
"Sudah aku bilang kamu adalah milik aku. Jangan pernah mengatakan dirimu tidak berarti bagi aku karena kamu adalah orang yang sangat penting dalam hidup aku," ucap Bianco saat ia melepaskan ciumanya pada Kira.
Namun wajahnya masih mendekat ke wajah Kira, nafas mereka saling berbalas satu sama lain. Kira tidak menatap Bianco sama sekali. Jantung Kira saat ini berdetak sangat kencang lebih dari biasanya. Suaminya yang menatap dirinya dengan sangat dalam tersenyum pada Kira.
"Tataplah aku. Aku adalah suamimu bukan monster, aku bisa merasakan detak jantungmu," ujar Bianco sambil memegang dagu Kira untuk menatap matanya.
Namun istrinya itu tetap saja tidak ingin menatap Bianco. Akhirnya Bianco kembali kalungkan kedua tanganya di leher Kira dan kini jidat pria itu di tempelkan ke jidat Kira. Istrinya yang kaget langsung menatap Bianco dengan tajam namun tatapan mata berubah saat mata Kira bertemu dengan mata Bianco. Sebuah tarikan bibir senyum bahagia dari Bianco.
Pria itu memajukan hidungnya mengenai hidung Kira dan memainkan hidung mancungnya dengan mengerutkan jidat dan hidung penuh senyuman di kenakan pada hidung istrinya itu.
Ada apa sebenarnya dengan dia mengapa dia bersikap sangat romantis malam ini? Ini pertama kali dia mencium aku. Namun apa maksud dari ciumanya itu. Apakah itu tandanya dia jatuh cinta benaran sama aku? Batin Kira masih bingung dengan sikap Bianco.
"Mengapa bengong? Apa yang kamu pikirkan?" Tanya Bianco masih menempel jidatnya di dahi Kira.
"Tidak ada. Lepaskan tanganmu dari tubuhku! Aku tidak nyaman dengan sikapmu ini," ungkap Kira dengan menjauhkan kepalanya dari tatapan Bianco tapi dirinya masih dalam pelukan Bianco.
"Mengapa tidak nyaman. Kamu pikir aku mencium kamu karena nafsu? Aku...," ucapan Bianco terhenti saat ia ingin mengukapkan perasaan yang selalu menganjil di hatinya. Namun entah mengapa Bianco tidak jadi mengucapkannya karena ia masih ragu dengan perasaanya pada Kira.
"Kamu adalah istriku. Jadi hak aku untuk menciummu, apa salahnya jika suami ingin mencium istrinya," seru Bianco mengalihkan ucapanya.
"Itu tidak salah tapi ini sudah selesai aku tidak mau salah mengartikan ciumanmu itu. Lepaskan tubuh aku.." jawab Kira dengan tegas.
"Siapa bilang ini sudah selesai? Ini baru akan dimulai. Malam ini kamu adalah milik aku seutuhnya."
__ADS_1
"Apa maksudmu?" Tanya Kira bingung sambil menatap mata Bianco yang kembali sangat dekat dengan wajahnya.
Bianco yang masih mengalungkan kedua tanganya di leher istrinya itu menarik bibirnya tersenyum saat menatap kedua mata Kira yang penuh kebingungan. Lalu ia mendaratkan satu kecupan hangat di kening Kira dengan sangat dalam.
Kira yang merasakan hal itu bagaikan sengatan listrik seluruh tubuhnya merinding. Entah mengapa kali ini gadis itu bisa merasakan perasaan Yang sangat berbeda sebelumnya. Dan entah mengapa Kira menutup kedua matanya menikmati kecupan hangat yang masih menempel di puncak kepalanya.
Kira membuka kedua mata ia sedikit kaget saat kembali menatap mata Bianco yang sedang menatapnya dengan senyuman lebar di bibirnya. Mata mereka saling membalas tatapan satu sama lain. Tangan Bianco sedikit menarik pinggang Kira ke depan agar dekat dengan dirinya.
Kira yang tidak bisa bergerak menatap heran Bianco namun darah berdesir dengan aliran bagaikan listrik dan hatinya menikmati momen itu. Bianco menundukan kepalanya dengan memiringkannya sedikit ke bawah mendekatkan wajahnya yang semakin dekat dengan wajah Kira. Kira yang dibuat gagal fokus oleh Bianco saat nafas pria itu mengenai kulit mulus wajahnya.
Bianco langsung ******* bibir ranum Kira dengan sangat lembut dan penuh cinta. Ia menekankan tengkuk leher Kira agar memperdalam ciumanya pada istrinya itu. Kira yang awlanya tidak membalas ciuman Bianco kini terbawa suasana yang tadinya tidak membalas ciuman bibir Bianco kini ia membalas juga ciuman itu. Ia menutup kedua matanya sambil membalas ciuman bibir dari pria yang sangat ia benci itu dengan posisi mengalungkan kedua tanganya di leher suaminya itu kaki Kira sedikit menjinjit karena tubuhya yang sedikit pendek dari tubuh Bianco yang tinggi bagaikan Jerapah.
Bianco yang merasakan balas ciuman Kira semakin liar memperdalam ciumanya pada Kira hinggga ia melangkah sambil membawa tubuh Kira mendekati ranjang kamar. Kira yang sudah kehilangan semua tujuan ia menikahi pria itu mau itu pelampiasan Bianco pada Kira atau apa pun itu intinya Kira ingin menikmati momen indah malam ini.
Khilafan Bianco akhirnya malam itu menjadi malam pengantin mereka yang sempat tertunda pertama kali mereka menikah. Bianco menidih tubuh Kira ke bawah kasur sambil terus mencium Kira dan akhirnya mereka melakukan cinta yang sempat tertunda pada malam pengantin. Kedua menikmati setiap momen satu sama lain sampai Kira lemas dan masih tertidur di bidan dada Bianco. Bianco kembali melemparkan satu kecupan hangat di puncak kepala istrinya dan kembali melakukan ronde kedua di dalam selimut.
Maaaf author khilaf.... hahaha...
****
"Betapa bodohnya kamu...apa kamu pikir Sagas berhubungan denganmu karena cinta? Hahahha..." tawa Rani meledak sambil memandang rendah Kinta.
"Apa..?" Tanya Kinta bingung.
"Sagas pacaran dengan kamu itu perintah aku. Sagas berhubungan badan dengan kamu itu karena aku. Semua cinta yang Sagas berikan padamu itu hanyalah taktik permainan kami untuk menghancurkan kesombongan dirimu."
__ADS_1
"Apa kamu masih suci? Tidak. kamu terjerumus dalam permainan aku. Masih ingat permainan yang waktu itu kamu tolak, itu adalah balasan aku untuk wanita sombong seperti kamu..!" Tegas Rani menampar keras wajah Kinta.
Tangan Kinta begementar memegang meja, semuai ini hanyalah permainan... air mata seketikan jatuh membasahi pipi. Saat ia menatap tajam Rani dan Sagas air mata kembali mengalir.
Kinta mendaratkan tamparan keras di wajah Sagas dengan air mata yang berlinang. Dan keperihan hati di dalam sana.
Rani ingin menampar balik Kinta namun niatnya hilang ia menarik Bianco mendekat dengan dirinya, Rani langsung mencium Bianco dengan penuh gairah di depan Kinta.
Bening air mata membasahi kulit pipi wajahnya. Hujan yang besar mengguyur basah kuyup wanita yang saat ini melangkah tak tentu arah di jalanan kota Konglomerat. Mobil yang berlalu lalang dihiraukan oleh Kinta.
Pahit dan perih hati bagaikan ditikam sebilah pisau di mana ketik ia menyadari fakta bahwa selama 2 bulan ia jalin kasih dengan Sagas hanya untuk sebuah permainan di kala waktu itu.
Hancur hati melihat dan merasakan kenyataan pahit bahwa ia kehilangan mahkotanya hanya karena rayuan maut yg membawa dirinya ke jurang.
Tangisan keras di bawah hujan dengan langkahan kaki yang berat saat harus menyadari kenyataan pahit dalam hidupnya hamil di luar nikah dengan anak tanpa ayah.
Lengkap sudah penderitaanku betapa bodohnya aku di kelabui sama orang yang selama ini aku pikir benar-benar mencintaiku. Orang yang membutakan cinta aku.. Tuhan mengapa harus dia yang menghancurkan hidup aku...hiks...
Tangis Kinta pecah sudah. Hilang harapan hidupnya.. bagaimana jika kedua orang tuanya tahu apakah mereka akan menerima Kinta? Atau mengusir dirinya dari rumah karena sudah mencoreng nama baik keluarga.
Kinta melihat jembatan ia melangkah mendekati jembatan tersebut untuk mencoba bunuh diri di sana. Kinta malu dan takut pada kedua orang tuanya. Ia berpikir jika dengan mati maka tidak akan ada yang terluka dan malu. Cukup dirinya saja.....
Ibu....ayah....hiks...mafakan Kinta... teriak Kinta.
Bersambung
__ADS_1