
"Berani sekali dia mengancam aku. Sejak kapan seorang Jessy diancam sama bocah ingusan itu!" Tatap tajam Jessy ketika membaca isi pesan dari Kira.
Jessy yang emosi memberantakan semua barang-barang yang ada di atas meja. Dan kedua tanganya membanting keras di meja dengan emosi yang membara.
Di sisi lain Saskia yang saat itu datang melaporkan rencana untuk membunuh Avim sudah siap kini tinggal mereka menjalankanya saja. Namun saat ada di depan pintu ruang pribadi Jessy ia menghentikan niatnya dan langkahan kakinya ketika mendengar keributan di dalam ruangaan Jessy. Lalu ia berdiri lama di depan pintu tersebut sambil memasang kupingnya di pintu mendengarkan amarah Jessy.
"Biarkan Kira masuk saat dia datag jangan menghalangi jalanya!" Perintah Jessy pada para bodyguardnya yang di luar lewat benda pipi yang ada di telinganya.
"Jadi Kira akan ke sini? Ini kesempatan aku untuk membongkar siapa Karin sebenarnya. Ahhh ini keutungan aku," bisik Saskia tersenyum licik di depan pintu pribadi ruang kerja Jessy.
40 menit menempuh perjalananya. Akhirnya Kira pun sampai di tempat menetapnya Jessy. Dengan emosi yang membara gadis itu memarkir mobil di garansi besar depan rumah Jessy. Lalu ia mulai turun dari mobil dan Kira melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam rumah Jessy dengan tatapan tajam pada rumah besar Jessy yang bagaikan istana megah itu. Walau lebih besar rumah Bianco.
Para satpam dan bodyguard Jessy di mana-mana namun mereka tidak menghalagi jalan Kira. Karena mereka sudah diberitahu oleh Jessy bahwa ada klien istimewanya akan datang jadi tidak perlu menghalangi jalanya.
Kira yang melangkah dengan penuh emosi dan tatapan tajam hingga sampai di depan pintu ia pun lansung menerobos masuk untuk berteriak memangil nama Jessy di lantai satu.
"Jessy...keluar kamu! Jangan hanya bisa melakukan hal sesuka hatimu...!" Panggil Kira dengan nada tinggi hingga urat besar pada lehernya muncul ke permukaan.
Saskia yang bersembunyi di pojokan lorong tembok tersenyum licik sambil merekam vidio menggunakan ponselnya.
Ini sangat seru untuk jadi pertontonan karena selama ini Kira tidak pernah seberani ini pada Jessy. Apalagi cara dia memangil nama Jessy itu sudah jelas dia tidak takut lagi dengan Jessy. Mari kita lihat seperti apa reaksi Kira saat tahu bahwa adik yang selama ini ia lindungi merupakan seorang pembunuh
Saskia berbisik dalam hati sambil terus merekam viduo pertengkaran antara Jessy dan Kira. Sebelum merekam Vidio Saskia memberi pesan pada Karin bahwa Jessy meminta datang ke rumah setelah melakukan misi korban pembunuhan ketiga yang saat ini sedang dikerjakan oleh Karin dengan anak buahnya Yzd.
"Berani sekali kamu datang dan membuat kekacauan di rumah aku!" Cibir Jessy yang mulai menuruni anakan tangga satu persatu dengan sorot mata tajam sambil menuju lantai satu dengan santai.
"Mengapa kamu melakukan hal itu. Mengapa kamu tega membunuh papa mertua aku tanpa berkompromi dengan aku?" Tanya Kira menatap tajam Jessy.
"Tugasmu hanyalah memberitahu aku gerak-gerik di rumah itu bukan menjadi bos atau seorang yang penting dalam misi ini."
"Apa...?" Pekik Kira bingung.
__ADS_1
Kira bertanya dengan mengerutkan dahinya sambil menatap Jessy.
"Kira jangan karena kamu bertugas sebagai kaki tangan aku jadi kamu seenaknya ikut campur semua misi aku," ungkap Jessy yang mulai duduk santai di kursi sofanya yang sangat mewah dan kakinya yang satu disilangkan di atas tumpukan kaki yang lain.
"Lalu aku harus diam menyaksikan kejahatanmu? Aku harus diam ketika kamu terus saja menghabisi nyawa orang-orang yang sangat disayangi oleh seseorang yang spesial dalam hidup aku... apa kau harus begitu."
"Siapa dirimu yang selalu saja mengancurkan kehidupan aku...!" Jerit emosi Kira.
Kira yang menjerit dengan nada tinggi penuh emosi dan penekanan sambil menatap tajam Jessy, Lalu kembali melanjutkan ucapanya.
"Dan kali ini hal Itu tidak akan terjadi lagi akan aku bongkar kejahatanmu Jessy!" Ancam Kira dengan sorot matanya yang emosi dan tergenang air di sana.
"Jangan mengancam aku Sakira...!" Lempar vas bunga dengan kasar ke hadapan Kira hingga pecah vas bunga indah itu. Berarakan beling di bawah lantai dekat kaki Kira.
Prakk.... jatuhnya vas bunga di lantai.
Jessy yang melempar vad bunga di hadapan Kira untuk mengeretak gadis agar bisa membuat ia ketakutan tapi sayang tidak ada ketakutan dalam diri Kira.
"Ingat nyawa adikmu bersama aku Kira. Apa kamu tidak peduli dengan Karin?" Tanya Jessy bernada licik.
"Aku akan selamatkan adik aku darimu makanya aku datang tidak dengan tangan kosong untuk menghabisi nyawamu....!" Jerit Kira yang menodongkan pistol yang tadi sempat diambil oleh Kira dari perutnya lalu Kira menodongkanya pistol tersebut di tanganya pada Jessy.
Para pengawal Jessy yang melihat aksi berbahaya yang bisa membahayakan nyawa Jessy segera menodongkan pistol juga pada Kira dari belakang.
"Hahahaha....wao..plak... plak..." tawa Jessy sambil menepuk-nepuk tanganya dengan tawa yang keras.
Jessy tertawa dengan santai sambil melangkah menghampiri Kira.
"Dari mana kamu mendapatkan keberani ini Kira. Jangan bilang kamu jatuh cinta pada Bianco?" Tukas Jessy menatap tajam Kira.
Jessy berucap pada Kira dengan tatapan yang tajam dan kini ia berdiri di hadapan Kira yang hanya berjarak 5 jengkal saja dari Kira.
__ADS_1
"Jika aku benar-benar jatuh cinta pada Bianco apa yang mau kamu lakukan wanita ular?" Jawab Kira berani menatap emosi Jessy.
Kira menjawab ucapan Jessy dengan masih monodongkan pistol ke hadapan Jessy tanpa rasa takut. Bagi Kira dia sudah siap jika harus mati di tangan Jessy.
Di tengah-tengah pertengkaran yang panas itu. Di saat bersamaan Karin datang dengan memegang pistol dan ada noda dari di seluruh tubuhnya yaitu di wajah, jaket hitam yang ia kenakan dan tanganya. Noda darah itu tidak lain adalah noda darah orang yang baru habis dihabisi nyawanya oleh Karin.
Kira tidak tahu kalo saat ini Karin ada di belakangnya. Jessy yang melihat munculnya Karin sedikit terkejut namun ia mengukir senyuman di bibirnya karena sebuah keberuntungan bagi Jessy untuk memfitnah Kira di hadapan adiknya.
"Hahhaha... tentu saja apa yang bisa aku lakukan? Jika kamu sudah jatuh cinta padanya."
"Kamu tega meningalkan adikmu dengan kondisi sekarat lalu demi seorang pria kaya kamu meningalkanya. Sunguh malang nasib adikmu," sindir Jessy tersenyum licik dengan alis sedikit diangkat.
"Apa...?" Kenapa kamu membalikkan fakta? Kamu yang meminta aku melakukah ini semua demi keselamatan adik aku dan sekarang kamu menyalahkan aku wanita iblis?" Pekik Kira emosi.
"Aku tidak pernah mengatakan hal itu Sakira...hiks kamu sendiri yang menginkanya...hiks.." tangis air mata palsu Jessy.
Jessy yang berpura-pura menangis sambil menghapus air matanya. Namun bibirnya sedang menarik senyuman tipis di bibirnya. Kira yang bingung akan sikap Jessy namun dengan emosi ia menatap tajam pada Jessy ia menongkak gigi-giginya dengan kuat di dalam sana hingga tulang pipihnya berbentuk. Lalu Kira yang tadi rencanya mendaratkan satu tembakan pistol pada Jessy tiba-tiba kaget lagi dan niatnya terhenti saat Jessy menyebut nama Karin.
" Karin....!" Panggil Jessy sengaja kaget.
Kira yang mendengar nama yang disebut Jessy melemas tiba-tiba. Matanya terbuka lebar dengan sangat syok. Air mata tergenang di kedua bola matanya.
"Apa...?" Kaget Kira.
"Karin sayang mengapa kamu ke sini?" Tanya Jessy dengan nada halus menatap Karin yang ada di belakang Kira.
Kira yang mendengar nama Karin lagi dengan cepat memutar tubuhnya menatap sosok yang sangat ia rindukan setahun itu. Orang membuat dirinya harus terjebak dalam balas dendam Jessy hanya demi menyematkan nyawa sang adik.
"Karin...!" Lirih Kira seketika air mata los jatuh dari bola matanya saat menatap Karin.
Bersambung.
__ADS_1