
Follow Ig: @Sildadelita99.
Halo semua Jangan lupa tinggalkan jejak disini ya...
kalian baca jam berapa? asal dari mana?
me: Kupang NTT.
Salam kenal semua🤗❤️❤️🙏🙏
***Yuk saling tanya umur, kalian berapa usianya?
komen spam kasih banyak dong biar aku semangat nulisnya
Satu kata untuk Bianco?
satu kata untuk Kira?
satu kata untuk Kevin***
Silakan tinggalkan enek-enek tentang cerita ini tanggapan kalian dong?
Oh ya Menurut kalian cerita ini mau diapakan happy ending?
atau Sad Ending??
Spam kasih banyak ya...
Happy Reading Guys...
*****
__ADS_1
Seperti langit yang cerah namun masih ada gelap di sana, seperti kehidupan kadang kita jujur namun terkadang kita menjadi iblis demi kepentingan kita sendiri.
Betapa kejamnya diriku saat ini mengorbankan segalanya demi kepentinganku sendiri, aku mengorbanyakan banyak nyawa hanya demi satu nyawa..., batin Kira.
Kira bergumam dalam hati menatap langit-langit biru lewat jendela kamar yang saat ini ada di hadapanya. Kira menatap langit-langit saat dirinya duduk di atas sofa kamar yang biasa digunakan dirinya untuk tidur. Kira kembali mengingat semua kejadian hari ini, semua tuduhan Bianco pada dirinya.
Kira menyalahkan dirinya sendiri karena ia menyangkal kejahatannya yang memang benar kalo dia adalah dalangnya. Kira menarik kedua lututnya dengan menumpukkan kepalanya diatas kedua lututnya sambil duduk di atas sofa dan tangan Kira melingkar di kedua kakinya.
Tidak terasa air mata Kira kembali
mengalir pelan-pelan dari kedua manik-manik bola matanya yang membasahi kulit mulus paha Kira. Ia tidak menyangka bahwa dirinya adalah seorang pembunuh dan wanita yang paling licik. Ada rasa bersalah di hati kecil Kira saat membayangkan wajah Bianco di benaknya.
Mengapa? Mengapa harus aku yang menjadi kaki tangan Jessy? Mengapa aku harus bersekongkol dengan orang yang melumpuhkan mertuaku sendiri? .... mengapa hidupku dan pernikahanku berada di darah dan penderitaan keluarga suamiku sendiri? bukan pernikahan seperti ini yang aku inginkan dari kecil? mengapa hal yang dialami kedua orang tuaku harus aku yang tanggung?...aku seperti mawar yang indah namun memiliki duri yang menyakitkan..., batin Kira dan tidak terasa air mata itu kembali mengalir dari kedua matanya saat ia menatap kembali langit-langit lewat jendela kamar.
Air mata Kira terus mengalir di sana, Kira menangis menahan rasa diamnya agar suara seengukan tangisnya tidak rerdengar oleh Bianco atau pun para pelayan.
Bianco masih mengurus Reka, Bianco terus mencari tahu siapa dalang di balik kelumpuhan ibunya, Dia meminta pak Sud untuk tidak menyelediki para pelayan rumah. Karena Kira tidak bersalah, Dokter menyarankan agar Reka dirawat di rumah sakit namun Bianco menolaknya, ia menginkan ibunya di rawat di rumah saja. Ia sudah menyiapkan dokter khusus buat Reka dokter itu berasal dari Amerika yang akan datang ke Indonesia.
Ia merasa penuh rasa bersalah pada Reka, pria itu tidak menyangka bahwa ibunya telah lumpuh pada hal baru kemarin ia makan bersama dengan Reka di meja makan. Dia masih ingat dengan jelas bagaimana tubuh Reka kemarin berjalan, tersenyum dengan bahagia. Hari ini tubuhnya terbaring kaku dan senyuman yang kemarin berubah menjadi tangis.
Bianco menghapus air matanya saat dirinya bangkit berdiri, Bianco mempercayakan Sherli untuk menjaga ibunya setelah memastikan Reka sudah tertidur lelap Bianco melangkah pergi meninggalkan Reka dan Sherli di kamar.
Pria itu masuk ke dalam ruang kantor pribadinya di rumah untuk menandatangani semua berkas-berkas perusahaan kerja sama dengan perusahaan terbesar lainya, Bianco di temani Avim dan Kevin tanpa ada suara dari mereka satu sama lain, selesai menandatangi berkas, Bianco menyerahkan berkas-berkas itu pada Kevin.
Kevin memgambil berkas dari tangan Bianco sambil membungkukan kepalanya ke bawah sebagai rasa hormat, Kevin menarik senyuman tipis dibibirnya dengan penuh kemenangan akan keberhasilanya yang melumpuhkan Reka.
Tinggal selangkah lagi aku Kevin Adijaya akan menguasai semua harta dan aset perusahaan Bridges, berbicara dalam hati.
Ini baru awal Bianco pada akhirnya sikap sombong dan songongnya dirimu akan dihancurkan, tunggu saja ronde ke dua yang lebih seru dari ini, batin Kevin.
Kevin bergumam sambil tersenyum bahagia, sedangkan Avim hanya berdiri mematung diam di depan pintu dengan banyak pikiran tanda tanya.
__ADS_1
Rekaman cctv dihapus, rumah yang begitu banyak bodyguard bagaimana mungkin dalam sekejap nyonya besar langsung dilumpuhkan. Hari ini Kevin terlihat sangat santai ia sama sekali tidak terlihat sedih. Dan mengapa rapat yang penting dalam perusahaan tidak diberitahu sama tuan muda? Ini sangat aneh apakah Kevin menyembunyikan sesuatu? Batin Avim.
Avim bergumam sambil menatap Kevin penuh dengan kecurigaan saat Kevin tersenyum pada Avim.
Sesudah menyelesaikan semua urusan kantornya Bianco melangkah pergi meningalkan ruang kantornya dan segera kembali ke kamar. Bianco menarik nafas dalam karena ia berpikir akan cangung di depan Kira mengingat kejadian dan sikapnya hari ini. Bianco memegang gagang pintu dan dibukanya secara pelan-pelan lalu ia masuk kembali mentup pintu pelan-pelan agar tidak mengangu Kira.
Karena lampu tidur di meja belum dimatikan oleh Kira, jadi wajah Kira yang bersinar menyamari samar kilau cahaya walau pria yang saat imi masuk belum melihat Kira. Sebuah senyuman diukir dari bibir Bianco saat ia melihat pakaian tidur yang ada di ranjang kamar, handuk yang juga di sediakan di samping baju tidurnya. Dan sendal kamar yang sudah disiapkan di bawah kasur oleh sang istri.
Senyuman Bianco sekejap hilang saat matanya menatap di kamar tidak ada siapa-siapa di sana. Secepatnya Bianco memutar kedua bola matanya menatap ke arah sofa. Eksperesi rasa lega ada di mata dan wajah pria tampan tersebut di maba saat itu ia menatap wajah bersinar Kira yang sedang tertidur pulas.
Bianco melangkahkan kakinya menyampari Kira yang sedang tidur di sofa tangan Bianco menarik pelan kursi sofa yang ada di meja rias untuk Ia duduki, mata Bianco tidak berkedip sedikit pun saat ia yang sudah duduk di hadapan Kira sambil menyandarkan dagunya di atas leher kursi dan terus menatap dalam pada wajah Kira.
Bianco menyeka air mata yang mengering di wajah Kira, ia tahu bahwa istrinya sedang menangis sejak tadi sebelum dirinya datang.
Kamu banyak meneteskan air mata hari ini... maaf. Maafkan aku yang tidak mempercayaimu...
Entah mengapa setiap kali aku melihat wajah ini, hatiku selalu bertanya bahwa wajahmu tidak asing bagiku?
Mengapa aku seperti ini... Bianco sadarlah kamu sudah ada Saskia bagaimana mungkin kamu mengkhianati Saskia tapi, mengapa aku sangat nyaman saat menatap wajah Kira? Rasanya sangat berbeda saat diriku menatap Saskia, batin Bianco.
Bianco yang bergumam dalam hati penuh rasa bersalah itu, Dia menatap Kira selama beberapa menit lalu Bianco bangkit berdiri ia melangkah mendekatkan dirinya yang semakin dengan Kira di sofa.
Kedua tangan Bianco yang satu melingkar t dileher Kira sedangkan yang satu melingkar di kedua kaki Kira, Pria itu sedikit menjongongkookan tubuhnya ke bawah lalu ia mengangkat pelan tubuh Kira sambil menatap dalam Kira dengan senyuman lebar dibibirnya.
Pria itu mengedong tubuh istrinya melangkah secara pelan ke ranjang kamar. Lalu saat sampai di kamar dia menidurkan tubuh Kira secara pelan-pelan di kasur. Bianco menarik selimut menutupi seluruh tubuh Kira.
Setelah membawa Kira untuk tidur di samping kamarya Bianco menatap Kira dengan sangat dalam saat dirinya yang duduk di tepi ranjang kamar tepat di sampiing Kira berbaring tidur.
Entah mengapa hati pria itu ingin melakukan hal romantis. Bianco bangkit berdiri menutup kedua mata saat wajahnya di dekat wajah Kira. Nafas mereka saling berbalas satu sama lain. Dengan tatapan dalam di wajahnya Bianco mendaratkan satu kecupan hangat dari bibirnya tepat di puncak kepala Kira dengan sangat dalam selama beberapa detik.
Bersambung
__ADS_1