
Menjelang eksekusi mati untuk Karin sebagai ketua Yzd pembunuh berantai yang kini sudah diumumkan jaksa agung ke seluruh media dan saat ini situs stasiun televisi, internet dan jurnalis semua membeberkan berita eksekusi mati untuk Karin pada sore hari pukul 04.00 wib.
Di dalam jeruji besi sana Karin ditemani seorang Imam rohani mendampingi diri Karin berdoa dan memohon ampun untuk segala dosanya.
Karin berlutut di atas tumpuan lantai menangis sudah pasti menyesal pun sudah jelas Gadis itu hanya pasrah menerima semuanya ini karena memang dia sudah banyak merenggut nyawa banyak orang yang tidak berdosa.
"Penghianatan..." Karin Berdiam.
"Perkataan mereka benar penyesalan adalah neraka bagimu..." bicara Karin dengan dirinya sendiri ketika Ia terus menyalakan diri untuk semuanya.
"Jangan terus menyalahkan diri kamu untuk apa yang sudah terjadi, anggaplah ini sebagai takdir jadi terima saja dengan ikhlas," ucap Imam rohani itu menenangkan Karin.
"Manusia hanyalah mahkluk ciptaan Tuhan yang dititipkan menjaga bumi jika sudah waktunya kita di panggil kembali maka jalan takdir pun akan datang," lanjut pimpinan rohani tersebut.
"Mungkin Jalan takdir kematian kamu seperti ini untuk Tuhan."
Karin yang mendengar ucapan tersebut hanya diam seribu kata hanya merenungkan nasibnya yang sebentar lagi akan di bawa ke lapas untuk dieksekusi mati.
Di tengah-tengah perbincangan singkat Karin tiba-tiba datanglah Jessy dengan anak buahnya menjenguk Karin yang ada di jeruji besi.
"Sudah pernah aku bilang jangan melawan atau mengkhianati aku maka kamu tidak akan mendapat masalah seperti ini," ucap Jessy ketika menghampiri Karin di jeruji besi.
Karin yang mendengar ucapan Jessy bangkit berdiri sambil memutar tubuhnya menatap Jessy dengan tatapan tajam.
"Untuk apa kamu ke sini?" tanya Karin datar.
"Aku datang untuk melihat dan mengantar jenazah kamu, sama seperti yang aku lakukan untuk kedua orang tuamu," jawab Jessy santai.
"Aku tidak butuh orang seperti kamu!" seru Karin emosi.
"Lagian suka tidak suka hanya aku satu-satunya orang yang mengunjungi kamu, ahh... benar apa kamu pikir Kakakmu akan datang? Bahkan bagaimana rasanya saat Dia tahu kamu adalah ketua dari pembunuh yang selama ini dicarinya."
"Walau tidak ada kakak aku, aku tidak butuh mayat aku diurus oleh kamu, lebih Baik Mayat aku busuk di sini dibandingkan harus kamu yang mengurusnya." Tatap Kira tajam.
Jessy yang mendengar ucapan Karin tersenyum manis penuh arti. Sedangkan Karin yang melihat senyuman Jessy semakin mengeraskan rahangnya dan memegang kuat pada jeruji besi tanpa kedipan sedikit pun.
"Begitu. Baiklah kita lihat saja akhirnya seperti apa," senyum lebar Jessy lalu kembali memakai kacamata hitamnya dan melangkah pergi meninggalkan Karin.
Yang langsung dikuti keempat bodyguardnya dari belakang. Sedangkan Karin yang melihat aksi Jessy menatap tajam seperti silet tajam.
__ADS_1
*****
"Karin... Karin..." panggil Kira ketika dirinya Sadar.
Avin yang mendengar suara Kira ketika dirinya duduk menunggu Kira di dalam ruang rawat inap Kira.
"Nona..." panggil Avim menghampiri Kira.
"Syukurlah nona sadar, tunggu sebentar aku panggil dokter Dul..." ucapan Avin terhenti ketika Kira memegang tangan Avin sambil memaksakan dirinya untuk bangun dari tidurnya.
"Aku baik-baik saja. Kita harus menemui Karin ak..."
"Karin baik-baik saja Kevin sudah pergi melihatnya kata Kevin Dia akan kabari jika hal buruk terjadi," jelas Avin menenangkan Kira.
"Tapi aku harus pergi melihat kondisi Karin jika sesuatu terjadi pada Karin aku tidak akan memaafkan diriku, kamu tahu itu," seru Kira keras kepala.
Di tengah-tengah perbincangan Kira dan Avin dokter yang menangani Kira dan seorang suster masuk ke dalam untuk memeriksa keadaan Kira.
"Syukurlah anda sudah sadar, itu artinya anda sudah melewati masa kritis anda," ucap dokter sambil memeriksa keadaan Kira.
Kira yang mendengar ucapan dokter sedikit mengerutkan dahinya tidak mengerti akan ucapan dokter tersebut.
"Kritis? Apa kondisi aku sangat kritis?" tanya Kira sambil melempar pandangan kebingungan pada Avim sebentar lalu kembali menatap serius dokter.
Namun, Avim menghiraukan panggilan tersebut untuk menghentikan ucapan dokter pada Kira.
"Apa anda belum diberitahu oleh suami anda ..."
"Suami? Maaf dokter Dia adalah sekertaris suami saya," seru Kira memotong ucapan Dokter tersebut yang salah paham akan Avim.
"Ohh begitu. Maaf." Menatap dalam Kira.
"Anda sebenarnya mengalami ..." ucapan dokter kembali terputus.
"Dok. Biar saya nanti yang beritahu nona muda, terimakasih untuk perhatian dokter," ucap Avim saat memegang lengan dokter wanita tersebut.
Sedangkan Kira yang semakin bingung akan apa yang terjadi pada dirinya mengerutkan dahinya menatap gonta ganti Avim dan dokter.
Dokter yang mendengar ucapan Avim menganggukkan kepalanya memahami ucapan Avim tersebut, Lalu Ia melangkah pergi sambil memegang sebentar bahu Kira seperti memberikan kekuatan untuk Kira.
__ADS_1
"Avim apa ada yang kamu sembunyikan dari aku?" tanya Kira menatap Avim serius.
Avim diam tidak berucap sepatah katapun Ia menghiraukan ucapan Kira, menarik nafas dalam-dalam melihat sembarang tempat karena Kevin belum siap untuk memberitahu Kira apa yang terjadi.
"Kavin!" panggil Kira lagi.
"Apa yang terjadi? Jika kamu tidak beritahu aku biarkan aku tanyakan pada..." suar Kita terputus.
"Bayi nyonya muda..." suara Avim terhenti ketika Ia mencela ucapan Kira.
Avim menarik nafas dalam-dalam.
"Bayi? Ada apa dengan bayi aku?" Tatap Kira serius.
"Dia baik-baik saja bukan? AVIM JAWAB!!!" jerit Kira dengan tatapan yang sudah berkaca-kaca.
Kira seolah mengerti akan ucapan Avim sekujur tubuhnya melemas masih berharap bukan hal buruk yang terjadi, Gadis itu menyentuh perutnya yang rata tetesan bening mengalir los saja dari sana.
"Maafkan saya nona," ucap Avim menyesal.
"Apa?" Kenapa kamu meminta maaf?" Katakan yang sebenarnya Vim..."
"Dia tidak selamat, nona keguguran..." lanjut Avim tidak mampu menatap mata Kira.
"APA?" ucap Kira dengan pikiran kosong.
"Itu tidak mungkin... Hiks..." tangsi Kira pecah.
Kira memukul dadanya lalu memegang perutnya yang rata penuh rasa bersalah.
"KARIN SUDAH DIEKSEKUSI MATI!!!" suara Kevin tiba-tiba saja saat Ia membuka pintu rawat inap Kira dengan nafas tersengal.
Seketika tangis Kira terhenti menatap kosong pada Kevin. Entah apa yang terjadi pada dirinya Kira seolah merasa ia sulit bernafas kini air mata mengalir tanpa suara dengan tatapan kosong pada arah Kevin.
"Apa maksudmu Kevin?" tanya Avim emosi.
"Apa kamu tidak lihat situasi? Mengapa berucap sesuatu yang tidak masuk ak.."
"Maaf. Aku tidak bermaksud seperti itu, tadi aku menelpon dirimu tapi kamu tidak angkat makanya aku datang memberitahu tapi aku tidak bermaksud seperti ini," jelas Kevin merasa bersalah.
__ADS_1
"Karin!" lirih Kira lemas.
Bersambung.