Pernikahan Rahasia Anak SMA

Pernikahan Rahasia Anak SMA
rujak manis


__ADS_3

"iya nggak apa-apa" seru Shesa kepada Laura.


Shesa merapikan seragamnya kembali dan segera pergi ke dalam kelas, dimana bu Dewi sedang menunggunya.


"permisi, aku harus segera memberikan ini kepada bu Dewi" seru Shesa sambil berlalu meninggalkan Pak Dante dan Laura.


Vano memperhatikan dalam-dalam gadis ini, ia tak mengerti kenapa gadis ini ingin mencelakai istrinya, Laura yang tersadar bahwa Pak Dante tengah memperhatikannya, lantas bertanya pada sosok pria dewasa yang masih terlihat cool itu.


"pak Dante, kenapa lihatin saya seperti itu?" tanya Laura penasaran, tatapan pak Dante benar-benar membuatnya salah tingkah.


"oh...tidak, saya cuma terpesona melihat gadis sepertimu, kamu gadis yang baik, mau minta maaf ketika salah, aku salut kepadamu" ucap Vano mencoba menjebak Laura.


Laura yang mendengar itu merasa tersipu malu, ia tak menyangka pak Dante memujinya, ia melihat pak Dante memperhatikannya terus, sehingga membuat Laura semakin malu.


"siapa kau? apa maksudmu ingin menyakiti istriku? aku harus mencari tahu siapa gadis ini sebenarnya" gumam Vano dalam hati.


"emm...pak Dante udah makan belum?" tanya Laura.


"hmm..." jawab Vano sembari menggelengkan kepalanya.


"kalau begitu, gimana kalau kita makan bareng di kantin pak, soalnya saya juga lapar" ucap Laura menawarkan, Vano berpikir ini akan bagus untuk mengetahui siapa gadis ini yang sebenarnya.


"oh...baiklah, ayo kita kekantin" seru Vano menerima ajakan Laura.


pak Dante dan Laura berjalan menuju ke kantin yang melewati halaman sekolah, tiba-tiba Vano melihat ada penjual rujak manis yang sedang nongkrong di depan pagar sekolah, entah kenapa pak Dante sangat ingin sekali menikmati rujak manis itu, kemudian ia berjalan menuju penjual rujak yang berada di luar pagar sekolah.


"pak Dante mau kemana?" tanya Laura penasaran.


"aku mau membeli rujak, kamu mau" seru pak Dante menawarkan.


"enggak pak, terimakasih saya nggak suka pedes" ucap Laura menolak.


"baiklah, aku yang akan membeli rujak itu" seru pak Dante, kemudian ia pun membeli semua rujak yang dijual oleh pedagang itu, sehingga membuat pedagang rujak itu sangat berterima kasih kepada pak Dante.


"terimakasih pak, bapak sudah membeli semua dagangan saya, mudah-mudahan bapak selalu diberi kesehatan sekeluarga" ucap pedagang itu senang.

__ADS_1


"Aamiin, terimakasih" seru Vano mengaminkan.


"Laura sini" panggil pak Dante kepada Laura yang sedari tadi berdiri menunggunya, kemudian Laura menghampiri pak Dante.


"ini bawalah, bagikan rujak-rujak ini kepada semua teman-teman sekelasmu, hari ini kita akan makan rujak bersama" ucap Pak Dante.


"terus, kita nggak jadi makan bareng pak!" ucap Laura mengingatkan.


"oh...tentu saja, kita masih punya banyak waktu, sekarang bagikan ini kepada semua teman-temanmu" perintah Dante, dan Laurapun tidak bisa menolaknya, pak Dante sudah membuat perasaannya berbeda.


Laura mulai masuk ke kelas 12, ia mendapati semua teman-temannya sedang berkumpul di dalam kelas, karena ada pencerahan Out Dor Learning yang akan dilaksanakan esok lusa.


"eh...Laura bawa apa tuh?" seru Monic.


"nggak tahu" ucap Shesa sembari mengangkat bahunya.


kemudian Laura mengeluarkan rujak manis yang sudah diborong semua oleh pak Dante.


"hai semua...ini kita dibeliin pak Dante rujak manis" seru Laura sembari membagikan rujak-rujak itu.


"hmm...enggak ah Monic, perutku mual mencium sambalnya, aku kekamar mandi dulu" seru Shesa sembari menutup mulutnya, perutnya merasa mual dan ingin muntah saat mencium sambal rujak manis.


Shesa lantas berlari kecil ke kamar mandi, Monic mengikutinya, ia tak ingin terjadi sesuatu pada Shesa, sementara Laura dan semua teman-temannya menikmati rujak itu bersama di dalam kelas.


setelah sampai dikamar mandi, Shesa muntah-muntah, Monic yang membantu memijit tengkuknya, sehingga Shesa merasa sedikit membaik.


"huft...huft...huft" suara nafas Shesa yang masih belum beraturan.


"gimana? masih mual, nih minyak kayu putih supaya reda rasa mualnya" ucap Monic sembari memberi minyak kayu putih kepada Shesa.


"kita diluar aja sebentar, aku nggak mau mencium bau sambal itu lagi" ucap Shesa sembari mencuci mukanya, lantas ia mengoleskan minyak kayu putih di perut dan lehernya.


"terserah kamu saja, aku akan menemanimu" ucap Monic.


kemudian mereka berdua pergi keluar dari kamar mandi, Shesa dan Monic menunggu teman-temannya menghabiskan rujak itu, agar Shesa tidak melihat dan mencium bau sambal itu lagi, mereka berdua hendak duduk di bangku taman sekolah, tanpa sengaja Monic melihat pak Dante sedang menikmati rujak manis dengan lahapnya, Monic melihat sudah 2 bungkus yang dihabiskan oleh pak Dante.

__ADS_1


lantas Monic dan Shesa menghampiri pak Dante yang sedang duduk santai di bangku taman sekolah.


"pak Dante, kok ada disini? oh iya pak, terima kasih banyak atas rujak manisnya" seru Monic sembari memperhatikan pak Dante makan dengan sangat lahap.


"oh iya..." jawab Pak Dante singkat, karena ia sangat menikmati rujak itu, Shesa melihat pak Dante makan sembari menutup hidung dan mulutnya, karena ia masih merasa mual jika mencium aroma sambal itu.


Monic mengernyitkan dahinya, ia memperhatikan betapa pak Dante menghabiskan rujak itu hampir 3 bungkus.


"dihh...pak Dante, laper apa doyan sih?" seru Monic sambil garuk-garuk kepalanya yang tak gatal.


"kalian mau!" seru Pak Dante menawarkan, dan itu membuat Shesa bersembunyi dibalik punggung Monic.


"nggak pak terima kasih" ucap Monic sembari memperhatikan Pak Dante yang masih sibuk menghabiskan satu sendok terakhir rujak manis itu, sementara Shesa masih sibuk menutup hidung dan mulutnya dengan sapu tangan.


"ngomong-ngomong pak Dante lagi ngidam ya? apa istri bapak sedang hamil?" tanya Monic penasaran.


"kok kamu tahu istri saya sedang hamil?" jawab pak Dante sambil mebersihkan mulutnya dengan tisu, sementara Shesa masih tetap berada dibalik punggung Monic.


"katanya ibu saya gitu pak, waktu ibu sedang hamil saya, yang ngidam bukan ibu saya, justru yang ngidam bapak saya pak" ucap Monic menerangkan.


tiba-tiba kumis pak Dante mau copot, saat dirinya membersihkan mulutnya dengan tisu, Vano menyadari bahwa kumis palsunya mau copot, dengan cepat ia menutupi mulutnya itu dengan tangannya sendiri, Monic yang memperhatikan tingkah pak Dante lantas bertanya.


"pak Dante kenapa?" tanya Monic yang penasaran melihat pak Dante seperti kebingungan.


"oh nggak papa, sebaiknya kalian masuk ke kelas, aku mau ke kamar mandi, permisi" ucap pak Dante sembari berlari menuju kamar mandi.


"diih...pak Dante kenapa tuh? jangan-jangan mules lagi...hahaha" seru Monic tertawa, dan Shesapun ikut tersenyum.


sesampainya dikamar mandi, Vano segera merapikan kumisnya yang hendak lepas tadi.


"untung saja mereka tidak tahu, kalau kumis ini mau lepas" seru Vano sembari menempelkan kembali kumisnya yang sempat berubah.


BERSAMBUNG


🌹🌹🌹🌹🌹

__ADS_1


"


__ADS_2