PERNIKAHAN SAKIRA

PERNIKAHAN SAKIRA
Sarapan Pagi


__ADS_3

Dering alaram pagi membangunkan Kira. Ia menyetel Alarm dengan jam 05.00wib. Kira terbangun membuka kedua matanya untuk segera menyiapkan perlengkapan Bianco ke kantor. Saat Kira membuka kedua matanya ia melihat sosok tampan yang tertidur lelap di sana. Kira tersenyum walau hatinya masih terbayang akan sikap, cuek dari Bianco yang semalam.


Semalam ada banyak air mata yang kukeluarkan, hari ini jalani saja seperti biasanya dengan tersenyum. Seoah tidak terjadi apa-apa mungkin senyuman ini palsu tapi setidaknya senyuman ini bisa mengobati luka ini.


Dia terlihat sangat lelap saat tertidur, aku harap semuanya cepat berakhir Bianco awali harimu dengan senyuman. Aku... Sakira masa kecilmu merindukan dirimu, batin Kira.


Gadis itu bergumam dimana saat itu dirinya menatap Bianck yang tertidur dengan pulas seperti tidak ada beban dalam hidupnya.


Kira segera melangkah pelan untuk membersihkan dirinya di kamar mandi. Selesai membersihakan diri Kira menyiapkan jas kantor Bianco, ia tidak lupa menyiapkan juga handuk di kamar mandi


untuk Bianco, selesai menyiapkan semua kebutuhan mandi pagi Bianco dan semua perlengkapan kantor, Kira langsung turun ke bawah untuk segera membuat sarapan pagi.


Kira mulai menuruni tangga para pelayan yang ada di dapur sudah pada berbaris rapi memberi hormat pada Kira dengan berucap serentak.


"Selamat pagi Nona."


"Selamat pagi semua, terimakasih ya. Tapi jangan bersikap seperti ini, sapalah aku layak orang biasa," jawab Kira dengan sedikit malu.


"Sama-sama nona. Ini sudah kewajiban kami sebagai pelayan non. Dan ini adalah aturan yang harus kami taati jika masih ingin bekerja di sini,"seru seorang pelayan tersenyum tulus pada Kira.


Selama tiga bulan Kira begitu diperlakukan layaknya seorang ratu oleh para pelayan rumah Miguel Bridges, hal itu terjadi karena Kira adalah istri sah dari Tuan muda rumah tersebut. Walau mereka tahu bahwa Bianco sama sekali tidak menghargai Kira namun mereka tetap menghargai gadis itu sebagai nona muda mereka.


Kenyataannya Bianco selalu menyakiti Kira, hal itu selalu terulang sama seperti waktu pagi itu terjadi api cemburu pada Saskia yang tidak terima bahwa dirinya dikatain tidak bermoral oleh Kira karena menerobos masuk rumah lelaki yang sudah beriistri alias Bianco.


Hal itu masih teringat oleh salah satu sahabat Kira di rumah itu seorang biasa anak dari kepala pelayan rumah pak sud yang berusia 20thn. Gadis itu setiap kali melihat Kira ia terus mengingat kejadian pagi itu karena itu adalah hari pertama ia bekerja membantu papanya di rumah majikannya.

__ADS_1


Ia begitu salut sama Kira yang tidak pernah meneteskan air mata setiap kali mencurahkan isi hatinya pada gadis itu. Selama tiga bulan menikah dengan Bianco air mata selalu ditahan oleh Kira ia tidak pernah meneteskan air mata setelah malam pertama ia menangis begitu banyak. Kira memutuskan untuk tidak lemah karena ia sadar bahwa ia menikah dengan Bianco hanya demi misi balas dendam bukan jatuh cinta.


( Kejadian seminggu yang lalu )


Kira yang syok dengan sebuah luncuran air di wajahnya, menatap tajam Saskia. Kira kembali mengambil segelas air di meja yang ingin ia balaskan untuk menyiram wajah Saskia tapi sayang niatnya dihalangi Bianco yang waktu itu sangat marah besar karena Kira berani memperlakukan Saskia seperti itu di rumahnya.


"Lancang sekali dirimu... kamu pikir siapa dirimu di rumah ini? Beraninya kamu memperlakukan tamu istimewaku seperti ini."


Ucap Bianco penuh emosi saat dirinya melihat Kira yang ingin menampar Saskia.


"Denganrin penjelasanku... aku melakukan ini karena dia yang memulai pertama"


"Hentikan!" jerit Bianco menatap tajam Kira.


"Sudah aku bilang JANGAN mengurus masalah pribadiku... kamu hanyalah istri kontrakan bukan sah. Apa tidak jelas!?"


Bianco berucap dengan penuh tekanan pada kata jangan dengan menatap tajam Kira. tangan Bianco meraih tangan Saskia lalu Ia mengengam tangan wanita itu begitu erat dan menatap tajam Kira, Bianco mengajak Saskia untuk pergi meningalkan Kira saat itu.


"Kita sarapan di kantor saja. Sarapan di sini sama seperti sarapan di sampah."


"Baiklah sayang," sahut Saskia dengan semangat.


Saskia begitu bahagia akan hari ini, ia tidak menyangka rasa sayang Bianco yang begitu besar padanya hingga Bianco rela menjatuhkan haraga diri wanita yang saat ini bersikap seolah Bianco menyukainya. Para pelanyan yang tadinya menonton kejadian tersebut segera dibubarkan oleh sekertaris kepercayaan Bianco Avim dan Kevin. Kevin hanya tersenyum menatap Saskia yang juga tersenyum samar padanya.


Terluka ya, sakit ya, gadis mana yang tidak terluka ketika suaminya sendiri lebih memilih orang lain dibandingkan dirinya. Wanita mana yang bilang dia baik-baik saja ketika sarapan paginya tidak dilirik sama suaminya sendiri jangankan melirik menyicipinya pun tidak. Kira berusaha tersenyum walau saat ini hatinya bagaikan ditusuk berulang-berulang oleh sebuah jarum.

__ADS_1


Kira menundukkan kepalanya ke bawah lantai lalu tangan gadis itu mengangkat pecahan beling kaca yang dilempar oleh Bianco. Avim yang melihat Kira merasa sangat iba pada Kira. Pak Sud atau kepala pelayan memberitahu Bianco yang ingin pergi dengan Saskia mengatakan pada pria itu bahwa Kira telah menyiapkan sarapan untuk Bianco.


"Aku tidak butuh dibuatkan sarapan dari dia, pak Sud silakan sarapan saja makanan itu karen aku sudah disiapkan sarapan sama Saskia. Jika bapak tidak mau buang saja ke tong sampah."


Bianco berucap tanpa melihat ke arah Kira. Ia kembali melangkah pergi bersama Saskia yang diikuti oleh kedua sekertaris kepercayaanya, Avim dan Kevin. Kira yang terluka di jari akibat tergores beling kaca gelas menahan sakitnya lalu ia tersenyum lepas saat semua para pelayan menatapnya dengan penuh kasihan.


"Aku tidak apa-apa, kalian fokus saja ke pekerjaan kalian," ucap Kira dan melangkah pergi ke kamar Bianco untuk mengobati lukanya.


Aku baik-baik saja, sungguh aku baik-baik saja. Tapi mengapa sangat sesak di sini...mengapa begitu sakit sebenci itukah dirimu padaku Bianco? Sebegitu buruknya aku di matamu?


Aku berusaha untuk tidak meneteskan air mata, aku berusaha menahan luka ini mengapa harus aku yang menangung semua ini. Aku ke sini demi adikku tapi mengapa luka lama ini kembali terukir, batin Kira berusaha menahan luka di dalam sana. Air mata Kira tergenang yang sebentar lagi akan mengalir Kira berusaha untuk tetap kuat saat wajahnya kembali diangkat.


Ia melihat para pelayan tidak ada di sana, Kira terus memegang luka yang ada dijarinya sambil tersenyum dan melangkah pergi meninggalkan ruang makan.


Para pelayan yang melihat Punggung belakang Kira saat menaiki tangga mereka sangat kasihan pada Kira, mereka tidak menyangka bahwa gadis itu begitu kuat menghadapi setiap masalah ini dengan selalu tersenyum.


**** Flash Back ( kembali ke cerita semula).


Sherli yang mengingat kejadian pagi itu hanya tersenyum mmenatap Kira yang sekarang lagi siap-siap masak untuk Bianco. Sebelum masuk dapur Kira bertemu dengan pak Sud yang lagi mengawasi beberapa koki dapur yang siap membantu Kira memasak pagi itu.


Pria tua tersebut mengukir senyuman sambil menatap Kira yang ada di hadapanya tersebut di mana tadi mereka memberikan hormat pada Kira saat gadis itu menuruni anak tangga menuju dapur.


"Noni adalah istri sah tuan muda. Bagaimana mungkin kami memperlakukan kamu sama seperti kami," jawab kepala pelayan pada Kira dengan senyuman tulus.


"Walau aku istrinya, tapi bapak dan beberapa pelayan di sini lebih tua dari aku bagaimana mungkin aku melupakan aturan dasar itu," Kira berucap dengan senyuman tipis diukir dari bibirnya.

__ADS_1


Setelah berbasa-basi sedikit dengan para pelayan tersebut. Kira kembali mengukir dengan senyuman hangat dari gadis itu lagi, Lalu Kira mulai melangkah memasuki dapur di sana ada enam pelayan dapur sudah siap membantu Kira untuk memulai masak. Kira melihat jadwal menu sarapan kesukaan Bianco yang sudah ditempelkan di dapur dan jadwal itu selalu diganti setiap minggu sekali.


Bersambung


__ADS_2