PERNIKAHAN SAKIRA

PERNIKAHAN SAKIRA
Menahan Luka


__ADS_3

"Noni adalah istri sah tuan muda. Bagaimana mungkin kami memperlakukan kamu sama seperti kami," ucap kepala pelayan, pak Sud.


"Walau aku istrinya, tapi bapak dan beberapa pelayan di sini lebih tua dari aku, bagaimana mungkin saya melupakan aturan dasar itu."


Kira menjawab sambil tersenyum. Lalu Kira mulai melangkah memasuki dapur di sana beberapa koki dapur yang sudah siap membantu Kira. Gadis itu mulai melihat jadwal menu sarapan kesukaan Bianco yang sudah ditempelkan di dapur dan jadwal itu selalu diganti setiap minggu sekali.


Karena hari itu adalah hari senin, yang menu sarapan pagi untuk Bianco adalah roti telor dan susu. Kira mulai menyiapkan bahan untuk dimasak dia mulai mengambil roti tawar dikeluarkan samping-samping kulit roti, Lalu Kira mulai mengoreng telur mata sapi putih stengah matan di wajan yang minyak dietnya sudah panas.


Karena Bianco tidak menyukai kuning telur, jadi sebelum memasukkan telur ke dalam wajan Kira harus, mengeluarkan terlebih dahulu kuning telor. Selesai dikeluarkan telur mata sapi putih pun siap di goreng dan disajikan ke atas roti tawar yang sudah diberi mentega dan sedikit gula oleh Kira.


Setelah matang Kira mulai menyimpan telur mata sapi putih itu di atas roti tawar, dan dia kembali memaruti keju parut untuk menghiasi telur dengan bentuk love. Kira tersenyum bahagia melihat hasil buat roti telurnya untuk Bianco walau tidak sempurna Kira tetap bahagia.


Karena para pelayan membantunya di dapur jadi pagi itu Kira dan para pelayan rumah menyiapkan empat menu sarapan pagi. Roti telur mata sapi putih dengan susu putih, nasing goreng sosis+ ayam, pizza dan sanwich menggo puding full cream sebagai penutup mulut.


Semua makanan sudah tertata rapi di meja, saat bersamaan turunlah sosok Bianco yang juga sudah siap-siap mau ke kantor. Kini Bianco mulai menuruni tangga dengan sikap masih seperti biasa dingin dan cuek. Para pelayan berbaris rapi memanjang dari samping kiri dan kanan.


"Selamat pagi, ayo sarapan aku sudah menyiapkan sarapan kesukaanmu!" Ucap Kira tersenyum tulus pada Bianco.


"Tidak perlu merepotkan dirimu untuk memasak. Sudah ada koki dapur untuk apa bersusah payah meyiapkan sarapan? Lagian aku sudah kenyang," jawab datar Bianco dengan nada dinginya.


"Hem..." Kira berdehem sebentar.


"Kenapa berbicara seperti itu? Apa salah jika seorng istri memasak untuk suaminya?" Tanya Kira terus tersenyum walau kata-kata Bianco melukai hatinya.


"Karena kamu bilang sudah kenyang. Baiklah tapi tunggu sebentar aku akan membekalkan sarapan ini untuk dibawa ke kantor," lanjut Kira.

__ADS_1


"Kamu pikir aku anak Tk? Sarapan saja sendiri sarapanmu itu. Saskia sudah siapkan sarapan untukku di kantor, jadi tidak perlu nerepotkan dirimu membuat sarapan untukku di pagi hari aku tidak membutuhkan perhatianmu!"


"Aku tidak butuh sarapanmu. Jika kamu lapar makan kembali sarapan buatanmu itu," gerutu Bianco dengan dingin.


Bianco berucap dengan sangat dingin, lalu ia melempar jas kantor ke arah Avim untuk melangkah. Avim yang melangkah pergi bersama Bianco sedikit menatap Kira merasa bersalah pada Kira, semua pelayan yang masih berbaris rapi di samping kiri dan kanan meja makan juga merasa kasihan pada Kira mereka hanya diam menatap Kira dengan saling berbisik satu sama lain.


Pada hal dia hanya ingin menjadi istri yang baik untuk tuan muda, mengapa tuan muda begitu membenci gadis tidak bersalah ini, bisik Avim


Avim bergumam ketika dirinya melangkah menyusul Bianco dari belakang dan sekilas ia memutar tatapanya sebentar menatap Kira yang masih duduk diam di kursi meja makan.


Kira terpaku diam membisu di meja makan, rasanya ia ingin menangis tapi ia masih berusaha menahan sakitnya. Kira tersenyum menatap piring kosong yang ada dihadapanya, ia menatap sarapan roti telur yang dibuatnya secara khusus untuk Bianco. Jelas terlihat genangan air mata ada di sana namun Kira masih menahan tangisnya yang menyakitkan hatinya.


Tidak boleh menangis Kira, ayolah ini demi Karin, tapi.... mengapa sesakit ini? Aku berusaha mengatakan pada diriku baik-baik saja, namun semakin aku menahan rasa ini semakin menyakitkan, batin Kira.


Kira menyeka air mata yang sudah siap mengalir dari matanya. Ia menatap para pelayan dengan menebarkan senyuman, Kira mengambil sarapan roti telur yang dibuatnya untuk segera dimakan olehnya. Kira memakan dengan menahan rasa sakitnya dan terus tersenyum ke pada para pelayan dengan bahagia.


"Ini sangat enak... terimakasih untuk bantuan kalian hari ini," ucap Kira selesai makan.


Setelah sarapan pagi Kira dan para pelayan membereskan semua makanan yang masih banyak di atas meja. Kira mengatakan pada para pelayan bahwa makanan yang ada di meja sayang jika dibuang karena menurut Kira banyak orang di luar sana yang mungkin tidak sarapan sama sekali jadi ia meminta para pelayan menghabiskanya. Angap saja ini sarapan pagi untuk mereka.


****


"jam 8.00wib, rapat bersama para kariawan penting di kantor; Jam 9.00wib memeriksa hasil voting rapat; Jam 10.00wib bertemu dengan tamu-tamu kostemer dari luar negri; Jam 11.00wib makan siang bersama dengan para tamu luar negri dan jam 12.00 wib, memeriksa...," ucapan Avim terhenti saat Bianco memotong penjelasan Avim mengenai jadwal dia hari ini.


"Cukup. Apa tidak ada jadwal kosong untukku hari ini?" tanya Bianco kesal.

__ADS_1


Bianco bertanya dengan kesal karena ia pusing dengan jadwal hari ini. Hari ini jadwal Bianco sangat padat ia tidak memiliki waktu kosong untuk bersenang-senang. Bianco yang mendengar semua bacaan dari salah satu sekertaris kepercayaanya yaitu Avim, Menatap pria itu dengan sangat kesal.


"Maaf tuan. Tidak ada," jawab singkat Avim dengan datar.


"Aku akan laksakan semua tugas hari ini. Namun dengan satu syarat Kosongkan 2 jam jadwalku apa pun itu aku tidak peduli !?" ucap Bianco yang sudah turun dari mobil.


Bianco berucap sambil memakai jas kota-kotaknya, yang dipasangkan oleh salah satu pengawalnya. Sedangkan tim pengawal yang lain mulai berbaris rapi untuk berjaga siaga di depan kantor, Bianco mulai melangkah masuk ke dalam kantor yang juga diikuti oleh kedua sekertaris pribadinya serta diikuti para anak buahnya.


"Selamat pagi tuan muda," sapa para pelayan yang bertugas di meja resepsionis kepada Bianco dengan sikap tersenyum sambil membungkukan tubuh mereka sedikit.


Bianco hanya tersenyum datar dan kembali melangkah memasuki lift yang juga disusul oleh Avim dan Kevin, Avim menekan tombol 3 menuju ruang kantor Bianco yang terletak di lantai 3. Sedangkan Kevin sedang serius membaca semua isi berita di ponselnya pagi itu dengan sangat serius, dan melacak semua sumbernya.


Bukankah ini orang tua nona Kira?mereka bunuh diri karena tidak sangup membayar hutan?apakah ini benar? Batin Kevin.


Kevin bergumam dalam hati saat melihat berita yang menjadi trending topik pagi itu. Berita mengenai kematian bunuh diri Shelin dan Dion yang ditemukan oleh warga yang tinggal di kompleks Aperteman di itu tempat tinggal Dion dan Shelin.


Ini baru dimulai Bianco Bridges akan aku pastikan pernikahanmu hancur berkeping-keping dan saatnya tiba kamu akan berlutut untuk meminta maaf dikakiku. Akan aku tunjukkan derajatmu yang sesungguhnya. Mereka bunuh diri namun faktanya dibunuh, gumam Kevin dengan mengukir senyuman liciknya...


Terkadang kamu harus menahan luka ini, walau itu menyakitkan tapi setidaknya kamu tersenyum walau pun senyuman itu kadang menyakitimu... kamu berusaha tegar seolah kamu adalah yang terkuat...


Kamu berusaha mengatakan diri baik-baik saja pada hal air mata terus mengalir di sana walau butiran itu tidak terlihat.


Kamu ingin lari namun keadaan memaksakan kamu bertahan walau sebenarnya dirimu ingin pergi sejauh mungkin... menghilang ditelan bumi, menahan luka mungkin menyakitkan namun kuatkanlah dirimu mengatakan pada dirimu "bertahanlah"


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2