PERNIKAHAN SAKIRA

PERNIKAHAN SAKIRA
Bukan Anak Aku


__ADS_3

"Apa yang sebenarnya terjadi padamu? Kamu bilang pada aku kamu sangat mencintai aku namun apa ini? Mengapa kamu katakan semuanya hanya sandiawara belaka?" Bicara Kira di bawah lantai sana sambil melihat punggung suaminya yang menghilang dari tatapanya.


Gadis itu kembali meneteskan air matanya menatap pintu yang sudah tertutup rapat dan sosok Bianco menghilang dari tatapanya. Kira menghapus air matanya diwajahnya yang sudah basah sedari tadi. Lalu ia melangkah pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Setelah masuk ke dalam kamar mandi Kira menyalakan kerang air di wastafel untuk cuci tangan. Lalu ia juga membasuh wajahnya agar matanya yang bengkak karena banyak menangis untuk kembali segar. Saat sudah membasuh wajah Kira dengan air kerang ia mengeringkan dengan handuk kecil di kamar mandi. Di sanalah ia melihat pipinya yang masih merah akibat tamparan Bianco dan telapak tangan Bianco meningalkan jejak di sana. Sedangkan bibirnya mengeluarkan darah dan sedikit sakit akibat kena air.


Ia mengingat kejadian ulang tahunya yang penuh cinta. Dan kini semua cinta itu hilang ditelan bumi. Entah mengapa hati Kira kembali terasa sesak di dada dan sulit bagi dirinya untuk bernafas. Ia menahan sakit di dalam sana yang membuat gadis itu kembali duduk melemas di bawah wastafel dengan tangisan yang keras. Sambil air kerang di buka besar agar suara tangisnya di tidak didengar oleh orang luar.


Di sisi lain Bianco yang saat ini berdiri di depan kolam renang di balkon pintu kedua taman sambil melihat langit-langit di sana dengan tanganya yang kembali disembunyikan di saku celananya.


Aku tidak akan pernah memafkanmu Kira. Akan aku buat hidupmu membalas semua kematian orang tua aku. Tapi mengapa hati kecil aku menolak semua ini pada hal semua bukti sudah jelas bahwa Kiralah mata-mata dalam keluarga aku hingga nyawa mama dan papa hilang, bungkam Bianco dengan emosi dan pikiran yang banyak akan keraguan dalam hatinya.


Setelah berbisisk beberapa lama dengan pikiran yang kacau balau Bianco kembali memutar tubuhnya untuk pergi ke kamar dengan rasa yang kacau balau di dalam hati dan pikiranya. Saat sudah di depan pintu Bianco membuka dan langsung masuk ke dalam kamar lalu ia menutup pintu dengan pelan dan saat kakinya di menginjak di pintu dan ingin kembali melangkah tiba-tiba kakinya dihentikan ketika dirinya melihat Kira yang tertidur di lantai dengan posisi tidur tengkurap dan tanganya sebagai alas bantal.


Pria itu masih menatap Kira dengan sangat dalam sambil menarik nafasnya. Lalu ia melangkah dengan cepat namun saat ia yang awalnya ingin memompong tubuh Kira untuk diletakan di atas kasur tiba-tiba memory kematian Reka dan Miguel yang tidak wajar kembali muncul di pikiran Bianco. Pria itu menghentikan niatnya yang awal lalu memutar kakinya untuk melangkah melewati tubuh Kira di bawah sana. Dan ia pun naik ke atas kasur untuk tidur tanpa peduli denga istrinya yang tidur di lantai dengan tidak memakai selimut


Bianco menutup matanya walau ia masih dalam pikiran untuk mengangkut tubuh Kira tidur disampingnya namun tetap saja ingatan dirinya akan kematian orang tuanya kembali terlintas di pikiranya.


Setetes bening kembali mengalir dari kedua mata yang tertutup. Menahan sesak di dada dengan air mata yang mengalir dengan deras. Kira sengaja berpura-pura tidur setelah ia yang selesai membersihkan tubuhnya. Lalu ia memilih tidur di lantai untuk menguji kebenaran bahwa Bianco membecinya atau hanya berpura-pura saja. Namun kenyataanya benar pria itu sama sekali tidak mempedulikan dirinya.


Rasa sakit kembali lagi tergores di hati Kira bagaikan jarum yang berulang - ulang di tusuk di dalam sana. Kira memegang perutnya dimana itu anak yang dikandung olehnya dan dirinya berusaha untuk menahan suara tangisnya agar tidak dicurigai atau di dengar oleh Bianco.

__ADS_1


*****


Pagi telah tiba sinaran mentari bersinar dari tirai jendela menandakan hari telah pagi. Malam yang panjang penuh dengan air mata di alami oleh Kira. Gadis itu sadar dari tidurnya sambil bangun dari sana ia langsung melihat ke kasur namun sudah tidak ada Bianco di sana.


"Kemana dirinya pagi-pagi seperti ini ? Apa dia sudah pergi? Tapi ke mana? Tidak biasanya ia bangun pagi?" ungkap Kira dengan dirinya sendiri sambil bangkit berdiri mencari sosok Bianco dengan tanganya yang mengikat rambut bermodel kucir.


Kira pun segera melangkah menuruni anakan tangga satu per satu dan saat tiba di bawa? Kira kaget melihat Bianco yang duduk manis dan sedang makan santai dengan Sherli yang duduk di kursi Kira.


"Sherli kamu duduk tetap di kursi untuk temani aku makan bersama. Jangan bangkit berdiri sebelum aku memerintahkanya!" Perintah Bianco pada Sherli yang sengaja tidak menghargai posisi Kira sebagai istrinya. Di mana saat itu Sherli melihat Kira yang turun dari tangga dengan wajah yang kaget.


Kira menarik nafasnya sambil menatap Bianco dengan sangat tajam. Lalu ia bertanya pada Bianco akan maksud Pria itu.


"Apa maksudmu seperti ini? Jika aku ada kesalahan jelaska..." ucapan Kira terhenti ketikan Bianco menyela ucapanya yang belum selesai.


"Baiklah aku tahu maksdumu. Aku pamit teruskan saja makan bersamamu dengan Sherli," jawab Kira kesal lalu memutuskan untuk melangkah pergi ke kamar karena selera makanya hilang akan sikap Bianco pagi itu.


Sepertinya bau-bau retak rumah tangga mereka sudah terasa. Sebentar lagi aku hanya tinggal merebut hati Bianco, batin Sherli. Gadis itu berbisik sambil dengan wajah palsu polosnya itu untuk menikmati sarapan pagi itu tanpa ada dosa sama sekali dari dirinya.


Sedangkan Bianco yang sedang makan sambil melihat pungung Kira yang kembali naik kembali ke lantai dua menuju kamar. Pria itu pun menyimpan sendok dan garpu di piringya yang ada di meja makan lalu dirinya juga menyusul Kira ke kamar sedangkan Sherli yang melihatnya semakin bahagia dengan tersenyum bahagia di dalam hatinya.


"Ikut aku!" Tarik kasar tangan Bianco pada tangan istrinya masuk dalam kamar.

__ADS_1


"Lepaskan tangan aku.Sakitt...!" Dengus emosi Kira.


Kira bercap emosi pada Bianco dengan menatap tajam suaminya itu saat dirinya sudah dibawa ke kamar.


"Sakit? Dasar ******..!" Ketus Bianco yang langsung menghempaskan kasar tubuh Kira ke kasur.


"Apa mau sebenarnya? Aku sedang mengandung anakmu apa kamu tahu itu?" Papar Kira yang sudah emosi akan sikap Bianco yang tidak ada alasan sama sekali bagi Kira.


"Anak...hahhaa.." tertawa bahagia karena lucu.


"Hei itu bukan anak aku. Itu anak orang lain entah siapa dia aku pun tidak tahu."


"Apa maksudmu Bianco...? Ini anak..."


"Dia bukan anak aku. Kamu saja menikah dengan aku sudah tidak suci lagi bagaimana mungkin kamu bilang itu anak aku. Entah berapa banyak pria yang kamu tiduri sebelum menikah dengan aku.." hina Bianco dengan senyuman dan sikap santai pada Kira namun hatinkkiya hancur bagaikan pecahan kaca.


"Kamu boleh bilang aku apa saja tapi jangan mencoba..."


"Hei wanita ******. Kamu itu penghibur sama kaya wanita lain di luar sana. Mengapa terus berdebat akan hal yang sering kamu lakukan...lebih baik layani aku sepuas mungkin di pagi ini karena aku sedang dalam hasrat melakukanya," seru Bianco memotong ucapan Kira sambil tanganya mulai menelusuri bagian paha Kira yang kebetulan pagi itu sedang memakai celana pendek selutut.


"Apa yang ingin kamu lakukan?" Hentikan ini," teriak Kira yang mulai menahan air matanya dengan mata yang berkaca-kaca menatap Bianco.

__ADS_1


"Kenapa? Bukankah kita sering melakukanya untuk apa kamu tanya?" Balas Bianco tersenyum sambil mulai membuka kancing bajunya.


Bersambung.


__ADS_2