
Vano sedang duduk santai pada di sofa yang terletak si sudut ruangan kamar tidurnya, lantas ia mengambil sebatang rokok sembari menunggu Shesa keluar dari ruang ganti.
Tak menunggu lama, akhirnya Shesa keluar dengan begitu anggun, berbalut lingerie warna pink yang menerawang, nampaklah tubuh indahnya terekspose sempurna, rambutnya ia tata tergerai menyamping, sehingga leher Shesa terlihat jenjang menantang.
Vano menatap Shesa tanpa berkedip sekalipun, Shesa berjalan menghampiri suaminya yang sudah menunggunya sedari tadi, ia berjalan bak harimau yang lapar, pinggul yang menggoda membuat Vano menelan salivanya kasar.
"Gleekk"
Vano mematikan rokoknya pada asbak, lantas ia merentangkan kedua lengan gan kekarnya, seolah bersiap menangkap Shesa dalam dekapannya, Shesa semakin mendekat, dengan senyuman yang menggoda ia mengedipkan matanya yang indah kepada suaminya.
Vano menepuk-nepuk pahanya, seolah memberi isyarat istrinya untuk duduk di pangkuannya, lantas Shesa tersenyum dan mulai meletakkan tubuhnya di pangkuan sang suami, sembari mengalungkan kedua tangannya pada leher Vano yang berotot.
Vano menciumi leher Shesa dengan lembut, lantas ia mengatakan sesuatu di telinga Shesa.
"Aku ...punya hadiah untukmu cantik" seru Vano sambil mencium pipi Shesa.
"Hadiah? Benarkah? Jangan macam-macam ya!" balas Shesa sambil mencubit lengan Vano, karena ia tahu Vano punya seribu alasan untuk selalu bercumbu dengannya.
"Pejamkan matamu sayang" pinta Vano agar Shesa memejamkan mata indahnya.
"Okeyy..." Shesa mulai memejamkan matanya, perlahan Vano mengeluarkan sebuah kotak berisi kalung berlian yang baru saja ia beli untuk Shesa, Vano melepas ikatan kalung itu, kemudian ia pakaikan di leher istrinya.
"Sekarang bukalah matamu!" seru Vano sambil menempelkan hidungnya di pipi Shesa.
Perlahan Shesa membuka matanya, pelan namun pasti, betapa terkejutnya ia mendapati kalung bertahtakan berlian yang menempel di leher indahnya, ia tersenyum bahagia dan memeluk Vano dengan mesra.
"Kenapa kamu melakukan ini padaku? Aku tidakk pantas menerimanya, ini terlalu indah buatku" ucap Shesa lirih sembari terus memeluk suaminya, air matanya tak bisa dibendung, buliran bening itu jatuh dari pelupuk matanya, air mata bahagia yang belum pernah Shesa bayangkan,sesekali Shesa terisak dalam pelukan sang suami.
"Hei...kenapa kamu menangis? Hapus air matamu, itu sangat menyakitiku" seru Vano yang tengah melihat Shesa sedang menangis sembari mengusap air mata itu dengan tangannya, Shesa menatap sang suami sendu.
"Kenapa kamu baik sekali padaku sayang! Maafkan aku jika pernah menganggapmu seorang yang sombong dan arogan, sekarang aku sadar, suamiku adalah yang terbaik untukku" ucap Shesa dengan suara bergetar.
"Karena aku mencintaimu, sangat mencintaimu, kamu suka kalungnya?" seru Vano dengan suara seraknya, dan Shesa pun mengangguk manja.
"Aku sangat menyukainya sayang" balas Shesa sembari mencium kening Vano lembut, perlahan Vano mulai mendaratkan ciumannya pada bibir Shesa, mata Vano mengisyaratkan bahwa ia menginginkan istrinya malam ini, dan Shesa pun tersenyum manja, seolah dirinya menyetujui permintaan suaminya.
Vano menggendong Shesa ke atas ranjang mewahnya, keduanya saling melepaskan rasa cinta yang mulai membara pada jiwa mereka berdua, perasaan yang dulu sempat mereka saling gengsi untuk tidak mengakuinya, seolah sekarang sudah tidak ada lagi jurang pemisah antara Shesa dan Vano, tatapan mata keduanya yang saling beradu membuat jalinan itu semakin erat, saling menyatukan hasrat untuk mencapai tujuan bersama.
💘💘💘💘💘
__ADS_1
*
*
*
*
Sementara di sisi lain, Romi pulang ke rumah dengan lemas.
"Elu kenapa Rom? Pulang-pulang muka kayak ditekuk gitu" tanya Excel yang memperhatikan adiknya nampak murung hari ini.
"Nggak...gue nggak kenapa-kenapa" seru Romi mengelak.
"Jangan bohong Lu...mas tahu Luu lagi mikirin gadis itu kan?" celetuk Excel.
Romi hanya diam mendengar ucapan kakaknya.
"Apa Shesa memang tidak pernah menyukaiku ya mas?" seru Romi yang membuat Excel terkejut.
"Kenapa Elu u bisa ngomong gitu?" tanya Excel menelisik
"Soalnya dia tuh selalu menghindar jika gue ajak ngedate, ada aja alasannya" jelas Romi
"Mending Elu samperin ke rumahnya, jadi cowok yang gentle dong, datengin rumahnya, kenalan sama orang tuanya, jadi cowok cemen banget" seru Excel dengan sedikit kesal membuat Romi agak tersinggung.
"Terus Elu cowok apaan mas, ninggalin cewek Lu pas dia lagi hamil anak Elu, disini siapa yang gentle dan siapa yang cemen? Gue apa Elu?" sahut Romi dengan menyinggung masa lalu Excel yang kelam.
Excel hanya terdiam saja saat adiknya mengumbar kembali masa lalunya yang kelam bersama sang kekasih.
"Jangan bicarakan itu lagi, bagiku Vera sudah mati" seru Excel dengan sedikit kesal, lantas ia pergi meninggalkan Romi yang juga masih kesal atas ucapan kakaknya tadi.
flasback*
"Kau harus menikahiku" seru Vera sambil menangis
"Aku tidak bisa, aku masih muda, masa depanku masih panjang, apa kamu mau menghancurkan karirku" sahut Excel menolak
"Tapi...ini adalah bayimu, apa yang akan aku katakan pada orang tuaku nanti" rengek Vera memelas.
__ADS_1
"Terserah kamu, yang jelas aku tidak mau bayi itu ada, titik" jawab Excel sembari pergi meninggalkan gadis malang itu, Vera seakan sudah tak berdaya lagi, hidupnya hancur oleh laki-laki yang tak bertanggung jawab itu, apalagi orangtuanya sangat marah dan malu sekali saat tahu Vera hamil diluar nikah.
Dengan tekanan batin yang teramat hebat, Vera memutuskan untuk menggugurkan kandungannya, dan kabar itu semakin membuat nama besar keluarga Sadewa Dwiputra menjadi tercoreng, ia diusir oleh Dewa tanpa rasa ampun, akhirnya gadis malang itu pergi meninggalkan keluarganya, ia pergi jauh dari keluarga, teman dan sahabatnya.
Ada yang mengatakan Vera terbang ke Inggris untuk menghindari rasa malu keluarganya, dan semua itu karena perbuatan Excel yang tak mau bertanggung jawab atas bayi yang dikandung oleh gadis malang itu.
*
*
*
*
Shesa perlahan membuka matanya, setelah pergulatannya bersama Vano berakhir, mereka terlelap sejenak, ia melihat suaminya sedang tertidur pulas disampingnya, perlahan-lahan Shesa melepaskan rangkulan tangan Vano pada pinggang rampingnya, tapi sia-sia saja, Vano malah semakin erat memeluk pinggang Shesa.
"Aww sayang lepasin, aku nggak bisa bergerak kalau kamu giniin terus" pinta Shesa supaya Vano melepaskan pelukannya.
"Kamu mau kemana sih, aku nggak akan pernah melepaskan istriku ini" balas Vano dengan suara seraknya.
"Hm...kamu belum mandi sepulang dari kantor tadi, sekarang mandi gih" pinta Shesa
"Mandiin!" jawab Vano manja.
Shesa memutar bola matanya yang bulat, lantas ia menatap wajah Vano yang masih terpejam sembari tetap melingkarkan tangannya pada pinggang Shesa.
"Ihh...manja banget sih jadi orang" seru Shesa sambil mencubit hidung Vano yang mancung itu, sehingga membuat sang suami terbangun.
"Ayo...mandi sana cepat" seru Shesa sambil menarik tangan Vano yang kokoh.
"Iya...iya...aku mandi bawel banget, tapi mandinya bersama kamu sayang hm" balas Vano sembari menggendong Shesa ke kamar mandi bersamanya.
"aaww...nggak mau turunin, aku bisa jalan sendiri" pekik Shesa sambil memukul-mukul dada Vano yang bidang itu, Vano justru terkekeh melihat tingkah lucu sang istri yang begitu menggemaskan.
*
*
*
__ADS_1
BERSAMBUNG
💘💘💘💘💘💘