
Avim berlari secepat mungkin untuk mencari keberadaan Kira dan kini Ia tidak tahu dimana Kira berada. Pria itu berusaha untuk menelpon Kira tapi sayang yang di telpon tidak mengangkat telpon dari Avim sama sekali.
Para pasukan Jessy mulai berlari dengan cepat dan kini mereka semua mencari Avim dan Kira, Avim bersembunyi di samping tembok dengan nafas yang ngos-ngosan dalam pikiran Avim Tuhan tolong selamatkan nona Kira, dimana kamu nona?
Pada akhirnya Avim meminta bantuan Bianco karena hanya Bianco yang bisa membantu Kira.
"Hallo..." suara dari ponsel Avim.
"Tuan muda... ini Avim tolong selamatkan Kira, nona menyerang rumah Jessy tapi sekarang pasukan Jessy sangat banyak..."
Tut...Tut ..
Belum selesai Avim berkata panggilan dimatikan. Avim kembali memanggil nomor Bianco tapi nomornya tidak aktif. Avim pun chat pada Bianco untuk memberitahu Bianco bahwa nyawa Kira sekarang dalam bahaya.
Jauh dari ketiktahuan Avim ponsel Bianco dipegang oleh Sherli, setelah berharap cintanya diterima oleh Kira kembali tapi semua jauh dari apa yang dibayangkan oleh Bianco bahwa Kira tidak akan kembali seperti dulu untuk dirinya.
Bianco duduk merenung di depan kolam renang dengan banyak penyesalan dalam kepalanya, Sedari pulang dari pemakaman Karin Bianco hanya diam dalam kamar dan tidak makan apa pun.
Sherli yang kwatir akan kondisi Bianco hanya bisa menemani sang suami tanpa berkata apa-apa, sedangkan Bianco Ia sama sekali tidak mempedulikan ponsel atau apa pun saat ini pikirannya sangat kacau.
Cerita Kira, Karin, atau pun Jessy semuanya bukan lagi urusan Bianco sekarang saatnya Dia menjadi seorang ayah dan suami untuk aku dan anakku...
batin Sherli memegang perutnya saat Ia menghapus pesan dari Avim yang baru masuk.
"Apa kamu membutuhkan teh atau kopi?" tanya Sherli.
Sherli bertanya ketika dirinya menghampiri Bianco yang duduk diam menatap langit.
"Pergi!" suara Bianco dingin.
"Sampai kapan kamu akan seperti ini? Semua sudah jelas Bian bahwa..."
Suara Sherli putus.
"DIAM!!!" Bentak Bianco.
Bianco menatap bunuh pada Sherli.
"Kamu tidak tahu apa-apa." Bianco melangkah pergi.
"Aku tahu semua. Aku mencoba menjadi tenang dan melupakan semua yang terjadi mencoba memahami diri kamu walau aku tahu aku bukanlah orang yang kamu inginkan."
Suara Sherli mulai bergetar matanya pun mulai berkaca-kaca.
"Aku tahu pernikahan ini hanyalah pelampiasan kamu ketika ingin menghancurkan Kira, Aku tahu hatimu hanya ada Kira, tapi setidaknya pedulikan bayi ini..."
Sherli mulai menangis dengan histeris ketika berucap dengan memegang perutnya yang mulai membesar. Bianco yang mendengar semua ucapan Sherli hanya diam dan menatap dalam pada Sherli, memang benar semua yang diucapkan Sherli bahwa Ia menikahi dan membangun rumah tangga dengan Sherli semua hanya untuk menyakiti Kira yang pada akhirnya suatu kesalahan terbesar yang dibuat oleh Bianco dalam hidupnya.
Pria itu melangkah menghampiri Sherli dengan memeluk wanita yang menjadi istrinya saat ini. Tangis Sherli pun semakin kencang sedangkan Bianco hanya diam merasa bersalah pada Sherli karena Ia adalah korban dari kisah percintaan Bianco dan Kira.
Di tengah-tengah pelukan penuh tangis itu datanglah pak Sud ayah Sherli yang langsung menerobos masuk ke pintu kamar Bianco dan Sherli tanpa meminta ijin.
"Pak Sud!" Kaget Bianco.
Bianco membulatkan matanya ketika menatap Pak Sud dengan keningnya yang mulai berkerut banyak tanda tanya.
"Maaf. Maaf jika saya lancang tuan muda," ucap Pak Sud bersalah.
"Papa." Suara pelan Sherli.
Sherli pun ikut syok dengan melepaskan pelukannya dari Bianco sambil secepatnya menghapus air matanya yang masih tersisa di pipi.
"Ada apa pak Sud?" tanya Bianco.
"Saya mendapat kabar dari Avim. bahwa saat ini nyawa Kira terancam Dia sudah menghubungi anda tapi ponsel anda tidak aktif dan sudah mengirim anda pesan juga."
Jelas pak Sud.
Sial...
batin Sherli ketakutan.
"Di mana Avim sekarang?"
"Di rumah Jessy." Jawab pak Sud.
Tanpa membuang banyak waktu Bianco secepatnya mengambil jaket dan ponselnya yang ada di meja lalu Ia segera melangkah pergi meninggalkan Sherli sendiri.
Pak Sud yang melihat kecemasan di wajah Bianco hanya menarik nafas panjang lega dengan menatap ke putrinya.
"Jika kamu mencintai tuan muda setidaknya berkorban untuk Dia. Hal ini yang paling tepat untuk kamu lakukan sekarang," ucap pak Sud menatap putrinya itu.
"Apa maksud papa?" Sherli bingung.
"Papa tahu kamu yang menghapus dan mematikan ponsel tuan muda," jawab Pak Sud penuh tekanan.
__ADS_1
"Menjadi yang ke 2 untuk seseorang itu sangat sulit tapi jangan menjadi egois hanya karen cinta."
"Hidup bahagia diatas penderitaan orang lain bukanlah hal benar dalam kehidupan ini karena pada akhirnya tempat pulang Bianco tetaplah Kira. Inilah perbedaan kamu dengan Kira kamu mengutamakan kebahagiaanmu dibandingkan orang sekitar sedangkan Kira mengutamakan kebahagian orang terdekat dibandingkan dirinya sendiri."
Pak Sud menasehati Sherli yang sudah semakin masuk dalam jurang walau Ia tahu itu sulit tapi setidaknya sebagai seorang Ayah hal inilah yang harus dilakukan pak Sud. Sherli hanya diam merenungkan semua ucapan Ayahnya walau ada rasa tidak suka di dalam sana namun, apa yang diucapkan ayahnya sangatlah benar.
*****
Plak...
Bruggh..
Tamparan dan pukulan keras tepat di wajah Pria yang kini tidak berdaya lagi.
"AVIM!!!"
Tangis Kira tidak ada hentinya ketika melihat Avim yang disiksa begitu kejam oleh anak buah Jessy di depan matanya sendiri.
ya setelah mengabari Bianco Avim kembali mencari Kira yang pada akhirnya menghantarkan keduanya ke lubang Jessy.
"Sudah aku bilang kamu tidak bisa melawan aku mengapa kamu harus mengorbankan nyawa banyak orang untuk balas dendam yang pada akhirnya akan menghancurkan nyawa banyak orang juga."
"Lepaskan Avim! Kenapa tidak kamu siksa aku saja!!!" suara Kira penuh emosi.
Hahahha...
tawa Jessy kencang.
"Karena aku suka melihatmu marah." lanjut Jessy.
Jessy berucap sambil memegang keras dagu Kira dengan tatapan bunuh.
Kira yang sedari tadi berusaha melepaskan tali yang diikat pada tangannya dan kini tali itu sudah terlepas. Kini Kira mengambil pistol yang masih tersimpan di perutnya dengan cepat Kira langsung menembak Jessy ketika wanita itu balik untuk meminta para anak buahnya kembali menyiksa Avim.
Pruttt...
"Nyonya!!!" jerit asisten Jessy.
Pruttt...
Kira kembali menembak asisten Jessy hingga jatuh tak berdaya.
"Jangan mendekat!"
"Jika ada yang mendekat akan aku habisi bos kalian!" ancam Kira.
"Lepaskan aku Kira!" suara Jessy.
"Apa yang kalian lakukan? Habisi Dia!?"
"Jangan pedulikan aku." Tatap Jessy emosi.
"Diam!" Kira kembali menodongkan pistol ke kepala Jessy tanpa ada rasa takut di wajahnya.
"Sekali lagi kamu keluarkan suara akan aku habisi kamu!" Ancam Kira lagi.
"Cepat lepaskan Dia!" perintah Kira.
Kira memerintah para pengawal untuk melepaskan Avim yang sudah tidak berdaya di sana.
"Jangan dengarkan Dia! Habisi saja Pria itu!" suara keras Jessy kembali.
"Aku bilang Diam!"
"Dia tidak bisa menembak. Dia Hanya..." Suara Jessy putus.
Pruttt...
Pruttt...
Dalam hitungan detik dua anak buah Jessy tumbang sekaligus.
"Kamu pikir aku takut?"
"Aku tidak takut sama sekali Jessy. Lepaskan Dia sekarang juga!" perintah Kira lagi.
Jessy yang syok akan apa yang dilakukan Kira kini hanya diam tidak berkutik lagi.
"KIRA!" pangil seseorang di luar sana.
"Kira di mana kamu? Jessy lepaskan Kira! sekarang polisi sudah mengepung rumahmu!" lanjut suara tersebut.
Kira yang mendengar ucapan Bianco kaget dan juga Jessy. Gadis itu melihat bahwa di seluruh sudut rumah Jessy sudah dipasangi tombak besi jika Bianco salah langkah nyawa Dia dalam bahaya
Dengan licik Jessy memerintah para Bodyguard mengelilingi sudut rumah Jessy dengan semua Pistol besar di tangan mereka.
__ADS_1
"Lepaskan aku atau nyawa Bianco dalam bahaya."
"Kira!" panggil Bianco.
"Jangan takut aku bersamamu. Polisi sudah ada keluarlah," lanjut Bianco lagi.
"Di semua lorong rumahku sudah banyak tombak dan peluru di mana-mana jika kamu masih menahanku dalam hitungan detik remote kontrol semua tombak peluru itu akan aku pencet untuk membunuh Bianco." Ancam Jessy.
"Kira!!!" panggil Bianco lagi.
Bianco yang terus memanggil nama Kira semakin dekat dengan tempat di mana Kira dan Avim yang saat ini di sekap.
"1... 2..." Jessy menghitung penuh semangat.
Tanpa menunggu Kira menembak satu peluru lagi di perut Jessy dan dengan penuh dendam Ia menusuk perut Jessy lagi.
"Sebelum aku mati kamu juga harus mati," Tatap Kira penuh bunuh.
akhhhh..
Dengan sekuat tenaga Jessy berteriak pada para anak buahnya yang sudah ada di ruang kontrol remote lorong-lorong.
"TEMBAK SEKARANG JUGA!!!" Teriak Jessy.
"BIAN...!!!" Kira berlari ke arah Bianco.
Bianco yang mendengar suara Kira memutar tubuhnya dan di depan mata Bianco semua suasana diam. Hanya ada suara tembakan peluru baik dari anak buah Jessy atau pun polisi.
Pruttt.....
Prutttttt....
Prutttt...
"KIRA...!" Panggil Bianco.
"Hentikan!!!"
Prutttttt....
Tembakan demi tembakan berulang-ulang pada tubuh Kira hingga akhirnya Ia tidak berdaya.
Suara tembakan hilang dalam beberapa menit ketika polisi yang berhasil menangani semua anak buah Jessy dan menangkap Jessy yang juga dalam kondisi parah. Namun, semua tidak berubah Kira pun ikut dalam tragedi balas dendam yang pada akhirnya membunuhnya.
"Nona Kira..." suara Avim tidak percaya.
"Kira. Kira. Kira dengarkan aku..."
"Kenapa kamu lakukan ini? Kenapa tidak biarkan aku saja yang di tembak?"
"Kamu tidak mencitai aku lagi. Kenapa Kira?" Bianco menangis histeris.
Bianco menangis ketika melihat wanita yang sangat Ia cintai tubuhnya bersimbah darah dengan semua tombak menembus di tubuhnya di mana-mana.
"Tidak..." tangis Bianco.
Mata yang tertutup dengan air mata masih mengalir kembali terbayang semua hal yang terjadi selama hidupnya.
Pada akhirnya Aku hanya ingin tidak mengenal kamu sekali pun dalam mimpi.
@ShakiraChandi.
Pada akhirnya sekuat aku mencoba melupakan segalanya semuanya akan kembali seperti hari ini.
@ShakiraChandi.
Tetesan demi tetesan air mata bagaikan hujan mengalir dari sana, Sekuat Kira mencoba untuk lari dari Bianco pada akhirnya tetap ia akan kembali pada Pria itu. Bianco memeluk tubuh tidak bernyawa di sana dengan tangis tiada henti-hentinya tapi apalah Daya semua sudah terjadi.
***Pada akhirnya cinta itu yang akan membunuh kita berdua.
Aku hanya ingin ini adalah mimpi jika arah jarum jam bisa ku pita akan aku putar kembali di mana aku tidak mengenalmu.
Aku ingin tidur untuk melupakan semua ini***.
Mata Kira menutup pelan air mata yang mengalir tersisa pun mengering, Bianco menangis sejadi Mungkin penuh penyesalan dalam diri.
***
Takdir adalah kejutan yang tidak terduga, Hargailah selalu masih ada.
Pernikahan bukanlah hubungan yang harus kita sia-siakan Pernikahan adalah hubungan dari Allah.
Sebuah Hubungan akan hancur ketika tidak kepercayaan dan komitmen yang kuat
Dendam hanya akan menghancurkan semuanya.
__ADS_1
@Sildadelita99
TAMAT.