
Follow Ig: @Sildadelita99.
Halo semua Jangan lupa tinggalkan jejak disini ya...
kalian baca jam berapa? asal dari mana?
me: Kupang NTT.
Salam kenal semua🤗❤️❤️🙏🙏
Happy Reading Guys...
*****
~ Dapur Bridges ~
Kira sudah menyiapkan sarapan pagi seperti biasanya. Sarapan pagi untuk Reka dan Bianco siap disajikan oleh keduanya di meja makan. Sarapan untuk Reka adalah roti sanwich keju + susu , sedangkan sarapan untuk Bianco telor dadar ayam sosis + teh sus. Kira tersenyum bahagia karena sarapan yang di buatnya untuk mertua dan suaminya sudah tertata rapi di meja, setelah menyiapkan sarapan pagi Kira duduk di kursi sambil menunggu ibu mertua dan suaminya.
Mata Kira menatap lantai dua yaitu tangga sebelah kiri di mana itu kamar Reka yang juga belum menuruni tangga.
"Pak. Ko Ibu belum turun? Biasanya ibu bangun jam berapa?" tanya Kira pada kepala pelanyan.
"Maaf non biasanya nyonya bangun jam 7 pagi namun mungkin nyonya kecapean kali makanya bangun telat, " jawab pak Sud seadanya.
Pak Sud mejawab ucapan Kira sambil membungkukan sedikit tubuhnya sebagai rasa hormat. Kira yang mendengar penjelasan pak Sud hanya menjawab o... saja dan menganguk-anggukan kepalanya memahami. Di tengah-tengah obrolan Kira dengan pak Sud tiba- tiba ponsel Kira begetar menandakan ada pesan masuk.
Kira meraih ponselnya yang ada di meja lalu ia membuka ponselnya, wajah Kira kaget saat membaca pesan masuk yang tertera nama Jessy.
Jessy? Tidak biasanya ia chat aku pagi-pagi begini? Ada apa ini? Jangan-jangan..., batin Kira sambil mengeleng- gelengkan kepalanya. Agar hal yang dipikirkanya tidak terjadi sama sekali.
Kira segera membuka pesan masuk tersebut dengan tenang sambil menarik nafasnya berharap tidak ada masalah apa-apa. Mata Kira terbelak dan berkaca-kaca saat melihat sebuah foto kiriman dari Jessy di mana itu seorang gadis yang sedang berkumpul bersama teman-temanya di sebuah restoran klub mewah. Kelihatan dari foto itu bahwa gadis itu sangat bahagia. Dia adalah Karin adik kandung Kira. Kira tersenyum dengan rasa haru tidak terasa mata gadis itu mulai berkaca-kaca lalu ia menscroll ke bawah membaca pesan masuk dari Jessy.
__ADS_1
Apa yang terjadi hari ini jangan kaget itu semua adalah rencanaku, Aku sudah melumpuhkan Mertuamu selamanya. Aku melumphkan dirinya dengan racun obat lumpuh saraf. Maaf aku tidak memberitahumu intinya mertuamu sudah lumpuh aku memberitahu kamu agar jangan mencoba mengagalkan rencanaku ingat senyuman Karin bisa saja aku rubah dengan penderitaan yang lebih parah, pesan Jessy.
Ibu.... , batin Kira yang langsung syok setelah membaca pesan dari Jessy.
Kira langsung memutar tubuhhnya dan berlari dengan kencang menuju tangga kiri lalu diaa dengan cepat menaiki anakan tangga satu persatu menuju kamar Reka. Bersamaan dengan itu Bianco juga turun dari tangga bagian kanan. Bibir yang sedari tadi tersenyum lebar kini Bianco menatap heran istrinya yang menaiki anakan tangga dengan sangat cepat.
Ada apa ini ? Mengapa dia berlari sangat kencang seakan tejadi sesuatu? Batin Bianco. Bianco berguma sambil kembali melangkah menuruni tangga bagian kanan menuju meja makan yang terletak di lantai satu.
"Apa yang terjadi? Mengapa Kira berlari seperti itu?" tanya Bianco pada salah satu pelayan rumah saat kakinya menginjak di lantai satu meja makan.
Bianco bertanya sambil menatap sarapan yang ada di meja dengan senyuman kembali terukir dari bibirnya.
"Aku tidak tahu tuan muda. Tadi nona habis melihat ponselnya dan nona langsung berlari menuju kamar Nyonya besar," seru pelayan tersebut sambil membungkukan tubuhnya.
Di sela-sela Bianco yang masih bercakap dengan pelayan tiba-tiba...
"Ibu..... ," jerit Kira dari kamar Reka.
"Apa yang terjadi ?" tanya Avim pada salah satu pelayan.
"Kami tidak tahu tuan... tadi nona menyiapkan sarapan untuk nyonya besar dan tuan muda. Namun selesai menyiapkan tiba-tiba saja nona langsung lari ke kamar ibu setelah melihat ponsel nona," jawab pelayan itu dengan menjelaskan pada Avim.
Avim dan pelayan bercakap sambil menaiki anakan tangga bersama dengan Kevin menuju kamar Reka. Di sisi lain saat Bianco di kamar ia melebarkan matanya menatap tajam ke arah Kira yang jatuh lemas di lantai. Bianco segera menghampiri Kira, pria itu menatap Kira dengan tulus sambil memegang kedua pipi istrinya lembut dengan tatapan dalamnya.
"Apa yang terjadi? Mengapa wajahmu langsung pucat?" tanya Bianco dengan nada lembut.
"Ibu..." seru Kira dengan suara patungnya.
Bianco yang bingung dengan ucapan Kira menatap ke ranjang kamar Reka. Wajah Bianco berubah dengan sikap mamanya yang hanya menatapnya dengan air mata yang terus berlinang deras. Bianco menyanyakan pada Reka mengapa ia menangis namun Reka tidak menjawab apa- apa. Bianco bertanya ulang-ulang tetap tidak dijawab sama Reka. wanita paruh baya itu hanya menatap Bianco tanpa ada gerakan di anggota tubuhnya.
Saat Bianco ingin bertanya lagi kini ia merasakan sesuatu yang aneh dengan tubuh mamanya. kenapa mamanya tidak bergerak dari kamar, dan mengapa ia tidak bisa berbicara, Bianco kembali menatap Reka dengan penuh kewaspadaan.
__ADS_1
"Mama... mengapa kamu tidak menjawab aku? Apa mama baik-baik saja?" tanya Bianco.
Bianco bertanya pada Reka dengan tatapan yang sangat serius. Bianco melihat semua anggota tubuh mamanya yang tidak ada pergerakan sama sekali.
Reka ingin mengucapkan apa yang terjadi padanya namun sayang ia tidak bisa bersuara. Karena suaranya hilang semenjak semalam. Reka hanya menangis menatap Bianco dengan tatapan sendunya, yang membuat Bianco semakin bingung dan kwatir.
"Mam... apa yang terjadi? Aku tidak becanda ma," seru Bianco lagi masih dengan pertanyaan yang sama.
Bianco berucap lagi masih dengan pertanyaan yang sama dan masih dalam nada tenang, namun saat ia ingin mengajukan pertanyaan dia melihat air mata Reka yang mulai berlinang deras di sana. Emosi Bianco muncul ia merasakan hal buruk terjadi pada ibunya. Bianco pun menjerit dengan keras dan tegas pada kedua sekertaris pribadinya.
"Avim, Kevin... !" jerit Bianco dengan nada tinginya.
Avim dan Kevin yang mendengar ucapan dan jeritan Bianco secepatnya menghampiri Bianco.
"Ya Bos..." ucap Avim saat ada di depan Bianco.
"Segera panggilkan dokter khusus rumah. Dan perintahkan semua pelayan rumah untuk berkumpul dibawah. Jangan bertanya kenapa atau mengapa lakukan saja sesuai perintahku!" Ucap Bianco penuh emosi dan tegas sambil menatap tajam Kira yang sedang menatapnya.
"Baik Tuan muda," seru Avim balik.
Setelah Avim menjawab perintah Bianco. Avim pun mulai menuruni anakan tangga menuju lantai satu. Sedangkan Kevin berdiri di depan balkon lantai dua mondar-mandir dengan penuh kecemasan yang terlihat jelas di mata Kevin.
Bagaiman jika dia curiga? Kevin jangan berpikir negatif pikirkan saja yang positif, batin Kevin menenangkan hatinya.
Bersambung.
Tinggalkan sub dan reviewnya.
Jaga kesehatan dan keluarga anda sayangi diri kita... karena hidup hanya sekali... selamat beraktifitas semoga hari ini berjalan sesui kehendak kita semua.
God Bless You...
__ADS_1