
Follow Ig: @Sildadelita99.
Halo semua Jangan lupa tinggalkan jejak disini ya...
kalian baca jam berapa? asal dari mana?
me: Kupang NTT.
Salam kenal semua🤗❤️❤️🙏🙏
***Yuk saling tanya umur, kalian berapa usianya?
komen spam kasih banyak dong biar aku semangat nulisnya
Satu kata untuk Bianco?
satu kata untuk Kira?
satu kata untuk Kevin?
satu kata untuk Saskia?
satu kata untuk Karin?
Silakan tinggalkan enek-enek tentang
cerita ini tanggapan kalian dong?
Oh ya Menurut kalian cerita ini mau diapakan happy ending?
atau Sad Ending??
Spam kasih banyak ya...
Happy Reading Guys...
__ADS_1
****
Ia selalu menghabiskan makan malam sendiri di meja besar ini, selama pernikahan mereka 6 bulan ini hanya satu kali tuan muda mencicipi masakannya, yaitu tadi pagi. Aku pikir hubungan kalian sudah membaik dan ada rasa di sana namun aku salah bahwa tuan muda sangat mencintai Saskia jadi tidak mungkin dia jatuh hati pada nona Kira karena tuan muda adalah tipe pria yang setia, batin pak Sud.
Kepala pelayan itu berbisik dalam hati sambil menatap Kira dengan wajah sendu Kira, pak Sud berpikir bahwa hubungan keduanya akan membaik setelah Nyonya besar pulang namun semuanya berbalik dengan insiden kecelakaan pada Reka.
"Ada apa kepala pelayan? Apa sesuatu yang buruk terjadi?" tanya Kira penasaran.
"Anu itu nona... Suara pak Sud terhenti sebentar. Tuan muda tidak pulang malam ini karena banyak kerjaan di kantor jadi tuan lembur," lanjut pak Sud.
Pak Sud berucap dengan menundukkan kepalanya ke bawah karena tidak sanggup menatap ekspresi kekecewaan Kira.
Sudah aku duga dia tidak akan pulang mengingat kejadian tadi pagi antara dia dan Saskia tidak mungkin dia akan membiarkan pertengkaran itu berlanjut kepanjangan apalagi Saskia adalah wanita satu-satunya yang dicintai oleh Bianco.
Jelas dia akan memilih Saskia dibanding dengan aku yang hanyalah istri kontrakanya. Bianco tidak akan pernah berpaling dari Saskia demi aku,
Tujuanku menikahi dia bukan untuk jatuh cinta, namun mengapa hatiku sangat terluka rasanya aku tidak bisa bernafas karena dadaku terasa sesak. Batin Kira.
Kira berbisik sambil duduk lemas di kursi meja makan dengan diam tanpa menjawab ucapan kepala pelayan yang sedang berdiri menatapnya sedari tadi. Tidak terasa air mata yang ditahan Kira kini menetes di dalam piring makanya yang belum ada makanan di sana.
Karena mereka tahu jika satu dari mereka bergosip maka semuanya akan dipecat bukan hanya di pecat saja, keluarga dan hidup mereka akan menderita. Mereka akan diasingkan dari kota.
Lagi... lagi... dan lagi aku kembali makan makananku sendiri di meja makan, setiap kali aku makan sendiri di sini aku selalu terbayang akan keharmonisan masa kecilku, dimana diriku makan bersama dengan ayah, ibu dan Karin.
Saat kepergian Ayah dan Ibu yang menjadi gila aku dan Karin harus terpisah namun Karin sekarang bahagia sedangkan aku... kini aku harus menanggung semua luka ini dengan sendirian tidak ada yang bisa mendengarkan luka ini. Bisik Kira.
Kira berbisik sambil mencoba memaksakan diri untuk memakan makanan. Dan tangannya mulai memasukkan nasi ke dalam mulutnya namun tetap saja rasa sakit yang Kira alami tidak bisa ditahan olehnya hingga akhirnya butiran bening air mata jatuh pelan membasahi kedua pipinya.
Ia tidak bisa menahan semua ini, sekuat apa diri seseorang namun ia akan runtuh jika sudah menyangkut hati. Kira menangis diam di meja makan pak Sud hanya mendengar suara cegukan Kira dibalik pojokan tembok.
Hati wanita mana yang sekuat dirimu nona sudah enam bulan nona menikah dengan tuan muda namun diri nona tidak dianggap sama sekali di rumah ini.
Kamu begitu kuat nona wanita mana yang mau dimadu sama suaminya sendiri dengan wanita lain. Gadis mana yang bersikap sangat tenang dengan mengontrol emosi saat menyaksikan suaminya memeluk dan mencium wanita lain dihadapannya, mengapa aku ikut menangis? bisik pak Sud saat air matanya menetes.
Pak Sud berbisik sambil terus mengintip Kira yang menangis di meja makan, suara sesenggukan tangis Kira memenuhi ruang meja makan. Tanpa di sadari Kira bahwa di meja makan ada cctv.
__ADS_1
"Ibu... aku lelah...hiks..." tangis Kira sejadinya.
****
Avim pulang ke Apartemennya setelah mengantar Bianco menemui Saskia di Apertemen Saskia. Kini Bianco dan Saskia duduk di sofa ruang tamu dengan suasana yang sunyi dan diam. Bianco menatap Saskia yang duduk diam di sofa tanpa bersuara. Bianco sedikit menggeser tubuhnya dekat dengan Saskia walau masih ada sedikit jarak.
"Maaf..." ucap Bianco dengan kepala yang tertunduk melihat lantai.
"Apa..?" tanya Saskia kaget.
"Aku bilang maaf, 'kan aku. Maaf atas sikapku tadi pagi. Pagi tadi aku benar-benar terbawa suasana," jawab Bianco dengan rasa bersalah.
Bianco berucap dengan tatapan dalamnya pada Saskia sambil memegang lembut tangan Saskia yang juga ikut menatap Bianco. Mata Saskia berkaca-kaca saat menatap Bianco dan kini mata itu mengeluarkan bening butiran air.
Bianco yang melihat Saskia menangis ibu jari Bianco menyeka lembut air mata gadis yang dicintainya dan dengan lembut Bianco menarik tubuh Saskia ke dalam pelukanya sambil mengelus rambut Saskia dengan tanganya. Kini Saskia menumpahkan semua air mata yang ditahanya sedari tadi dan pria itu bisa merasakan kerak kemejanya basah dengan air mata gadis yang dipelukanya itu.
"Aku pikir kamu benar-benar menyukai Kira, aku pikir aku sudah kehilanganmu, aku sangat mencintaimu Bianc, aku tidak mau kehilangan kamu," ucap Saskia.
Saskia berucap sambil melepaskan pelukanya dan menatap dalam mata Bianco yang ikut menatapnya.
" Bodoh. Siapa bilang aku menyukai dia kamu adalah wanita satu-satunya yang aku cintai dulu sekarang dan selamanya. Tidak ada dan takan pernah ada wanita yang mengantikan posisimu di hatiku."
Bianco berkata dengan kedua ibu jarinya kembali menyeka air mata Saskia sambil menatap dalam Saskia
"Aku pikir kamu benar-benar menyukai Kira, aku pikir aku sudah kehilanganmu, aku sangat mencintaimu Bianc, aku tidak mau kehilangan kamu," ucap Saskia.
Saskia berucap sambil melepaskan pelukanya dan menatap dalam mata Bianco yang ikut menatapnya.
"Bodoh. Siapa bilang aku menyukai dia kamu adalah wanita satu-satunya yang aku cintai dulu sekarang dan selamanya. Tidak ada dan tidak akan pernah ada wanita yang mengantikan posisimu di hatiku."
Bianco berkata penuh penekanan pada setiap kata yang keluar dari mulutnya dengan kedua ibu jarinya kembali menyeka air mata Saskia sambil menatap dalam Saskia. Entah mengapa hati Bianco menolak ucapannya.
Pikiran Bianco kini terfokus pada Kira saat mata dia menatap mata Saskia. wajah Kira, senyum Kira selalu terbayang di pikiran Bianco. Ada rasa rindu yang sangat amat dalam pada Kira di dalam sana.
Ada apa ini? mengapa wajah Kira dan senyumnya terus menghantui pikiranku. Sadarlah Bianco dia hanyalah alat kontrakmu bukan sungguhan, yang benar ada di hadapanmu ini, gumam Bianco kembali memeluk erat Saskia walau hati dan pikirannya di tempat lain .
__ADS_1
BERSAMBUNG...