PERNIKAHAN SAKIRA

PERNIKAHAN SAKIRA
Masa Lalu


__ADS_3

"Jadi karena hal itu kamu ingin bunuh diri?" Tanya Avim pada Kinta.


"Ya tuan. Sebenarnya aku takut jika kedua orang tua aku mengetahui ini. Aku takut mereka akan membenci aku," jelas Kinta.


Kinta menjelaskan semua pada Avim mengapa ia ingin bunuh diri. Ia menceritakan tentang masalah yang sebenarnya pada Avim dan kehamilan dirinya. Avim yang mendengar ucapan Kinta hanya diam dan memikirkan sesuatu. Dia sedang berpikir bagaimana cara mencari solusi untuk Kinta.


"Mereka adalah orang tua kandungmu. Mungkin ini berat tapi lebih baik kamu memberitahu apa yang sebenarnya pada mereka. Karena serendah-rendahnya kesalahan seorang anak tetap akan terlihat hebat dan tinggi di mata orang tua."


"Tidak ada orang tua yang akan membenci anaknya. Aku yakin ibu dan papamu akan menerima dirimu. Jadi temuilah mereka dan katakan yang sebenarnya," Avim menatap dalam Kinta.


Avim berucap dengan banyak makna dalam setiap kata yang keluar dari mulutnya. Avim tahu bahwa Kinta memang takut karena hal seperti ini pernah dirasakan adik Avim sebelum gadis kecil itu bunuh diri. Ya Avim memiliki masa lalu yang, sama persis dengan Kinta. Untuk sekejap memory tentang Mawar yang sudah berusaha dilupakan pria itu bertahun lamanya kembali muncul diingatanya.


Ia memiliki seorang saudara kandung perempuan yang sangat cantik dan imut. Gadis kecil itu bernama Mawar. Wanita yang memiliki tubuh ramping, bibir kecil, alis mata yang tebal dan rambut yang panjang nan lurus. Memiliki tinggi badan 155cm.


Mawar adalah adik perempuan satu-satunya Avim yang sangat disayangi Avim. Ia dikenal sebagai gadis yang ceria dan cerewet gadis itu adalah anak kesayangan orang rumah namun karena satu kejadian semua kecerian, dan mulutnya yang banyak omong semuanya hilang di telan bumi.


Mawar menjadi gadis pendiam saat ia mengenal Erik pacar Mawar. Awalnya Avim mengira bahwa Erik adalah pria baik-baik dan punya tanggung jawab. Namun semua yang Avim pikirkan salah total. Karena pertama kali melihat penampilan Erik membuat Avim sudah tahu bawa Erik bukan pria yang baik-baik.


Setelah menghamili adik kesayangan Avim Erik pergi meningalkannya. Ia lebih memilih sekolah di luar negri dan mengatakan pada Mawar untuk melupakan dirinya.


**** ( Mawar dan Erik). Setahun yang lalu...


"Lupakan aku segera. Dan jika bisa gugurkan kandunganmu karena aku belum siap untuk menjadi seorang ayah," tandas Erik dengan paksaan dan emosi.


"Apa...?" Mawar bertanya dengan nada kegementaran karena ketakutan. Akan kata-kata yang pernah dikatakan oleh Avim kakak kandungnya.


"Aku tidak mencintaimu Mawar. Aku menjalin kasih denganmu karena taruhan dengan teman-teman aku bukan cinta."


"Jadi gugurkan kandungan ini karena besok aku sudah pergi," jelas Erik tidak peduli dengan keadaan Mawar.

__ADS_1


Plak...


"Beraninya dirimu...berbicara seperti itu setelah semua yang terjadi pada aku!" Jerit Mawar dengan air mata mengalir menatap tajam Erik.


"Seharusnya aku mempercayai ucapan kakak dan orang tua aku. Namun karena cinta buta aku padamu mengabaikan ucapan mereka dan berusaha menjalin hubungan cinta dengamu."


"Lalu setelah kamu merasakan tubuhku dan menghamili aku. Teganya kamu berbicara seperti itu...!" Teriak Mawar dengan nada tingginya.


"Terserah apa pendapatmu. Namun aku akan pergi ke luar negri besok. Jadi aku tidak banyak waktu beredebat dengan dirimu," tutur Avim yang akan pergi karena mobil jemputanya sudah datang.


"Tapi aku hamil Erik. Ini anakmu bagaimana mungkin kamu meminta aku untuk menggugurkan kandungan ini," seru Mawar dengan air mata yang terus mengalir menatap sendu pada Erik.


"Aku tidak peduli Mawar. Kita melakukan hal itu sama-sama mau. Dan saat menyadari umur aku yang masih muda aku baru sadar bahwa aku belum bisa menjadi seorang ayah," pungkas Erik.


Erik berucap dengan nada tegas. Pria itu sama sekali tidak peduli dengan Mawar cinta yang ia berikan pada Mawar itu hanyalah sandiawara. Sebenarnya Erik sudah memiliki seorang tunangan yang akan dinikahinya. Erik beralasan pada Mawar untuk mengugurkan kandunganya dan meminta gadis malang itu melupakanya itu semua hanya karena ia ingin menikahi tunangan pilihan orang tuanya.


Mawar yang mendengar ucapan Erik hanya menarik nafasnya dalam-dalam. Umurnya yang masih 17 tahun harus ia terima dengan nasib buruknya. Mawar begitu menyesal saat ia mengingat kembali pertama kali menjalin cinta dengan Erik banyak orang-orang terdekatnya yang mengatakan pada Mawar bahwa Erik bukanlah pria yang baik untuk Mawar.


***( Mawar Avim).


Plak....


"Dengarkan kata-kata ini Mawar tamparan ini tidaka akan sesakit jika suatu saat Erik pergi meningalkan dirimu. Aku adalah pria namun aku tahu pria mana yang baik dan mana yang tidak," ucap Avim menatap tajam dengan dalam saat ia menampar wajah cantik adik kesayanganya.


"Aku tidak peduli! Erik adalah cinta hidup aku dan nafas aku. Jika dari kalian semua yang berani menyentuh atau melarang aku berhubungan dengan Erik cam kan kata-kata aku ini. Aku akan melakukan hal di luar nalar kalian semua...!" Tegas Mawar dengan nada tinggi dan melangkah pergi ke kamarnya meningalkan Avim dan kedua orang tua mereka yang masih berdiri menatap Mawar.


"Mawar...!" Teriak Avim namun dihiraukan gadis kecil itu.


*** flash back.

__ADS_1


Bodohnya aku tidak mempercayai kata-katamu kakak, ayah, ibu...hiks aku sangat menyesal. Sekarang baru aku sadar kakak betapa pentingnya ucapanmu itu...hiks, nyesal Mawar menangis menatap kepergian Erik yang sama sekali tidak peduli dengan keadaanya.


Erik yang setelah mengucapkan semua hal yang ingin ia sampaikan pada Mawar. Pergi meningalkan gadis malang itu tanpa dosa atau rasa bersalah dalam diriinya yang sudah menghamili Mawar.


Mawar yang mendengar semua ucapan Erik itu terasa sangat sesak di dadanya. Hatinya sangat hancur menyadari akan kenyataan pahitnya masa mudanya yang disia-siakan dirinya untuk cinta yang menghancurkan masa depanya itu. Gadis malang itu menangis sejadi-jadinya saat melihat kepergian Erik yang sudah jauh dan akan menghilang dari tatapanya itu.


Mawar yang saat itu tidak berpikir jernih akhirnya mengakhiri hidupnya dengan melompat bunuh diri dari atap apertemen dimana itu dekat dengan pertemuan perpisahan Mawar dengan Erik. Karena merasa bersalah pada kedua orang tua dan kakaknya. Dan juga merasa malu akan apa yang terjadi pada dirinya akhirnya ia pun memilih jalan pendek dengan mengakhiri hidupnya.


Menurut gadis malang itu dengan kematian maka semuanya selesai. Tidak ada yang malu akan kehamilanya dan tidak ada yang akan merendahi atau menyalahkan kedua orang tuanya. Namun Mawar salah bahwa sejak kematianya itu Avim menjadi trauma dalam hidupnya.


Rasa bersalah selalu menghantui diri Avim akan kehilangan sang adik tersayangnya itu. Apalagi meningalnya Mawar bertepatan dengan ulang tahun Avim sebab itulah pria itu mengangap tangal kelahiranya adalah tanggal terburuk dalam hidupnya. Sejak saat itu juga ia selalu berjanji akan menyelamatkan siapa pun yang ingin mencoba mengakhiri hidupnya.


*****


Flash back... Avim dan Kinta.


Avim menarik nafasnya dalam-dalam saat mengingat kembali semua kejadian masa lalunya yang kelam. Ia menghapus air mata yang tadi tidak sengaja mengalir dari matanya. Lalu ia berbalik menatap dalam Kinta dengan mengukir senyuman tulus.


"Aku akan membantumu menyelesaikan masalah kamu. Asalkan kamu mau jujur dengan keadaan sekarang pada kedua orang tuamu," tawar Avim menatap dalam Kinta.


Kinta yang bingung dengan ucapan Avim mengangkat kedua alisnya dengan posisi masih duduk di sofa ruang tamu apertemen Avim. Gadis itu mengerutkan jidatnya menatap penuh pertanyaan pada pria yang saat ini berdiri di hadapanya itu.


"Maksud kamu?" Tanya Kinta penasaran.


"Jawab aku dulu apa kamu siap memberitahu kedua orang tuamu dengan jujur?" Tanya balik Avim.


"Hemm. Aku siap. Sekarang jelaskan apa maksud ucapanmu itu?" Jawab Kinta dengan mengangukan kepalanya menatap Avim.


" Berpura-puralah menjadi tunangan aku. Kita akan bersandiwara menjadi seorang kekasih di hadapan mantan pacarmu. Akan aku tunjukan deratnya," ungkap Avim meremas jari-jemarinya dengan sangat kuat di bawah sana dan urat nadi muncul di leher dan dahinya saking emosinya diri Avim.

__ADS_1


"Apa...? Tunangan? Sahut Kinta tidak percaya.


Bersambung.


__ADS_2