PERNIKAHAN SAKIRA

PERNIKAHAN SAKIRA
Menyadari


__ADS_3


"Aku baru menyadari perasaanku sesungguhnya. Aku jatuh cinta pada Kira istri aku. Terimakasih sudah menyadarkan aku Saskia." Bianco menatap Saskia dengan bahagia.


Jelas Bianco dengan senyuman yang sangat bahagia saat kata-kata itu keluar dari bibirnya. Ada rasa rindu yang sangat mendalam di dalam hati Bianco. Ini pertama kali Saskia melihat senyuman yang begitu bahagia dari Bianco.


Selama dia menjalin kasih dengan aku tidak pernah aku melihat kebahagian yang begitu mendalam di wajah Bianco. Ini pertama kali aku melihat betapa bahagianya dirinya saat menyebut kata-kata itu.


Aku tidak akan biarkan siapa pun memiliki kamu kecuali aku. Kamu adalah milikku dan tetap menjadi milik aku ini belum berakhir namun ini adalah awal bagi aku Bianco, batin Saskia meremas jari-jemarinya dengan sangat kuat sambil menatap tajam lurus ke depan.


"Sayang...ini bukan salahku. aku yakin bahwa ini semua taktik gadis kampung itu untuk memisahkan kita, dengarkan aku dia menikahi kamu hanya karena..."


"Saskia! Jerit Bianco emosi dengan berucap nada tinggi saat mendengar bahwa Saskia terus menerus menyalahkan Kira.


Bagus tuan muda. Sesekali tegaslah seperti itu pada wanita ular itu, biar dia sadar apa yang barusan dia ucapkan, batin Avim bahagia saat melihat Saskia yang jerit dengan nada tinggi oleh Bianco.


"Mengapa? Kamu berteriak dengan keras seperti itu? Aku memang melakukan kesalahan namun apa kamu tahu aku melakukan semua itu karena aku cemburu dengan Kira."


"Kamu bilang pernikahan itu tidak ada artinya bagi kamu? Lalu mengapa sekarang kamu menyalahkan aku? Harusnya yang kamu salahkan adalah gadis kampung itu! Hiks..," ucap Saskia dengan tangisan tulus dari dalam hatinya.


Saskia menangis dengan keras sambil menatap Bianco. Berharap bahwa Bianco memeluk dirinya jika dia sudah menangis seperti itu. Karena Saskia tahu bahwa Bianco tidak bisa melihat dia menangis, namun dugaan Saskia salah Bianco malah tertawa dengan lepas sambil melangkah mendekat ke arah Saskia.


Bianco yang sudah berdiri di hadapan Saskia. Mengangkat dagu Saskia sambil tersenyum, hal itu membuat Saskia senyuman bahagia


dari bibirnya seketika hilang.

__ADS_1


Sudah aku duga kamu tidak akan berpaling dari aku. Saskia pintar sayang kamu berekting, batin Saskia.


"Apa yang kamu pikirkan? Ciuman? Cih... najis bibir mahalku ini menyentuh bibir sampah sepertimu, wanita tidak tahu diri. Jangan harap kamu bisa mendapatkan ciuman aku," seru Bianco di samping telinga Saskia sambil mengukir senyuman tipis dibibirnya.


Saskia yang mendengar ucapan Bianco seketikan langsung lemas. Ini pertama kali Bianco berkata kasar pada dirinya. Sakit sudah pasti... hancur jelas sangat hancur karena sebenarnya jauh dalam lubuk hati Saskia dia sangat mencintai Bianco.


Namun semua penyesalannya sudah terlambat kini Bianco berpaling dari Saskia. Bianco yang berucap dengan nada dingin melangkah pergi meningalkan Saskia di sana sambil memberi perintah pada Avim untuk kembali memukul Kevin.


Bianco yang juga terluka dengan sangat perih di hatinya berjalan dengan gagah perkasa dan penuh karisma sambil memakai kacamata di kedua matanya. Lalu ia melangkah untuk pergi meningalkan Saskia yang berteriak meminta tolong ketika Kevin kembali digebukin oleh bodyguard Bianco.


"Hentikan! Aku mohon dia tidak bersalah...tolong...!" Ucap Saskia dengan tangis pecah saat melihat kekasih hatinya digebukin habis-habisan oleh anak buah Avim.


"Akan aku pastikan Bianco kamu akan menyesal karena memilih gadis sampah itu, lihat saja apa yang akan terjadi," pinta Saskia menatap Bianco pungung belakang Bianco yang melangkah tanpa peduli dengan dirinya.


**** Di rumah Bianco.


"Apa yang kalian lakukan di sana?" Tanya Bianco dari kejauhan dengan tatapan tajam.


"Anu.. itu tuan... nona muda lagi menangis tuan," ucap salah sorang pelanya dengan suara terbata-bata karena ketakutan.


"Jika dia menangis apa urusanya dengan kalian? Apa tidak ada pekerjaan selain urusin urusan orang lain. Pecat mereka semua kepala pelayan!" Perintah Bianco menatap tajam para pelayan.


Bianco berucap dengan kasar namun dalam hatinya menghwatirkan Kira. Dia melangkah menaiki anak tangga menuju kamarnya. Para pelayan yang saling bersahutan dengan tangis memohon pada Bianco untuk tidak memecat mereka.


"Tuan muda kami minta maaf. Kami hanya kwatir dengan keadaan nona jangan pecat kami tuan muda hiks..." keluh pelayan yang satu.

__ADS_1


"Bagaimana dengan uang sekolah anakku tuan muda apalagi aku saat ini numpang di kontrakan, maafkan aku tuan jangan pecat kami," sambung pelayan yang satu.


Para pelayan yang lain saling bersuara satu sama lain memohon ampun agar tidak dipecat. Bianco tidak peduli dengan ucapan-ucapan para pelayan itu ia terus melangkah mencueki mereka.


Kira yang masih menyandarkan kepalanya menangis dengan diam sambil menatap langit-langit balkon. Tetesan demi tetesan terus mengalir. Air mata bercuran dari wajah Kira tiada hentinya.


Ibu...aku lelah dengan situasi ini...hiks, Kira.


Tuhan aku lelah dengan situasiku saat ini.. berusaha tersenyum namun terselip tangisan. Berusaha untuk tidak membutuhkan perhatian namun sebenarnya aku ingin diperhatiin.


Lelah mengatakan pada diriku baik-baik saja namun keadaanku tidak baik-baik saja.


Tuhan aku lelah.... butiran demi butiran menetes membasahi kedua pipi Kira.


Tetesan demi tetesan bening kembali mengeluarkab cairan bening dari mata Kira. Bianco melangkah dengan cepat menghampiri Kira namun sebelum itu ia masih singgah di kamar mamanya untuk melihat keadaan Reka. Setelah melihat Reka yang sudah beriistrihata Bianco kembali ke luar dari kamar Reka untuk pergi menemui Kira.


Ia melangkahkan kakinya pelan-pelan Bianco yang ada di depan pintu menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskan secara pelan. Tanganya mulai memegang gagang pintu pria itu membuka pintu lalu masuk ia kembali menutup pintu tersebut secara pelan.


Di kamar masih nyala lampu tidur rupanya Kira belum tidur Bianco melihat Kira yang sedang mendarkan tubuhnya duduk di sofa sambil melihat langit-langit. Kira yang sedang menangis menarik nafasnya dan ternyata ia tidak menyadari bahwa Bianco sudah pulang. Kira bangun dari sandaran tubuhnya lalu ia menurunkan kakinya menginjak lantai dan niat Kira yang tadinya ingin pergi membasuh wajahnaya di kamar mandi.


Saat ia berdiri dengan tegak baru memajukan kakinya yang satu ke depan untuk melangkah dan tiba-tiba ia kaget melihat Bianco yang berdiri terpaku diam aambil melihat Kira dengan tatapan dalamnya. Air mata Kira mengalir saat matanya berkedip menatap Bianco. Kira secepatnya mengalihkan tatapanya sambil menghampus dengan cepat air matanya. Kira sengaja tidak peduli dengan kehadiran Bianco Ia pun melangkahkan kakinya ke kamar mandi namun langkahan kakinya terhenti saat Bianco membuka kebisingan mereka.


"Mengapa kamu belum tidur? Apakah kejadian tadi siang begitu menggangu pikiranmu?" Tanya Bianco masih berdiri dari balik pintu.


Bukan urusanmu aku tidur atau tidak. Aku mau ke kamar mandi. Urusin saja pacarmu aku tidak butuh perhatianmu," sahut Kira dengan nada dingin sambil kembali melanjutkan langkahan kakinya.

__ADS_1


Bianco yang mendengar ucapan Kira menahan nafas san sikapnya yang sedikit emosi. Lalu ia kembali berucap sambil menatap pungung Kira dengan tajam.


Bersambung


__ADS_2