Pernikahan Rahasia Anak SMA

Pernikahan Rahasia Anak SMA
simalakama


__ADS_3

"Tuan muda, Anda sudah pulang! Ini ...bik Ijah lagi ngobatin kaki Nona muda" seru bik Ijah sambil tersenyum, Vano yang melihat itu nampak sedikit salah tingkah, ia mencoba menutupi rasa malunya dengan basa basi pada bik Ijah.


"Eh....bik Ijah udah lama?" tanya Vano dengan sedikit wajah yang memerah, lantas ia menoleh kearah Shesa, dilihatnya gadis itu berusaha menutupi rasa ingin tertawanya.


"Udah dari tadi Tuan muda!" jawab bik Ijah.


"Oo....hei...ngapain kamu senyum-senyum sendiri, apa yang kamu tertawakan, ada yang lucu?" ucap Vano pada Shesa, yang membuat Shesa sedikit terkejut.


"Hah....eh...emm...nggak...siapa juga yang ketawa" jawab Shesa menutupi.


"Baiklah kalau begitu, ini sudah selesai bik Ijah permisi dulu, kaki Nona muda akan baik-baik saja" pamit bik Ijah pada keduanya.


"Terima kasih banyak bik Ijah, kakiku sudah agak mendingan" sahut Shesa dengan tersenyum.


"Terima kasih banyak bik...!" seru Vano


"Bik Ijah keluar dulu, nanti kalau Nona muda ada perlu, panggil bik Ijah saja" seru bik Ijah tersenyum lantas ia keluar dari kamar mereka.


Sekarang tinggal Vano dan Shesa yang berada di dalam kamar berdua, Vano melihat Shesa dengan salah tingkah, begitupun dengan Shesa melihat Vano dengan tatapan yang berbeda, tak ada kata diantara mereka, keduanya saling memberi jarak, suasana dalam kamar itu hening seakan tidak ada orang, padahal ada dua orang yang saling merajuk.


Vano melepas jasnya dan juga melepas jam tangannya, Shesa melirik ke arah jam tangan yang baru saja Vano letakkan di atas nakas, ia mendapati jam yang ia berikan ternyata Vano telah memakainya, ada rasa senang saat pemberiannya dihargai oleh lelaki yang telah menikahinya itu.


Vano masuk ke dalam kamar mandi, dan Shesa masih terbaring di atas tempat tidur, perlahan ia mulai mencoba menggerakkan kakinya, rasa sakit itu perlahan mulai hilang, sehingga ia mencoba untuk berdiri dan berjalan, dengan sedikit tertatih Shesa berusaha berdiri tanpa pegangan.


Perlahan ia bisa berjalan sedikit demi sedikit tanpa memincangkan kakinya, ia merasa sangat senang, pijatan bik Ijah benar-benar ampuh.


Vano keluar dari kamar mandi karena ia lupa membawa handuknya, dilihatnya Shesa yang sedang belajar berjalan, senyumnya sedikit mengembang meskipun ia masih kesal dengan istri kecilnya itu.


Tiba-tiba Shesa tersandung oleh karpet bulu yang berada di lantai tengah kamar, sehingga membuat Shesa tidak bisa menjaga keseimbangannya, Vano yang melihat itu dengan sigap menangkap istrinya yang hendak terjatuh.


"Awas....!" seru Vano dengan cepat menangkap tubuh Shesa.

__ADS_1


"Aaaaa...." pekik Shesa saat merasa dirinya akan terjatuh.


Dan....setelah sepersekian detik, Shesa telah berada dalam dekapan Vano, keduanya saling menatap, tangan Shesa bergelayut pada leher Vano yang kokoh, dan tangan Vano menopang tubuh Shesa yang hendak terjatuh.



Bak adegan romantis pada film-film, keduanya larut dalam khayalan mereka, Vano mulai mengangkat tubuh istrinya untuk berdiri, dengan tatapan mata yang tidak ingin lepas, terasa getaran jiwa yang ingin merengkuh manisnya cinta, semakin cepat dan semakin beradu.


Tiba-tiba Vano mengangkat tubuh Shesa dan membawanya ke atas tempat tidur, perlahan ia membaringkan Shesa, keduanya masih saling menatap penuh cinta, mulut terkunci tapi hati saling bicara.


"Kenapa kita harus seperti ini?"


"Aku ingin kau tahu, aku tidak ingin ada orang lain yg menyakitimu"


"Tapi kau sudah menyakitiku, kau tahu tidak?"


"*Suatu saat kau akan tahu, kenapa aku melakukan ini untukmu, karena aku sangat mencintaimu*"


Sekejap saja hati mereka saling berbicara, Vano lantas berdiri dan melanjutkan ke kamar mandi, Shesa yang berharap Vano akan merubah sikapnya, pupus dengan tingkah Vano yang masih acuh padanya.


Sesaat Shesa melihat brosur pameran yang kemarin ia dapatkan dari Naina, ia berfikir sejenak, bagaimana kalau ia mengikuti ajang bergengsi itu, daripada dia harus stres memikirkan sikap Vano yang masih dingin kepadanya.


"Hmm...aku harus mempersiapkan segalanya untuk acara itu" gumam Shesa


Ia mulai mengambil ponselnya, dan menghubungi panitia penyelenggara bahwa ia akan mengikuti acara tersebut.


*


*


*

__ADS_1


Vano telah selesai mandi dan ia keluar dari sana, dengan hanya memakai handuk kimono, ia menghampiri Shesa yang masih terbaring di tempat tidur, Shesa melihat suaminya mulai mendekat padanya.


"Kamu mau apa ....eh..ehh...eh..lepasin" seru Shesa yang secara tiba-tiba tubuhnya diangkat Vano dan dibawa ke kamar mandi.


Vano telah menyiapkan bathtub untuk Shesa mandi, karena Vano tahu semenjak pulang sekolah Shesa belum mandi sama sekali, bagaimana ia bisa mandi untuk berjalan saja Shesa kesusahan.


"Ngapain bawa aku kesini?" tanya Shesa dengan tatapan sedikit kesal.


"Mandilah! Bersihkan tubuhmu! Aku sudah menyiapkan air untukmu" jawab Vano sembari menurunkan Shesa dari gendongannya.


Shesa terdiam, ia sadar bahwa sepulang sekolah ia belum sempat membersihkan dirinya, apalagi tadi ada bik Ijah yang datang ke kamar dan langsung mengobati kakinya yang terkilir.


Perlahan ia mulai melepas bajunya, namun ia terhenti dan membulatkan matanya, ia ingat bahwa Vano belum keluar dari kamar mandi, dengan gerak cepat Shesa menoleh ke arah Vano yang berdiri di belakangnya. Dengan santai Vano melihat istrinya yg salah tingkah.


"Ka...kamu kenapa masih ada disini? Aku mau mandi, apa kamu mau menyaksikan aku mandi?" seru Shesa yang merasa malu jika Vano masih berada disitu.


"Mendingan kamu keluar ajah, aku mau mandi sendiri" sambung Shesa sambil menyuruh Vano keluar.


"Aku ingin memastikan kamu baik-baik saja" sahut Vano


"Aku baik-baik saja kok, kamu nggak perlu khawatir" seru Shesa.


Akhirnya Vano memutuskan untuk keluar dari kamar mandi dan membiarkan Shesa sendiri, Shesa mulai melepas pakaiannya satu persatu, ia mencoba berjalan menuju bathtub, lantai kamar mandi yang licin membuat langkah Shesa sedikit sulit, namun pelan-pelan ia mencoba masuk ke dalam bathtub yang berisi busa yang melimpah.


Vano menunggu Shesa yang sedang mandi sambil duduk di sofa berwarna merah, ia ambil sebatang rokok untuk menghangatkan tubuhnya, sesekali ia menengok pintu kamar mandi, ia khawatir istrinya masih belum bisa berjalan dengan baik, apalagi ia sedang mandi, yang tentunya lantai kamar mandi menjadi basah dan licin.


Setelah Shesa puas berendam dalam bathtub, ia mencoba naik dan keluar dari bathtub, tapi sia-sia kakinya belum cukup kuat untuk menopang tubuhnya sendiri, ia bingung harus minta tolong pada siapa, seperti buah simalakama, jika ia memaksakan keluar dari bathtub pasti dia akan terjatuh, sedangkan kalau dia minta tolong pada Vano, ia sadar bahwa ia tidak memakai benang sehelai pun.


"Aduuhh...aku harus gimana?" Shesa bingung apa yang harus ia lakukan, sementara ia gengsi harus minta tolong pada Vano, disaat hubungan mereka sedang merenggang.


BERSAMBUNG

__ADS_1


🌹🌹🌹🌹🌹


...MOHON DIPERHATIKAN! VISUAL HANYA MENGGAMBARKAN ADEGANNYA YA, INGAT ADEGANNYA BUKAN WAJAH PEMAINNYA🙏 ...


__ADS_2