PERNIKAHAN SAKIRA

PERNIKAHAN SAKIRA
Bukan Siapa-Siapa


__ADS_3

Terasa sesak di dada saat merasakanya aku berusaha untuk keluar dari situasi ini namun hatiku ingin tetap bertahan. Mungkinkah cinta itu akan kembali ataukah hanya ada luka yang tersisa.


"Oleskan obat pada lukanya, aku tidak mau hal seperti ini kembali terulang," ucap Bianco pada kepala polisi yang saat itu bertugas ganti shift malam dengan yang lain.


Dia mengetahui bahwa penyebab Kira terluka karena ia adalah tahanan baru maja para tahanan lama menyiksanya apalagi saat mereka tahu bahwa Kira adalah pembunuh mertuanya sendiri. Bianco yang mengetahui hal itu sangat marah hingga ia meminta ke pada para polisi yang bertugas saat itu untuk memberi hukuman pada kelima tahanan itu sampai mereka tidak mengulangi hal ini lagi.


Di sisi lain Karin yang menangis tidak hentinya menatap polisi yang ingin membawa obat yang diberikan oleh Bianco untuk Kira di sana. Secepatnya Karin menghampiri polisi itu untuk meminta dirinya yang ingin memberikan obat pada Kira.


"Boleh, kah aku yang memberikan obat ini padanya. Hanya dua menit saja," kata Karin memohon.


Karin berucap seperti itu untuk bisa bertemu dengan Kira. Ia ingin meminta maaf pada Kira akan semua kesalahanya selama ini.


"Baiklah hanya dua menit anda bertemu dengan dia. Dan saya harap anda tidak melanggarnya," jawab polisi sambil memberikan salep pada Karin.


"Baik dok," jawab Karin semangat.


Karin yang mendengar ucapan dokter itu secepatnya mengambil salep tersebut sambil melangkah dengan cepat menghampiri Kira untuk memberikan salep pada luka-luka di tubuh kakaknya.


Kira yang saat itu sedang duduk menyandarkan diri di tembok sambil memegang perutnya yang sangat sakit akhirnya sedikit lega bisa melihat wajah adiknya Karin yang selama ini sangat ia kwatirkan.


"Kakak maaf, kan aku... karena aku kakak yang harus menangung semua ini," kata Karin saat ia yang sudah bersama Kira untuk mengobati luka-luka kakaknya.


"Karin! Ada apa kamu di sini!? Ini bukan tempatmu jangan ke sini," kata Kira yang kaget ketika melihat Karin yang sudah menghampiri dirinya dengan memberi obat padanya. Walau ia bersyukur bisa melihat wajah adiknya dan memastikan akan kondisi Karin yang baik-baik saja.


Kira berucap seperti itu karena ia sangat takut akan ancaman yang akan menimpa Karin jika sampai Jessy tahu semua ini. Kira tahu betul seperti apa otak seorang Jessy wanita yang sangat licik itu.


"Cepatlah pergi. Kakak bisa melakukan semua ini... jika sampai Jessy tahu dirimu di sini maka kamu dalam bahaya besar," lanjut Kira dengan cemas sambil merebut salep obat yang ada di tangan Karin dan meminta adiknya untuk pergi sekarang juga.

__ADS_1


"Aku tidak akan pergi kakak. Aku sudah tahu semua rencana jahat Jessy. kali ini aku tidak akan memaafkan dia," jawab Karin menolak ucapan kakaknya dan kembali merebut obat dari tangan Kira lalu ia tetap mengoleskan pada luka-luka di tangan Kira.


"Jika kamu ingin membalasnya bukan seperti ini jalanya. Apa kamu mau lihat kakak harus mati digantung di hadapanmu. Jessy adalah orang yang sangat licik jika dia tahu kamu sudah mengetahui semua rencana busuknya maka dia pasti akan melukaimu dan kamu tahu siapa yang akan ia lukai," kata Kira menatap tajam Karin dengan air mata yang bercucuran terus menerus. Karena ia tahu bahwa jika Jessy mengetahui semua ini maka orang yang kena imbasnya adalah Kira karena Wanita itu tahu betul siapa kelemahan Karin.


"Tapi kakak..."


"Sudah jangan banyak melawan pergilah sebelum ada yang curiga. Kakak baik-baik saja," ucap Kira menenangkan Karin untuk tidak kwatirk pada dirinya.


"Baiklah... hiks... tapi ijinkan aku memelukmu sebentar kakak," kata Karin dan langsung memeluk erat tubuh Kira sambil menangis dengan sejadi-jadinya di dalam pelukan kakaknya itu.


Setelah saling memeluk satu sama lain akhirnya Karin kembali ke luar dari jeruji besi dan kakaknya kembali di tahan di dalam sana. Air mata Karin mengalir dengan deras ketika Kira yang masih bisa tersenyum dengan baik walau sebenarnya ia sangat hancur saat ini.


Karin segera pergi dari sana sebelum anak buah Jessy melihatnya di saat bersamaan Bianco yang sejak tadi melihat keduanya dengan sangat dalam hingga timbul banyak pertanyaan dalam pikiranya. Mengenai Karin siapa dia dan mengapa gadis itu sangat dekat dengan Kira.


Bianco melangkah menyusul Karin yang sedang melangkah pergi dengan secepat mungkin.


"Ada yang ingin aku tanyakan padamu. Dan tolong jawab aku dengan sangat jujur," lanjut Bianco menatap serius Karin.


"Ada apa? Aku tidak punya banyak waktu," jawab Karin cuek sambi menunjukan jam tanganya.


"Siapa kamu? Apa hubunganmu dengan istri aku?" tanya Bianco langsung pada poin pembicaraanya dengan sorot mata yang serius pada Karin.


"Jadi kamu suami kakak aku. Cihhh... bisa-bisanya kamu menjobloskan dia ke penjara dengan tuduhan yang belum tentu ia sendiri lakukan," ucap Karin tersenyum culas dengan menatap tajam Bianco tanpa rasa takut sedikit pun dari kedua matanya dengan gaya tomboy dia seperti biasanya.


" Perkenal, kan Aku adalah adiknya. Kami terpisah karena Jessy. Wanita itu menghancurkan keluarga kami dan menjadikan aku tahananya karena saat itu aku lumpuh total. Akibat trauma akan kehancuran keluarga aku yang disebabkan oleh Jessy."


"Apa maksudmu...?" Tanya Bianco bingung dengan mengerutkan dahi dan alisnya sedikit diangkat.

__ADS_1


"Aku dan Kira kakak beradik kandung lahir dari satu rahim. Dia menikahimu karena menyelamatkan nyawa aku. Dia diancam oleh Jessy. Dan asal anda tahu bahwa kakak aku tidak pernah membunuh orang tuamu aku sendiri yang akan buktikan itu. Dan jika sesuatu terjadi pada kakak aku. Aku tidak akan memaafkan kamu," ucap Karin dengan tegas menatap tajam Bianco.


Bianco yang mendengar ucapan Karin terdiam seribu kata sedangkan Gadis itu pergi meningalkan Bianco sendiri di sana.


Jika benar apa yang diucapkan gadis kecil itu lalu mengapa Kira tidak pernah menjelaskan pada aku atau memberitahu aku akan adik kandungnya. Mengapa ia menyimpan semuanya sendiri, batin Bianco yang menyadari akan kesalahanya.


Setelah berpikir lama Dia pun kembali melangkah masuk ke dalam kantor polisi. Bianco pergi ke petugas shift malam yang ditugaskan untuk menjaga tahanan. Bianco meminta untuk bertemu dengan Kira sebentar karena ada yang ingin ia cari tahu dari istrinya itu.


Polisi itu awalnya menolak namun saat Bianco menyogoknya dengan uang ia pun menerima sogokan Bianco. Dan sebelum pria itu bertemu dengan istrinya maka terlebih dahulu petugas itu mematikan cctv agar tidak ada yang mencurigai atau melihatnya.


Air mata mengalir saat ia yang masih anteng menyandarkan kepalanya pada tembok. Membayangkan nasib dan takdir seperti apa yang direncanakan Tuhan pada dirinya.


Untuk sekejap aku pikir deritaku sudah terbayar semua namun aku salah ternyata derita itu baru dimulai betapa bodohnya aku mengangap bahwa cinta bisa mengubah segalanya pada hal itu hanyalah cerita dongeng.


Butiran air mata mengalir dengan deras dari sana ia berusaha menjadi wanita yang kuat namun sebenarnya ia menangis dalam kepedihan.


Di tengah Kira yang masih menangis datanglah Bianco menghampiri dirinya. pria itu melangkah dengan diam menghampiri istrinya.


Saat matanya melihat mata yang di sana penuh dengan memar luka dan butiran yang mengalir dan mengering di sana.


"Mengapa kamu tidak memberitahu Aku bahwa kamu memiliki seorang adik?" tanya Bianco membuka percapan diantara keduanya yang sempat terjadi kebisuan.


"Itu bukan urusanmu. Bukankah kamu sendiri yang berkata bahwa aku bukanlah siapa-siapa bagimu," jawab Kira dengan nada dingin dan wajah cuek akan kehadiran Bianco.


"Apa? Aku tidak peduli akan ucapan itu saat ini Aku bertanya sebagai seorang suami," seru Bianco menatap dalam istrinya.


"Benarkah? Mengapa tidak kamu ceraikan istri pembunuh seperti aku? Untuk apa kamu mempertahan wanita hina ini," jawab Kira yang kembali meneteskan air mata ketika ia yang menatap dingin Bianco dengan mata yang berkaca-kaca hingga akhirnya mengalir dengan los di bawah sana.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2