
"Karin..." panggil Kira.
Kira memanggil nama Karin ketika dirinya yang masih mengenakan baju pasien rumah sakit sudah sampai di kantor polisi.
Di sana Kira tidak melihat sosok Karin yang Ia lihat hanyalah seorang Imam rohani yang sedang duduk menunggu di ruang tunggu tempat di mana Karin dieksekusi mati.
"Bu di mana tahanan yang akan dieksekusi mati?" tanya Kevin cemas.
Kevin bertanya pada salah satu polisi yang bertugas menjaga di depan pintu tempat Karin dieksekusi mati.
"Semua sudah selesai tahanan itu telah dieksekusi 15 menit yang lalu, sekarang mayatnya sedang dikremasi untuk diserahkan pada keluarga untuk dimakamkan," jelas polisi tersebut.
"Apa?" Kaget Kira.
Kira yang mendengar ucapan polisi itu terjatuh lemas di bawah lantai dengan tatapan kosong lurus ke depan, semuanya telah hancur bagaikan debu yang tidak berkeping.
Mata yang sembab dengan butiran kembali mengalir dengan los membasahi pipinya entah apa yang akan dilakukan dirinya yang jelas saat ini Kira berada di titik yang benar-benar jatuh sangat jatuh.
"Nona apa anda baik-baik saja tanya Avim khawatir.
Avim yang masih setia menemani Kira menguatkan wanita yang sebelumnya merupakan wanita paling dicintai oleh bosnya.
Baru kali ini Avim melihat tatapan Kira seperti tidak ada tanda kehidupan di sana, sedangkan Kevin menangis tanpa suara dengan terus melukai dirinya di tembok tanpa takut akan apa yang Ia lakukan.
Di tengah-tengah kesedihan mereka semua datanglah seorang Imam rohani yang sebelumnya menemani Karin untuk kembali ke jalan Tuhan sebelum diri Karin dieksekusi mati.
Pria itu melangkah menghampiri Karin sambil duduk berjongkok tubuhnya dengan menatap sedih Kira sambil memberi sebuah kantong dimana kantong itu merupakan pakaian tahanan Karin terakhir sebelum Dirinya di eksekusi mati.
"Apa anda bernama Kira?" tanya Imam rohani tersebut.
Kira menatap wajah Imam rohani itu dengan ekspresi pertanyaan Siapa Dia.
"Saya adalah Imam rohani yang menemani saudara anda, Karin bukan namanya? sebelum Dia dihantarkan pada hukuman mati," jelas Imam rohani.
Entahlah dipikiran Kira saat ini hanya Karin dan buah hatinya yang baru saja keguguran, rasanya saat ini Dia sudah sulit bernapas karena semua terasa sesak di dadanya.
Imam Rohani itu menjelaskan dengan menatap dalam sambil tersenyum ramah sedangkan Kira hanya bisa menatap dengan tatapan kosong tanpa berucap sepatah kata pun.
"Sebelum Dia berangkat ke tempat terakhirnya Dia sudah berpesan untuk memberikan ini pada anda."
" Dia juga menulis sebuah surat terakhir untuk kamu, katanya berikan pakaian Dia semuanya serta surat ini pada kakaknya yang bernama Shakira Chandi."
"Saya harap kamu tetap kuat dan balaslah kematian tidak adil adikmu ini untuk sebuah keadilan yang benar, terkadang kita harus menjadi monster untuk membasmi satu kebaikan demi seribu kejahatan." Senyum Imam rohani itu.
Setelah memberitahu Kira Imam rohani itu melangkah pergi meninggalkan Kira, Gadis malang itu masih belum merespon apa pun yang diucapkan Imam rohani tersebut Ia hanya mengelus lembut plastik yang diberikan oleh Imam rohani menatap dengan penuh tangisan sambil mentes air mata hingga butiran bening itu kembali membasahi plastik hitam yang dipegang oleh Kira.
Aku capek. Aku sangat capek Tuhan
batin Kira dalam diam.
Tetesan demi tetesan bening membasahi wajah Kira rasa sakit yang sebelumnya menyakitkan dirinya karena kehilangan anaknya kini Ia harus menerima pahitnya kenyataan bahwa Adik yang satu-satunya keluarga yang Ia miliki sudah tidak ada.
Ia rela mengorbankan kesuciannya demi sang adik, rela menjadi budak hanya untuk menyelamatkan nyawa Karin namun, semua kini berakhir dengan tidak wajar, bahkan saat di dalam jeruji besi di titik Ia sangat membutuhkan sosok yang dicintainya malah Ia mendengar kabar Pria yang Ia cintai itu sudah menikah dan menceraikan dirinya.
Di tengah-tengah kehancuran Kira yang meratapi kepergian dua orang penting dalam hidupnya datanglah peti mayat yang sudah ditutup rapat sedang digotong oleh empat polisi Pria sambil melangkah menghampiri Kira.
__ADS_1
"Karin!"
"kamu dengar kakak tidak? Kenapa ditutup? Adik saya masih hidup. Buka? Buka..? Apa anda tuli?" teriak Kira.
Kira menangis dengan mengatakan kata kasar tanpa rasa bersalah Gadis itu benar-benar hancur di garis akhirnya.
"Nona muda..." panggil Avim tidak kuasa menahan air mata melihat kehancuran Kira.
Avim menahan Kira dengan berusaha untuk mengatakan pada Kira bahwa Karin sudah tidak ada.
"Lepas Avim! Tidak Karin masih hidup kamu tidak tahu betapa kuatnya Karin hiks...." tangis Kira pecah memukul-mukul pundak Avim.
"Karin...!" teriak Kira histeris.
Kira menangis dengan keras menghadapi situasi yang benar-benar kejam untuknya hari ini, di tengah-tengah tangisan kehilangan Kira akan kepergian Karin datanglah Jessy bersama para bodyguard menghampiri Kira, Kevin dan Avim.
"Cup... cup..." ledek Jessy.
"Seandainya kamu tidak mengacaukan rencana aku dan melawan aku mungkin semua tidak akan berakhir seperti ini, kematian Karin itu adalah kebodohan kamu sendiri Kira jangan salahkan siapa pun." Tatap Jessy tajam.
Jessy berucap sambil menatap Kira tajam melangkah mendekat ke tubuh Kira dengan mendekati bibirnya di telinga Kira, di mana saat itu Kira yang menyeka air matanya menatap tidak suka dengan Jessy tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
"Aku turut berduka akan kepergian Karin jangan salahkan siapa pun kecuali dirimu yang bodoh itu," Lanjut Jessy.
Jessy tersenyum manis di samping telinga Kira saat Ia ingin kembali memakai kacamata untuk menjauhkan dirinya dari tubuh Kira tiba-tiba saja tangan Kira menjambak rambut Jessy dengan keras penuh dengan wajah yang sangat marah.
akhhh...
"Sakit..." kaget Jessy.
"Masih berani kamu bilang aku bodoh setelah semua yang kamu lakukan!!!" teriak Kira keras
Kira berteriak dengan penuh amarah hingga suaranya bergema di seluruh kantor polisi saat itu juga.
"Dengar baik-baik semua ini salahmu keluarga aku hancur karena kamu seandainya bukan karena Karin aku tidak akan menjadi seorang budak hanya untuk balas dendam cinta butamu itu!"
"Hancurnya diriku sebagai seorang wanita itu semua karen kamu Jessy! Karena keegoisan kamu keluarga kakamu hingga anaknya semua hancur!!!!" teriak Kira.
Kira menjerit dan kembali menarik rambut Jessy. Wanita kejam itu bukanya merasa bersalah atau meminta maaf Dia malah tertawa dengan keras hingga suara tawanya bergema di mana-mana saat melihat ekspresi wajah Kira yang penuh amarah itu.
Para polisi yang melihat keributan di kantor polisi berusaha untuk melerai tapi tidak bisa karena amarah Kira pada Jessy begitu memuncak hingga polisi pun tidak bisa dan mampu menangani pertengkaran mereka.
Tidak lama kemudian datanglah dua bodyguard yang ingin memisahkan Kira dari Jessy namun, secepatnya Avim melerai Kira dari tubuh Jessy.
"Bisa-bisanya kamu tertawa sekencang itu Jessy!" Heran Kira tidak percaya.
"Kamu marah?"
"Aku suka dengan ekspresi wajah marah itu yang penuh tatapan kehancuran dalam diri kamu Shakira Chandi!!!"
Hahahaha....
"Sudah aku bilang jangan coba-coba bermain dengan aku jika kamu masih ingin hidup tenang!" ancam Jessy tanpa rasa bersalah.
"Aku tidak akan pernah takut dengan kamu Jessy! Ini terakhir kalinya aku pastikan kamu akan alami hal yang lebih kejam dari kematian Karin!" Ancam balik Kira tidak takut sedikitpun.
__ADS_1
"Tunggu dan lihat saja," seru Kira dengan suara lembut namun menyimpan banyak arti.
Hahahaha.....
tawa ledek Jessy lagi.
"Aku tunggu balas dendam kamu ponaan tercinta," Jawab Jessy santai.
Jessy menjawab santai ucapannya pada Kira sambil merapikan rambutnya yang berantakan akibat jambak Kira tadi, lalu Ia memakai kacamata hitamnya sambil menghampiri peti Karin lalu membungkuk tubuhnya sedikit ke bawa dengan tersenyum lebar.
"Kematian kamu adalah kesalahan kamu setidaknya itulah kenyataannya," ucap Jessy dengan memutar kakinya dan pergi meninggalkan Kira dengan peti mati adiknya itu.
Kira yang mendengar ucapan Jessy menahan sesak dan emosi dengan meremas tangannya kuat di bawah sana matanya berkaca-kaca dengan penuh tatapan tajam melihat punggung Jessy yang sedang melangkah pergi itu.
Tidak lama Kira jatuh lemas di bawah kaki peti Karin dengan menangis sejadi-jadinya semua orang yang melihat tangisan Kira menahan air mata bahkan para polisi yang ada di sana mata mereka semua berkaca-kaca.
Ia berusaha menjadi wanita yang tegar di hadapan Jessy pada hal tidak sama sekali bahkan Ia membenci dirinya yang harus menangis 😠dihadapan Jessy seperti ini, bukan ini yang Kira inginkan sungguh Gadis malang itu sangat hancur hari itu.
Kakinya ingin berdiri di atas semua ini, seperti berjalan di atas es tanpa ada cairan sedikit pun.
"Karin! hiks...!"
ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜
Kira melangkah dengan tatapan kosong tatapan yang tidak ada tanda kehidupan di sana sama sekali sambil melihat lurus dengan mata yang sembab dan sendu.
di tengah-tengah Kira yang melangkah berusaha menguatkan dirinya di sanalah datang Bianco yang menatap dalam Kira, Pria itu menghampiri Kira namun, tatapan Kira padanya bukanlah tatapan cinta melainkan tatapan benci.
"Kira!" panggil Bianco pelan.
"Kau! Pergilah!" suara Kira menatap tajam Bianco.
"Kira!" panggil Bianco lagi mengabaikan ucapan Kira.
" Kau Sudah tidak punyak hak untuk memanggil nama aku!" Tatap Kira tajam.
Sontak ucapan Kira mengagetkan Bianco dan Avim, Bianco yang ingin berbicara baik-baik dengan Kira untuk menebus semua kesalahannya namun, sama sekali tidak digubris oleh Kira.
Bianco mencoba menggenggam tangan Kira dengan tatapan penuh kebencian Kira secepatnya menghempaskan tangan Bianco tanpa mengeluarkan sepatah katapun, dari tatapannya saja sudah menjelaskan semuanya.
"Melihat wajahmu saja sudah tidak sudi bagiku lagi!" Tatap Kira tajam.
"Penghianat!" ucap Kira benci dengan mata berkaca-kaca.
Kira melangkah pergi meninggalkan Bianco saat Pria itu mencoba untuk menahan Kira lagi namun, kembali terhalang oleh Avim.
"Jangan menghala..." suara Bianco terputus.
"Semua ini karena kamu, kematian Karin dan bayi Kira adalah kebodohan anda yang tidak percaya pada istri Anda sendiri."
Avim pun berlalu meninggalkan Bianco yang bingung akan maksud ucapan Avim.
"Bayi! Apa maksudmu Avim?" jerit Bianco meminta penjelasan Avim.
Namun teriakan Bianco sama sekali tidak dipedulikan Avim.
__ADS_1
Bersambung.