Pernikahan Rahasia Anak SMA

Pernikahan Rahasia Anak SMA
partner hidup


__ADS_3

"nggak, aku nggak papa kok" jawab Shesa mencoba bersikap tenang, Vano mengerti kekhawatiran Shesa, Shesa takut Vano membongkar rahasianya kepada teman-temannya.


"jadi...bapak beneran sudah punya istri? terus istrinya kemana pak? kok nggak diajak sekalian?" tanya Mita penasaran.


"tadi...dia bilangnya mau belanja, ah mungkin saja dia masih sibuk shoping, biarin saja nanti dia juga bakal balik kesini" jawan Vano dengan enteng.


"ya ampun, enak banget ya jadi istrinya pak Vano, bisa shoping sepuasnya" sahut Nabila.


"ngomong-ngomong pak, boleh nggak sih kita kenalan sama istri bapak? " ucap Mita basa-basi, Shesa merasa semakin tidak nyaman, akhirnya ia minta izin ke toilet sebentar.


"maaf, saya mau ke kamar kecil sebentar" Shesa segera berlalu dari meja yang membuatnya sangat was-was itu, Vano memperhatikan Shesa dengan seksama, setiap langkahnya, setiap gerak-geriknya tak pernah luput dari sorot mata Vano.


"pak Vano, pak?...bapak sedang lihatin apa sih?" tanya Mita yang tiba-tiba membuat Vano terkejut, lantas Vano mencoba bersikap tenang.


"ah tidak...tidak ada...apa tadi kalian bilang?, kalian bilang ingin berkenalan dengan istriku?" ungkap Vano yang membuat Monic sedikit terkejut.


"pak Vano apa dia akan membongkar rahasia pernikahannya sama Shesa?" gumam Monic dalam hati.


"iya tentu saja kalau bapak mengizinkan" seru Mita sembari tersenyum, tiba-tiba terlintas di fikiran Vano untuk mengerjai teman-teman Shesa.


"begini, sebenarnya saya sangat senang sekali kalian bisa berkenalan dengan istriku, tapi...istriku itu orangnya sangat cemburuan, bahkan ia tak segan-segan melakukan hal diluar batas, jika ada orang lain yang berusaha mendekati saya, entahlah terserah kalian masih mau bertemu dengannya atau tidak" seru Vano membohongi Mita dan Nabila, dan tentu saja apa yang dikatakan Vano membuat keduanya ketakutan.


"waduh...ternyata istrinya galak juga ya" batin Mita.


"bertemu sama istri pak Vano, sama aja bunuh diri" seru Nabila bergidik ketakutan, dalam bayangan mereka berdua istri Vano adalah seseorang yang kejam, dan bisa melakukan hal-hal diluar kendalinya, saat itu sugesti Vano berhasil, Mita dan Nabila jadi mengurungkan niatnya untuk bertemu dengan istri Vano.


"eh...gini pak, kami pamit ajah deh, kami nggak jadi kenalan sama istri bapak, lain waktu saja...hehehe" seru Mita menyengir.


"iya bener kata Mita, kami permisi pulang saja, lagian ini sudah malam, kami harus kembali ke hotel" sambung Nabila.


Monic yang mendengar itu merasa tertawa geli, ia tak menyangka Vano pandai sekali menyembunyikan sesuatu, Shesa beruntung punya partner hidup yang bisa diajak bekerja sama.

__ADS_1


"baiklah itu terserah kalian, saya tidak memaksa kalian" seru Vano santai, akhirnya Mita, Nabila dan Monic memutuskan untuk segera meninggalkan tempat makan itu.


"baik kalau begitu, kami permisi dulu pak Vano, maaf kalau sudah merepotkan bapak" ucap Nabila sambil membungkukkan badannya.


"kami juga sangat berterima kasih sekali atas traktirannya pak" timpal Mita.


"pak Vano kami permisi dulu" seru Monic yang juga turut pergi bersama Mita dan Nabila, dan mereka bertiga pun akhirnya keluar dari tempat makan itu.


namun tiba-tiba Mita teringat bahwa Shesa masih berada di kamar kecil, mereka bertiga telah meninggalkannya.


"eit ...tunggu-tunggu, Shesa mana?" seru Mita


"aduh...dia masih di dalam kamar mandi" sahut Nabila sembari menepok jidatnya sendiri.


"terus gimana nih, keburu ketahuan istrinya pak Vano entar, kita susul Shesa yuk, kasihan dia bakal di damprat nanti sama istri galak pak Vano" sahut Mita.


tiba-tiba Monic melarangnya, Monic tahu bahwa kehadiran mereka bertiga sudah mengganggu bulan madu Shesa dan Vano.


"kamu bener juga Mon, ya udah kita langsung ke hotel saja sekarang" seru Nabila mengiyakan.


Akhirnya mereka bertiga pergi dari tempat itu, Vano bisa bernafas dengan lega, lantas ia segera membayar seluruh makanan yang sudah ia pesan.


kemudian ia mendapati Shesa yang belum kembali dari kamar kecil, Vano memutuskan untuk menunggunya di depan toilet, ia tak ingin terjadi sesuatu pada istrinya.


******


di dalam kamar mandi


"huffttt....aduuuhhhh kok bisa kayak gini sih, kenapa harus ketemu mereka di sini!" seru Shesa sembari memegang kepalanya yang pusing karena ulah Vano, yang membuatnya hampir saja ketahuan oleh teman-temannya.


Shesa mencoba memikirkan sesuatu untuk menghindari kawan-kawannya yang pasti akan mengikutinya, ia berjalan mondar mandir sembari menggigit jarinya, sesekali ia menatap cermin, dan melihat bayangan dirinya dalam pantulan cermin, tiba-tiba lampu kamar mandi padam.

__ADS_1


"hah ...kok lampunya mati sih?" Shesa mulai beranjak pergi karena ia takut sekali dengan gelap, dengan bersikap tenang Shesa mulai melangkahkan kakinya keluar dari kamar mandi dengan segera, namun ia merasa ada seseorang yang mencoba membuka pintu.


Shesa sangat terkejut padahal ia sudah menguncinya dari dalam, dan benar saja pintu itu mulai terbuka, seorang lelaki tinggi tegap masuk kedalam kamar mandi yang ditempati Shesa, bayangan tubuhnya jelas menunjukkan bahwa ia mencoba masuk lebih dalam, karena pencahayaan yang kurang memadai, wajah pria itu samar terlihat.


Shesa membulatkan matanya dan ia langsung menoleh kearah laki-laki itu.


"siapa disana?" seru Shesa yang mulai ketakutan, Vano sengaja mematikan lampunya agar Shesa tak mengetahui kedatangannya.


pria itu terus mendekat, lagi dan mendekat lagi, sehingga Shesa tersandar di dinding kamar mandi.


"siapa kau?" seru Shesa dengan sedikit teriak, lantas pria itu segera membekap bibir Shesa dengan ciuman yang membuatnya mengenali siapa pria itu.


"emm...kamu sayang" batin Shesa


bukannya melepaskan Shesa malah lebih ganas lagi membalas ciuman bibir Vano, dalam suasana yang temaram Vano dan Shesa melampiaskan kerinduan mereka yang sempat terpisah karena kehadiran ketiga temannya.


setelah beberapa menit dan mereka puas melepas rindu, Shesa melepas ciumannya, karena ia sadar ini adalah tempat umum, lantas Shesa meraba wajah Vano yang samar oleh cahaya temaram kamar itu.


"sayang...kenapa kau mengagetkanku, hampir saja copot jantungku ini" ungkap Shesa sembari mengalungkan tangannya pada leher Vano.


"hmm...aku tidak suka berlama-lama berpisah denganmu sayang" sahut Vano sembari menciumi pipi Shesa.


"tapi...bagaimana kamu bisa masuk, tadi sudah aku kunci pintunya" tanya Shesa penasaran.


"kau lupa siapa aku? apa yang tidak bisa Vano lakukan, hanya sekedar membuka kunci pintu, itu hal yang sangat mudah bagiku, aku meminta kunci yang sama pada pelayan disini, dan tentu saja mereka dengan senang hati memberikannya pada suamimu yang tampan ini" jelas Vano sembari mencium hidung Shesa yang mancung.


"terus...mereka bertiga dimana?" tanya Shesa yang penasaran dengan ketiga sahabatnya.


BERSAMBUNG


🌺🌺🌺🌺🌺

__ADS_1


__ADS_2