PERNIKAHAN SAKIRA

PERNIKAHAN SAKIRA
Kamu pelaku???


__ADS_3

Follow Ig: @Sildadelita99.


Halo semua Jangan lupa tinggalkan jejak disini ya...


kalian baca jam berapa? asal dari mana?


me: Kupang NTT.


Salam kenal semua🤗❤️❤️🙏🙏


Happy Reading Guys...


*****


Kevin yang masih bergumam dalam hati dengan meyakinkan dirinya bahwa semua baik-baik saja hanya menarik nafasnya dan membuang secara pelan-pelan ke udara untuk menghirup udara segar pagi agar bisa menenangkan batinya.


Sedangkan di sisi lain Avim mulai memberitahu kepala pelayan untuk segera mengumpulkan semua pelayan rumah sekarang. Karena ada satu dua hal yang terjadi. Kepala pelayan yang mendengar hal tersebut segera mengumpulkan para pelayan rumah tanpa bertanya mengapa dan kenapa pada Avim. Setelah memberitahu kepala pelayan Avim menelpon dokter rumah yang biasanya bertugas mengobati keluarga Bridges jika mereka sakit. seorang dokter yang dikhususkan untuk keluarga Bridges.


*****Di kamar Reka.


Di atas lantai dua Bianco menatap Reka penuh kekewatiran sambil duduk di samping ranjang kamar Reka dengan memegang kedua tangan Reka. Bianco mengatakan pada Reka untuk tidak kwatir semua baik-baik saja.


Saat Bianco masih menatap Reka, dokter pribadi pun datang. Bianco yang melihat dokter datang langsung bangkit berdiri dari duduknya untuk menyalami dokter Rian, lelaki paruh baya berusia 48 tahun dokter dengan lulusan terbaik dari Akademi ilmu kedokteran Amerika Serikat. Dokter Rian adalah dokter umum yang sangat dipercayai Miguel sebagai dokter pribadi keluarganya. Dokter Rian sudah bekerja selama 30 tahun dengan keluarga Miguel Bridges jadi wajar saja dokter Rian sudah diangap sebagai keluarga sendiri oleh keluarga Bridges.


"Apa yang terjadi tuan muda?" tanya dokter Rian pada Bianco.


"Aku tidak tahu dok, Mama dari tadi hanya menangis tidak berucap sepatah kata pun, dan juga tubuh mama semuanya kaku tidak ada yang pergerakan sama sekali," Jelas Bianco menatap dokter Rian.


Bianco menjelaskan pada dokter Rian sambil meminta dokter Rian untuk segera memeriksa Reka, Pria paruh baya itu yang mendengar penjelasan Bianco tanpa mendapat perintah dari Bianco dokter Rian mulai memeriksa suhu tubuh Reka dan mengecek detak jantung Reka. Dokter Rian meminta semua untuk menunggu di luar, agar Ia bisa meneliti apa yang terjadi pada Reka.


Bianco, Kira dan yang lainya mengikuti instruksi dokter Rian, saat di luar Kira sangat gugup dan ketakutan jari jemarinya di remas dengan sangat kuat Ia melangkah bolak balik dari pintu kamar Reka, Bianco yang menatap Kira dari tadi ingin menyampari wanita itu namun, ia masih menahan egonya. Entah mengapa Bianco seperti merasakan sesuatu yang mencurigai Kira namun ia masih menahannya.


Setelah 15 menit berlalu, Dokter Rian ke luar dengan wajah yang membuat pertanyaan banyak dari Bianco dan Kira.


"Apa yang terjadi pada mama dok?" tanya Bianco kwatir.

__ADS_1


"Nyonya besar mengalami kelumpuhan total... Dia terkena struk racun suntikan perusak saraf tubuh, suntikan itu sangat beracun dan suntikan itu hanya menghitung 10 menit saja maka semua saraf tubuh kita tidak akan berfungsi lagi."


"Apa....?" kaget Bianco.


"Lumpuh... " tanya Bianco tidak percaya.


Bianco bertanya pada Dokter Rian dengan sangat syok dan tidak percaya. Namun Dokter Rian kembali menjelaskan pada Bianco dengan penjelasan yang sama. Kira yang mendengar penjelasan dokter Rian langsung tersandar lemas di tembok, Kevin yang juga mendengarnya mengukir senyum menatap Kira sedangkan Avim memegang Bianco yang juga lemas saat mendengar kabar itu.


Dokter Rian menjelaskan bahwa tubuh Reka ada seseorang yang sengaja menyuntik tubuh Reka dengan suntikan beracun itu. Dan saran dokter pada Bianco untuk menyelidikinya. Bianco yang mendengar ucapan dokter sekejap menatap tajam Kira dengan tatapan yang tidak berkedip sedikit pun.


"Bukan aku yang suntik suntikan beracun itu....," ucap Kira.


Kira berucap dengan tangisan saat dirinya berlutut dan memohon di kaki Bianco. Ya Bianco yang tadinya menahan kecurigaan akhirnya ke luar juga unek-unek kecurigaanya itu. Bianco sangat menyangi kedua orang tuanya terutama mamanya. Dia memang lelaki yang bersifat dingin dan kasar namun ia adalah pria penyang keluarga.


Jika sesuatu terjadi pada kedua orang tuanya ia akan menyampingkan keegoanya dan menjadi pria yang penuh kasih sayang. Namun ia juga akan bersikap kejam jika hal buruk itu disebabkan orang lain. Bianco mencurigai Kira sebab semua bukti yang menyebabkan Reka lumpuh, semuanya tertuju pada Kira.


Rekaman cctv rumah dihapus, jika bukan orang dalam siapa yang berani menghapus rekaman cctv. Hal itu terjadi saat Avim mendapat perintah dari Bianco untuk mengecek rekaman cctv kemarin. Kira melihat ponselnya yang bergetar dan tiba-tiba ia langsung berlari ke kamar Reka.


Seakan ia mendapat sebuah pesan dari seseorang dan ia pergi untuk memastikanya benar atau tidak. Ia menjerit di kamar Reka, lagi dan lagi seperti semua hal yang terjadi pada Reka sudah direncanakan.


Itu semua benar. Aku adalah dalang dibalik kelumpuhan mama maafkan aku, batin Kira.


"Kenapa kamu diam?Jawab aku! apakah ucapanku benar?" tanya Bianco lagi.


"Beritahu aku. siapa yang memerintahmu!" jerita Bianco emosi.


Bianco menjerit dengan nada suara tinggi memenuhi ruangan kamar Reka. Dan suara itu juga bahkan terdengar sampai di lantai satu. Binco berucap dengan kedua tanganya memegang kuat bahu Kira hingga gadis itu merasa kesakitan namun hal tersebut tidak dipedulikan Bianco sama sekali.


Sepertinya Tuan muda benar-benar marah kali ini, batin Avim.


"Tuan. Aku rasa ini perlu dibicarakan baik-baik..."


"Diam..!"


Teriak Bianco menatap tajam Kira saat Avim mencoba menenangkan situasi panas ini. Namun belum selesai Avim melanjutkan ucapanya, segera di jeda oleh Bianco. Avim memang tahu betul seperti apa karakter Bianco hal yang paling ia benci adalah saat dirinya emosi dan ada yang mencoba menahan emosinya itu atau memotong perkataanya.

__ADS_1


"Jangan mencoba ikut campur Avim!"


Ucap Bianco penuh nada ketegasan dan tekanan pada nama Avim.


"Segera lacak dan periksa ponsel Kira dengan melacak nomor yang mengirim pesan padanya!" perintah Bianco.


"Baiklah Tuan."


Sahut Avim seadanya tanpa membantah ucapan tuan mudanya itu dan segera mengambil ponsel Kira di bawah lantai satu.


Di sisi lain Kevin ditugaskan Bianco untuk menghandeli semua tugasnya di perusahaan. Karena hari ini Bianco tidak bisa pergi ke kantor. Selain Kevin pak Sud pun diperintahkan oleh Bianco untuk melacak para pelayan siapa saja yang membantu nyonya muda saat memasak di dapur tadi pagi.


Bianco masih dengan sikap menatap tajam Kira, walau mulutnya berkata bahwa Kira adalah dalam dibalik kelumpuhan mamanya namun hati Bianco menolak pikirannya. Dan hati Bianco entah mengapa tidak ingin melukai gadis yang ada dihadapanya itu. Pikiran Bianco mengatakan bahwa Kiralah pelakunya namun hati kecil Bianco berkata lain, dan hal itulah yang membuat Bianco bingung dan bimbang.


Avim meraih ponsel Kira dari pak Sud yang memang sengaja diminta oleh Avim untuk mengambil ponsel itu di meja makan tempat dimana Kira meletakan ponselnya tadi pagi. Avim meminta Kira memasukkan kode kunci ponselnya. Kira menuruti ucapan Avim tanpa berdebat.


Avim mulai mengcek panggilan masuk pada nomor Kira dan dia tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan di sana, lalu Avim membukan semua pesan masuk di nomor Kira dan saat Avim melihat isi pesan masuk terakhir Avim kaget. Sambil menatap ke arah Reka, lalu Avim menatap sekilas Kira dan kembali menatap Bianco.


Ternyata tebakanku benar bahwa, nyonya besar yang mengririm pesan pada Kira, batin Avim saat membaca isi pesan dari Reka.


Avim melangkah menghampiri Bianco dengan tatapan lurus dengan banyak pikiran konyol di otaknya.


Sudah aku bilang bukan nona yang melumpuhkan Nyonya besar, tapi otak kudetmu itu tidak mempercayai ucapanku, dasar manusia alien, gumam Avim.


"Tuan muda silakan lihat saja isi pesan ini, itu adalah pesan terakhir hari ini di nomor nona muda," ucap Avim.


Avim berucap sambil menyerahkan ponsel Kira pada Bianco dengan tatapan yang membuat Bianco menatapnya serius.


Beraninya kamu menatap balik tatapanku, hanya karena membela gadis kura-kura itu, batin Bianco menatap Avim.


Bianco bergumam sambil menatap Avim dengan tatapan balas dendam sambil meraih ponsel dengan keras dari tangan Avim.


Bersambung.


Jangan lupa riview bab ini ya. dan semangati author agar aku bisa semangat dalam menulis.

__ADS_1


__ADS_2