
Sudah dua minggu lebih Avim menjalin hubungan palsu pacaran dengan Kinta. Setelah Kinta yang mengakui semua kesalahanya pada kedua orang tuanya. Gadis itu disambut tangisan oleh orang tuanya saat mendengar pengakuan Kinta bahwa ia hampir ingin bunuh diri.
Gadis itu pun berlutut dan bersujud minta maaf di kaki mama dengan papanya. Namun kedua orang tua Kinta ikut berlutut dan memeluk tubuh anak satu-satu itu. Tangisan pun silih berganti satu sama lain.
Perjanjian pacaran pura-pura mereka selama sebulan. Dan kini mereka sudah masuk dalam dua minggu hubungan sandiwara itu. Avim yang baru pulang dari rumah Bianco langsung kembali ke rumahnya. Di sana Avim tidak sadar bahwa Kinta sudah memasak makan malam dari rumah untuk Avim.
Walau perut Kinta mulai terlihat namun gadis itu tetap cantik dan bersinar. Ia sama sekali tidak peduli akan pendapat orang tentang dirinya karena bagi Kinta kepercayaan kedua orang tuanya sudah lebih dari cukup.
Avim yang sudah sampai di lobi apertemennya tidak lupa ia memarkir mobilnya di parkiran mobil. Lalu Avim pun mulai melangkah masuk ke lift dan segera ke apertemenya.
Kinta yang sedang menunggu kedatangan Avim di depan pintu apertemen pria itu yang mengukir senyumnya saat melihat sosok yang ia tunggu dari tadi sudah muncul dari kejauhan sana.
"Kinta...!" Panggil Avim dengan sedikit kaget melihat Kinta yang sedang memegang rantang makanan dan menungunya di depan pintu apertemen.
Avim menyebut nama Kinta ketika ia yang baru ke luar dari pintu lift tepat di hadapan Kintak walau dari jarak yang sedikit jauh.
"Hai...maaf jika aku datang tidak kabari kamu. Tadi aku dan mama membuat masakan sop iga kebetulan aku ingat kamu pernah bilang menyukai sop iga makanya aku bawa sedikit untukmu," jelas Kinta.
Kinta berucap sambil menatap polos Avim yang sedang menatapnya dengan dalam sambil mengukir senyuman di sudut bibirnya.
"Tidak apa-apa justru aku bahagia. Kamu ke sini karena kebetulan aku juga belum sempat makan malam karena tadi urusan di kantor sangat banyak," papar Avim.
Mereka saling bercakap satu sama lain. Lalu Avim membuka pintu apertemenya dan mempersilakan Kinta untuk masuk ke dalam. Setelah Kinta masuk pria itu kembali menutup pintunya sambil mengukir senyuman pada Kinta yang masih berdiri mematung di ruang apertemen keluarga.
__ADS_1
"Kenapa masih diam di sana? Duduk gih di sofa. Angap saja ini rumahmu," jawab Avim mempersilakan Kinta untuk duduk.
Kira yang mendengar ucapan Avim tersenyum tipis lalu ia mulai duduk di sofa yang ada di ruang tamu itu. Sedangkan Avim pria itu pergi ke kamar mandi mencuci tangan. Kinta kembali bangkit berdiri melangkah mendekati meja makan. Ia mengambil piring, sendok dan garpu untuk menyiapkan di meja makan. Tidak lupa Kinta mengambil nasi dari reskuker yang sudah matang dan menyiapkanya di meja makan ala kadarnya saja.
Avim yang mencuci tangan akhirnya langsung membersihkan tubuhnya di kamar mandi sekalian. Sedangkan di luar Kinta sudah menyiapkan makan malam untuk Avim dan dirinya.
Setelah mandi Avim pun keluar dengan kaos putih bertulis i love Kalifornia dan celana hitam dengan rambut yang agak basah karena ia habis keramas. Avim kaget melihat Kinta yang sudah duduk menungunya di meja makan dan sedang mengukir senyuman pada Avim.
Deg...
Deg...
Detak jantung Avim berputar lebih cepat dari biasanya. Entah mengapa keringat halus di tangan Avim. Ia berusaha mengontrol emosinya sambil membalas senyuman Kinta.
"Kamu sudah selesai mandi? Ayo makan bersama aku sudah menyiapkanya," pinta Kinta menatap dalam Avim.
Sial ada apa sebenarnya dengan diri aku? Ini jantung juga mengapa pake acara berdetak sekencang ini? Bikin aku grogi lagi di depan Kinta. Benar-benar ya ini jantung untung kamu organ tubuh kalo manusia sudah aku jitak palamu, batin Avim.
Avim bergumam dalam hati sambil tersenyum paksa di hadapan Kinta. Sebenarnya selama menjalin hubungan palsu dengan Avim. Kinta ingin membuat hari-hari Avim saat bersamanya menjadi kenangan indah tersendiri bagi pria itu. Walau ia tahu bahwa hubungan mereka hanya sebatas sandiwara belaka.
Kinta akui bahwa ia sangat menyukai Avim sejak seminggu yang lalu. Di mana Avim yang merendahkan harga diri Sagas dan Rani ketika menghina Kinta di hadapan semua orang. Saat itu Avim mengengam tangan Kinta dengan erat dan berkata pada Sagas dengan nada tegas.
"Mungkin bagimu dia wanita hina itu adalah dirimu. Tidak dengan aku Kinta adalah gadis yang pantas mendapatkan pria lebih baik darimu."
__ADS_1
"Aku berterimakasih padamu karena berkatmu aku bisa memiliki Kinta dengan seutuhnya. Tidak peduli siapa ayah dari anak yang dikandungnya aku akan tetap menjaganya," cakap Avim.
Avim berucap dengan nada sindir, tegas tapi santai dan Dia membawa Kinta pergi dari hadapan Sagas, Rani dan seribu mata yang saat itu melihatnya. Rani yang melihat aksi Avim meremas jari-jemarinya dengan sangat kuat sambil menatap tajam punggung belakang Kinta dan Avim yang mulai menghilang dari tatapan mereka.
Sejak saat itu Kinta berjanji pada dirinya untuk menikmati semua momen selama sebulan bersama dengan Avim. Ia berjanji tidak akan mengungkapkan isi hatinya pada Avim sampai akhir perjanjian mereka.
Kembali ke cerita semula.
Avim dan Kinta yang mulai makan bersama tanpa berucap sepatah kata pun. Hanya bunyi sendok dan garpu yang menemani kebisingan mereka.
"Sop iganya benar-benar enak. Sudah lama aku tidak makan sop ini," puji Avim.
Avim memuji makanan Kinta selesai ia menghabisi makanan tersebut. Kinta tersenyum bahagia saat mendengar ucapan Avim. Ia tidak menyangka bahwa Avim menyukai makananya.
Andai saja kita benaran pacaran maka aku pasti sudah memeluk dirimu dengan erat. Tapi aku sadar kamu adalah pria normal yang pasti kamu ingin menjalin kasih dengan wanita yang sederajat dengan dirimu. Mendengar ucapanmu itu saja sudah membuat aku bahagia, batin Kinta.
Kinta bergumam dalam hati sambil tersenyum tulus pada Avim. Ia tidak menyangka bahwa ia jatuh cinta pada pria yang saat ini sedang duduk manis di hadapanya itu.
****
Bianco yang saat itu sedang berdiri menatap langit-langit malam dari jendela balkon kamar dengan kedua tanganya disembunyikan di dalam saku celananya. Rembulan malam membuat Bianco kembali terbayang dengan memory masa lalu bersama ayahnya. Ada luka di dalam sana namun ia menahan luka itu dia tidak mau membuat wanita yang sangat ia cintai itu cemas dengan dirinya.
Saat Bianco yang sedang menatap dalam bulan dan bintang-bintang di langit. Tiba-tiba ia merasakan sesuatu yang sedang memeluknya di bawah sana. Kira yang sudah habis mandi datang dan memeluk Bianco dari belakang. Tanganya dilingkarkan dengan erat di perut Bianco dan kepalanya di sandarkan di belakang suaminya.
__ADS_1
"Jangan menangung masalahmu sendiri. Dan jangan berpura-pura baik-baik saja di hadapan aku karena aku tahu kamu tidak baik- baik saja," ucap Kira saat memeluk Bianco.
Bersambung.