PERNIKAHAN SAKIRA

PERNIKAHAN SAKIRA
Bertemu


__ADS_3

"Karin... hiks bangun ini kakak hiks..." tangis Kira ketika ia yang langsung terseret jatuh di lantai sambil memangku kepala Karin di pahanya sebagai alas bantal.


Bianco yang mendengar suara tangis Kira berlari dengan kencang berpikir bahwa Kira yang tertembak oleh anak buahnya. Namun saat Bianco di depan sana ternyata bukan Kira yang tertembak melainkan adik Kira Karin.


"Karin. Kamu baik-baik saja, kan? Hiks..." tangis isyak Kira yang hiateris saat melihat darah di bagian bahu Karin.


"Kakak... aku baik-baik saja ini hanya luka biasa. Kenapa kakak di sini? Di sini berbahaya untuk nyawa kakak," jawab Karin menenangkan Kira sambil menghapus air mata Kira.


"Bagaimana kamu bisa mengatakan itu luka kecil... hiks... ayo sini kakak obatin luka ini sini kakak bantu kamu kita pergi dari sini," lirih Kira masih dengan tangisan sambil membantu Karin berdiri untuk segera di bawa ke rumah sakit.


Namun saat Kira yang ingin membawa Karin pergi tiba-tiba bunyi tembakan yang membuat semua orang termasuk Bianco kembali bersembunyi akan tembakan itu.


Pruut....


"Jangan begerak! Kami dari pihak kepolisian dan sudah mengelilingi semua gudang ini. Jika kalian berani melawan maka jangan salahkan kami jika melakukan hal kasar," seru polisi yang mulai melangkah masuk ke dalam gudang rahasia itu.


"Saudara Karin anda tidak bisa pergi anda akan ditangkap sebagai seorang pembunuh angota Yzd yang selama ini selalu melakukan pembunahan kejam pada masyarakat."


"Apa? Pem- pembunuh?"


"Bapak pasti salah paham? Bagaimana mungkin adik saya bisa melakukan hal sekejam itu pada orang yang tidak berasalah?" ucap Kira yang sama sekali tidak percaya akan ucapan polisi.


"Itu semua benar kakak. Selama ini aku hidup dalam darah manusia. Mungkin inilah saatnya aku harus membayar kesalahan aku," jawab Karin menyesal menatap berkaca-kaca pada Kira kakaknya.


"Tetap saja dia terluka pak. Biarkan adik saya istrahat dulu sampai lukanya sembuh jika memungkinkan saya akan memcari dapang siapa yang berani menjadikan adik saya..."


"Nona Kira. Kami menghargai nona karena anda adalah seorang istri tuan muda Bianco tapi maaf kami tidak bisa menyetujui ucapan nona."


"Tapi pak adik saya sedang..."

__ADS_1


"Kira... Kira..." suara Jessy datang tiba-tiba seperti orang yang tidak bersalah berdiri sambil tersenyum pada Kira yang menatap tajam Jessy di sana.


"Seorang pembunuh bagaiman mungkin dimaafkan? Banyak nyawa yang sudah ia korbankan untuk menghilangkan nyawa orang termasuk ibu mertuamu bagaimana mungkin kamu masih membela adikmu yang jelas-jelas salah," papar Jessy tersenyum licik.


"DIAM!!!"


"Adikku mungkin membunuh banyak orang tapi dia tidak akan melukai nyonya Reka. Aku tahu seperti apa adikku."


"Ibu mertua aku meningal karena kamu yang bersekongkol dengan anak buahmu untuk menjebak adikku... Jessy;" seru Kira dengan nada tegas sambil menatap tajam Jessy yang tertawa kencanh di sana hinga suaranya memenuhi seluruh ruangan.


"Jangan pernah memutar balikan fakta nona Kira Bridges."


"Apa...?"


"Aku tahu dia adikmu. Tapi menutup matamu akan fakta bahwa adikmu yang membunuh mertuamu sendiri."


"JESS!!!" jerit Kira menaikan oktaf suaranya yang sangat tinggi menatap tajam Jessy dengan mengepal kuat tanganya di bawah sana sambil berdiri dan meningalkan Karin yang masih dipangku oleh Kevin di bawah sana dengan kondisi yang lemah.


"Semua itu benar kakak. Hiks..." lirih Karin yang mulai menangis keras penuh penyesalan di bawah sana.


Kira yang mendengar ucapan Karin semakin kaget dan tidak percaya gadis itu melemas seluruh tubuhnya. Tatapanya yang tadi sangat tajam penuh emosi di dalam sana kini berubah menjadi sendu. Kira memutar tubuhnya menghadap Karin yang sudah memaksakan dirinya yang masih lemah menatap Kira dengan tangis yang kencang penuh penyesalan. Sedangkan Jessy tersenyum manias dengan bahagia melihat kehancuran Karin dan Kira dan Bianco menatap kaget akan semua hal ini dan masih tidak percaya akan semua ini.


"Apa kamu bilang? katakan pada kakak bahwa ini semua hanya jebakan dari Jessy agar kamu bisa menyelamatkan kakak dari dia katakan bahwa..." suara Kira dicela kembali oleh Karin.


"Kakak. Semua ini benar aku adalah orang yang membunuh nyonya Reka aku juga orang yang melumpuhkan mertua kakak. Aku juga yang membunuh orang tua pura-pura kakak. Dan aku... adalah ketua dari pembunuh berantai yang selama ini dicari oleh polisi."


"Kakak. Maafkan aku... sunguh aku menyesal akan semua itu. Karena rasa dendamku yang dibodohi oleh orang lain aku tidak percaya akan ucapan kakakku yang rela..."


"CUKUP!" jerit polisi yang sudah capek akan drama mereka semua.

__ADS_1


"Nona Karin anda sudah mengaku akan semua kesalahan ini jadi ikut kami ke kantor polisi dan akan disidangkan di pengadilan akan kesalahan anda sendiri."


"BAWA DIA!" tegas polisi.


"Kakak... aku mohon maafkan aku. Maaf karena sudah mengecewakan kakak. Kakak..."


Kira jatuh dengan lemas di bawah sana. Air mata seketika mengalir dengan deras di sana ia tidak percaya akan semua kenyataan ini dan masih sangat syok. Kini pikiran Kira sudah tidak fokus pada Karin pikiranya hanya seputar semua kenyataan bahwa Karin adalah pembunuh.


Sedangkan Jessy dengan santai melangkah pergi penuh kemenangan karena dirinya berhasil mencapai titik kehancuran dua saudara itu. Jessy tidak ditangkap polisi karena memang tidak ada bukti kuat untuk menyeretnya ke kantor polisi. Dan semua kejahatan Jessy ditumpahkan semua pada Karin.


"Kakak...!" panggil Karin dengan keras pada Kira yang masih terpaku diam di sana tanpa berucap apa pun.


Karin yang diseret paksa dengan kasar oleh polisi terus memangil nama kakaknya namun sayang tidak ada jawab sama sekali dengan Kira. Gadis itu masih sangat syok akan semua kenyataan dan tidak tahu harus berucap apa.


Semua ini salahku. Andai saja aku tidak mengikuti syarat Jessy menikah dengan Bianco mungkin adik aku tidak akan menjadi seorang psikopat pencabut nyawa banyak orang. Maafkan kakak Karin karena aku kamu banyak mendapat kegelapan, bungkam Kira menyalahkan dirinya sambil menghapus air matanya.


"Karin... aku harus melihat mengatakan ini pada Karin," bicara Kira sendiri saat sadar akan adiknya.


Namun saat ia melihat di tempat tadi Karin dibaringkan sudah tidak ada di sana. Kira kaget dan sadar bahwa adiknya di bawa oleh polisi.


"Karin... tunggu! Jangan bawa adikku," teriak Kira sambil berlari mengikuti Karin yang sudah dibawa pergi oleh polisi.


Namun Kira telat mobil polisi yang membawa Karin kini sudah pergi jauh di sana dengan air mata deras Kira menjerit namun sayang mobil itu sudah jauh dari tatapan Kira.


"Karin!!! Hiks..."


"Karin...." tangis Kira sambil berlitut di aspal jalanan dengan tangis yang keras dibawah sana.


Bianco yang melihat tangis histeris Kira hanya diam menatap istrinya itu dengan sangat dalam. Saat Kira bangkit berdiri rencana mau mencari taxi akhirnya setelah sekian lama mata Kira yang masih berair bertemu dengan mata Bianco yang juga ikut menatapnya.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2