PERNIKAHAN SAKIRA

PERNIKAHAN SAKIRA
Pembunuh itu adikku


__ADS_3

Follow Ig aku @sildadelita99


untuk informasi lebih detail tentang novel yang belum aku up.


Spam Komen dong biar aku semangat nulis🙏 Mau apakan nih cerita Sad Ending atau happy Ending menurut kalian gimana...


"Karin...apa kamu baik-baik saja? Kakak sangat merindukanmu," pinta Kira menatap dalam Karin.


Kira yang tadi dibawa emosi membara kini melangkah dengan pelan menghampiri Karin. Namun langkahanya terhenti saat Karin yang tidak sudi melihat diri Kira. Dan melangkah melewati Kira menghampiri Jessy.


"Aku ke sini hanya ingin menyampaikan bahwa tugas aku telah selesai. Maaf jika aku menganggu dirimu," ucap Karin menatap Jessy dan menghiraukan Kira.


Karin berucap pada Jessy dengan santai dan mencueki Kira yang sedang mentapnya dengan dalam. Ia sama sekali tidak menjawab ucapan Kira atau melirik Kira. Hal itu membuat Kira sedih dan bertanya-tanya dalam hati akan sikap adiknya itu.


Mengapa Karin mencueki aku? Dan mengapa dia sama sekali tidak ingin melihat aku? Batin Kira.


"Karin kakak merindukanmu. Apa kamu tidak merindukan kakak?" Tanya Kira lagi masih dengan tatapan dalam pada adiknya itu.


Kira bertanya saat melihat Karin yang ingin melangkah pergi lagi. Dan saat Karin memutar dirinya yang membelakangi Kira. Sang kakak langsung bertanya kembali yang membuat Karin menghentikkan langkahan kakinya dan berdiri diam di sana. Sedangkan Jessy masih terus tersenyum licik melihat adegan dari kedua saudara itu.


Aku tidak memintanya datang ke sini namun siapa yang meminta Karin datang? Tidak biasanya Karin datang menemui aku jika tidak aku perintah dia untuk datang, namun siapa pun yang menyuruh Karin datang aku sangat berterimakasih padanya karena berkat ini aku bisa melihat adegan ini, gumam Jessy saat menatap mereka.


Jessy yang bergumam dalam hati hanya menarik dua sudut bibir dengan senyuman tanpa mengatakan sepatah kata pun.


Ini baru akan dimulai Kira sebuah rahasia besar akan diungkapkan sendiri oleh Karin. Dan aku hanya menikmati keseruan dari dua saudara bodoh itu, batin Saskia saat menatap mereka dari pojokan tembok dengan ponsel yang direkamnya.


"Rindu? Pada dirimu? Sangat menjijikan?" Decit Karin emosi.


Karin berucap dengan emosi saat ia memutar tubuhnya menatap Kira dengan tajam tanpa kedipan itu dengan menarik senyuman tipis dikedua sudut bibirnya.


"Karin apa maksudmu? Aku adalah kakakmu apa kamu lupa? Lalu mengapa kamu..." ucapan Kira terhenti di tengah jalan.


Kira yang berucap tiba-tiba menghentikan ucapanya lalu melihat Karin dari ujung kaki sampai ujung rambut. Ia melihat dengan sangat lekat pada noda darah yang ada di wajah Karin dan tanganya serta seluruh tubuh Karin.


"Mengapa tubuhmu penuh dengan darah? Apa terjadi sesuatu?" Tanya Karin mengubah topik percakapan dia sebelumnya.

__ADS_1


"Itu bukan urusanmu! Siapa dirimu bertanya seperti polisi pada aku," cela Karin dengan nada dingin.


Karin berucap dengan nada dinginnya dan sorot mata yang tajam pada Kira. Dengan memotong perkataan kakaknya tersebut.


"Aku kakakmu. Aku tanya sejak kapan kamu sembuh?" Tanya Kira lagi.


Kira bertanya sambil melihat kedua kaki Karin yang beridiri tegak di hadapanya. Dan mulutnya yang bisa mengeluarkan suara seperti dulu.


"Kenapa? Kaget aku bisa jalan seperti dulu kembali?" Decit Karin tersenyum culas.


" Kamu bilang apa? Kakak? Cihh...kemana saja dirimu saat aku sekarat. Ups...aku lupa bahwa kakak aku meningalkan aku saat diriku masih lumpuh total. Menikahi pria yang tidak lain adalah pembunuh kedua orang tua kami!" Tekan Karin pada pembunuh orang tua kami.


"Sangat menjijikkan!" Tukas Karin emosi dengan nada tegas dan menekankan ucapanya menjijikkan.


Karin yang berucap dengan nada yang mulai tinggi dan menatap tajam Kira yang bingung akan ucapan Karin.


"Apa...?" Tanya Kira bingung.


Kira yang bertanya pada Karin karena tidak mengerti ucapan Karin. Lalu ia memutar otaknya untuk menerjemahkan ucapan adiknya itu saat menyadarinya Kira akhirnya meremas jari jemarinya dengan sangat kuat. Karin berbalik tubuhnya menatap Jessy dengan sangat tajam yang sedang duduk santai dan senyuman bahagia di sana.


Kira berucap dengan amarah di wajahnya dan nada suarnya yang sangat tinggi sehinga urat besar pada lehernya muncul ke permukaan.


"Apa yang harus aku jelaskan Kira. Bukankah kamu yang mengetahui semua itu. Kamu meningalkan Karin untuk aku dan menikahi Bianco. Kamu mengatakan pada aku bahwa Karin sangat membebankan dirimu," tutur Jessy dengan sangat santai.


"Jessy...!" Geram Kira.


"Jangan mengucapkan hal yang tidak masuk akal. Beraninya dirimu membalikan fakta...siapa..." ucapan Kira terhenti.


"Cukup Kira!" Celah Karin memotong ucapan Kira.


"Kamu bukanlah siapa-siap aku. Bagi aku kakak aku sudah mati bersama dengan kedua orang tua aku." Tatap Karin menajam.


Karin berucap dengan tatapan tajamnya tanpa mempedulikan perasaan Kira yang menatap dirinya dengan mata yang berkaca-kaca.


"Apa...?" Suara getar dari Kira.

__ADS_1


Kira berucap dengan mata berkaca-kaca menatap Karin dan suaranya yang kegementaran tidak percaya.


"Bagi aku kakak aku tidak ada. Dan bagi kamu aku juga tidak ada. Orang yang sekarang berdiri di hadapamu ini.."


"Hentikan Karin!" Tegas Jessy menatap tajam Karin dan memotong ucapan Karin.


Jessy yang kaget dengan ucapan Karin ia yang tadi menikmati pertontonan bagus itu menjadi kwatir. Namun Karin tidak peduli lagi dengan perintah Jessy ia menghiraukannya dan melanjutkan ucapanya pada Kira yang masih penasaran pada ucapan Karin.


"Apa maksudmu...?" Tanya Kira penasaran.


"Orang yang berdiri di hadapanmu ini bukanlah adikmu. Orang yang ada di hapanmu ini..."


"Karin...!" Jerit Jessy emosi.


"Orang di hadapanmu ini adalah seorang pembunuh berantai..." Ucap Karin yang tidak peduli dengan ucapan Jessy.


Deg...


Deg...


Detak jantung Kira berdetak kencang seakan ia bagaikan tertampar sebuah tangan kekar dari Bianco. Air mata yang tadi di tahan oleh Kira kini mengalir dengan tubuhnya yang melemas dan jatuh tersungkur di bawah sana.


Di mana ia menghadapi kenyataan ini bahwa adiknya yang membuat dirinya menjadi mata-mata dalam keluarga suaminya adalah seorang pembunuh. dan pembunuh kaki tangan yang selama ini menghilangkan nyawa banyak orang termasuk ayah mertuanya. Orang yang selama ini dicari tahu oleh Kira ternyata tidak lain adalah adik kandungnya sendiri.


"Apa...? Pembunuh...? Lirih Kira mulai meneteskan air mata deras tidak percaya.


**** flash back. Kantor Bianco.


"Pastikan siapa pun jangan mengetahui ini termasuk Kira. Aku harus mencari tahu siapa dalang dalam semua pembunuhan dan tragedi lumpuhnya mama," ucap Bianco pada Avim.


Ya Bianco sudah mengetahui dari Mario sekertaris pribadi Miguel yang mengatakan pada Bianco bahwa ayahnya meningal bukan karena kecelakaan pesawat melainkan pembunuhan oleh mantan kekasih ayahnya 10 tahun yang lalu. Karena dendam cinta bertepuk sebelah tangan. Dan dia dibantu oleh orang dalang yang tidak diketahui oleh Marcio.


"Baik tuan muda. Akan saya bantu tuan muda menyelidikinya," papar Avim.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2