PERNIKAHAN SAKIRA

PERNIKAHAN SAKIRA
Kecupan Kening


__ADS_3

Follow Ig: @Sildadelita99.


Halo semua Jangan lupa tinggalkan jejak disini ya...


kalian baca jam berapa? asal dari mana?


me: Kupang NTT.


Salam kenal semua🤗❤️❤️🙏🙏


***Yuk saling tanya umur, kalian berapa usianya?


komen spam kasih banyak dong biar aku semangat nulisnya


Satu kata untuk Bianco?


Silakan tinggalkan enek-enek tentang


cerita ini tanggapan kalian dong?


Oh ya Menurut kalian cerita ini mau diapakan happy ending?


atau Sad Ending??


Spam komen dong🥺🤧 kasih banyak ya...


Happy Reading Guys...


atau Sad Ending??


Spam komen dong🥺🤧 kasih banyak ya...

__ADS_1


Happy Reading Guys...


"Apa tidak ada kerjaaan di kantor ? Mengapa dia di sini? " batin Kira.


Kira bergumam saat dirinya yang grogi di mana Bianco menatap dirinya dari meja yang saat itu sedang memasak bubur untuk Reka di dapur. Bianco tersenyum - senyum memikirkan rencana untuk mengerjain istrinya.


"Jangan salah tingkah aku tidak menatapmu aku sedang melihat tembok," ucap Bianco tersenyum lebar menatap Kira.


"Tembok? Dari tadi matamu menatap terus aku?" ucap Kira yang langusung membuat Bianco tertawa lebar.


Aku yakin dia hanya ingin mengerjainku saja dasar kuprit, bungkam Kira.


Kira bergumam sambil melirik sinis Bianco yang masih tersenyum lebar menatapnya. Setelah bubur yang dibuat Kira untuk Reka sudah matang akhirnya Kira kembali menyiapkan sarapan roti keju+susu putih untuk Bianco. Sebelum Kira pergi ke dapur pria itu sudah memesan pada istrinya bahwa ia menginkan sarapan pagi dibuat oleh Kira yaitu susu putih+roti keju.


Pria itu mengatakan pada istrinya bahwa hari ini dirinya cuti kerja. Bianco berbicara seperti itu karena ia yang menginkanya. Ia ingin menghabiskan panjangnya hari ini untuk istrinya seorang. Sambil berucap dengan tatalan begitu dalam pada istri kontrakanya itu.


Bianco yang masih duduk manis di meja makan entah kenapa hatinya begitu bahagia melihat istrinya yang sedang sibuk memasak untuk dirinya. Tatapan pria itu pada istri yang tidak pernah diangapnya itu sangat dalam. Di sisi lain Kira telah menyelesaikan sarapan pagi yang dibuatnya untuk suami dan mertuanya itu.


Kira yang melangkah membawa mampan di tanganya itu memasang wajah juteknya saat mata dia masih melihat tatapan suaminya itu pada Kira. Namun tatapan mereka berakhir di mana itu pada Sud yang datang memberikan telpon rumah pada Bianco sambil berbisik pelan di telinga Bianco.


Suami Kira yang tadi selalu memasangkan wajah bahagia kini seketika wajah Bianco berubah drastis. Bianco meraih telpon rumah tersebut di tempelkan ditelinganya. Panggilan masuk itu ternyata adalah polisi. Suara polisi dari sana mengatakan pada Bianco bahwa salah satu satpam yang bertugas malam menjaga perusahaan Bridges bunuh diri dari atap lantai 25.


Pihak polisi juga mengatakan pada Bianco bahwa ada dua kemungkinan untuk kasus ini yaitu kemungkinan menurut pihak polisi bahwa itu kasusus bunuh diri atau bisa juga dibunuh. Di mana alasan polisi mengatakan bahwa dibunuh oleh seseorang karena terdapat kulit leher korban biru belau semua seperti sebuah cekikan tangan seseorang di leher korban sebelum mendorong tubuh korban jatu ke bawah.


Bianco yang mendengar berita tersebut sang syok san kaget karena ini pertama kalu terjadi di perusahaan Bridges. Pria itu meminta polisi untuk mengecek ruang cctv yang memantau seluruh ruang sudut perusahaan termasuk cctv di atap lantai 25. Bianco dengan cepat memakai pakaian kantor yang dibawa oleh pak Sud. Lalu ia dengan cepat melangkah pergi.


Tiba-tiba pak Sud menatap Bianco mengingatkan sarapan pagi yang dibuat sang istri.


"Tuan sarapanya?" Tanya pak Sud mengingatkan Bianco yang sebenarnya pria tua itu tidak enak dengan Kira.


"Aku sarapan di kantor saja. Aku harus pergi ke kantor," jawab Bianco menghiraukan Kira yang masih berdiri mematung diam.

__ADS_1


"Tapi tuan muda tidak baik jika bekerja dengan perut kosong," sahut pak Sud yang berharap untuk Bianco mau mendengarkan ucapanya untuk makan masakan buatan istrinya itu.


Namun sia-sia saja pria tua itu berteriak karena Bianco kini sudah menghilang dari tatapan mereka yang artinya dia sudah pergi. Kira yang menatap kepergian Bianco yang sudah menghilang dari tatapanya. Ia hanya mengukir senyuman tulus dari wajahnya walau hatinya perih di dalam sana.


"Tidak apa-apa pak Sud aku baik-baik saja. Mungkin memang pekerjaan kantor hari ini sangat penting untuk dia," ucap Kira menenangkan pak Sud yang menatapnya dengan rasa bersalah karena ia gagal lagi mempersatukan mereka dua.


Kira yang kembali memutar tubuhnya untuk kembali ke dapur tiba-tiba sebuah tangan memegang lengannya. Dan tangan yang satu mengambil susu untuk diminum lalu dengan cepat pula ia memasukkan roti keju ke dalam mulutnya untuk di makan.


Kira yang kebingungan menatap heran pria tinggi itu nan tampan yang ada, dihadapanya ini Siapa lagi kalo bukan Bianco.


"Bukanya kamu sudah pergi ke kantor?" Tanya Kira bingung dengan mengerutkan dahinya menatap heran Bianco.


"Aku melupakan ini. Makanya aku kembali," jawab Bianco tersenyum.


Hari ini adalah hari yang paling indah untuk pak Sud misinya membuat tuan muda dia itu untuk memakan sarapan yang dibuat Kira akhirya berhasil. Tidak henti-hentinya batin pak Sud mengucapkan rasa syukur bahagia kepada Tuhan. Penantian Kira selama ini akhirnya terbalaskan juga. Begitu juga dengan gadis itu entah itu perasaan apa intinya ia sangat bahagia.


Kira tersenyum lebar dengan bahagia menatap Bianco yang sedang menatap dalam dirinya.


Bianco menarik tubuh Kira dengan melingkarkan tangan Kira di belakang pinggang kecil istrinya itu untuk mendekat padanya kini tubuh mereka sangat dekat dengan penuh cinta pria itu mengecup kening Kira dengan sangat dalam. Kira yang merasakan kecupan hangat itu menutup matanya untuk merasakan perasaan yang selalu ia rasakan aneh entah itu apa. Pak Sud dang para pelayan yang menyaksikan itu tersenyum bahagia sambil berbisik satu sama lain.


"Aku akan pulang lebih cepat. Aku pamit pergi," ucap Bianco setelah ia melepaskan kecupan kening Kira dan kini tanganya memegang lembut pipi Kira yang sedang menatapnya dengan sangat dalam.


"Hem. Hati-hati di jalan," jawab Kira mengangukan kepala dengan berdehem sambil menatap Bianco yang juga menatap dirinya yang tidak kalah dalam pada dari diri Kira.


Tatapan dalam satu sama lain itu akhirnya berakhir juga setelah Bianco memutar tubuhnya untuk pergi dan menghilang dari tatapan Kira. Kira yang malu melihat pak Sud dan para pelayan lain yang mengodanya menutup mukanya lalu melabgkah menaiki anakan tangga menuju kamar Reka dengan senyuman lebar dibibirnya.


Ada apa ini? Jantungku oh Tuhan dia berdetak sangan kencang lebih dari biasanya. Kira ingat tujuanmu menikahi Bianco tapi kenapa aku bahagia sekali? Mengapa sikap Bianco berbeda sekali hari ini, bukam Kira di dalam hati sambil terus tersenyum bahagia. Entah perasaan apa yang dirasakan Kira intinya ada rasa yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.


Bersambung.


Cieee yang sudah mulai bucin hahhaha... siapa yang disini menunggu Bianco khilaf?... baca terus ya guyss...

__ADS_1


__ADS_2