
Apa ada masalah dengan nona muda? Mengapa ia sepertinya sangat terpukul? Batin Avim ketika melihat Kira dari kaca spion supir.
Avim yang bergumam dalam hati hanya melirik Kira dengan wajah penuh tanda tanya. Apa yang sebenarnya terjadi pada Kira sehingga gadis itu ia sesedih itu. Pada hal menurut Avim bahwa hubungan Kira dan Bianco sangat baik namun mengapa ia bersikap seperti ini.
Kira yang sadar akan tatapan Avim dari kaca spion depan pada dirinya segera menyeka air matanya agar tidak dicurigai Avim. Lalu ia menatap Avim yang membuat pria itu secepatnya mengalihkan tatapanya.
****
"Karin kamu tahu hidup penuh kebohongan itu sangat menyiksa. Setiap malam kamu akan selalu dihantui dengan sebuah kejujuran. Selama pernikahan banyak nyawa yang hilang namun aku tidak bisa berbuat apa-apa karena bagiku nyawamu adalah yang terpenting," Kira.
Karin yang saat itu berdiri di depan balkon kamar melihat ke langit gelap dengan pikiran yang dipenuhi oleh Kira. Ucapan Kira sejam yang lalu kembali berputar di pikiran Karin. Ada yang tersesak di dada Karin apa lagi saat mengingat air mata kakaknya yang tadi sempat tertumpahkan di tanganya.
Karin melirik ke arah tangannya dan memegang bahu kananya yang tadi di pegang oleh Kira dan sempat ia mengikat sobekan bajunya pada bahu sang adik namun kembali dibuang oleh Karin.
Seandainya kakak waktu itu kamu tidak meningalkan aku dalam masa sulitku mungkin aku akan memafkanmu. Namun setiap kali hati aku ingin melihat sisi baikmu pikiran aku selalu dipenuhi dengan bagaimana dirimu yang tega menigalkan aku dalam keadaan itu.
Seandainya orang yang kamu nikahi itu bukan orang yang membunuh mama dan papa, bukan orang yang menghancurkan keluarga kita mungkin saja aku akan memafkanmu. Tapi sayang itu tidak sesuai harapan aku. Sangat menyakitkan bagiku mengetahui bahwa kamu mencintainya pada hal dirimu tahu bahwa keluarganyalah yang menghancurkan keluarga kita, batin Karin.
Karin bergumam dalam hati ketika dengan pikiran yang sudah dirasuki oleh Jessy. Pada hal yang sebenarnya menghancurkan keluarga mereka adalah Jessy dan membunuh ayahnya adalah Jessy. Yang membuat ibu Karin masuk ke rumah sakit jiwa adalah Jessy namun ia kembali bekerja sama dengan Jessy untuk menghancurkan keluarga kakak kandungnya sendiri.
Butiran air mata kembali mengalir dari kedua pipi Karin. Rasa sakit yang begitu mendalam membuat dirinya harus menangung semua ini. Hidupnya dipenuhi dengan darah pembunuhan. Karin menyeka air matanya yang mengalir dan berusaha untuk tidak meneteskan air matanya lagi.
__ADS_1
Rasa sakit itu sampai sekarang masih membara di dalam sana. kakak kamu Lihat saja betapa hancurnya dirimu dan keluargamu, gumam Karin meremas jari jemarinya dengan sangat kuat. Dan menatap tajam lurus ke depan.
****
Di sisi lain Bianco yang kwatir dengan keadaan Kira melangkah ke sana kemari seperti orang lang ling lung yang banyak pikiran di ruang keluarga lantai satu. Pak Sud dan para pelayan yang melihat gaya sikap aneh dari Bianco saling menatap satu sama lain dengan sedikit tersenyum. Namun senyuman mereka memudar saat Bianco melihat ke arah mereka.
Tidak lama kemudian bunyi klakson mobil dari pintu gerbang utama di mana mobil itu tidak lain adalah mobil yang dipakai Avim untuk menjemput nona muda mereka. Bianco dan para pelayan yang mendengarnya segera menjemput Kira.
Kira yang mulai turun dari mobil menatap aneh para pelayan yang mengukir senyuman padanya. Tidak lama kemudian mata Kira menatap mata Bianco yang sedang menatapnya dengan dalam dan wajah yang cemas karena kwatir.
Belum Kira melangkah Bianco yang lari dengan cepat seperti film bolywood India menghampiri istrinya dan langsung memeluk erat tubuh kecil Kira yang membuat gadis itu sulit untuk bernapas.
"Apa kamu tahu aku sangat kwatir dengan dirimu. Jika ingin mengunjungi keluargamu atau siapa pun. Pastikan kabari aku biar aku tidak cemas," ucap Bianco yang masih memeluk istrinya itu.
Kira menjawab ucapan Bianco sambil melepaskan pelukanya dari Bianco dengan menatap dalam suaminya itu. Pria tampan yang berdiri di hadapan Kira masih memasang wajah cembrutnya pada sang istri.
"Apa kamu sudah makan?" Tanya Bianco.
"Belum. Ini perut aku dari tadi keroncongan terus," seru Kira becanda.
"Kebetulan aku juga belum makan. Ayo kita makan bersama," pinta Bianco yang tanganya merangkul pingul sang istri untuk pergi dari garansi depan rumah.
__ADS_1
Sedangkan Para pelayan, pak Sud dan Avim yang melihatnya mengukir senyuman bahagia menatap pungung Bianco dan Kira yang sedang melangkah untuk masuk ke dalam rumah. Walau ada keganjalan di hati dan pikiran Avim akan tangisan Kira beberapa jam yang lalu.
Bianco dan Kira mulai makan. Untuk pertama kali selama pernikahan Kira makan makanan yang bukan masakanya sendiri. Namun masakan para chef rumah. Dalam makan malam itu Kira dan Bianco saling bertukar pikiran satu sama lain terutama masalah kecelakaan pesawat yang menimpa mertuanya itu.
Namun Bianco membohongi Kira bahwa kecelakaan pesawat itu terjadi karena usia pesawatnya yang tua dan ia hanya bisa mengikhlaskan kepergian sang ayah walau sebenarya ia terluka dan tahu bahwa ayahya dibunuh bukan kecelakaan pesawat.
Selesai makan Bianco dan Kira pun langsung kembali ke kamar mereka. Sempat Kira menolak karena ia ingin membantu para pelayan merapikan meja makan dan mencuci piring namun suaminya melarangnya untuk tidak melakukanya, Karena sudah banyak pelayan yang akan membereskanya.
Dengan terpaksa gadis itu pun menuruti kemauan suaminya dan meminta maaf pada pak Sud dan pelayan yang lainya.
"Ini sudah kewajiban kami nona muda. Jadi nona tidak perlu meminta maaf seperti itu," papar pak Sud tersenyum tulus pada Kira.
Kira yang mendengar ucapan pak Sud hanya mengukir senyuman lalu ia dan suaminya pun melangkah pergi dengan menaiki anakan tangga satu persatu menuju kamar mereka. Sesampainya di kamar Kira mengatakan pada Bianco bahwa ia mau mandi dulu karena bau keringat.
"Pantasan saja dari tadi aku mencium bau lapek. Hahhahah.. tidak kamu tetap harum sayang, mau mandi barang?" Tanya Bianco sambil mengoda sang istri.
Bianco berucap sambil mengalungkan tanganya di leher Kira dengan tersenyum pada Kira. Gadis yang ada di hadapan Bianco itu memberikan satu kecupan manis di hidung suaminya.
"Aku pergi mandi dulu. Jangan banyak pikiran itu tidak baik untuk kesehatanmu," tutur Kira tersenyum pada Bianco.
Bianco yang tadi ingin membalas kecupan istrinya akhirnya gagal karena Kira secepatnya menghindar dan pergi ke kamar mandi. Sedangkan sang suami hanya menatap aksi Kira yang sudah berani padanya dengan tangan Bianco mengelus-elus lembut hidungnya sambil tersenyum menatap pintu kamar mandi.
__ADS_1
Bersambung.