
" Soal perceraiaan kamu tenang saja aku sedang mengurusnya. Aku datang ke sini hanya memastikan apa kamu benar-benar menderita?" Jawab Bianco dengan tatapan sorot mata dingin sambil meremas jari-jemarinya di bawah sana akan ucapan yang sama sekali bukan dari hatinya.
"Baguslah jika kamu mau menceraikanku. Aku menantikan hari itu. Bukan, kah selama ini kamu selalu membuat aku menderita? Kamu membohongi aku dengan tipu daya muslihatmu hingga aku terjebak dalam kebohongan itu," seru Kira tersenyum pada Bianco sambil menyeka air matanya untuk tidak menangis lagi.
"Masih berani ya dirimu melawan aku? Setelah sekian lama kamu hancurkan keluarga aku," kata Bianco yang mulai emosi dan menatap tajam Kira.
"Aku tidak pernah melawanmu. Tadinya aku pikir bahwa aku salah jika melepaskan pernikahan ini namun mendengar ucapanmu aku sadar bahwa kamu sama sekali tidak peduli dengan diriku."
"Menangis? Aku rasa menangis pun tidak akan merubah apa pun. Situasi dan takdir sudah datang yang aku lakukan hanyalah ikhlas menerimanya."
"Kamu bertanya mengapa aku tidak memberitahumu akan seorang keluarga. Awalnya aku ingin berbagi suka dan duka dengan dirimu namun saat aku tahu kamu sama sekali tidak percaya pada aku untuk apa aku harus menjelaskan hal yang tidak pernah kamu pedulikan," lirih Kira yang emosional dan mulai menahan rasa sesak di dadanya.
Gadis itu segera memutar tubuhnya membelakangi Bianco menarik nafasnya dalam-dalam agar suaranya tidak terdengar gementaran karena rasanya ia ingin menangis dengan keras di hadapan Bianco namun ia tidak bisa melakukan hal itu karena ia tahu bahwa pria yang ada dihadapanya ini akan semakin menjatuhkan harga dirinya.
"Aku sudah muak dengan semua omong kosongmu itu. Aku Bianco Bridges tidak akan dan takan pernah membiarkan dirimu merasakan kebebasan di luar setelah kejahatan yang kamu lakukan pada kedua orang tua aku."
"Bagiku kamu sudah mati terkubur dalam debu. Dan camkan kata-kata aku ini setelah bercerai denganmu aku akan menikahi Sherly aku datang hanya memberitahu kamu hal ini dan melihat penderitaanmu," ucap Bianco dengan emosi lalu ia memutar kedua kakinya untuk mencoba melangkah pergi meningalkan Kira.
__ADS_1
Hancur jangan ditanya apalagi luka di hati itu sudah pasti. Seketika semua tubuhnya melemas namun ia berusaha berdiri tegar dan tidak mejadi lemah. Berusaha untuk menjadi wanita yang tegar saat mendengar bahwa suaminya akan menikahi wanita lain. Ingin menangis namun menangis pun tidak akan merubah apa pun yang ada hanya menambah luka.
Gadis itu meremas jari-jemarinya dengan kuat saat mendengar ucapan Bianco. Ia mencoba untuk mengontrol emosionalnya untuk tetap bersikap tenang walau pun dirinya hancur. Setidaknya ia tidak terlihat lemah dan hancur dihadapan Bianco. Kira menarik nafasnya dalam-dalam lalu tersenyum lebar dengan paksa seakan dirinya turut ikut bahagia akan kabar pernikahan suaminya.
Kira memutar tubuhnya menghadapan ke Bianco yang sedang membelakangi dirinya. Gadis itu dengan senyuman lebar ia membuka suaranya dengan sikap yang tenang.
"Selamat. Jika itu pilihan terbaik untukmu, aku turut bahagia," ucap Kira tersenyum menatap pungung belakang Bianco dengan tenang.
Bianco yang mendengar ucapan istrinya itu menghentikan kakinya dengan sorotan mata tajam lurus ke depan dan tatapan yang dingin bagaikan es batu. Ia menahan gigi-giginya dengan sangat kuat di dalam sana dan mungkin sebentar lagi akan rontok saking kuatnya. Jari-jemarinya di remas dengan sangat kuat di bawah sana lalu ia memutar tubuhnya. Ingin rasanya kembali berucap kasar pada Kira namun dalam sekejap semuanya sirna saat ia melihat kehancuran di mata Kira namun gadis itu berusaha kuat di hadapanya.
"Apa maksudmu?" Tanya Bianco dengan tenang. Dan masih bersikap masa bodoh di hadapan Kira pada hal hatinya menolak sikap dinginnya ini pada Kira.
"Aku mengucapkan selamat akan pernikahanmu. Mungkin bagimu ini tidak layak namun aku ikhlas jika itu yang terbaik untuk dirimu."
"Mungkin jug aku adalah orang yang tidak kamu percayai dan sangat dibenci olehmu. Sekuat aku menjelaskan padamu bahwa aku tidak bersalah tetap saja di matamu aku salah karena dari hatimu sudah kehilangan kepercayaan untuk diriku yang ada hanyalah kebencian pada aku."
"Hal ini hanya dirimu yang merasakanya dan aku pun atau siapa pun tidak bisa melihat apa lagi merasakanya." Seketika tergenanglah bening dan cairan di dalam sana sambil menatap pria yang ada di hadapanya ini.
__ADS_1
"Hanya satu ucapanku di pernikahanmu ini, jadilah ayah yang baik untuk anak-anakmu. Jadilah suami yang setia, penyang untuk istrimu, lupakan masa lalu yang kelam ini dan bangunlah tembok kehidupan baru untuk keluargamu..." ucapan Kira terhenti ketika Bianco mencelah ucapanya.
"Aku berterimakasih untuk ucapan selamatmu namun jangan mencoba membicarakan hal yang tidak masuk akal dan bodoh pada diriku," kata Bianco dengan mata berkaca-kaca sambil menunjuk wajah Kira dengan jari telunjuknya. Di mana saat itu Bianco melihat air mata yang tergenang di sana.
"Bangunlah keluargamu dengan kehidupan baru..." Suaranya terhenti ketika hatinya tidak bisa menahanya lagi maka meneteslah bening bulir air mata yang mulai bercucuran membasahi wajahnya. Walau begitu Kira tersenyum dengan tenang dan kedua matanya yang masih bengkak walau sudah berkurang karena obat salep yang diberikan Karin padanya.
"Cintai istrimu seperti kamu menyangi dirimu sendiri. Sayangi anak-anakmu layaknya seorang ayah dan... Maaf, kan aku yang pernah melukaimu, maaf, kan aku yang menghianti cintamu. Untuk hari ini dan hanya hari ini saja... biarkan aku menangis hanya hari ini aku akan menangis bukan sebagai seorang tahanan melainkan seorang istri."
"Hikks... selama ini aku berusaha kuat namun sebenarnya aku menangis dalam kepedihan jadi... biarkanlah aku menangis untuk hari ini saja... hikss," ucap Kira dengan air mata yang mengalir dengan deras di hadapan Bianco yang menatapnya dengan air mata juga.
Harusnya dan tidak seharusnya aku bilang tidak namun tetap saja hati ini tidak bisa menahanya. Meski harus terlilit oleh luka namun sekali saja aku ingin melihatmu walau hanya tangisan yang aku terima.
Meski terasa sesak di dadaku... ketika kamu membenci aku dan mengutuk diriku tetap saja aku hanya ingin melihatmu meski pun aku harus melewati hari-hari penuh air mata.
Walau diriku dibilang penjahat dan sampah tetap saja hati ini mengatakan aku mencintaimu... cinta itu penuh kejahatan dan meski kamu mengatakan bahwa aku adalah penghiant cintamu tetap saja hatiku hanya ingin melihatmu.
"Bodohnya aku mencintai wanita murahan sepertimu yang mengatakan hal tidak sesuai faktanya," ucap Bianco dan meneteskan air mata lalu ia melangkah pergi meningalkan Kira yang sedang berbalik menatap dalam pungung belakang Bianco dengan tangis yang keras di sana.
__ADS_1