
Bianco berucap dengan nada tinggi dan penuh penekanan atas setiap ucapanya dengan emosi membara sambil menatap tajam Kira tanpa berkedip. Kira yang mendengar ucapan Bianco sangat kaget akan ucapan Bianco barusan. Hati Kira hancur berkeping-keping seketika terasa sangat perih di dalam sana ia berusaha untuk menahan sakitnya namun air mata kembali tergenang di kedua bola matanya.
Saskia yang mendengar ucapan kasar dari Bianco untuk Kira tersenyum puas menatap Kira yang jelas kelihatan matanya yang tadi penuh keberanian kini hancur seketika saat mendengar ucapan Bianco.
Ini baru permulaan Sakira Bripo... sudah aku bilang Bianco pasti akan berpihak padaku. Sekarang mari kita lihat siapa yang penting untuk Bianco? Akan aku buktikan siapa dirimu di rumah ini, batin Saskia tersenyum licik menatap Kira yang masih berdiam membisu di sana.
"Sayang syukurlahh kamu datang....hikss aku tadi hanya ingin menjenguk ibu dan tidak sengaja aku masuk ke kamar kamu yang tidak terkunci.. aku benar-benar tidak sengaja... sayang...hikss...hikss," ucap Saskia dengan tangisan air mata palsu menatap Kira sambil mengukir senyumnya di mana saat itu ia memeluk diri Bianco.
"Dasar perempuan ular...kamu masuk tanpa minta ijin padaku.. bahkan kamu tidak menjenguk mama bagaimana mungkin kamu mengatakan kalo kamu menjenguk mama," ucap Kira menatap tajam Saskia.
Apa kamu bilang? perempuan ular? Kamu pikir kamu siapa? Kamu bukan siapa-siapa aku Sakira Bripo?" Jerit Bianco kesal dengan ucapan Kira.
"Apa...?" Tanya Kira menatap dalam Bianco.
"Kamu bukanlah siapa-siapa aku. Sudah aku bilang ini kamarku dan siapa saja boleh masuk ke kamarku termasuk Saskia kekasihku!" Ucap Bianco tanpa sadar akan kata-kata yang ia ucapkan sangat melukai Kira.
Aku dan suamimu beselingkuh selama tiga tahun kemana saja dirimu... baru tahu sekarang, memory kata-kata sepuluh tahun lalu di mana hal yang sama terjadi pada ibunda Kira.
Kira melemas... ia memegang sofa melangkah mundur ke belakang akan ingatan luka lama itu yang kini terulang di dirinya. Pikirannya kini kosong Kira mengangkat wajahnya dengan tatapan kosong menatap Bianco yang juga menatap dalam dirinya. Butiran itu menetes ketika mata Kira menemui mata Bianco yang menatapnya.
"Haa.." tarikan nafas Kira menahan sesak di dadanya.
Bianco yang melihat Kira menangis membuat hatinya terluka. Bianco menahan lukanya saat air mata Kira menatap matanya. Ini pertama kali Bianco melihat Kira meneteskan air mata saat menatap dirinya.
Beraninya kau...! Melukai wanitaku! Sakira Bripo..!" Jerit Bianco menatap tajam Kira.
"Wanita tidak ada harga diri...!" Emosi Bianco.
Bianco berucap dengan nada tinggi dan penuh penekanan atas setiap ucapanya dengan emosi membara sambil menatap tajam Kira tanpa berkedip. Kira yang mendengar ucapan Bianco sangat kaget akan ucapan Bianco barusan. Hati Kira hancur berkeping-keping seketika terasa sangat perih di dalam sana ia berusaha untuk menahan sakitnya namun air mata kembali tergenang di kedua bola matanya.
Saskia yang mendengar ucapan kasar dari Bianco untuk Kira tersenyum puas menatap Kira yang jelas kelihatan matanya yang tadi penuh keberanian kini hancur seketika saat mendengar ucapan Bianco.
Ini baru permulaan Shakira Bripo... sudah aku bilang Bianco pasti akan berpihak padaku. Sekarang mari kita lihat siapa yang penting untuk Bianco? Akan aku buktikan siapa dirimu di rumah ini, batin Saskia tersenyum licik menatap Kira yang masih berdiam membisu di sana.
"Sayang syukurlah kamu datang....hiks aku tadi hanya ingin menjenguk ibu dan tidak sengaja aku masuk ke kamar kamu yang tidak terkunci.. aku benar-benar tidak sengaja... sayang...hiks...hiks," tutur Saskia dengan tangisan air mata palsu menatap Kira sambil mengukir senyumnya di mana saat itu ia memeluk Bianco.
"Dasar perempuan ular...kamu masuk tanpa minta ijin padaku.. bahkan kamu tidak menjenguk mama bagaimana mungkin kamu mengatakan kalo kamu menjenguk mama," cibir Kira menatap tajam Saskia.
"Apa kamu bilang? perempuan ular? Kamu pikir kamu siapa? Kamu bukan siapa-siapa aku Sakira Bripo?" Gerutu Bianco kesal dengan ucapan Kira.
__ADS_1
"Apa...?" Tanya Kira menatap dalam Bianco.
"Kamu bukanlah siapa-siapa aku. Sudah aku bilang ini kamarku dan siapa saja boleh masuk ke kamarku termasuk Saskia kekasihku!" Jelas Bianco tanpa sadar akan kata-kata yang ia ucapkan sangat melukai Kira.
Aku dan suamimu beselingkuh selama tiga tahun kemana saja dirimu... baru tahu sekarang, memory kata-kata sepuluh tahun lalu di mana hal yang sama terjadi pada ibunda Kira. Kembali muncul di ingatana Kira.
Gadis itu melemas... ia memegang kepala sofa melangkah mundur ke belakang akan ingatan luka lama itu yang kini terulang pada dirinya. Pikirannya kini kosong seperti sebuah pedang yang menghentikan dan mengalahkan keranian Kira. Dia mengangkat wajahnya dengan tatapan kosong menatap Bianco yang juga menatap dalam dirinya. Butiran yang sedari tadi tergenang kini menetes pelan-pelan ketika mata Kira menemui mata Bianco yang menatapnya.
"Haa.." tarikan nafas Kira menahan sesak di dadanya sambil matanya kembali menatap plafon rumah.
Bianco yang melihat Kira menangis membuat hatinya terluka. Bianco menahan lukanya saat air mata Kira menatap matanya. Ini pertama kali Bianco melihat Kira meneteskan air mata saat menatap dirinya, dengan tatapan dalamnya.
Apakah ucapanku begitu kejam hingga melukai hatinya? Bianco ingat dia sudah melukai Saskia untuk apa peduli dengan dia mau terluka atau tidak dia bukanlah hal penting untuk dirimu, batin Bianco.
"Ceraikan aku!" Seru Kira menatap emosi Bianco.
Kira tidak peduli lagi akan misinya menikahi Bianco. Ia tidak peduli akan dampak yang ia dapatkan nanti. ini sangat menyakitkan buat Kira, kadang pria itu membuat Kira berharap kalo Bianco menyukai Kira. Namun hari ini Bianco membuktikan pada Kira bahwa Kira bukanlah apa-apa buat Bianco yang lebih penting untuk Bianco hanyalah Saskia.
"Apa?" Tanya Bianco kaget.
"Ceraikan aku! Selesaikan hubungan kamu dengan aku sekarang juga!" Bulir air mata mengalir saat tatapan Kita menatap tajam Bianco tanpa berkedip sedikit pun.
"Aku bukanlah manusi robot. Aku punya hati...! Ceraikan aku sekarang juga! Akhiri hubungan yang didasarkan di atas sebuah kertas dan tinta hitam ini!"
"Aku tidak bisa. Setelah mendapatkan warisan papa maka aku akan secepatnya menceraikan dirimu," ujar Bianco menatap dalam Kira. Tanpa rasa bersalah sedikit pun terlihat di wajahnya.
Kira yang mendengar ucapan Bianco semakin emosi gadis itu meremas jari jemarinya dengan kuat menatap tajam Bianco Kira mendaratkan satu tamparan keras di wajah Bianco.
Plak....
"Bisa-bisanya kamu..." ucapan Kira terhenti saat ia menyadari apa yang barusan ia lakukan. Kira tidak tahu dari mana ia mengumpulkan keberanian itu! Pada hal ia tidak ada rasa dari Kira dengan Bianco. Tujuan ia menikahi Bianco hanyalah balas dendam lalu Kenapa hati Kira sakit saat melihat Bianco dengan gadis lain.
Kira melangkah mundur menutup mulutnya saat sadar akan apa yang barusan ia lakukan. Tanganya memegang kepala sofa kamar yang biasa ia gunakan sebagai kasur tidurnya.
Bianco yang merasa pipinya sakit akibat tanparan Kira menongkak kuat gigi-giginya. Dengan urat leher yang muncul dan membesar. Ia meremas jari jemarinya dengan sangat kuat menatap tajam Kira.
Sedangkan Saskia dan para pelayan menutup mulut mereka ketika melihat Kira orang pertama yang menampar wajah Bianco. Wanita pertama yang berani menyentuh wajah Bianco.
Selama ini tidak ada satu pun orang yang berani menyentuh tubuh Bianco kecuali Saskia. Itu pun cuma sekedar mencium pipi Bianco tidak pernah lebih dari itu. Karena Saskia tahu seperti apa sifat Bianco.
__ADS_1
"Beraninya dirimu menyentuh wajahku!" Teriak Bianco menatap tajam Kira.
Bianco menghampiri Kira dengan tatapan tajam tanpa berkedip sedikit pun. Saat di hadapan Kira Bianco mengangkat tanganya untuk menampar balik istrinya itu. Namun saat tanganya yang sudah dinaikan ke atas dengan wajah penuh emosi niat Bianco diurungkan oleh dia sendiri.
Tanganya tidak bisa ia daratkan pada wajah cantik dan berlinang air mata di hadapanya itu. Gigi yang masih mendongkak kuat di sana berusaha menahan emosinya.
"Sekali lagi... kamu sentuh wajah aku akan aku pastikan hidupmu akan hancur berkeping-keping! Aku bisa menjadikanmu ratu namun aku juga bisa menghancurkanmu hanya dalam sehari bagaikan angin yang berlalu. Cam, 'kan kata-kata aku ini baik-baik Sakira Bripo,"
Emosi Bianco dengan penuh penekanan dan suara yang keras pada setiap kata-kata yang ia ucapkan. Hingga urat lehernya keluar dengan besaf dan jidat Bianco pun mengeluarkan urat dengan wajah yang memerah seperti buah semangka saking emosi diri Bianco pada Kira.
"Aku menikahimu hanya karena warisan papa bukan karena cinta. Kamu tidak lebih dari wanita di luar sana yang aku manfaatkan."
"Kamu bukan wanita yang aku cintai cam,'kan kata-kata aku ini," gerutu Bianco penuh penekanan pada setiap kata yang keluar dari mulutnya itu.
Bianco memutar kakinya melangkah pergi sambil menarik tangan Saskia dengan kasar untuk keluar dari kamar, sedangkan Kira menatap pungung belakang Bianco dengan air mata yang mengalir deras di sana. Air mata yang mengatakan apa yang saat ini hatinya rasakan.
Harusnya dan tidak seharusnya aku
Menangis. Namun saat aku katakan tidak pada diriku, tetap saja hati ini tidak bisa menahanya untuk melihat wajahmu. Walau hati ini terlilit dengan sesak di dadaku yang mendalam.
Cinta tidak salah perasaan ini tidak salah walau pikiranku mengatakan rasa ini salah aku akan tetap menerima hukuman ini. Meski pun tangisan yang akan selalu menemani hari-hariku. Rasa ini terus berteriak pada pikiran ini dan mengatakan padaku untuk melihat wajahmu sekali pun itu hanyalah angin.... hikss....
Aku akan menerima hukuman ini sekali pun air mata beriringan bersama dengan sesak di dada ini..hikss... batin Kira dengan berlinang air mata menatap pungung belakang Bianco dan mata yang berair itu kembali mengalir saat tatapan tertuju pada tangan Saskia yang digengam oleh tangan Bianco. Seketika pecahlah tangis Kira saat itu dengan memukul-mukul sesak di dadanya.
****
Saskia mengukir senyuman tipis di bibirnya ketika Bianco menarik tanganya pergi dan sempat ia memutar kepalanya tersenyum sambil mengancungkan jari jempolnya ke bawah sebagai tanda merendahkan Kira.
Kira meremas jari jemarinya ia menatap para pelayan yang masih menatap dirinya dengan sendu dan kasihan. Kira mengukir senyuman walau air mata terus berjatuhan. Ia mengatakan pada mereka walau ia tahu air matanya terus berjatuhan dari kedua bola indah itu.
"Kalian pergilah kerjakan tugas kalian semua! Aku baik-baik saja," perintah Kira meminta pelayan meninggalkan kamar Bianco.
Para pelayan menuruti ucapan Kira dan melangkah pergi meninggalkan Kira sendirian di kamar. Tangisan Kira yang ditahannya kini pecahlah tangis itu ia menangis sejadi-jadinya dengan suara yang keras di bawah sana menahan luka dan perih hatinya hanya demi Karin. Jika bukan Karin Kira sudah lari dari situasi penuh luka lama itu.
****
Semuanya aman terkendali sesuai rencana kita, mereka bertengkar hebat dan kini Bianco tidak akan fokus ke kasus di Kantor, kamu boleh selesaikan misi kita meretas semua kasus itu mengalihkan agar tidak ada yang mencurigai kamu, sebuah pesan singkat Saskia pada Kevin selingkuhannya.
BERSAMBUNG
__ADS_1