
"Kamu mau apa sebenarnya? Aku sedang mengandung anakmu. apa kamu tahu itu?" Papar Kira yang sudah emosi akan sikap Bianco yang tidak ada alasan sama sekali bagi Kira.
"Anak?"
hahahaha..
Tawa Bianco ledek.
"Hei itu bukan anak aku. Itu anak orang lain entah siapa dia aku pun tidak tahu."
"Apa maksudmu Bianco...? Ini anak..." suara Kira terputus.
"Dia bukan anak aku, Kamu saja menikah dengan aku sudah tidak suci lagi bagaimana mungkin kamu bilang itu anak aku. Entah berapa banyak pria yang kamu tiduri sebelum menikah dengan aku.." hina Bianco dengan senyuman dan sikap santai pada Kira namun hatinya hancur bagaikan pecahan kaca.
Bianco menggusar kepalanya yang tidak gatal dengan banyak penyesalan dalam dirinya.
Ia kembali mengingat memory lama akan ucapan Dia beberapa bulan yang lalu di mana dirinya yang sama sekali tidak mempercayai Kira hingga Gadis itu mengandung anak mereka pun Bianco sama sekali tidak tahu.
"Karena kebodohan kamu yang tidak percaya akan istrimu sendiri," ucapan Kevin masih terngiang-ngiang di telinga Bianco.
aakhhhh...
Bianco memukul semua barang-barang di atas meja ke bawah lantai penuh emosi.
Pria itu bahkan melukai dirinya di tembok dengan melukai tangannya di tembok penuh emosi.
"Apa yang kamu lakukan?" Kaget Sherli.
Sherli kaget melihat tangan Bianco yang sudah mengeluarkan darah dimana saat itu Sherli sedang membawa secangkir teh manis hangat di nampan untuk diberikan pada Bianco.
"Kenapa melukai dirimu?" tanya Sherli cemas.
Sherli berucap sambil meletakkan nampan dengan teh itu di atas nakas laci tv, lalu Ia melangkah menghampiri Bianco dengan sangat khwatir.
"Bukan urusanmu!" Menarik kasar tangannya dari genggaman Sherli.
"Jelas ini urusanku kamu suami aku!" ketus Sherli tidak mau kalah.
"Istri?"
"Dengar kita menikah itu..." suara Bianco terputus.
"Mau kamu anggap pernikahan ini sah atau tidak tetap saja sekarang aku adalah istri kamu Bianco. Jadi hak aku jika mencemaskan kamu," papar Sherli menatap tajam Bianco.
Sherli menjelaskan penuh emosi pada Bianco sedangkan Bianco tersenyum meremehkan ucapan Sherli.
__ADS_1
"Aku malas berantem." Bianco mengambil jaket untuk pergi.
"Mau ke mana kamu?" tanya Sherli sabar.
"Tidak perlu tahu." Terus melangkah tanpa menatap Sherli.
"Aku hamil Bianco!" teriak Sherli dengan sangat keras.
****
Di sisi lain di tempat pemakaman Karin
Kira menatap taburan bunga segar yang ada di makam Karina Chandi adiknya.
Pemakaman Karin telah selesai tidak seperti sebelumnya Kira menangis kali ini Gadis itu hanya menatap kosong makam adiknya dengan tatapan yang sulit untuk dijelaskan.
Avim yang melihat Kira yang tanpa ada sepatah kata atau air mata mendekati Kira dengan memegang tangan mantan istri bosnya itu.
"Aku akan selalu bersama nona hingga akhir masalah ini," ucap Avim menatap wajah Kira dalam.
"Terimakasih Vim. Aku tidak akan bisa melupakan semua kebaikan kamu pada aku dan Karin," ucap Kira menatap Avim.
Hari semakin sore langit pun mulai gelap semua orang yang ada di pemakaman Karin sudah pergi tinggal Karin, Avim dan Kevin.
"Jangan terus menangis seperti ini, sudah saatnya kamu hari menjalani hidup kamu," ucap Kira saat menghampiri Kevin.
"Menangis pun tidak akan merubah situasi ini lagi," lanjut Kira.
Setelah menasehati Kevin Kira melangkah pergi yang masih ditemani oleh Avim dengan menahan hujan di atas payung yang dipegangnya untuk melindungi Kira dari basah karena hujan.
Aku pasti akan membalas kematian kamu ini Karin akan aku pastikan Jessy dan Bianco tidak akan hidup bahagia hingga akhir hayat mereka, aku mencintaimu dan akan membantu kakak Kira membalas semua dendam keluarga kalian berdua. Batin Kevin.
Kevin bergumam sambil mengelus dan menatap salib Karin.
Di tengah-tengah hujan yang deras datanglah Bianco menghampiri Kira dengan pakaian yang sudah basah kuyup.
Kira yang tadi melangkah mengehentikan langkahnya Avim ingin memarahi Bianco lagi namun, Kira menahannya.
"Vim. Biarkan saja," ucap Kira saat memegang lengan Avim.
"Ta... Pi nona," suara Avim putus-putus.
"Biarkan saja," jawab Kira masih dengan ucapan yang sama.
__ADS_1
Akhirnya Avim pun mengalah dan berdiri di samping Kira dengan memegang payung untuk melindungi Kira dari hujan.
Tatapan Bianco penuh rasa penyesalan Ia menangis dengan deras tapi sayang air matanya ditutup oleh derasnya air hujan.
Bianco berlutut di bawah jalan aspal sebagai alas bantal untuk kedua lututnya, di hadapan Kira Ia memegang buket bunga dengan menyodorkan buket bunga itu ke Kira menatap penuh cinta pada Kira. Tatapan dengan penuh harapan dan penyesalan menjadi satu.
"Berikan aku kesempatan Kira. Aku mohon kali ini saja berikan aku kesempatan, kembalilah ke dalam pelukan aku untuk kali ini saja aku janji akan membayar semua kesalahanku."
Kira masih diam menatap Bianco tanpa mengeluarkan sepatah katapun.
"Aku tahu aku salah aku tidak pantas untuk semua ini tapi, semua ini terjadi karena aku kali ini saja berikan aku kesempatan." Mohon Bianco.
Tatapan Kira dalam pada Bianco jauh di lubuk hati Kira Ia ingin kembali pada Bianco tapi apalah daya rasa cintanya pada Bianco sudah menjadi rasa trauma yang mendalam. Di tambah lagi Anak dan adiknya meninggal itu semua karena Bianco yang tidak pernah percaya dengan Kira.
Tapi apalah daya semua sudah berjalan sesuai takdir Kira tidak bisa menyalahkan Bianco atau siapa pun karena untuk saat ini Kira masih dalam balutan kehilangan.
"Aku sudah memaafkan kamu jadi jangan berlutut seperti orang yang tidak punya kehidupan, kamu masih punya keluarga dan istri yang menjagamu jangan hidup dalam rasa penyesalan."
"Terkadang sebuah kesalahan adalah jalan untuk menemukan hidup yang baik," ucap Kira.
Kira berucap sambil membungkukkan badannya untuk membangunkan Bianco dari sana, Kira tersenyum Ia mengambil buket bunga yang tadi dipegang oleh Bianco itu dengan tersenyum.
Avim dan Kevin yang melihatnya kaget mengapa Kira sangat mudah memaafkan Bianco setelah semua yang Ia lakukan untuk Kira.
Di tengah-tengah itu muncullah Sherli dengan memegang payung ☔ berdiri tepat di belakang panggung Bianco, Sherli pun ikut kaget akan semua yang terjadi.
"Terimakasih kamu masih mau menerima aku lagi, aku tahu kamu sangat mencintai aku Kira," ucap Bianco memeluk Kira dengan sangat erat.
Hujan yang deras menjadi saksi akan betapa kuatnya cinta mereka.
"Apa kamu sungguh memaafkan aku?" tanya Bianco.
"Aku memaafkan kamu bukan berarti aku ingin kembali padamu Bianco." Tatap Kira serius.
"Maksud kamu?" tanya Bianco.
Sekejap senyuman lebar di wajah Bianco hilang hanya menunjukkan dahi yang berkerut.
"Aku mencintaimu tapi rasa trauma aku lebih besar dari rasa cinta aku padamu. Kamu bisa mengalahkan hatiku tapi tidak dengan rasa trauma dalam diriku."
"Kembali pada istri kamu Bian. Sherli mencintaimu bangunlah keluarga baru dengannya dan mulailah hidup baru jangan hidup dalam masa lalu lagi," jawab Kira tersenyum.
Kira berucap dengan senyuman dan tatapan tulus jauh dari sana Ia menangis begitu keras, tatapan mata yang berkaca-kaca telah menjelaskan semuanya.
"Kamu sudah menghancurkan tembok aku sebagai seorang wanita."
__ADS_1
"Aku gagal menjadi seorang istri, gagal menjadi seorang Ibu bahkan aku gagal menjadi seorang kakak yang melindungi adiknya, Hidup aku sudah tidak ada artinya lagi jadi jangan kembali lagi pada aku tapi mulailah hidupmu yang baru Bianco," seru Kira masih dengan tatapan berkaca-kaca.
Rasa sakit yang Ia terima seperti mimpi buruk yang tidak akan pernah Ia ingat dalam memori.