PERNIKAHAN SAKIRA

PERNIKAHAN SAKIRA
Penyesalan selalu akhir


__ADS_3

Suasana di club malam kota konglemerat sangat ramai, suara musik bertebaran dalam club malam itu. Semua pengunjung ikut menari mengikuti instruksi pemain dj dan dance sesuai musik yang yang diputar.


Terlihat tiga lelaki tampan sedang duduk menikamati alunan musik, mereka tidak hanya sendiri. Para wanita malam yang sering ada di klub semuanya berebutan untuk melayani mereka bertiga. Mereka adalah salah satu tamu istimewa klub itu.


Para gadis klub malam itu ada yang melayani dengan menuangkan bir di gelas, ada juga yang duduk menemani mereka layaknya seperti mengurus raja, dan beberapa dari mereka sedang memijat halus kedua pundak pria tertampan yang menjadi sorotan malam itu siapa lagi kalo bukan si tampan Bianco.


Di tengah- tengah kerumunan itu Bianco dan teman-temanya yang sudah terbiasa akan hal itu, jadi mereka mengobrol dengan santai dan menghiraukan orang-orang yang ada disekitar mereka.


"Bianco mengapa kamu memilih di klub? Bukankah malam ini adalah malam minggu berdua bersama istrimu?" tanya Jipank sahabat kecil Bianco.


"Dia bukanlah wanita yang aku cintai jadi, untuk apa aku memberikan hak istri pada dia," sahut Bianco dengan nada santai pada Jipank.


Bianco berucap dengan sikap santainya seakan tidak ada beban dalam hidupnya, sambil bercakap dengan kedua sahabat kecilnya itu Bianco mulai menaikan kedua kakinya di atas tumpuan meja yang satu, Bianco dengan senang hati menikmati pijatan lembut dari kedua wanita dari klub malam yang sedang memijat lembut pundak Bianco.


"Aku tahu kamu tidak menyukai dia karena kamu sudah ada Saskia, namun perlu kamu ketahui Kira adalah istri sah kamu."


"Dia bukan ISTRIKU atau pun wanitaku," tegas Bianco menatap tajam Jipank.


"Bagiku dia hanyalah simpanan alat yang aku gunakan untuk mendapatkan semua kekayaan papa, jika kamu kehausan akan hal keintiman silakan pergi temani dia, pintu rumahku terbuka lebar."


"Apa maksudmu Bianco? berbicara seperti itu?" Tanya Jipank menyeritkan keningnya.


"Maksdudku jika kamu menginkan hal itu silakan pergi temani dia. Tidak masalah buatku."


"Bianco!"Jerit Jipank.


Jipank menjerit dengan emosi saat mendengar ucapan Bianco yang merendahkan harga diri Jipank di depan semua orang. Jeritan Jipank sontak langsung mengagetkan semua orang yang saat itu ada di klub malam tersebut.


"Aku hanya memberikan saran , bukan berarti aku menginkanya, aku tidak mau kamu salah dalam memilih," lanjut Jipank.

__ADS_1


"Jika kamu peduli padaku, cukup dukung saja aku tanpa harus berucap yang lain," ucap Bianco menatap tajam Jipank.


Melihat ketegangan suasana yang semakin serius antara Jipank dan Bianco, Gilang yang juga merupakan sahabat dekat Bianco dan Jipank merasa kwatir akan konflik selanjut yang terjadi pada kedua sahabatnya sengaja membuka suara sambil mengalihkan isu dengan becanda dan berucap. Sebelum itu Gilang meminta para pelayan yang melayani mereka malam itu untuk pergi meninggalkan tugas mereka masing-masing.


Gilang menatap para pengunjung tamu yang sedang serius menatap kedua sahabatnya yang masih dalam percecokkan aduan mulut, tersenyum paksa pada para pengunjung klub tersebut sambil meminta maaf akan sikap kedua sahabatnya dan meminta orang-orang tersebut untuk melanjutkan kembali tarian dan dance mereka di meja atau pun tempat tarian masing-masing.


"Hei ada apa sama kalian berdua? mengapa membahas masalah yang tidak penting, dan lihat orang-orang pada melihat sikap kalian berdua ini."


"Hentikan hal tidak penting itu sekarang juga dan mari kita nikmati suasana malam ini," ucap Jipank sambil tersenyum paksa.


Jipank berucap dengan senyuman paksa sambil menatap kedua sahabatnya tersebut.


"Masalah tidak penting? apa kamu tahu ..."


"Itu sama sekali tidak penting bagiku


Bianco berucap dengan tegas saat dirinya memotong ucapan Jipank yang juga ikut menatapnya.


"Jadi maksdumu, kamu menikahi Kira hanya karena harta?"


"Jika ya, apa urusannya denganmu?"


"Hentikan. Apa kalian berdua mengajak aku berkumpul di sini hanya untuk masalah ini?"


"Hiraukan semua masalah itu nikmati saja suasana malam yang indah ini," tegas Gilang mencoba menenangkan kedua sahabatnya.


Lanjut Jipank yang kembali menenangkan suasana yang semakin menegang antara kedua sahabatnya itu. Jipank yang masih menatap Bianco dengan kekecewan begitu pula dengan Bianco yang menatap Jipank dengan kecurigaan terhadap sahabatnya tersebut. Jipank menghiraukan ucapan Gilang dan kesal dengan ucapan Bianco beberapan menit lalu, ia bangkit berdiri dari kursi yang didudukinya dan melangkah untuk pergi.


"Kamu mau ke mana? Hayolah..."

__ADS_1


"Lebih baik salah satu dari kami pergi. Dengan itu tidak ada pertumpahan darah di sini," seru Bianco menatap tajam lurus ke depan


"Terserah apa yang kamu mau... maaf. aku pamit pergi sebelum itu aku Hanya ingatkan satu hal yang harus kamu tahu jangan sampai cinta butamu itu membuat dirimu kehilangan sahabat untuk kedua kalinya"


Jawab Jipank pada Bianco dan kembali melangkah untuk pergi. Bianco yang tidak terima dengan ucapan Jipank kembali berseru.


"Hal kedua kali itu takan terjadi jika waktu itu tidak ada kata fitnah dari sahabatmu itu dan jangan ungkit masa lalu yang tidak penting bagiku untuk dibahas." seru Bianco.


"Terserah apa pendapatmu. Dan ingat Lakukan saja semaumu, yang namanya penyesalan selalu datang pada akhirnya."


Jipank berucap dengan santai lalu ia mengambil jaket di kursinya untuk melangkah pergi. Bianco yang mendengar ucapan Jipank semakin emosi dan kembali berseru.


"Pintuku terbuka lebar untukmu jika kamu mau pergilah," seru Bianco.


Bianco berseru dengan nada tegas dan penuh tekanan di kata mau sambil menatap tajam lurus ke depan.


Jipank yang mendengar ucapan Bianco kembali emosi menongkak kuat rahang giginya dengan tatapan tajam yang lurus, jari jemarinya diremas sangat kuat dibawah sana. Lalu Jipank memutar tubuhnya sambil tersenyum menyeramkan dengan tatapan masih sama pada Bianco dan pria itu lalu ia kembali memutar tubuhnya untuk pergi dengan api membara emosi di dalam sana menghiraukan ucapan Bianco.


****


Di tempat lain Jessy tertawa dengan bahagia saat mendengar kabar dari kaki tanganya yaitu ketua Yzd pembunuh bayaranya yang berhasil melenyapkan Dion dan Shelin. Wanita itu menarik puntung rokok yang ada di mulutnya lalu ia mengeluarkan asap rokok tersebut dari hidung dan mulutnya ke udara ruang kerja sambil terus tertawa bahagia.


Jessy memandang dua foto dimana foto tersebut sudah diberi tanda silang menggunakan spidol merah pada wajah dari gambar tersebut. Foto-foto itu adalah foto Shelin dan Dion yang termasuk dalam daftar musuh-musuh yang harus dilenyapkan Jessy jika telah mencapai Misinya.


Jessy terus tertawa bahagia sambil berdiri memutari ruanganya dan kembali menarik keras kedua gambar tersebut untuk dibakar di dalam ruangan tersebut. Jessy menyalakan pemantik yang ada di tanganya lalu munculah api dari pemantik tersebut dengan senyuman diukir dari bibirnya dan menatap dua foto yang saat itu dibakar pelan oleh Jessy di tanganya.


Tidak lama api tersebut merambat sampai seluruh isi foto itu hangus terbakar.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2