excel kepada Vera yang sudah bersiap-siap berangkat untuk menemui kedua orangtuanya.
"iya..." jawabnya singkat.
Excel menghela nafas panjang, ia masih teringat pengakuan pengasuhnya tentang kecelakaan yang menimpa orang tua Excel.
Flasback
seorang pelayan sedang menghampiri Excel yang waktu itu sedang duduk di kursi kerjanya, tampak Excel kesal karena sesuatu yang ia rencanakan gagal.
"sial, kenapa rencanaku bisa gagal, aku tidak akan pernah membiarkan perusahaan Dewa berjaya, dia harus hancur, aku bersumpah demi papa, dia harus membayar kematian papa" ucap Excel kesal sembari mengepalkan tangannya pada meja.
"tuan muda, ada sesuatu yang harus kau ketahui kebenarannya, ini tentang rahasia kematian tuan besar" ucap seorang pengasuh Excel yang setia menemani keluarganya selama puluhan tahun.
Excel menatap wajah si kakek tua, paman Danu namanya.
"apa yang paman Danu maksud?" tanya Excel penasaran.
"maafkan saya tuan muda, selama ini saya sudah menyembunyikan sesuatu yang seharusnya Anda ketahui!" ucap paman Danu dengan suara yang sudah merintih.
"tuan besar memang meninggal karena kecelakaan maut itu, dan kebetulan mobilnya bertabrakan dengan mobil tuan Dewa, tapi sebenarnya sebelum tuan besar mengendarai mobilnya, beliau sempat meminum alkohol, yang menyebabkan ia tidak konsentrasi dalam mengendara, waktu itu paman berada dalam satu mobil dengan tuan besar, paman melihat tuan besar kehilangan kendali ditikungan yang tajam, hingga akhirnya ada mobil tuan Dewa yang datang dari arah berlawanan" ucap paman Danu sembari menghela nafasnya, ia masih trauma dengan kejadian itu, mengingat ia melihat majikannya meninggal ditempat kejadian.
Excel mendengarkan seksama, dahinya berkerut, selama ini ia menganggap Dewa telah menabrak mobil ayahnya dan menyebabkan sang ayah meninggal dunia, dari situlah dendam Excel kepada keluarga Dewa mulai muncul.
"mobil tuan besar oleng dan tidak bisa mengendalikan keseimbangan, hingga akhirnya mobil tuan besar menabrak hebat mobil tuan Dewa, mobil itu terperosok kedalam jurang, entah kenapa paman bisa sampai selamat, semua itu adalah kehendakNYA, tapi tuan besar, paman melihatnya dengan mata kepala sendiri, tuan besar terhimpit badan mobil dan...." belum selesai paman Danu menyelesaikan kata-katanya, Excel sudah menyela.
"cukup...aku tidak mau dengar lagi paman" seru Excel sembari menutup telinganya.
"maafkan paman tuan muda, sebaiknya tuan muda lupakan dendam Itu, karena sesungguhnya tuan Dewa tidak bersalah" ucap paman Danu menjelaskan.
Excel terdiam dan memijit kepalanya yang pusing.
"ya Tuhan, ternyata selama ini aku sudah salah menilai mereka, aku sangat jahat kepada mereka, aku sudah menghancurkan hidup Vera, aku juga sudah berusaha menghancurkan perusahaan ayahnya, aku benar-benar manusia jahat, ahhh.... kenapa ini semua harus terjadi" ucap Excel penuh penyesalan sembari bersimpuh di lantai.
paman Danu mendekati Excel dengan tertatih, ia menyentuh pundak Excel dan mencoba membuatnya tegar.
__ADS_1
"tidak ada kata terlambat tuan muda, semua masih bisa diperbaiki, datanglah kepada mereka, minta maaflah, paman yakin mereka pasti mengerti, asalkan kau sungguh-sungguh telah menyesali perbuatanmu itu" seru paman Danu.
Excel tertunduk, dirinya kacau waktu itu, disaat kebenaran datang terlambat kepadanya.
"kenapa paman tidak bilang dari dulu, seandainya aku tahu dari dulu, ini semua tidak akan pernah terjadi" sesal Excel.
"waktu itu kau masih belum mengerti apa yang salah dan apa yang benar, tuan muda terlalu mendengarkan mami anda, mami anda sendiri tidak tahu kejadian yang sebenarnya" jelas paman Danu penuh penyesalan.
******
"apa? Vera datang bersama Excel? laki-laki brengsek yang sudah membuat keluarga kita malu!" ucap Dewa marah mengingat disaat Excel meninggalkan Vera begitu saja saat sedang mengandung anaknya.
"pa... mungkin saja, Excel sudah menyadari kesalahannya, maka dari itu dia memberanikan diri untuk datang menemui papa" ucap Shesa mencoba menenangkan Dewa.
"papa tenang ya, jangan pakai emosi, mama takut jantung papa kambuh lagi" ucap Anggi menenangkan suaminya.
"tapi papa tidak rela, Excel penyebab Vera menggugurkan kandungannya" seru Dewa.
"tidak pa, kak Vera tidak pernah menggugurkan kandungannya" jawab Shesa dengan lantang.
"Shesa, apa maksudmu, kakakmu Vera masih mempertahankan kehamilannya, tapi ... waktu itu dia bilang telah menggugurkan kandungannya" ucap Anggi terkejut.
"kak Vera sengaja menutupi semua itu dari mama dan papa, waktu itu kak Vera sangat tertekan, dari pihak Excel dia dicampakkan, dan dari pihak keluarga kita semua sudah menghakiminya, akhirnya kak Vera memutuskan untuk pergi jauh membawa anak yang ia kandung, kak Vera menemui om Marcus di London, om Marcus lah yang menolong dia selama ini" ucap Shesa menjelaskan sembari menitikkan air mata.
Anggi dan Dewa hanya terdiam.
"sekarang anak itu sudah besar, cucu papa dan mama sangat cantik" imbuh Shesa memberi tahu tentang Frisca.
"cucu papa?" ucap Dewa sedih.
"iya pa, cucu papa dia gadis kecil yang cantik" sambung Shesa sembari tersenyum.
"ya Tuhan, kenapa ini harus terjadi pada keluarga kami, papa sudah sangat bersalah kepada kakakmu, papa sudah mengusirnya dari keluarga kita, papa sangat menyesal" ungkap Dewa dengan menitikkan air matanya.
"papa..." Anggi memeluk suaminya.
******
__ADS_1
Mario terus berjaga-jaga disekitar rumah Dewa, memastikan nona mudanya baik-baik saja, tiba-tiba ia dikejutkan dengan kedatangan sebuah mobil sedan sedang menuju halaman rumah Dewa.
"astaga, bukankah itu mobil Excel" Mario yang sudah mengenali mobil rival tuan mudanya, ia langsung mengintai mobil itu dari luar, dilihatnya Excel keluar dengan seorang wanita bersama anak kecil.
"loh bukannya itu nona Vera? kenapa dia bersama Excel, tuan muda harus tahu ini !" Mario segera mengambil ponselnya dan memberi tahu Vano tentang kedatangan Excel dan Vera.
Vano sedang memeriksa beberapa dokumen diruangannya, tiba-tiba layar ponselnya menyala.
"Mario..."
dengan segera Vano mengangkat telepon dari asisten pribadinya itu.
"iya...ada apa Mario, apa semua baik-baik saja!" tanya Vano penasaran
"tuan muda, saya melihat nona Vera dan Excel datang ke rumah tuan Dewa" jelas Mario.
"apa? berani sekali Excel datang kerumah papa Dewa, Mario kau tunggu disana, tetap berjaga-jaga, awasi terus Excel, jangan sampai dia melukai siapapun disana, aku akan segera datang secepatnya" ucap Vano dengan wajah seriusnya.
Vano segera menuju mobilnya, dengan cepat ia melajukan mobilnya agar segera sampai dirumah sang mertua.
*****
di rumah Dewa.
Vera memandangi rumah yang selama dua tahun lebih ia tinggalkan, ia tak menyangka bisa kembali lagi ke rumah dimana ia dilahirkan.
"mama ...ini rumah siapa?" tanya Frisca polos.
"sayang...ini rumah..." belum selesai Vera menyelesaikan kata-katanya tiba-tiba Vera mendengar suara yang selama ini ia rindukan.
"ini rumah kakek dan nenek sayang" ucap Dewa dengan nada bergetar.
"papa" seru Vera terkejut sembari menoleh kearah Dewa.
BERSAMBUNG
🔥🔥🔥🔥🔥🔥
__ADS_1