PERNIKAHAN SAKIRA

PERNIKAHAN SAKIRA
Terbongkar


__ADS_3

"Mengapa kepala aku rasanya sangat berat dan pusing, perut aku sakit dan rasanya aku ingin muntah, sedari tadi di pemakaman mama aku belum makan apa-apa. Mungkin karena itu aku masuk angin;" bungkam Kira yang merasa tidak enak badan karena kepalanya sangat sakit dan ia ingin muntah. Kira berbisik dalam batinnya ketika ia yang pelan-pelan melangkah masih lemas menuju kamar mandi.


Saat ia masih berjalan dengan lemas dimana satu tangan Kira mulai memegang dinding tembok untuk menuntunya melangkah karena tenagannya yang sepertinya sudah terkuras habis. Di saat bersamaan gas maagnya naik tiba-tiba hingga ia lansung secepat mungkin lari ke kamar mandi dan memuntahkan semua isi perutnya ke dalam wastafel kamar mandi. Sherli yang di sisi lain sedang membawa mampan di tanganya beriisi bubur ayam dengan air hangat untuk mau diberikan pada Kira.


Sesampainya di depan pintu kamar majikanya itu Sherli mengetok pintu pelan-pelan seperti biasanya sambil memanggil-manggil Kira namun tidak ada jawaban dari nona mudanya itu.


" Permisi nona muda...boleh'kah saya masuk? Saya sedang membawa makanan untuk nona tadi diminta sama tuan muda nona ," jelas Sherli yang berdiri di depan pintu kamar Bianco dan Kira.


Sherli yang masih mengetok pintu untuk kesekian kalinya tetap saja tidak ada suara dari dalam. Yang membuat dia sedikit kwatir tapi lebih tepatnya dia tidak kwatir melainkan penasaran apa yang sedang dilakukan Kira sehingga ia selama itu tidak menjawab ucapan Sherli.


Dia lagi ngapain sih di dalam sana? hanya jawab ucapanku dan bilang boleh masuk apa susahnya? Dasar perempuan sampah lihat saja sebentar lagi posisimu itu akan diganti oleh aku, batin Sherli kesal dengan wajah yang masam.


Sedangkan di dalam sana Kira masih muntah terus menerus hingga muntahnya menjadi pahit pada lidahnya sendiri, wajahnya yang sangat pucat dan kepalanya yang berat dan semakin pusing. Setelah mengeluarkan semua isi perutnya dan merasa tidak muntah lagi. Kira pun membuka kerang air pada wastavel sambil mencuci wastafel lalu ia juga membersihkan mulutnya. Setelah melakukan semua itu Kira mulai melangkah keluar dari kamar mandi dengan kepala yang sakitnya semakin menjadi di tambah tubuhnya yang sudah tidak ada tenaga sama sekali.


Gadis itu melangkah dengan kondisi yang sudah lemas sekali. Tanganya yang masih menahan di dinding tembok sebagai pertahanan kekuatanya. Lalu ia mendengar ketukan pintu lagi dari luar dengan suara yang lemas Kira akhirnya menjawab ketukan pintu dari Sherli.


"Masuk saja pintu tidak dikunci," ucap Kira yang behenti sejenak di lemari pakaian.


Sherli yang mendengar ucapan Kira akhirnya membuka pintu pelan dengan wajah yang kesal dan masuk dengan muka yang sangat bengkak karena emosi.


"Maaf nona ini bubur untuk nona muda tadi diminta oleh tuan muda memberikanya pada nona," ujar Sherli menunjukan bubur ayam di mampan yang dipegang oleh dirinya sendiri.


"Oh baiklah. Terimakasih Sherli. Maaf jika membuatmu menunggu lama di luar," jawab Kira dengan suara yang lemas dan wajahnya yang sangat pucat seperti orang yang baru habis bangun dari koma.


"Sama-sama nona. Ini aku letakan di sini ya non," seru Sherli sambil menaroh bubur ayam yang ada di mangkok di atas nakas laci tv.


Kenapa wajah dia sangat pucat? Apa dia sakit? Hem..baguslah jika dia sakit setidaknya dia harus mempersiapkan diri sebelum bencana kehancuran datang padanya, gumam Sherli menatap sinis Kira dengan mengukir senyuman miring di bibirnya penuh arti.


"Ya. Letakan saja di sana," tutur Kira yang semakin lemas di mana keringat halus mulai bercucuran di wajahnya.

__ADS_1


Setelah meletakan bubur di atas nakas laci tv. Sherli pun menundukan kepalanya sebagai tanda hormat dan memutar kakinya berbelok arah menuju pintu untuk segera melangkah pergi meningalkan kamar majikanya. Kira yang hilang keseimbangan tubuhnya dan penglihatanya yang kabur, semakin lama penglihatan Kira memudar hingga akhirnya ia kehilangan keseimbangan tubuh dan jatuh lemas di bawah sana.


"Brukkk..." tubuh Kira jatuh pingsan di bawah lantai. Sherli yang kaget memutar tubuhnya untuk melihat apa yang terjadi. Saat melihat tubuh Kira yang pingsan gadis itu segera menghampri wanita malang itu. Matanya dibulatkan dengan lebar lalu dengan cepat Sherli berlari dan duduk bersujud di bawah sana sambil memanggil nama Kira.


"Nona Kira...! Nona Kira bangun..!" Panggil Sherli ketika ia menaroh kepala Kira di kedua pahanya sebagai alas bantal.


Sherli yang memangil-mangil Kira sambil mengoyangkan tubuh nona mudanya itu tetap saja Kira masih tidak sadar. Dengan cepat Sherli kembali mengangkat pelan kepala Kira ditaroh pelan di lantai kembali seperti semula. Lalu ia segera berlari dengan kencang menuju ruang kerja Bianco untuk memberitahu Bianco.


****


"Tapi tuan itulah kenyataanya. Aku juga tidak mempercayai ini namun tetap saja fakta tidak bisa kita ubah," ucap pak Sud yang melawan ucapan Bianco.


"DIAM...! Jerit Bianco emosi. Aku bilang periksa ulang. Jangan mencoba mencuci otak aku...! Apa kalian paham...!" Ucap Bianco penuh tekanan pada kata diam dengan nada tinggi sambil menatap tajam semua orang yang ada di ruang kerjanya.


"Tuan muda. Maaf bukanya aku tidak mengikuti perintah tuan tapi perlu tuan tahu bahwa nona muda orang yang memberi bubur terakhir pada nyonya besar sebelum ia pergi bersama tuan muda merayakan pesat ulang tahunya. Dan dari ucapan dokter Rian bahwa nyonya Reka meningal karena keracunan makanan dan racun itu ada pada makanan yang terakhir ia makan."


Jelas tukang koki dapur yang saat itu turut membantu Kira membuat bubur di dapur namun ia tidak sempat memperhatikan pembuatan bubur Kira karena ia juga disibukkan dengan masak siang untuk Bianco dan tamu-tamunya yang ada di kantor.


"Sudah aku bilang jangan melawan ucapan aku...!" Jerit Bianco dengan emosi sambil menatap tajam lurus ke depan.


Di tengah perdebatan yang menegangkan dan penuh emosi itu. Sherli secepatnya mengedor pintu kerja Bianco dari luar dengan sangat kwatir saat dirinya sudah sampai di depan ruang kerja Bianco.


"Siapa lagi yang berani mengangu rapat aku...!" Kesal Bianco emosi sambil menatap tajam orang yang yang ada di balik pintu sana.


"Cepat masuk...!" Perintah Bianco dengan emosi.


"Kamu...!" Kaget Bianco ketika melihat Sherli yang masuk dengan tergesa-gesa.


"Maaf tuan mengangu rapat tuan."

__ADS_1


"Ada apa kamu ke sini?" Tanya Bianco kesal.


"Tuan muda... nona...nona muda...!," tutur Sherli ketika ia dengan nafas ngos-ngosan langsung terobos masuk saat pintu dibuka. Dimana ia kehabisan nafas akibat lari marathon tadi saking ketakutan dirinya dia akan kondisi Kira.


"Ada apa dengan nona muda? Bicara yang jelas apa kamu tidak bisa berbicara dengan jelas?" Tanya Bianco menatap tajam Sherli sambil berdiri tegak di sana dengan wajah yang masih kesal.


"Nona muda pingsan tuan di kamar. Aku melihatnya saat tadi antar bubur yang diminta tuan dibuat dan diberikan pada nona di kamar."


Jelas Sherli masih dengan nafas ngos-ngosan. Dengan menatap mata Bianco yang sedang emosi dan kesal itu.


"Apa...?" Kaget Bianco langsung melangkah menghampiri Sherli dengan tatapan tajamnya lurus ke depan.


"Nona muda pingsan tuan muda," Papar Sherli singkat jelas padat.


Bianco yang mendengar ucapan Sherli langsung dengan cepat melangkahkan kakinya dengan wajah yang tadi kesal dan emosi kini diliputi dengan kecemasan dan kekewatiran. Sebelum melangkah pergi Bianco meminta Avim untuk segera menghubungi dokter terdekat untuk cepat datang.


"Avim pangilkan dokter sekarang juga! Apa kamu paham!" Perintah Bianco dengan tegas lalu ia segera berlari dengan cepat keluar dari pintu ruang kerjanya dan secepat mungkin menghampiri Kira yang saat ini sedang pingsan di kamar.


"Baik tuan muda. Akan aku pangilkan segera," jawab Avim pada tuan mudanya yang sudah hilang dari hadapanya. Lalu ia pun langsung mengambil ponselnya untuk menelpon dokter.


Sedangkan pak Sud dan koki yang mendengar kabar bahwa Kira pingsan akhirnya ikut menyusuli Bianco dengan Sherli yang sudah berlari jauh di sana.


"KIRA...!" Jerit Bianco cemas di mana ia yang lansung mengangkat tubuh Kira untuk dibawa ke kasur kamar.


"Sayang...! Hei... kamu akan baik-baik saja," lirih Bianco yang memeluk tubuh istrinya ketika ia sudah menaroh tubuh Kira di kasur kamar.


"Aku ada di sini jangan cemas dan takut," tambah Bianco lagi masih dengan kecemasan pada wajahnya saat ia yang melepaskan pelukanya pada Kira dan kedua tangannya meraih tangan istrinya untuk di gengam erat.


Sherli yang melihat dan mendengar perlakuan romantis dan ucapan manis Bianco pada Kira semakin dibakar dengan api kecemburuan. Ia meremas jari-jemarinya dengan kuat di bawah sana sambil berusaha mengontrol emosinya untuk tetap tenang dan tidak meledak.

__ADS_1


Kita lihat saja seberapa kamu mencintai dia saat kamu tahu bahwa wanita yang kamu sayangi dan cintai ini adalah wanita yang membunuh ibumu dan melumpuhkanya, batin Sherli percaya diri.


Bersambung .


__ADS_2