PERNIKAHAN SAKIRA

PERNIKAHAN SAKIRA
Harusnya Aku Tidak Mencintaimu


__ADS_3

"Hai sayang kamu baru pulang?" Tanya Kira saat melihat Bianco yang pulang dalam keadaan bau alkohol.


Bianco sengaja meminum sedikit alkohol agar ia bisa memarahi istrinya tanpa ada rasa dosa karena jika ia bertengkar dengan Kira dalam keadaan sadar maka akan sulit baginya menghadapi kenyataan bahwa istri tercintanya adalah mata-mata dan pembunuh dalam keluarganya.


"Sayang?" Bianco membulatkan matanya.


"Sejak kapan aku menyukaimu? Hahahha... pasti kamu kemakan bukan dengan semua sikap romantis aku selama ini? Hahhaha... kamu itu bukan tipe aku..." kata Bianco menepis kasar tangannya dari genggaman Kira dengan sikapnya yang sangat dingin seperti dulu.


"Apa maksudmu sayang? Aku tahu kamu sedang dalam pengaruh alkohol jadi aku bisa memakluminya," pinta Kira sedikit kaget dengan perubahan sikap suaminya ini.


"Hahahaha... aku tidak mabok. Aku selama ini bersikap manis padamu karena taruhan dengan teman-teman aku."


" Aku berpura-pura mencintaimu karena aku TIDAK MAU KALAH DARI TARUHAN DENGAN TEMAN-TEMAN AKU APA KAMU PAHAM...!" jerit Bianco dengan nada dingin dan penuh ketegasan pada setiap kata dan kalimat akhir yang ia ucapkan.


Sorot mata Bianco sangat tajam pada Kira namun dibalik sorot mata dan tatapan sikapnya yang dingin itu terselip banyak tanda tanya dalam pikirannya. Ingin rasanya ia langsung bertanya secara langsung pada istrinya akan semua yang ia lihat dan dengar dari orang lain itu tidak benar.


Ingin rasanya ia memeluk orang yang tadi siang membuatnya kwatir karena kondisi kesehatannya yang memburuk dan memberikan cinta buah hati mereka. Bianco ingin mengabaikan semua kenyataan pahit itu namun, jika ia bertanya hal itu sama saja ia melukai dirinya sendiri karena ia sangat mencintai Kira lebih dari hidupnya.


Kira yang mendengar ucapan Bianco menatap heran pada suaminya itu, Ia mengerutkan dahinya sambil berusaha untuk memahami situasi dan keadaan sikap suaminya malam itu, Kira kembali meraih tangan Bianco dan masih bersikap manis pada suami tercintanya itu tanpa peduli dengan kata-kata Bianco yang sedikit melukai hatinya.


"Aku tidak ingin bertengkar denganmu. Kamu masih dalam pengaruh alkohol jadi kita bicara besok saja. Aku sudah siapkan air hangat di bak dan perlengkapan mandi jadi bersihkan tubuhmu dan istirahatlah."


"Besok kita akan bicara lagi," beber Kira menatap Bianco dengan sangat dalam dan penuh cinta walau kondisinya masih lemah tapi tidak ia tunjukan pada Bianco.

__ADS_1


"Hentikan sandiwara ini! Melihatmu bersikap manis di hadapan aku seperti ini sangat menjijikan! Rasanya aku ingin muntah!" gerutu Bianco dengan emosi yang sudah membara di dalam sana menatap tajam Kira.


dengan mencekal tangan Kira yang awalnya ingin meraih tangannya namun ia mencekal balik tangan Kira dengan meremas pergelangan tangan Kira sangat kuat hinga Kira kesakitan.


"Sakit Bianco! Ada apa dengan kamu malam ini? Aku tahu kamu sedang dalam pengaruh alkohol dan aku pahami itu, lalu mengapa tiba-tiba bersikap seperti ini? Apa salah aku padamu?" Jerit Kira balik yang mulai meneteskan bulir-bulir bening dari wajahnya dengan sorot mata sendu pada Bianco.


"Kamu bertanya apa kesalahanmu? Baiklah akan aku tunjukan kesalahan kamu wanita iblis!?" teriak Bianco mendorong kasar tubuh Kira hingga terbentur di tembok.


Tangan Bianco menekan kuat di dagu Kira dengan tatapan sorot matanya yang emosi dan sangat tajam pada Kira, di mana wanita yang ada di hadapannya ini pun menatap bingung Bianco dengan berlinang air mata mengalir karena kesakitan di dagunya.


Bianco yang sama sekali tidak peduli dengan tangisan Kira semakin menekan tangannya kuat di kedua pipi Kira dengan emosi yang membara api, dan ia menahan gigi-giginya kuat di dalam sana hingga tulang pipinya membentuk dan urat besar di lehernya muncul ke permukaan.


"Sakit Bianco. Lepaskan! aku mohon..."


Tangis Kira yang tidak tahan dengan kesakitan di wajahnya itu.


"Dasar wanita ular!" lirih Bianco emosi dengan menatap tajam Kira.


Bianco yang tidak peduli dengan tangisan Kira di sana ia malah langsung mendaratkan kecupan kasar di bibir Kira yang membuat gadis itu memukul-mukul tubuh Bianco dan memberontak agar pria itu mau melepaskan ciuman ganasnya itu. Namun hal itu tidak berhasil. Kira dengan sekuat tenaga entah dari mana ia dapatkan keberanian dan kekuatan dirinya ia langsung menampar pipi Bianco dengan emosi ketika pria itu melepaskan kecupannya itu dan saat menatapnya dengan nafas yang tersengal.


"PLAK..." tamparan keras dari tangan Kira pada wajah suaminya.


Bianco yang emosi dengan wajah memerah memegang salah satu pipinya yang terasa sakit akibat tamparan istrinya itu. Ia menatap emosi dengan sorot mata tajam di sana sambil menahan gigi-giginya dari dalam sana. Lalu dengan penuh emosi ia berbalik menatap Kira yang merasa bersalah karena menampar Bianco tiba-tiba tidak sengaja itu.

__ADS_1


"BERANINYA KAU...! MENYENTUH Dan MENAMPAR WAJAH AKU..!" Geram Bianco dengan nada tinggi dan penuh penekanan pada setiap kata yang ia ucapkan dengan sorot mata emosi yang seperti akan memakan Kira sebentar lagi.


"Maaf. Aku tidak...ahhh..." imbuh Kira yang belum selesai berkata langsung tubuhnya di tarik keras oleh Bianco dan di dorong dengan kasar hingga ia jatuh tersungkur di lantai dan wajahnya terbentur keras di bawah sepatu yang dikenakan Bianco.


"Kamu pikir siapa dirimu hingga berani sekali kamu menampar aku haaa..." decit Bianco emosi yang kembali menjambak kasar rambut Kira hingga wajah gadis itu menghadap wajah Bianco yang sedang berdiri di sana dan menatap penuh kebencian pada kedua bola matanya.


"Lepaskan..! Ada apa sama kamu Bianco... apa salah aku...hiks," tangis Kira dengan bulir air mata mengalir dengan deras di bawah sana. Gadis itu kembali menangis dengan deras di bawah sana sambil berusaha tanganya melepaskan tangan Bianco dari kepalanya. Namun tidak berhasil. Pria itu yang sama sekali tidak dipedulikan oleh dirinya akan tangisan Kira. Tatapan penuh kebencian yang kini ada di wajah Bianco dan pikiranya.


Dengan perlakuan kasar lagi pria itu melayangkan satu tamparan yang keras penuh siksaan pada wajah yang penuh air mata di sana hingga bibir kecil gadis itu mengeluarkan darah dan pipinya yang mulus langsung ada tanda jejak telapak tangan Bianco sendiri.


"Plak..." tamparan keras kembali di daratkan Bianco pada wajah cantik istrinya yang selama ini selalu ada di pikiranya.


Kira yang di tampar kembali oleh Bianco hingga wajahnya kembali jatuh tertempel di keramik lantai tepat di bawah kaki Bianco yang sedang berdiri di atas sana.


Bulir-bulir Air mata yang tadi berjatuhan dengan deras untuk sekejap berhenti walau masih mengalir dengan perlahan berjatuhan silih berganti membasahi lantai keramik. Hati Kira yang awalnya berusaha memahami kini tergores dengan luka yang ia sendiri tidak tahu mengapa sikap Bianco menjadi kasar pada dirinya.


Ia menarik nafasnya dengan sesak di dada menghapus air matanya. Lalu Kira menatap Bianco dengan bangkit berdiri menatap pria itu dengan sorot mata dingin dan air mata yang di tahanya.


"Mengapa...? Mengapa...kamu bersikap seperti ini ha..? Apa salah aku...hiks...jelaskan kesalahan aku agar aku tahu akan hal itu...hikss...." pecahlah tangis Kira. Ia kembali menangis sambil jatuh melemas dibawah sana dengan tangis yang kembali deras...


Bianco yang melihat wajah Kira terluka karena dirinya berusaha untuk tidak terlihat menyesal namun saat melihat tangis Kira di bawah sana ia memutar tubuhnya dengan membelakangi istrinya lalu melangkah diam seribu kata tanpa berucap sepatah kata pun dan saat itulah air mata Bianco mengalir menahan rasa sakitnya melukai wanita yang sangat dicintainya namun rasa kecewa yang dalam saat tahu penyebab kematian mamanya dan kelumpuhan ibunya disebabkan oleh gadis itu membuat luka di hati Biancl semakin mendalam.


Harusnya dan tidak seharusnya aku mencintaimu... tidak sepantasnya aku memperjuangkan gadis sepertimu...mengapa hati kecil aku menolak semua kesalahan kamu...? Mengapa hati kecilku mengatakan itu tidak benar...? Batin Bianco melangkah pergi meningalkan Bianco dengan tangis yang mengalir deras di sana.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2